Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Keep Strong



"Eh tunggu dulu Ca, gue baru ingat kalau gue, hehe" ujar Citra sambil cengengesan.


Firasat buruk langsung menghampiri Eca, ditatapnya Citra yang juga menatapnya dengan tatapan meminta maaf.


Dan benar saja selang beberapa saat Arga sudah stay di samping Citra.


Eca kesal dibuat Citra, Mana orang udah capek-capek nungguin eh akhirnya malah ditinggal.


"Lo mah nggak asik Ra, Terus ngapain aja gue dari tadi di sini? Lo mah! Capek ini" Eca menggerutu kala melihat Citra yang tengah berbincang bincang dengan Arga.


Citra menatap Eca dengan tatapan bersalah, Bisa-bisanya dia lupa kalau dia bareng Arga.


"Balik sama gue aja" suara berat milik Zayan mengalun dengan indah di telinga mereka, Dan seketika semuanya menatap ke arah Zayan yang biasa saja, Adakah yang salah dengan dirinya jika ingin menawarkan bantuan.


Kagak ada masalah sih kalau lo mau bantuin orang, Tapi yang jadi masalahnya disini Lo itu mau nebeng in cewek, Cewek lo Zayan.


Mendengar suara Zayan yang menawarkan bantuan membuat Eca langsung kelimpungan, Panik nggak? Panik nggak? Panik lah masa enggak.


Eca masih malu dengan kejadian beberapa saat yang lalu.


"Enggak usah Yan, Makasih gue balik sendiri aja" tolak Eca halus.


Zayan dan yang lainnya menatap Eca membuat sang empu yang ditatap keheranan, Kenapa? Apanya yang salah? Tunggu-tunggu tadi Eca bilang apa? Yan? Mampus pantas saja mereka menatap heran kearah Eca, Sok akrab sih lo.


"Eeh" Eca yang menyadari kesalahannya gelagapan tidak tahu harus mau ngapain, Kok lo malu-maluin sih Ca?


Citra yang melihat Eca berada dalam situasi canggung berinisiatif membantunya.


"Udah Ca, Lo bareng Zayan aja, Katanya tadi lo capek" ucap Citra dengan niat membantu, Akan tetapi saat ini Eca tak membutuhkan bantuannya itu, Dia kepalang malu eh malah di suruh buat balik bareng doi, Kalian bisa bayangin se canggung apa mereka nanti?


Secepat yang ia bisa, Eca berdiri merapikan pakaiannya dan tasnya, Ia malu cuy.


"Eh enggak kok gue kagak capek, Siapa yang bilang kalau gue capek? Gue bisa balik sendiri kok, Serius" Eca menyangkalnya dengan nada yang benar-benar meyakinkan.


Eca mengode Citra untuk tidak berbicara lagi ketika melihat Citra yang tetap kekeuh.


Eca menghela nafas lega ketika sinyalnya ditangkap dengan benar oleh Citra, Buktinya itu anak tetap diam.


"Lo nolak bukan karena malu gue anter pakai Beat–kan?" Zayan bertanya ketika melihat Eca yang terus-terusan mencari alasan untuk menolak tawarannya.


Eca gelagapan setelah mendengar pertanyaan Zayan, Ingin dia berteriak keras untuk mengatakan ' ' TIDAK ' bukan itu masalahnya, Dia hanya malu, you know i'm just shy.


"Enggak bukan itu maksud gue, Gue cuma—" sebelum Eca menyelesaikan ucapannya suara berat sudah memotong nya terlebih dahulu.


"Kalau nggak ada masalah bisa kita pulang sekarang?" tanya Zayan serius.


"Iya" refleks Eca menjawab.


Eca merutuki mulutnya yang dengan tidak tahu dirinya menjawab ' Iya '.


Eca menatap ke arah Citra dan yang lainnya akan tetapi mereka seolah-olah berpura-pura tidak tahu.


Eca menghela nafas kemudian mulai mengikuti langkah Zayan ke parkiran sekolah.


Sebenarnya Eca nggak kesal sih harus di anterin Zayan, Malahan dia seneng banget, Tapi masalahnya dia udah kepalang malu, But nasi sudah menjadi bubur makan aja lah, Lagian enak ko kalau di tambah bumbu yang lainnya, Apalagi kalau di tambah ayam, Eeh kok malah keinget bubur ayam.


Zayan mengehentikan motornya di depan Eca, Menatapnya dengan isyarat memintanya untuk naik.


"Yok naik, Tapi helm gue cuma satu, Nggak pa-pa kan?" tanya Zayan ketika mengisyaratkan Eca untuk duduk dengan manis di jok belakang nya.


"Oh nggak pa-pa kok, Santai aja" jawab Eca ketika dia sudah duduk di jok belakang, Eca merapatkan Hoodie-nya setelah sebelumnya ia memakai kupluk nya.


"Udah?" tanya Zayan lagi untuk memastikan apakah Eca sudah siap atau belum.


"Oh udah" Eca menjawab sambil menganggukkan kepala.


Zayan mulai melajukan motornya pelan setelah mendengar jawaban dari Eca.


Sore itu lalu lalang kendaraan cukup padat karena memang jam nya pulang kantor.


Eca menatap sekelilingnya yang ramai kendaraan mulai dari yang roda 2 sampai dengan yang tidak beroda, Hehe canda kok.


......................


Senja mulai pergi dilahap oleh kegelapan, Cahaya remang-remang mendominasi di sepanjang jalan.


Eca sampai dengan selamat di depan pagar rumahnya.


Zayan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Nggak usah, Lain kali aja" jawabnya sambil menghidupkan mesin motornya.


Eca menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya, Hati-hati!" ulang Eca setelah Zayan melajukan motornya.


Eca memasuki rumahnya setelah bayangan Zayan menghilang dari pandangannya.


Eca seperti biasanya masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi, Eca menajamkan pendengarannya ketika mendengar sayup-sayup suara orang menangis, Eca mengerutkan keningnya ketika langkah kakinya berhenti di depan pintu dapur.


Eca memperhatikan dengan seksama, di sana tepatnya di kursi meja makan, Malaikatnya yaitu wanita yang paling dilindungi nya kembali meneteskan air mata untuk kesekian kalinya, Dan untuk kesekian kalinya pula Eca kembali tidak tau apa penyebab bulir bening itu mengalir di pipi malaikatnya.


Tubuh rapuh Eca meluruh ketika isak tangis bundanya semakin pilu, Eca memegang dadanya yang sesak seolah-olah ada yang meremas jantungnya.


Tubuhnya yang lelah dan emosinya yang terombang-ambing membuat Eca hanya mampu menyeret langkahnya menuju kamar, Ia tak sanggup lagi mendengar lebih lama suara tangisan Bundanya, Baginya itu semacam penyiksaan.


Eca berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya, Dia ingin menyegarkan tubuh dan pikirannya karena Eca sangat sangat tau kalau waktu tak akan pernah menunggunya untuk bersedih atau pun meratapi hidup.


Setelah selesai bersiap-siap Eca berangkat ke minimarket tempatnya bekerja, Sebagaimana dia datang dengan sepi sekarang dia juga pergi dengan sepi.


......................


Sekolah masih sama seperti hari-hari biasanya, Eca masih tertawa bebas dengan teman-temannya seolah-olah kejadian kemarin tak pernah terjadi dan tak ada sangkut pautnya dengan dia.


Eca tertawa bebas kala mendengar lelucon receh dari Rai dan Putri.


"Eh lo pada tau nggak kenapa anak Babi jalannya nunduk?" tanya Eca kepada 3 ciwi di depannya.


Ya sekarang mereka sedang duduk di pojokan kantin bukan jam istirahat melainkan jam kosong.


"Kagak tau gue, Kan gue bukan anaknya" jawab enteng Rai.


"Pas kan? Kalian nyerah kan?" tanya Eca memastikan.


Mereka mengangguk serentak.


"Karena anaknya malu punya emak Babi, Hahaha" jawab Eca sambil tertawa puas.


"Anjir parah" ucap Putri sambil memukul-mukul meja, Tak ubah dengan Rai yang tak kalah ngakak.


"Satu lagi nih, Lo pada tau nggak kenapa anak kelinci jalannya lompat-lompat?" ucap Eca.


"Apaan?" tanya Putri dan Rai serempak.


"Karena dia bahagia emaknya bukan Babi" jawab Eca lagi tak kalah ngakak.


Mereka kembali tertawa ngakak, Bahagia mereka sesederhana itu.


Eits tunggu dulu, Eca merasa ada yang aneh di situasi nya sekarang.


Mereka berempat disini, *B*ut kenapa yang bersuara cuma 3 orang yang satu lagi kemana?


Eca melirik Citra di sebelahnya yang tengah memutar-mutar sedotan di gelas jusnya.


Tatapan Citra kosong lurus ke depan, seolah-olah raganya ada bersama mereka tapi jiwanya berkelana entah kemana.


Putri dan Rai juga memerhatikan arah tatapan Eca.


"Lo kenapa Ra? Berat banget kayaknya masalah hidup lo? Sini cerita!" ujar Eca sambil menepuk bahu Citra.


Citra menatap Eca yang bertanya kepadanya dan seketika itu juga buliran bening mengalir di pipinya, perasaan hangat di perhatikan kembali menusuk relung hatinya.


Eca, Rai, dan Putri terkejut melihat Citra yang menangis, Pasalnya tidak ada satupun diantara mereka yang tau penyebabnya.


...****************...


Terimakasih untuk readers yang sudah membaca Romeesa Syabani.


Jangan lupa mampir juga di Absurd Girl vc Ice Boy okay.


Terimakasih banyak.