
"Kamu kebahagiaanku dan selamanya akan tetep seperti itu."
Happy Reading ❤
🍁
Alvaro dan Aleta sudah sampai di depan rumah Aleta. Alvaro mengetuk pintu rumah Aleta, beberapa detik kemudian pintu terbuka menampilkan Oma yang muncul dari balik pintu.
Oma langsung memeluk Aleta. "Akhirnya kamu pulang Nak. Oma sama Reyhan kangen banget sama kamu Aleta. Maaf ya karena Oma jarang jagain kamu di rumah sakit karena Oma harus cari uang buat makan kita sehari-hari dan juga Oma harus jagain Reyhan," ucap Oma.
Aleta tersenyum tipis, ia membalas pelukan Oma. "Aleta juga kangen Oma sama Reyhan. Oma gak perlu minta maaf, Aleta ngerti kok," balas Aleta.
Oma melepaskan pelukannya dari Aleta lalu ia beralih memeluk Alvaro. Ia sangat berterimakasih pada Alvaro karena Alvaro selalu menjaga Aleta di rumah sakit.
"Makasih untuk semuanya Nak. Oma seneng Aleta punya temen sebaik kamu, sekali lagi makasih Nak," ucap Oma tulus.
Alvaro mengelus punggung Oma. Sudah tugasnya menjaga Aleta dengan baik. Alvaro tidak akan membiarkan Aleta sendirian lagi menghadapi semuanya. Ia akan berusaha untuk selalu ada di samping Aleta disaat Aleta lelah menghadapi semuanya, ia akan selalu mendekap Aleta untuk menyemangatinya.
"Oma gak perlu berterimakasih sama aku karena udah tugas aku jagain orang yang aku sayang," jelas Alvaro.
Oma tersenyum tipis. Ia merasa senang karena Alvaro mau menerima Aleta apa adanya tanpa memandang fisik maupun materi.
"Aku pamit pulang dulu ya Oma," ujar Oma lalu ia menyalami punggung tangan Oma.
Alvaro beralih menatap Aleta lalu ia jongkok di depan Aleta. "Ta, gue pulang dulu ya. Banyakin istirahat, jangan telat makan, dan jangan lupa diminum obatnya biar lo cepet sembuh," ucap Alvaro sambil mengelus pipi Aleta.
Aleta tersenyum tipis, ia selalu merasa senang ketika Alvaro memberikan perhatian untuknya. Aleta mengacak rambut Alvaro pelan. "Kamu juga harus istirahat, kamu pasti cape karena selalu jagain aku di rumah sakit. Jangan lupa makan juga."
Alvaro langsung mengangguki ucapan Aleta. Alvaro balas mengacak rambut Aleta pelan. "Pasti Sayang," jawab Alvaro sambil tersenyum.
Seketika pipi Aleta terasa panas ketika mendengar Alvaro memanggilnya dengan sebutan Sayang.
Aleta melirik Alvaro lalu ia mengulurkan tangannya memberanikan diri untuk mengelus pipi Alvaro. "Makasih untuk semuanya Al. Aku bersyukur karena kamu udah hadir di hidup aku. You my reason for happy," ungkap Aleta.
Alvaro tersenyum tipis lalu ia menyentuh tangan Aleta yang berada di pipinya. "Lo kebahagiaan gue dan selamanya akan selalu begitu," balas Alvaro lembut.
Alvaro mendekatkan wajahnya dengan wajah Aleta sampai hidung mereka bersentuhan. "I love you my happiness," ucap Alvaro pelan lalu Alvaro mengecup kening Aleta.
Oma tersenyum melihat kemesraan Aleta dan Alvaro. Oma bisa melihat ada rasa sayang yang begitu besar dari keduanya. Ia harap Aleta dan Alvaro akan terus bersama-sama sampai maut memisahkan mereka.
"Ka Aleta!" teriak Reyhan dari arah pintu. Seketika Aleta dan Alvaro melirik ke arah Reyhan. Reyhan berlari memeluk Aleta. Ia sangat merindukan Aleta. Reyhan selalu menantikan kedatangan Aleta.
Aleta membalas pelukan Reyhan lalu ia mengelus punggung Reyhan. "Kaka kangen kamu Dek," ucap Aleta.
"Ka Aleta kemana aja? Aku kangen banget sama Kaka," ucap Reyhan.
Reyhan memang tidak tahu kalau Aleta sebelumnya dirawat di rumah sakit. Oma dan Aleta sepakat untuk tidak memberi tahu Reyhan karena mereka takut membuat Reyhan bersedih.
"Kaka ada urusan Dek. Kan sekarang yang penting Kaka udah pulang. Kaka seneng ngeliat kamu sehat-sehat aja Dek," ucap Aleta sambil tersenyum.
Reyhan melepaskan pelukannya lalu ia melirik kursi roda yang dipakai Aleta. Reyhan bingung kenapa Aleta memakai kursi roda dan kenapa ada perban di kedua kaki Aleta?
Reyhan jongkok di depan kaki Aleta lalu ia mengelus kaki Aleta yang terbalut perban. "Kaki Kaka kenapa kok diperban gini?" tanya Reyhan yang mulai merasa khawatir.
Aleta hanya diam. Ia tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak. "Kaki Kaka luka Dek makanya diperban terus Kaka disuruh make kursi roda sama Dokternya. Kamu gak usah khawatir ya, Kaka gak papa kok," terang Aleta sambil tersenyum.
Reyhan kembali mengelus kaki Aleta. "Cepet sembuh ya kaki biar Ka Aleta gak pake kursi roda lagi," ujar Reyhan pelan.
Alvaro kembali berpamitan pulang pada Oma, Aleta, dan juga Reyhan. Aleta meminta agar Alvaro menjemputnya besok karena ia akan kembali sekolah besok.
Tadinya Alvaro tidak setuju kalau Aleta akan sekolah besok karena luka Aleta belum sembuh total. Tapi Aleta terus membujuk Alvaro agar menyetujuinya untuk kembali masuk sekolah besok. Akhirnya, Alvaro tidak bisa menolak keinginan Aleta.
Oma mendorong kursi roda Aleta masuk ke dalam kamarnya. Oma membantu Aleta membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Kamu beneran mau masuk sekolah besok?" tanya Oma.
Aleta mengangguk. "Iya Oma. Aleta udah kelamaan absen, Aleta takut beasiswa Aleta dicabut," jawab Aleta.
Aleta tidak akan menyia-nyiakan beasiswa yang telah ia dapat dengan susah payah.
"Kamu kan baru keluar dari rumah sakit, mending istrahat dulu di rumah selama beberapa hari nanti baru masuk sekolah lagi," saran Oma.
Aleta mengerti Oma pasti mengkhawatirkan keadaannya. Aleta menggenggam tangan Oma dan meyakinkan Oma kalau ia akan baik-baik saja.
"Ya udah, kamu boleh sekolah besok," putus Oma.
Setelah mengobrol beberapa menit dengan Aleta, Oma memutuskan untuk keluar dari kamar Aleta agar Aleta bisa istirahat.
"Aku harap besok semuanya bakal baik-baik aja," ucap Aleta walaupun ia tidak yakin dengan ucapannya.
🍁
Alvaro memberhentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan gang rumah Aleta. Alvaro membeli tongkat kruk untuk Aleta agar Aleta lebih mudah untuk berjalan.
Alvaro melangkah masuk memasuki gang sambil membawa tongkat kruk di tangan kanannya. Alvaro melihat dari jauh pintu rumah Aleta terbuka.
"Aleta," panggil Alvaro ketika melihat Aleta yang sudah siap dengan seragam sekolahnya dan duduk di kursi rodanya.
"Pagi Al," sapa Aleta sambil tersenyum.
Aleta melirik tongkat kruk yang dibawa oleh Alvaro. Apa itu untuknya?
Alvaro berlutut di depan Aleta sambil menaruh tongkat kruknya di lantai. Alvaro mengulurkan tangannya menyelipkan anak rambut Aleta ke belakang telinga agar tidak menutupi wajah Aleta.
"Tongkat kruk ini buat lo supaya lo lebih mudah buat jalan," jelas Alvaro.
Alvaro menundukkan kepalanya. "Maaf Ta, gue gak bisa sekolah hari ini. Tadi malem Nenek gue meninggal," terang Alvaro merasa bersalah.
Aleta tersentak, "Innalillahi wa inna illahi roji'un," Aleta mengelus punggung Alvaro. "Yang sabar ya Al, kamu pasti sedih banget," ucap Aleta.
Alvaro menatap Aleta lalu tersenyum tipis. "Gue gak papa Ta. Nenek gue orang baik, Allah pasti ngasih tempat yang terbaik buat Nenek gue," ujar Alvaro.
"Gimana kalau lo gak sekolah hari ini? Besok aja sekolahnya sama gue, gue takut nanti lo dilukain sama orang-orang di sekolah. Kalau lo tetep mau sekolah gue udah nyuruh temen gue buat jagain lo biar gak ada yang berani ngelukain lo," lanjut Alvaro.
Aleta tersenyum tipis. "Kayanya aku sekolah aja deh. Aku bisa jaga diri kok Al, kamu gak usah khawatir sampe minta tolong temen kamu buat jagain aku gitu," tolak Aleta, ia tidak mau merepotkan orang lain.
"Gak ada penolakan Ta, gue udah minta temen gue buat jagain lo dan lo gak boleh nolak. Gue khawatir sama lo Ta," ucap Alvaro.
Kali ini Aleta mengalah, ia mengiyakan ucapan Alvaro. "Padahal kamu gak perlu kaya gini sampe nyuruh temen kamu buat jagain aku. Tapi, makasih ya Al," ucap Aleta tulus.
Alvaro mengulurkan tangannya mengelus pipi Aleta. Alvaro sangat menyayangi perempuan yang ada di depannya ini. Alvaro tidak ingin melihat Aleta terluka lagi. "Gue bakal ngelakuin apapun buat orang yang gue sayang," ucap Alvaro.
🍁