
"Nggak mau ngomong ni anak" jawabnya santai.
Ya Eca cukup bosan sedari tadi mengoceh sendirian karena Putri tak ingin menceritakan kronologi ceritanya dan memilih bungkam.
Suara isakan kecil mulai terdengar diantara ocehan mereka, dan tentu saja sumber suara akan menjadi pusat perhatian manusia di ruangan kecil itu.
Putri,ya sumber suara itu berasal dari Putri.
Gadis yang tengah tertunduk itu ternyata menangis dalam diam sedari tadi.
Citra merengkuh tubuh Putri ke dalam dekapannya, sementara Eca terus menatap dalam manik Putri.
"Udah jan ditatap terus!" tegur Zayan dengan suara pelan tepat di samping telinga Eca, rupanya ia juga disitu dan menyimak pembicaraan mereka.
Eca terkejut dengan suara berat yang tiba-tiba ditransmisikan ke gendang telinga nya refleks menoleh, mata yang tajam itu tengah menatap nya.
Zayan menatap dalam manik indah Eca, gadis ini tidak bisakah membaca situasi.
Tangganya perlahan menggenggam tangan putih bersih itu, dapat dilihat nya pupil mata Eca yang melebar beberapa centi.
"Raniya marah sama aku karena cowok yang di taksir nya ngedeketin aku,dia mulai ngebully aku ketika kalian nggak ada, bukan kali ini aja tapi udah sering, setiap aku alasan nggak masuk itu karena badan ku sakit semua" suara kecil itu terdengar sangat sangat jelas di gendang telinga tajam Eca,raut wajahnya yang tadi mulai santai karena perlakuan Zayan yang menurut nya perhatian seketika kembali menajam, tangan nya yang berada di genggaman hangat Zayan sudah sukses terkepal.
"Dimana lo yang luka karena ulah mereka?" tanya Eca datar dengan nada yang memerintah seolah raja yang tak ingin di bantah.
Diam... Putri mulai menyadari bahwa dia telah memakan buah simalakama, ibarat kata dia diam Eca marah dan dia angkat suara Eca menjadi murka.
"DIMANA?!!!" suara Eca meninggi dengan tubuhnya yang sudah tak lagi pada posisi yang semula.
"Put bilang aja, nggak bakal kenapa-kenapa kok" bujuk Citra, Raia yang duduk di sebelah Putri juga mengangguk mengiyakan.
Eca melangkah dan mengangkat dagu Putri, sekarang baru dapat dilihat nya dengan jelas wajah yang mulus cantik itu kini telah memar dimana-mana, sudut bibirnya yang robek pelipis yang membiru dan jangan lupakan darah yang mulai mengering di sudut dahinya.
"Sial!!" tangannya terkepal, tanpa sepatah katapun dia melenggang meninggalkan ruangan yang mencekam itu.
Sosok tegas itu perlahan menghilang dibalik pintu bertuliskan UKS itu, mereka tersadar pasti nya tak ada yang baik yang akan terjadi.
......................
BRAKKKKKK
Pintu kayu besar itu terbuka dengan keras lantaran tenaga yang dipakai untuk membuka nya tidak lah sedikit.
Mata penghuni ruangan itu tertuju pada satu pusat yang terlihat sedang menahan amarahnya.
Mata tajam nan indah itu beredar keseluruh ruangan mencari objek yang benar-benar berhasil membuat emosinya meledak-ledak.
Ok target terkunci.
Dengan langkah pasti Eca berhenti di depan perempuan yang berhasil membuat sahabat nya menderita, perempuan yang membuat senyum sahabatnya luntur.
PLAKKKKK
Satu tamparan tapi dengan tenaga yang tidak sedikit mendarat dengan sempurna di pipi Riyana.
"AWW" teriak Riyana dengan tubuhnya yang tersungkur di lantai lantaran kuatnya tenaga Eca.
"Anj*ng lo" teriak Salsa ke arah Eca sambil membantu Riyana berdiri.
Eca hanya memandang Salsa sekilas lalu mendorong nya menjauh dari Riyana, lengannya yang putih bersih menarik kerah seragam milik Riyana,mau tidak mau dan suka tidak suka Riyana terpaksa berdiri mengikuti tarikan Eca.
PLAKKKK....
"Anj*ng lo, ada salah apa gue sama lo hah?" Riyana mengumpat dengan suara yang lirih menahan sakit serta kerahnya yang masih di cengkram Eca.
"Salah?heh" Eca berdecih "KENAPA NGGAK LO PIKIR IN INI SEBELUM LO BULY SAHABAT GUE!!"
"ARGHHHH"
Tarikan kuat Eca di rambut Riyana menambah jeritan gadis itu.
"Ss- - - -akit Ca" rintihnya mengiba pada Eca.
"Sakit? kurang lebih kayak gini lah yang dirasakan Putri ketika lo pukul in dia ramai-ramai" senyum setan Eca membuat manusia yang ada di ruangan itu tidak berani melerainya bahkan Salsa yang tadi sempat membela Riyana juga bungkam.
Eca menarik kuat rambut Riyana sampai kepalanya itu mendongak saking kuatnya,ia menariknya ke arah meja dan membenturkan nya berulang kali tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Zayan serta yang lainnya sampai di lokasi Eca, dengan keadaan kelas yang berantakan serta Eca yang masih membenturkan kepala milik Riyana tanpa niat untuk berhenti.
Zayan dengan sigap langsung menarik tangan Eca yang hendak malayangkan tamparan kembali ke gadis yang sudah setengah sadar itu.
Mata Eca menyusut menandakan ia sangat kesal karena aktivitas nya terganggu, dapat dilihatnya tangan yang memegang lengannya itu bukanlah milik salah satu dari tiga sahabat nya.
"Lepas!" titah Eca dalam.
Zayan masih menggenggam tangan Eca yang melayang di udara itu serta sebelah tangan nya lagi melepaskan jemari Eca yang menggenggam seragam milik Riyana.
"Gue bilang lepas ya LEPAS!" teriak Eca sambil menyentak tangan nya kuat.
Zayan menarik tubuh Eca menjauhi Riyana, tujuannya hanya satu jangan sampai gadis yang akhir-akhir ini mengusik hatinya menjadi pembunuh.
"Bawa dia ke rumah sakit!" titahnya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.
......................
"ARGHHHH" teriak Eca ketika Zayan sudah berhasil membawa nya ke rooftop sekolah mereka.
"Lo ada masalah apa sama gue hah? apa maksud lo bawa gue kesini? oooo atau jangan jangan lo suka sama jal*ng itu hah? dan lo nggak tega dia babak belur sama gue?iya?" cerca Eca sambil melayangkan pukulan ke arah Zayan.
Zayan mengelak ketika pukulan itu akan mendarat di pipinya, ternyata marahnya Romeesa Syabani tidak bercanda.
"Ngomong apa sih?" jawaban santai Zayan berhasil menyulut emosi Eca.
"Sial lo,gue belum selesai balesin sakit Putri" Eca berbalik dengan langkah kakinya yang terayun siap untuk berlari ke lokasi kejadian tadi.
Bukannya berlari maju malahan tubuhnya berputar dan mendarat dengan sempurna di dada bidang nan hangat milik laki-laki yang berhasil membuat nya naik darah.
Eca terdiam kala pelukan Zayan semakin erat seolah olah tak membiarkan nya bergerak sedikit pun.
Nafas Eca yang tadi tersengal tak beraturan lantaran lelah dan emosi kini mulai tenang dengan mata yang terpejam ia menikmati pelukan hangat si yang katanya kulkas berjalan.
"Udah tenang?" tanya Zayan sambil terus mengusap rambut indah Eca yang sudah berantakan itu.
Zayan memainkan rambut milik Eca yang berwarna unik dengan jari jemarinya yang panjang.
Yah gadis ini berhasil meluluhkan hatinya yang dingin.
...****************...
Terimakasih semuanya yang sudah mau nunggu author yang nggak update update ini.
banyak cinta untuk kalian 🥰🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️