
"Tapi jika kedatangan Anda kesini hanya untuk mengganggu ketenangan kami sekeluarga, silahkan keluar dengan sendirinya ketika saya masih memperlakukan Anda sebagai seorang tamu yang saya hargai, pintu keluarnya di sana " Eca memberikan isyarat tangan setelah menyelesaikan kalimat panjangnya itu.
Bunda meremas pelan tangan Eca guna meredakan emosi putrinya itu,9 bulan Eca dikandungnya membuat Bunda hapal betul dengan sifat putrinya itu.
Om Rayan menatap sendu Eca, putrinya ternyata sudah sebesar ini, putrinya ternyata sudah bisa melindungi dirinya sendiri bahkan melindungi keluarganya, dia ternyata telah melewatkan masa-masa dimana putrinya itu membutuhkan sosok seorang ayah, matanya mengembun.
"Kedatangan Om kesini bermaksud baik, Om tidak berniat sedikitpun menganggu kalian,Om hanya ingin menyelesaikan masalah masa lalu" Om Rayan tersenyum getir, hatinya bagai di remas-remas karena setiap kata Om ya terlontar dari mulutnya.
Dia sesak, sejauh ini jarak dengan darah dagingnya sehingga ia tak sanggup hanya sekedar mengucapkan kata Papa ataupun Ayah.
Eca menoleh ke arah Bunda nya yang tersenyum lembut kemudian mengangguk kecil.
Eca terdiam sebentar, apakah harus ia mengizinkan sosok lelaki didepannya ini menjelaskan semuanya, bagaimana jika harapan tak sesuai dengan realitanya.
Eca menatap wajah Om Rayan yang penuh dengan pengharapan, beralih ke wajah cantik Bundanya yang masih cantik di usia nya yang tak lagi muda, bekas air mata tercetak jelas di pipinya.
Tangan Eca mengusap pelan pipi Bundanya,ia tersenyum kemudian mengangguk.
Tak masalah bukan memberikan kesempatan untuk Om Rayan yang notabenenya Ayahnya itu untuk menjelaskan alasan kenapa mereka terpisah.
"Silahkan duduk kembali" ujar Eca sambil mendudukkan dirinya di sofa samping Bundanya.
Mereka duduk saling berhadapan, dengan berbagai macam isi pikiran masing-masing.
"Jadi??" satu kata lolos dari mulut manis Eca setelah keheningan yang menciptakan atmosfer ruangan itu tak menyenangkan.
"Aku salah,aku mengaku aku salah.aku salah karena hanya diam, aku salah karena tak bertanggungjawab kepada kalian, aku bersalah karena membiarkan kamu merawat anak-anak kita sendirian,aku salah,aku minta maaf" ucap Om Rayan sambil bersimpuh didepan Bunda dengan tangan nya yang menggenggam erat tangan Bunda.
Kepalanya yang tertunduk cukup untuk menjelaskan seberapa menyesal nya dia atas perbuatannya.
Bunda memalingkan wajahnya sembari menahan cairan bening itu mengalir dari matanya.
Eca hanya memasang ekspresi datar,ia hanya merasa tak ada gunanya penyesalan, dia terlanjur bisa sendiri,ia terlanjur mendoktrin pikiran nya bahwa ia bisa tanpa sosok ayah dan akhirnya perlahan tapi pasti ia tak terlalu mengharapkan sosok itu.
Diam kembali terjadi untuk kesekian kalinya, Bunda masih mencerna ucapan Om Rayan, Om Rayan yang menunggu jawaban Bunda dan Eca sebagai pengamat.
"Kenapa? kenapa kamu nggak menjelaskan waktu itu? kenapa kamu diam? kenapa kamu nggak menghentikan aku? kenapa-" suara Bunda tercekat, seolah tidak kuat untuk mengucapkan kalimat terakhir itu.
"Kenapa... perempuan itu bisa sampai seberani itu?."
Air mata kembali mengalir di mata nan sayu itu menambah sesak di dada Eca.
"Dia teman kecilku, orang tua kami bersahabat kami tumbuh dan besar bersama. Setelah lulus SMP kami berpisah,dia melanjutkan studi nya ke luar negri dan aku tetap di negara ini sekolah sambil belajar mengurus perusahaan." Om Rayan menjeda kalimat nya sembari mengamati ekspresi 2 perempuan yang memegang tahta tertinggi di hatinya,2 perempuan yang sudah menderita karena ulahnya.
Om Rayan gamang untuk melanjutkan ketika kembali melihat air mata mengalir di pipi wanitanya itu.
"Lanjutkan!" titah Bunda setelah memenangkan dirinya.
Om Rayan menarik nafasnya panjang.
"Setelah selesai kuliah dan aku mulai mengambil alih perusahaan puncaknya, orang tua kami ingin persahabatan mereka tidak putus dan mereka mulai menjodoh-jodohkan kami. Kami jelas menolak keras perjodohan itu lantaran kami sudah mempunyai pasangan masing-masing,aku punya kamu dan dia juga sudah memiliki kekasih." jelasnya lagi panjang kali lebar.
Bunda kembali menangis kala kalimat tentang jodoh menjodohkan masuk ke indra pendengarannya, sakit ketika ternyata suami yang kita kenal ternyata memiliki masa lalu yang cukup manis dengan perempuan lain.
Eca yang sedari tadi terus-terusan melihat air mata Bundanya mengalir mengakui bahwa ia cukup geram dengan penjelasan yang berbelit-belit ini.
"Intinya siapa wanita itu, nggak usah berbelit-belit menceritakan masa lalu anda yang indah itu!" tegas Eca ya sudah tidak tahan lagi melihat Bundanya menahan sakit di hatinya.
Bunda menggeleng sambil menyentuh pelan tangan Eca, mengisyaratkan bahwa bagaimanapun ia tetap ayahnya.
Om Rayan tersenyum miris mendapati pernyataan seperti itu dari putrinya, perkataan Eca mampu menambah sedikit lagi goresan dihatinya, apakah serenggang ini hubungan mereka.
"Kami akhirnya hidup bahagia dengan keluarga kami masing-masing, tapi kehidupan bahagia nya tak bertahan lama dia mulai mendapat perlakuan kasar dari suaminya kekerasan dalam rumah tangga, diselingkuhi dan puncaknya ia hampir meninggal di tangan suaminya."
"Dia ketakutan,dia takut untuk mengadu pada keluarganya karena dia telah dengan keras kepalanya memilih suaminya itu hingga menentang keluarga besarnya dia tidak tau ingin bercerita kepada siapa akhirnya menceritakan semuanya pada kakakku yang kebetulan waktu itu sedang berkunjung ke rumah kita,dia meminta bantuan ku untuk berpura-pura menjadi ayah dari putrinya agar bisa terbebas dari suaminya."
"Dia menghancurkan kebahagiaan Bunda ku hanya karena dia tak bahagia dengan pilihannya,heh miris." Eca tersenyum mengejek setelah mendengar penjelasan Om Rayan.
On Rayan lagi dan lagi menarik nafasnya setelah mendengar reaksi putrinya, dapat ia simpulkan bahwa lidah putrinya tajam bukan main.
"Dia sampai di rumah kita dengan anaknya yang disambut baik oleh kakak karena memang mereka sudah selayaknya kakak beradik,dia berkata seperti itu kepadamu juga memiliki alasan yang lain bukan karena kakak tidak menyukai mu tapi kakak mencoba menyelamatkan 1 nyawa."
Bunda mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti, perkataan Om Zayan membuat nya seolah-olah menjadi orang yang egois karena tak ingin mendengarkan penjelasan orang lain.
"Ternyata tak lama setelah kejadian kekerasan yang dilakukan oleh suaminya yang hampir menyebabkan nya meninggal dunia,dia di nyatakan memiliki gangguan jiwa yang dimana dia merasa terus terancam, itulah sebabnya kakak mengatakan bahwa aku adalah suaminya yang mana itu memberikan rasa aman di dalam dirinya yang mana kata suami memiliki image bagus di hatinya walaupun ia hampir mati ditangan suaminya." jelas Om Rayan.
Bunda mulai memahami alur nya, tapi yang jadi masalahnya ia kecewa kenapa suaminya tidak menghentikan nya kenapa suaminya tidak menjelaskan apa yang terjadi.
"Kenapa waktu itu kamu hanya diam mas? kenapa kamu nggak menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? kenapa... kenapa mas?" Bunda terisak-isak sambil memukul-mukul bahu Om Rayan yang kembali bersimpuh di depannya.
...****************...
Terimakasih sudah menunggu updatean nya..
😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰