Sad Girl

Sad Girl
{Chapter 27}



"Walaupun kamu lumpuh, badan kamu jelek, bagi aku kamu tetap manjadi cewek tercantik di dunia ini setelah Ibuku."


~Alvaro


Happy Reading ❤


🍁


Alvaro tidak jadi membawa Aleta ke UKS, ia lebih memilih membawa Aleta ke rumah sakit karena keadaan Aleta terlihat parah. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya pada Aleta.


Alvaro mondar-mandir di depan ruang UGD. Keadaan Aleta sedang diperiksa oleh seorang dokter laki-laki yang waktu itu juga pernah meriksa keadaan Aleta.


Alvaro mencoba menelepon Gara tapi sayangnya Gara tidak mengangkat telpon darinya. Liat saja, ia tidak akan membiarkan Gara lolos karena sudah membiarkan Aleta terluka.


"Alvaro," panggil Milka. Milka mendengar dari seorang suster kalau Aleta kembali dibawa ke rumah sakit.


Milka mendekati Alvaro. "Aleta kenapa?" tanya Milka khawatir.


Sebelum Alvaro menjawab pertanyaan dari Milka dokter lebih dulu keluar dari ruang UGD. Milka dan Alvaro mendekati dokter itu.


Dokter itu menghembuskan napas kasar. "Dia terkena luka bakar yang cukup parah di seluruh tubuhnya, sepertinya tubuhnya disiram air panas oleh seseorang."


"Kulit tubuhnya pada memerah dan melepuh tapi saya sudah mengobatinya, dia bisa sembuh dalam waktu 2 sampai 3 minggu," jelas dokter itu.


"Dia akan saya pindahkan ke ruang rawat inap yang waktu itu dia pernah tempati," terang dokter itu lalu ia menyuruh suster untuk membawa Aleta ke ruang rawat inap.


Alvaro mengacak rambutnya frustasi. Alvaro menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ini tidak akan terjadi kalau ia ada di samping Aleta, ia merasa bersalah pada Aleta. Kenapa ia selalu gagal untuk menjaga Aleta?


Milka mengelus punggung Alvaro bermaksud untuk menenangkan Alvaro. "Temuin Aleta Al," ucap Milka.


Alvaro mengangguk, ia melangkah ke ruang rawat inap Aleta. Alvaro masuk ke dalam ruang rawat inap Aleta. Alvaro menatap keadaan Aleta dengan rasa kasian dan rasa bersalah.


Tubuh Aleta terbalut perban kecuali wajah Aleta. Alvaro mendekat ke arah Aleta, ia melihat ada air mata yang menetes dari mata Aleta. "Lo pasti kesakitan banget ya Ta," gumam Alvaro.


Aleta membuka kedua matanya lalu ia menatap mata Alvaro dan menyalurkan kesedihannya lewat tatapan matanya.


Aleta tidak dapat menahan air matanya yang sekarang ingin menetes. "Sak-it Al," rintih Aleta. Aleta merasakan perih di sekujur tubuhnya.


Alvaro menunduk. Setetes air mata lolos dari mata Alvaro. Ia tidak bisa menahan rasa sedihnya ketika melihat Aleta orang yang ia sangat sayangi dan orang yang paling ia ingin jaga untuk selamanya terluka seperti ini.


"Kenapa kamu selalu mau ada di samping aku Al? Kamu tau kan kalau aku miskin, lumpuh, dan sekarang badan aku pasti jelek banget gara-gara luka bakar itu," ucap Aleta.


Alvaro menegakkan badannya saat mendengar isak tangis Aleta. "Aku semakin ngerasa gak pantes buat kamu Al. Bener kata Gara, banyak cewek cantik dan sebanding dengan kamu yang suka sama kamu, lebih baik kamu pilih salah satu di antara mereka aja Al. Tinggalin aku Al," lanjut Aleta.


Alvaro tersentak mendengar ucapan Aleta. Apa saja yang Gara ucapkan pada Aleta pasti melukai hati Aleta.


Alvaro mengulurkan tangannya menghapus air mata Aleta yang terus menetes. "Gue udah pernah bilang kalau gue gak bakal pernah ninggalin lo apapun yang terjadi," ucap Alvaro.


"Walaupun lo lumpuh, badan lo jelek, tapi bagi gue lo tetep jadi cewek tercantik di dunia ini setelah Mama gue Ta. Jadi jangan berkecil hati," lanjut Alvaro.


Di sisi lain Melati dan Mawar sedang berada di ruangan kepala sekolah. "Melati harus minta maaf sama Aleta Pak!" ucap Mawar pada Adi.


Melati menatap tajam ke arah Mawar. "Buat apa saya minta maaf ke si miskin itu? Saya gak punya salah apa-apa sama dia!" balas Melati tidak terima dengan ucapan Mawar.


Mawar membalas menatap Melati tajam. "Bisa gak sih kamu nyebut dia pake namanya?! Nama dia itu Aleta bukan si miskin!" kesal Mawar.


Melati menyenderkan punggungnya ke sofa lalu ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Saya gak peduli sama nama dia, udah sih dia emang cocok dipanggil miskin karena dia emang miskin!" balas Melati. Kurang ajar nih guru...


Mawar tersenyum sinis pada Melati. "Cih, kamu juga gak pantes disebut sebagai guru, kamu pantesnya disebut sebagai sampah karena perilaku kamu yang persis kaya sampah!" Setuju nih aku... Ada yang setuju sama ucapan Mawar?


Melati berdiri lalu menggebrak meja yang ada di tengah-tengah mereka. "Kurang ajar ya kamu!" bentak Mawar merasa sangat kesal dengan ucapan Melati.


Adi menghembuskan napas kasar. "Sudah-sudah, jangan ribut di ruangan saya!"


Adi melirik Mawar. "Minta maaf sama Aleta atau kamu saya pecat. Saya tidak mau reputasi sekolah saya tercemar gara-gara kegoblogan kamu!" putus Adi akhirnya.


Melati berdecak kesal. Kalau begini ia tidak ada pilihan lain selain meminta maaf pada Aleta. "Oke, saya bakal minta maaf sama Aleta," ucap Melati.


Mawar tersenyum senang mendengarnya. "Bagus. Kata Alvaro Aleta lagi dirawat di rumah sakit, nanti malem gue temenin lo kesana, gue pengen jenguk Aleta," ucap Mawar.


Mawar melirik Adi. "Bapak mau ikut gak jenguk Aleta?" tanya Mawar pada Adi.


Adi berdecak pelan. "Cih, gak sudi saya jenguk dia. Apa untungnya saya jenguk dia? hanya membuang-buang waktu saya saja," jawab Adi tidak peduli.


Mawar menghembuskan napas kasar. Mawar tahu kalau Adi hanya memanfaatkan kepintaran Aleta saja selebihnya ia yakin Adi tidak akan peduli.


🍁