
"Akan terasa sangat menyakitkan ketika orang yang paling kita sayang pergi untuk selama-lamanya."
Happy Reading ❤
Maaf kalau banyak typo ❤
🍁
Reyhan masih memeluk Oma dengan erat, ia menatap wajah Oma yang tampak semakin pucat. Ia tidak bisa tinggal diam saja seperti ini, ia harus mencari bantuan. Ia yakin Oma masih hidup.
Reyhan mengecup kening Oma lalu ia tersenyum tipis sambil menatap wajah Oma. "Reyhan mau cari bantuan dulu ya Oma, Oma harus bertahan," ucap Reyhan pelan.
Reyhan menutup pintu rumahnya lalu ia berlari mencari bantuan. Reyhan melihat Ibu-Ibu sedang berkumpul di rumah mewah yang tak jauh darinya.
Reyhan mendekati Ibu-Ibu itu. "Bu, tolong Oma, Oma ditusuk pisau sama orang, tolong Bu," pinta Reyhan.
Aktivitas Ibu-Ibu yang sedang arisan itu terhenti ketika mendapati Reyhan di dekat mereka. Mereka menatap Reyhan dengan tatapan yang tak terbaca.
"Apa sih? Pergi kamu!" usir Anggun yang merupakan pemilik rumah itu.
Reyhan menangis di depan Ibu-Ibu itu lalu ia berlutut di depan Ibu-Ibu itu. "Saya mohon Bu, tolong Oma. Kasian Oma pasti kesakitan," pinta Reyhan.
Anggun berdiri lalu ia mendorong Reyhan kasar sampai Reyhan terduduk di tanah. "Gak! Saya gak peduli sama kamu atau Oma kamu itu, mau Oma kamu meninggal ke saya gak peduli! Udah sana pergi, nanti banyak kuman di rumah saya kalau kamu kelamaan di sini!"
"Ganggu kita lagi arisan aja ih," cetus Vita menatap Reyhan sinis.
Reyhan terus menangis, ia memeluk kaki Anggun erat. "Saya mohon Bu, kali ini aja bantu Oma saya," pinta Reyhan lagi.
Anggun mendengus kesal lalu ia mendorong Reyhan kasar. Anggun membersihkan celananya yang tadi Reyhan peluk, ia takut banyak kuman yang menempel di celananya.
Dea berdiri dari duduknya, ia sudah muak melihat semua ini. Dea mendekati Reyhan lalu ia membantu Reyhan berdiri. "Reyhan, sebaiknya kamu pergi ya, jangan ganggu kita, kita lagi sibuk," jelas Dea halus.
"Tap-" sebelum Reyhan menyelesaikan ucapannya Dea lebih dulu memotong ucapannya. "PERGI ATAU SAYA PUKUL KAMU!" sentak Dea.
Reyhan menatap Dea takut, ia kira Dea akan membantunya tapi ternyata dugaannya salah. Reyhan tidak bisa meminta bantuan pada Ibu-Ibu itu, mereka tidak akan mau menolongnya.
Reyhan berlari pergi dari halaman rumah Anggun. Reyhan menghapus air matanya. Ia yakin Oma akan baik-baik saja.
"Kalian semua jahat!" ucap Niki salah seorang dari gerombolan Ibu-Ibu itu. Niki kesal dengan sikap teman-temannya yang tidak punya rasa empati sedikitpun.
"Saya gak mau temenan sama kalian lagi, saya berhenti ikut arisan. Berikan uang arisan saya yang lima puluh juta ke anak yatim atau fakir miskin. Saya harap kalian sadar kalau sikap kalian pada anak itu salah!" ucap Niki.
Niki melangkah pergi dari rumah Anggun lalu ia berlari menyusul Reyhan. Anggun dan yang lainnya menatap kepergian Niki.
Niki mengejar Reyhan. "Hei, tunggu!" teriak Niki.
Reyhan menghentikan langkahnya saat Niki sudah berada di depannya. Reyhan sadar kalau Niki adalah salah satu dari Ibu-Ibu tadi.
Reyhan berlutut di depan Niki. "Saya mohon Tante, tolong Oma saya. Tolong Oma, kasian Oma kesakitan. Saya gak mau Oma kenapa-napa, saya gak mau kehilangan Oma," pinta Reyhan sambil menangis.
Niki membungkukkan badannya lalu ia mengulurkan tangannya menghapus air mata Reyhan. "Tenang saja Nak, Tante pasti bakal bantu kamu. Sekarang Oma kamu dimana?"
Reyhan tersenyum senang mendengarnya, ia segera berdiri lalu ia menarik tangan Niki ke arah rumahnya.
Reyhan membawa Niki masuk ke dalam rumahnya, Reyhan duduk di samping Oma lalu ia menggenggam tangan kanan Oma yang terasa dingin.
"Oma, udah ada yang mau nolongin Oma. Sabar ya Oma, Oma gak bakal kesakitan lagi, tapi Oma bangun dulu yuk," oceh Reyhan.
Niki tersentak ketika melihat keadaan Oma, ia segera memeriksa denyut nadi Oma. Niki menghembuskan napas kasar. "Oma kamu sudah meninggal Nak," ungkap Niki.
🍁
Alvaro berlari memasuki rumah sakit lalu berteriak meminta dokter untuk menolong Aleta.
Suster membawa Aleta ke ruang UGD. Alvaro duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang UGD. Ia mengusap wajahnya kasar. "Aleta," gumam Alvaro.
"Gue mohon bertahan Ta, gue gak mau lo pergi. Jangan tinggalin gue," lanjut Alvaro.
Seorang dokter laki-laki keluar dari ruang UGD, Alvaro segera mendekati dokter itu. "Gimana keadaan Aleta Dok?" tanya Alvaro cepat.
Dokter itu menghembuskan napas pelan lalu ia menepuk bahu Alvaro. "Maaf... Nyawanya tidak tertolong. Saya sudah berusaha semampu saya tapi Allah berkehendak lain," jelas dokter itu.
Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasti ia salah dengar, atau dokter ini berbohong padanya. "Gak mungkin!" teriak Alvaro.
Alvaro berlari memasuki ruang UGD. Ia melihat suster sedang melepaskan alat-alat yang terpasang di tubuh Aleta. "Jangan lepas alat-alatnya. ALETA MASIH HIDUP!" teriak Alvaro.
Alvaro mendorong suster itu menjauh lalu ia kembali memasangkan alat-alat yang tadi sudah terlepas dari tubuh Aleta.
Alvaro menundukkan kepalanya, setetes air mata terjatuh ke pipi Aleta. "Ta, bangun! Gue mohon bangun! JANGAN TINGGALIN GUE ALETA!"
🍁
Jaga kesehatan kalian ❤