Sad Girl

Sad Girl
{Chapter 28}



"Kebaikan hatinya semakin membuatku mencintainya."


~Alvaro


Happy Reading ❤


Maaf kalau banyak typo ❤


Jangan lupa tinggalkan jejak ❤


🍁


Aleta kini sudah mulai merasa tenang, ia mencoba untuk iklas menerima semuanya. Aleta merasa bersyukur karena Alvaro selalu menerimanya apa adanya.


Alvaro mengelus pucuk kepala Aleta. Sebenernya ia ingin sekali memeluk Aleta tapi ia mengurunkan niatnya karena ia tidak mau membuat Aleta semakin kesakitan.


"Al, apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Aleta.


Alvaro menatap Aleta. "Minta apa Ta? Gue bakal turutin apapun yang lo mau," jawab Alvaro.


"Aku cuma mau minta kamu maafin perbuatan Gara dan lainnya, aku tau kamu marah sama mereka yang nyakitin aku tapi aku gak mau kamu juga nyakitin mereka. Jadi, maafin mereka ya Al," pinta Aleta.


Alvaro tersentak mendengar ucapan Aleta. Kenapa Aleta begitu baik pada seseorang yang telah jelas-jelas sudah menyakitinya?


"Tapi Ta, mereka pantes dapetin hal yang setimpal sama apa yang mereka lakuin ke lo. Gue bakal laporin mereka ke polisi," ucap Alvaro.


Aleta menatap Alvaro. "Jangan Al, kasian mereka kalau mereka dipenjara," balas Aleta yang merasa tak tega kalau teman-temannya masuk ke dalam jeruji besi.


"Kenapa lo baik banget sih sama mereka padahal udah jelas-jelas mereka nyakitin lo, kenapa Ta?" tanya Alvaro.


Aleta tersenyum tipis. "Karena aku gak mau ngeliat mereka menderita Al, aku pengen ngeliat mereka bahagia terus supaya mereka gak tau rasanya menderita tuh gimana," jawab Aleta.


Alvaro tersenyum tipis mendengar ucapan Aleta lalu ia mengecup kening Aleta. "Lo emang cewek luar biasa, gue bangga punya lo Ta," ungkap Alvaro.


Alvaro tidak menyangka Aleta memiliki hati sebaik ini, kalau ia jadi Aleta ia tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menyakitinya. Kebaikan hati Aleta mampu membuatnya semakin mencintai Aleta.


"Assalamu'alaikum," salam Mawar ketika memasuki ruangan Aleta.


"Wa'alaikumussalam," jawab Aleta dan Alvaro bersamaan.


Mawar melangkah bersama Melati yang berada di belakangnya mendekati Aleta. "Gimana kata Dokter Al? Aleta baik-baik aja kan?" tanya Mawar.


"Ngapain sih kamu peduli sama si miskin? Udah sih biarin aja dia emang pantes kok sengsara," sahut Melati.


Mawar melirik Melati sinis. "Jaga ucapan kamu!"


"Aku gak papa kok Bu," jawab Aleta sambil tersenyum tipis ke arah Mawar.


Mawar membalas senyuman Aleta. Ia tidak menyangka Aleta bisa sekuat ini menghadapi semuanya, Mawar yakin sebenarnya Aleta sangat kesakitan tapi ia menutupinya dengan seulas senyuman.


Mawar memberikan sekantung pelastik berisi makanan untuk Aleta kepada Alvaro lalu ia mengulurkan tangannya mengelus pucuk kepala Aleta. "Cepet sembuh ya Aleta," ucap Mawar tulus.


Aleta tersenyum tipis, ia merasa senang saat ada orang yang memperhatikan keadaannya, Aleta bersyukur karena sekarang ia memiliki orang-orang yang peduli padanya.


"Gak usah senyum-senyum kamu miskin, makin jelek tau gak," sahut Melati sinis.


Alvaro menghembuskan napas kasar. "Tapi sayangnya jelekan Ibu tuh daripada Aleta," cetus Alvaro.


Melati melirik Alvaro tajam. "Gak sopan kamu sama Ibu!"


Aleta melirik Alvaro. "Udah Al, jangan marah-marah sama Bu Melati," sahut Aleta.


Melati tersenyum sinis ke arah Aleta. "Gak usah sok baik kamu miskin! Sok naif kamu cacat!"


Alvaro menggeram kesal. Kenapa Melati seperti tidak tahu sopan santun sih?


"Sudah cukup Melati! Sebaiknya sekarang kamu minta maaf sama Aleta kalau kamu gak mau dipecat dari sekolah!" ucap Mawar.


Melati menyilangkan tangannya di depan dada lalu ia tersenyum miring menatap Aleta. "Gak sudi saya minta maaf sama orang miskin dan cacat kaya dia!" setelah mengatakan itu Melati langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan Aleta.


Alvaro menggeram kesal, kalau Melati bukan guru sudah pasti ia tidak akan segan-segan untuk memukulnya.


"Bu, bilang aja sama kepala sekolah kalau Bu Melati udah minta maaf sama aku," ucap Aleta.


Aleta memang merasa terluka saat gurunya sendiri mengatakan seperti itu padanya, tapi sudahlah Melati berhak mengatakan apapun padanya.


"Udah sih Ta biarin aja dia dipecat," ucap Alvaro yang masih geram dengan sikap Melati tadi.


"Gak Al, kasian Bu Melati kalau dipecat. Ya Bu, bilang aja ke kepala sekolah kalau Bu Melati udah minta maaf sama aku," pinta Aleta.


Mawar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya ia setuju dengan ucapan Alvaro, Melati memang pantas untuk dipecat tapi Aleta malah meminta sebaliknya.


"Saya mohon Bu," pinta Aleta lagi. Ia merasa bersalah kalau Melati sampai dipecat karenanya. 


Mawar menghembuskan napas kasar. Ia tidak bisa menolak kalau itu permintaan dari Aleta. "Iya deh nanti Ibu bilang ke kepala sekolah kalau Melati udah minta maaf sama kamu," putus Mawar.


Aleta tersenyum. "Makasih Bu, aku boleh minta sesuatu lagi gak sama Ibu?" tanya Aleta.


Alvaro menghembuskan napas kasar, ia bisa menebak apa yang akan Aleta minta pada Mawar.


"Minta apa Aleta?" tanya Melati.


"Aku minta jangan hukum mereka yang udah nyakitin aku ya Bu," pinta Aleta.


"Tap-" sebelum Mawar menyelesaikan ucapannya Aleta lebih dulu memotongnya. "Saya mohon Bu," pinta Aleta lagi.


Alvaro mengelus pucuk kepala Aleta. "Lo tuh terlalu baik sama mereka Ta, biarin aja sesekali mereka dihukum," ucap Alvaro.


"Bener kata Alvaro, biar saja sesekali mereka dihukum atas perbuatan mereka sendiri," sahut Mawar.


"Jangan Bu, kasian mereka, aku gak mau mereka dihukum gara-gara aku," ujar Aleta.


Mawar menghembuskan napas kasar. Kenapa Aleta sebaik ini pada orang-orang yang telah menyakitinya?


"Iya deh kalau itu mau kamu," putus Mawar, ia tidak bisa menolak permintaan dari Aleta.


Aleta tersenyum senang. "Makasih Bu," ucap Aleta tulus.


Mawar membalas senyuman Aleta. "Hati kamu sangat mulia Aleta, tidak seharusnya kamu disakiti seperti ini," batin Mawar.


Seseorang sedang menelepon anak buahnya untuk memberi perintah. "Bawa Aleta ke gue secepatnya," perintah orang itu.


"Kapan?" tanya anak buahnya.


"Intinya sebelum dia sembuh lo harus bawa dia ke gue, tangan gue udah gatel banget pengen nyiksa dia," ucap orang itu.


🍁