Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Why?



Dia bukan siapa-siapa saat ini, dia hanya teman, tapi aku mencintainya:)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidur untuk waktu yang cukup lama cukup membuat tubuh Eca yang tadinya lelah kembali ke kondisi awalnya.


Eca mendudukkan dirinya, menatap sekeliling ruangan UKS yang sepi, seingatnya tadi ada Zayan disini yang menemaninya, lantas kemana anak itu pergi?


Eca membuang jauh-jauh tentang Zayan yang entah mengapa akhir-akhir ini selalu bergentayangan di pikirannya.


Kaki jenjang nya menapak lantai, Eca memegang sisi brankar untuk menyeimbangkan tubuhnya.


Pintu kayu UKS yang besar berderit membuat Eca mengalihkan atensinya tepat ke sumber suara, tubuh jangkung milik Zayan terekspos ketika pintu terbuka sepenuhnya, tangannya tampak sibuk membawa nampan.


"Lo ngapain turun?" tanya Zayan setelah meletakkan nampan tadi ke atas meja di samping brankar.


Eca merasakan tubuhnya melayang sebelum kembali mendarat di brankar, Eca hanya terdiam mendapat perlakuan manis dari Zayan.


"Mau ke kelas gue" Eca menjawab pelan pertanyaan Zayan setelah menormalkan debar jantungnya.


"Emang udah baikan?" tanya Zayan menyelidik dengan tangannya yang bertengger manis di dahi Eca guna mencek suhu tubuh gadis itu.


"Udah nggak pa-pa" cicit Eca, ia kembali dibuat salah tingkah oleh Zayan.


Zayan menatap lekat manik besar Eca, ia tau kalau gadis di depannya ini sedang salah tingkah terbukti dengan nada bicara Eca yang berbeda dari biasanya dan pipi nya yang merona.


Zayan terkekeh kecil ah betapa imutnya Eca saat ini, Zayan menepuk ringan kepalanya Eca kemudian meraih nasi goreng di nampan yang ia bawa tadi.


Eca bersemu, bisa-bisanya laki-laki di depannya ini menepuk kepalanya, apakah ia tidak tau efek yang disebabkan nya dari tindakan sederhana itu, oi ini jantung Eca dag dig dug nya kencang kali.


"Makan dulu baru balik ke kelas ya, lagian sebentar lagi istirahat" Zayan mengarahkan sendok yang berisi nasi goreng itu tepat ke mulut Eca.


Eca gugup apa ia harus menerima atau tidak, tapi jika ia menolak ia takut menyinggung perasaan Zayan, akhirnya setelah pertimbangan yang tidak lama alias kilat ia memakan nasi goreng itu.


Kegiatan itu terus berlanjut, Zayan menyuapi dan Eca yang makan sampai nasi goreng di piring itu tandas tak bersisa.


Eca meneguk air mineral yang diberikan Zayan, ah nikmat sekali.


"Udah" ujar Eca memberi tau Zayan.


Zayan mengangguk kemudian membantu Eca berdiri dan menggandeng tangan Eca, jaga-jaga supaya Eca tidak terjatuh.


Sepanjang jalan menuju kelas Eca mendapati banyak pasang mata yang menatap mereka secara diam-diam maupun secara terang-terangan, but Eca tidak mempermasalahkannya.


Eca memang salting dengan Zayan tapi tidak dengan orang lain, kepalanya masih terangkat tinggi tak kenal takut.


Zayan mengantar Eca tepat sampai depan kelas Eca.


Eca masuk ke dalam kelas setelah mengucapkan terimakasih kepada Zayan dan basa-basi lainnya.


Bel istirahat baru berbunyi kurang lebih 5 menit yang lalu dan sebagian siswa masih stay di kelas membereskan alat tulis mereka.


Eca menatap heran, kenapa ini anak menatapnya seolah-olah ia sudah membunuh orang saja.


"Gue nggak suka ya kalo terlambat masuk kelas, terus kalian semua ngeliatin gue kayak habis bunuh orang!" Ujar Eca sambil mendudukkan dirinya.


"No no kita ngeliat lo kayak gitu bukan karena lo terlambat, but lo kenapa bisa dianter sama si Zayan? itu yang jadi permasalahannya" balas Rai sambil menatap selidik Eca.


"Ya bisa lah, emang kenapa kagak boleh?" Eca bingung, kenapa dia tidak bisa diantar oleh Zayan? masalah nya dimana?


"Masalahnya itu si Zayan kagak pernah ada skandal sama cewek cok" jawab Citra sambil menekan pelan dahi Eca dengan telunjuknya.


"Iya yah?" bengong Eca, masa sih ada cowok yang tak pernah terlibat asmara?


"Lo udah jadian ya sama Zayan? ngaku lo!" Rai tersenyum sambil meledek Eca dengan ekspresi yang sangat sangat membuat orang kesal.


"Enggak ah apaan sih" Eca blushing dong kalau sudah menyangkut perihal dirinya dan Zayan.


"Halah bohong lo, itu aja pipi lo merah" tunjuk Rai lagi. "Cie yang blushing"


Mereka berdua terus menggoda Eca membuat wajahnya merona sampai telinga.


"Sekarang belum sih tapi nggak tau kalau nanti liat aja" jawab Eca setelah menormalkan rona wajah dan detak jantungnya.


Mereka asik meledak Eca sampai mereka lupa untuk menanyakan keadaan gadis tersebut, yang pastinya mereka tau kalau Eca sudah baik-baik saja.


"Eh btw si Putri kemana? kok dari tadi kagak ada?" tanya Eca bingung pasalnya gadis itu yang selalu khawatir dengan mereka dia yang paling care lah kalau soal kesehatan ini.


"Tadi katanya ke WC sih" jawab Citra setelah mengingat ingat.


"Lama ya?" Eca kembali bertanya.


"Tuh anaknya nongol" tunjuk Rai dengan isyarat matanya.


"Lah si anying ngapain pakai acara masker masker an segala? Covid lo?" Canda Citra.


Putri duduk tepat di sebelah Rai setelah membenarkan letak maskernya.


"Kagak, lagi pengen aja pakai masker" jawab Putri sambil terkekeh.


"Ya elah bisa aje lo" balas Citra.


Eca menatap seksama Putri ia merasa ada yang berbeda dengan Putri hari ini, Tapi apa?


Eca membuang pikirannya jauh-jauh meski instingnya terus mengatakan ada yang salah dengan Putri, but apa boleh buat jika Putri tak ingin mereka tau.


Akhirnya mereka menghabiskan waktu istirahat dengan terus ha ha hi hi dari menceritakan hal hal lucu yang pernah mereka alami sampai bergosip Ria.


......................


Gerbang rumahnya terbuka, mobil yang agak familiar di mata Eca terparkir di halamannya, oh iya mobilnya Om Rayan.


Eca berjalan beriringan dengan Citra menunju rumahnya, tubuhnya membeku kala tubuh besar laki-laki membukus tubuhnya.


Refleks Eca ingin melepaskan pelukan itu ia risih, Eca memberontak di pelukan Om Rayan.


"Om" ujar Eca dengan nada yang sarat akan menuntut penjelasan setelah ia berhasil melepaskan diri dari pelukan Om Rayan.


Om Rayan hanya diam menatap Eca penuh cinta dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia sekali lagi merengkuh Eca kemudian mengecup singkat dahi Eca dan berlalu meninggalkan rumah Eca.


Untuk kali ini Eca di buat bingung, tak hanya Eca Citra yang berada disebelahnya juga tak kalah sok dengan apa yang baru saja terjadi.


"Ca, are you okay ?" Citra menyentuh lengan Eca menyadarkan nya dari keadaan yang membuat nya linglung.


Eca mengangguk kemudian melangkah ke dalam rumah mendapati Bunda yang duduk dengan tatapan kosong di ruang tamu sendirian, dengan gelas bekas cukup membuktikan kalau Om Rayan baru saja bertamu dengan Bundanya.


Citra paham ketika melihat Eca duduk di depan Bunda, ia meninggalkan mereka berdua dan berlalu ke arah kamar.


"Bun" panggil Eca dalam upaya mengembalikan fokus Bundanya.


Bunda tersentak dan menatap Putri sulungnya, ia menarik senyum nya mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.


"Ada masalah? cerita sama Eca!" Eca mencoba berinteraksi dengan selembut mungkin, karena ia menyinggung topik yang sepertinya cukup sensitif untuk Bundanya.


Bunda ragu-ragu terlihat dari bibir nya yang terbuka dan kembali tertutup, hanya memberikan senyum untuk Eca but saat ini Eca sedang tidak membutuhkan senyum palsu Bunda itu.


"Susah ya? atau nggak ini sebenarnya apa hubungan Bunda sama Om Rayan sampai-sampai Bunda jadi begini dan Om Rayan yang berani memeluk aku?" Eca to the point untuk saat ini karena jika berbelit-belit pastilah Bunda nya dengan sangat mudah mengalihkan topik pembicaraan.


Bunda menatap Eca dengan seksama, memandang nya dengan penuh cinta kasih seorang ibu.


Putrinya saat ini sudah besar, Eca nya bukan lagi gadis kecil yang menangis karena di ejek teman-temannya, Eca nya sudah bisa menjadi sandaran baginya.


Air mata kembali meluruh di mata Bunda, apakah sekarang saatnya menceritakan semuanya pada Eca?


...****************...


Betah ya guys...


Maaf sebelumnya author telat update soalnya author lagi sakit, Leher author kagak bisa di gerakan ke sebelah kiri 😭😭😭


Tapi sekarang Alhamdulillah udah mendingan 🥰


Jangan lupa like vote ment nya ya😘😘