Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Kisah Kelam Citra



Citra menatap Eca yang bertanya kepadanya dan seketika itu juga buliran bening mengalir di pipinya, perasaan hangat di perhatikan kembali menusuk relung hatinya.


Eca, Rai, dan Putri terkejut melihat Citra yang menangis, Pasalnya tidak ada satupun diantara mereka yang tau penyebabnya.


"Sini cerita!" suruh Eca lembut.


Citra menghapus air matanya pelan, Dengan kepala yang masih menunduk dia mulai bercerita.


"Nyokap gue udah marriage" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Citra setelah sedikit menenangkan dirinya.


"Terus? Seharusnya lo bahagia dong nyokap lo nemu kebahagiaannya lagi" jawab Rai yang tidak mengetahui akar permasalahannya.


Eca dan Putri menatap Rai dengan tatapan yang mengatakan untuk dia diam.


"Iya gue bahagia, Tapi gue kagak mau tinggal sama orang lain, Gue kagak mau punya bapak tiri, Dan yang lebih penting gue nggak mau tinggal bareng orang asing" jelas Citra dengan suara yang bergetar.


Bayangan tentang kejadian masa lalu membuat tubuh Citra bergetar, Dia benci dengan orang asing karena traumanya di masa lalu.


Dia seorang Citra yang di kenal tegas dan ceria ternyata memiliki masa lalu yang kelam dan mungkin sesuatu yang tak pernah di bayangkan orang-orang, Ya dia hampir di lecehkan waktu dia berada di sekolah menengah, Dan semenjak kejadian itu dia tidak terlalu suka berhubungan dengan orang asing yang lebih tua.


"Lo bisa ngomong baik-baik sama nyokap lo dan menceritakan trauma lo itu" saran Putri sedikit ragu, Ia kurang yakin dengan idenya.


"Terus nyokap gue untuk kesekian kalinya kehilangan kebahagiaannya, Perpisahannya sama bokap aja bikin nyokap terpukul banget" jawab lirih Citra.


Citra masih ingat kejadian beberapa tahun lalu, Dimana suara ketukan palu di pengadilan keagamaan secara sah menyatakan bahwa nyokap dan bokap nya resmi bercerai.


Waktu itu termasuk dalam salah satu hari terburuk untuk Citra, Kasus yang sama dengan kebanyakan orang yang mana ada orang ketiga di dalam rumah tangga.


Keluarga kecilnya berantakan, Hari itu Papanya tidak hanya menghancurkan hati keluarga besarnya tapi juga menghancurkan masa kecilnya, Mamanya sempat depresi kala itu untungnya dia memiliki Citra sebagai penyemangat nya.


Dan sekarang, Mamanya telah menemukan kebahagiaan yang selama ini di carinya, Citra tidak bisa menjadi se egois itu untuk menghancurkan senyum manis Mamanya, Dia mungkin tidak bisa menerima semuanya sekarang, But ia pasti nanti.


Dia hanya belum terbiasa, Ia hanya butuh waktu untuk membiasakan diri berada di dekat Papa tirinya.


"Gimana kalau lo nge kos atau pindah ke apartemen dulu" saran Rai untuk kali ini terdengar masuk akal.


Citra menggeleng pelan ketika mengingat bagaimana sifat Mamanya.


"Nyokap nggak bakal izinin, Kalian sendiri tau gimana nyokap" jawabnya lagi lirih.


Mereka berempat terhanyut dalam pikiran masing-masing namun dengan tujuan yang sama yaitu apa solusi yang paling baik untuk masalah Citra ini.


"Eca~~~~" suara rengekan Citra mengalun di telinga mereka ketika Citra menggoyangkan lembut lengan Eca.


Mereka bertiga seketika merinding, Jangan bilang kalau si Citra kerasukan jin penunggu kantin ini karena terlalu banyak masalah.


"Ra, Lo apaan sih? Geli tau nggak" akhirnya Eca menjawab dengan normal seperti biasa.


"Eca gue tinggal di rumah lo aja ya, Boleh ya~~~" rayu Citra dengan nada semanis mungkin.


Untuk saat ini menurut Citra pilihan inilah yang paling terbaik, Karena Nyokap nya udah kenal banget sama keluarga Eca, Dan Nyokap nya sudah menganggap Eca seperti anaknya sendiri.


Eca memutar matanya jengah, Apa-apaan Citra ini mau tinggal di rumahnya.


"Nggak usah aneh-aneh deh Ra! Nyokap lo kagak bakal ngizinin, Lo sendiri kan tau gimana kondisi rumah gue" jawab Eca terus terang, Ia hanya mengatakan fakta.


"Heh gue serius, Nyokap juga pasti izinin kalau gue tinggal di rumah lo, Kan Lo anak kesayangan Nyokap gue" jawab Citra cepat.


"Tapi lo yakin tinggal di rumah gue? Rumah gue tu nggak kayak rumah kalian yang menyerupai istana" jelas Eca pada Citra, Berharap Citra memikirkan kembali keputusannya untuk tinggal di rumah Eca.


"Ca lo kayak nggak tau gue aja, Gue bisa hidup di mana pun Eca, Gue nggak pemilih, kayak kita baru kenal kemarin aja" jelas Citra.


Walaupun ia lahir dari keluarga yang bisa dibilang kaya raya tak membuat kehidupan Citra stuck di kondisi yang serba ada.


Citra bisa menyesuaikan dirinya dengan baik, ibarat nya Citra itu bisalah di katakan sebagai bunglon.


Eca mempertimbangkan segala kemungkinan dan segala sesuatunya sebelum mengangguk pasrah.


"Besok ke rumah gue" jawab Eca.


Berhubung besok hari Minggu dan otomatis libur, Bisalah nanti Citra merapikan barangnya.


"Apaan sih Ra? geli tau ah, Lepas nggak!" perintah Eca.


Geli anjir di peluk peluk begini.


"Ada maunya aja lo puji puji gue" tambah Eca setelah Citra melepaskan pelukannya.


Citra hanya nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


......................


Seperti biasanya, Setelah kelas usai Eca langsung pulang ke rumahnya jika tak ada ekskul atau jam pelajaran tambahan.


Eca berjalan menuju dapur seperti kebiasaannya setiap pulang sekolah hanya untuk sekedar mengecek Bundanya.


Eca mendapati Bundanya tengah menghias kue yang sepertinya kue ulangtahun.


Tak seperti kemarin dimana Bundanya berurai air mata, Hari ini senyuman manis benar-benar terukir dengan sempurna di bibir Bundanya.


"Assalamualaikum Bundanya Eca" ucap Eca ketika sudah mendudukkan dirinya d kursi.


"Waalaikumussalam, Udah lama kak?" tanya Bundanya sambil meletakkan peralatan kue yang tadi di gunakan nya.


"Barusan Bun" jawab Eca sambil menatap hiasan kue yang baru saja di kerjakan Bundanya, Itu sangat indah.


Bunda mengikuti arah mata Eca, Ia tersenyum.


"Nanti kalau kakak ulangtahun Bunda bikinin juga kue khusus buat kakak" Bunda tersenyum manis menatap Eca, Tatapan Eca yang sedang mengagumi karya Bundanya itu sangat lucu.


Eca memasukkan ke dalam mulutnya kue kering yang selalu tertata di meja makannya itu, beginilah enaknya punya Ibu yang suka bikin kue, Selalu saja punya stok camilan.


"Oh iya Bunโ€“ uhuk " Eca tersedak kue yang dimakannya tadi ketika hendak berbicara dengan Bundanya.


Bunda yang melihat Eca tersedak seketika menuangkan air ke dalam gelas dan memberikan nya pada Eca.


Eca meminum air yang di berikan Bundanya sampai tandas.


"Makasih ya Bun" ucapnya sambil ngos-ngosan, Udah kayak orang habis lari aja.


"Lain kali kalau makan itu jangan sambil ngomong!" pesan Bundanya.


"Oh iya tadi kakak mau ngomong apa?"


"Iya Bun, Itu Citra katanya mau tinggal di sini buat sementara waktu, Boleh kan Bun?" tanya Citra dengan nada penuh harap.


"Boleh dong sayang, Makin rame kan makin bagus" jawab Bunda sambil memasukkan kue yang sudah siap kemas itu kedalam kotaknya.


"Makasih Bunda" Eca langsung memeluk Bundanya dan memberikan kecupan singkat di pipi Bundanya.


"Hati-hati kak! nanti kue Bunda rusak" ingat Bundanya.


Eca langsung melepas pelukannya dari Bunda dan mengangkat tangannya seperti menyatakan dia menyerah.


"Ok ok, Kalau gitu kakak ke kamar dulu Bun" ucap Eca sambil meraih tasnya yang tergeletak mengenaskan di lantai.


Bunda hanya mengangguk sekilas dan melanjutkan pekerjaannya.


Eca berjalan ke arah kamarnya untuk bersih-bersih.


Eca meletakkan Hoodie nya di gantungan baju, masuk ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandinya yang hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit, Secepat itu? Ya Eca mandi secepat itu kalau tidak keramas.


...****************...


Hai hai readers ramein cerita author dong dengan like dan komen kalian.


Mampir juga ke Absurd Girl vs Ice Boy ya.


Terimakasih untuk yang sudah memberikan like nya.


Love You all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜