Sad Girl

Sad Girl
{Chapter 25}



"Jangan pernah menilai seseorang dari fisik atau penampilannya saja karena yang terpenting itu adalah hatinya."


Happy Reading ❤


Maaf kalau banyak typo ❤


🍁


Alvaro dan Aleta telah sampai di depan gerbang sekolah. Alvaro menelepon temannya untuk menghampirinya ke depan gerbang sekolah.


Alvaro membantu Aleta turun dari mobilnya, ia juga membantu Aleta menggunakan tongkat kruknya.


"Maaf ya Ta hari ini gue gak bisa jagain lo," ucap Alvaro merasa bersalah pada Aleta.


Alvaro merasa takut ada yang berani menyakiti Aleta lagi di sekolah. Ia tidak mau melihat Aleta kembali terluka lagi.


Aleta mengulurkan tangan kirinya menggenggam tangan Alvaro sedangkan tangan kanannya memegangi tongkat kruknya.


Aleta mengelus punggung tangan Alvaro. "Gak usah khawatir Al, kan ada temen kamu yang jagain aku," ucap Aleta berusaha menenangkan Alvaro agar tidak mencemaskannya.


Aleta menatap manik hitam milik Alvaro sambil tersenyum. Aleta bisa melihat kekhawatiran dari tatapan mata Alvaro. "Makasih udah khawatirin aku Al," lanjut Aleta.


Aleta memberanikan diri untuk mengelus pipi kanan Alvaro. Aleta terus tersenyum menatap Alvaro. "Jangan khawatir lagi ya Sayang," ucap Aleta lembut.


Alvaro memalingkan wajahnya ke arah lain. Ucapan Aleta dan senyumannya mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Alvaro mengacak rambut Aleta pelan. "Dasar. Udah pinter ngerayu gue ya," ucap Alvaro.


"Al," panggil Gara temannya Alvaro. Aleta dan Alvaro melirik ke arah Gara. Gara melirik Aleta lalu ia tersenyum pada Aleta. "Hai, Aleta. Salam kenal, gue Gara," ucap Gara hangat.


Alvaro menepuk bahu Gara pelan. Alvaro percaya kalau Gara tidak mungkin menyakiti Aleta karena Gara tahu kalau ia sangat menyayangi Aleta dan karena Gara juga salah satu teman terbaiknya.


Alvaro kembali mengingatkan Gara untuk menjaga Aleta dengan baik dan jangan sampai ada orang yang berani menyakiti Aleta. Gara mengiyakan ucapan Alvaro.


Alvaro dengan terpaksa berpamitan pergi pada Aleta. "Ta..." rasanya Alvaro tidak enak meninggalkan Aleta begini. Alvaro ingin selalu ada di samping Aleta untuk menjaga Aleta.


Aleta kembali menggenggam tangan Alvaro. "Udah sana pergi aja Al, kan di sini udah ada Gara yang jagain aku, kamu gak usah khawatir ya," ujar Aleta lembut.


Alvaro mengulurkan tangannya mengelus pipi kanan Aleta. "Gue pergi dulu ya Ta. Jangan sampe lo terluka lagi, gue gak suka," ucap Alvaro.


Alvaro melirik Gara. "Jagain Aleta ya Gar. Gue percaya sama lo," ucap Alvaro pada Gara.


Mobil Alvaro sudah melaju kencang dan tidak terlihat lagi dari pandangan Aleta. Aleta merasa canggung dengan Gara, ia tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dengan Gara.


"Yuk Ta, ikut gue," ucap Gara. Aleta mengikuti langkah Gara dari belakang. Saat ia melangkah ke lapangan banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya.


"Si miskin itu gak tau malu banget ya, udah miskin, lumpuh, tapi tetep aja sekolah di sini."


"Sekarang si miskin lumpuh ya? Kenapa gak sekalian mati aja sih!"


"Woy miskin, mati sono!"


Aleta hanya bisa menghela napas pelan saat mendengar hina-hinaan itu untuknya.


"Syukur deh lo udah bisa masuk sekolah. Tetep kuat ya sekolah di sini."


"Keep strong Aleta,"


"Jangan dengerin omongan mulut sampah kaya mereka Ta. Sabar ya."


Aleta tersenyum senang saat ada beberapa orang yang mengatakan itu padanya. Ternyata tidak semua orang di sekolah ini bersikap jahat padanya.


Aleta tersentak ketika tiba-tiba ada orang yang mendorongnya dari belakang sampai ia terjatuh ke tanah.


Aleta melirik siapa orang yang telah mendorongnya dari belakang dan ternyata itu adalah Laura.


Laura menatap Aleta dengan tatapan yang seperti ingin membunuhnya. Laura jongkok di samping Aleta lalu ia menampar pipi Aleta dengan keras. "Heh, MISKIN! Gue jijik ngeliat lo ada di sini! Mati sono lo CACAT!" bentak Laura sambil memukul-mukul kepala Aleta dengan tangannya.


Aleta meringis pelan saat Laura menjambak rambutnya dengan keras. "Kyra masuk penjara gara-gara lo *******! Kenapa lo gak mati aja sih?! Hidup bisanya cuma bikin sengsara orang aja, GAK GUNA LO CACAT!"


Aleta melirik ke arah Gara yang hanya diam sambil menatapnya. "Gara, tol-ong," pinta Aleta.


Gara tersenyum sinis, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Gak sudi gue nolongin orang cacat kaya lo!" tolak Gara.


Gara jongkok di depan Aleta lalu ia memegang dagu Aleta dengan kasar sampai kuku Gara melukai dagunya. "Lo gak pantes buat temen gue! Harusnya lo sadar diri CACAT!" bentak Gara.


Aleta tersentak mendengar ucapan Gara. Kenapa yang terlihat baik tapi malah bersikap jahat padanya?


"Jangan berani bilang-bilang ke Alvaro kalau lo gak mau mati di tangan gue!" ancam Gara.


Sebenarnya Gara mengiyakan permintaan Alvaro karena ingin melukai Aleta bukan melindunginya.


Gara tidak mau Alvaro menyukai wanita yang salah. Orang seperti Aleta tidak pantas untuk dicintai, udah miskin, cacat lagi. Masih banyak wanita cantik yang mau dengan Alvaro tapi Alvaro malah memilih Aleta yang tidak sebanding dengannya.


Aleta menahan air matanya agar tidak menetes. Ia sudah dikhianati untuk kedua kalinya. "Kenapa kamu kaya gini Gara?" tanya Aleta pelan.


Gara menatap Aleta dengan tatapan tajamnya. "Karena lo miskin dan cacat! Gue gak suka lo deket-deket sama temen gue! Jauhin Alvaro kalau lo gak mau semakin terluka lebih dari ini!" ancam Gara.


Raga menjauhkan tangannya dari dagu Aleta. Raga berdiri lalu ia melirik Laura. "Urus si cacat ini! Gue jijik ngeliat mukanya. Terserah lo mau apain dia, bunuh juga gak papa," ucap Gara lalu ia melangkah pergi meninggalkan Aleta dan juga Laura.


"Gara, tunggu!" ucap Aleta seketika itu Gara menghentikan langkahnya. "Aku cuma mau ngingetin, jangan pernah nilai seseorang cuma dari fisik atau penampilannya aja. Karena, yang paling penting itu hatinya," terang Aleta.


Gara berdecak. "Sok lo CACAT!" cetus Gara lalu ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Laura berdiri lalu ia mengambil rumput yang ada di sekitarnya. Laura menyodorkan rumput itu ke arah mulut Aleta. "Makan!" perintah Laura.


Aleta tersentak, ia tidak mungkin makan rumput itu. Aleta menutup mulutnya rapat-rapat.


Laura kesal karena Aleta tidak menuruti ucapannya, ia melayangkan tamparan di pipi kanan Aleta. "MAKAN *******! LO TULI!" murka Laura.


Aleta menggelengkan kepalanya, ia tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Laura menelepon seseorang untuk menghampirinya kemari.


Beberapa menit kemudian orang yang ditelpon Laura pun datang sambil membawa ember di tangannya. Orang itu berseragam sama dengannya dan orang itu memakai masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Ia tidak tahu kenapa orang itu memakai masker.


"Cepet siramin embernya ke si miskin," perintah Laura pada orang itu. Laura berdiri menjauh dari Aleta.


Orang itu mendekati Aleta lalu ia menyiramkan isi ember itu pada Aleta. Orang itu segera menjauh dari Aleta.


Aleta menahan agar isak tangisnya tidak pecah. Sekarang tubuhnya sangat kotor karena orang tadi menyiramkan air selokan padanya.


Bau busuk mulai menyengat ke dalam hidung Aleta. Laura juga bisa merasakan bau busuk itu lalu ia segera memakai masker agar tidak bisa mencium bau busuk itu lagi.


"Ini baru awal, tunggu penderitaan lo selanjutnya miskin," ucap Laura. Laura melangkah pergi dengan orang tadi.


Kini hanya ada Aleta sendirian di taman belakang sekolah. Aleta bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya?


"Al, aku butuh kamu. Aku pengen kamu ada di samping aku, aku kembali terluka Al," batin Aleta. Aleta merasakan rasa sakit di hatinya, lagi-lagi hatinya kembali terluka karena perbuatan seseorang yang menyakitinya.


🍁