Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Tenang



Bunda mulai memahami alur nya, tapi yang jadi masalahnya ia kecewa kenapa suaminya tidak menghentikan nya kenapa suaminya tidak menjelaskan apa yang terjadi.


"Kenapa waktu itu kamu hanya diam mas? kenapa kamu nggak menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? kenapa... kenapa mas?" Bunda terisak-isak sambil memukul-mukul bahu Om Rayan yang kembali bersimpuh di depannya.


"Aku salah sayang...aku salah karena nggak bisa jadi pemimpin keluarga ya tegas, nggak bisa jadi suami dan lelaki yang lebih tegas" Om Rayan kembali menangis dengan masih menggenggam tangan Bunda.


Air mata yang mengalir dari Om Rayan bisa membuat Bunda memalingkan wajahnya, dadanya seperti diremas.


wah.. ternyata setelah 15 tahun Om Rayan masih membawa pengaruh besar untuk emosi Bunda.


Eca menatap tak percaya ke arah Om Rayan setelah penjelasan nya yang panjang lebar.


"Wah...wah...wah, sepertinya anda sangat menyayangi sahabat anda itu sehingga dengan gampangnya anda mengorbankan istri dan juga anak-anak anda" sinis Eca.


Rayan menatap mata putrinya yang datar setelah mendengar kata-kata sarkas yang mengalir dari mulut putrinya itu.


"Bukan begitu sayang, bukan begitu maksud Pa-"


"Bukan begitu? Lalu apa maksud anda sebenarnya hah?"


Suara lantang Eca membuat Rayan kembali menelan kata-katanya.


"Sudah 15 tahun, anda kemana selama ini?oh iya anda kan memilih sahabat anda itu dan menelantarkan istri dan anak anda" kekehan kembali keluar dari mulut Eca setelah melontarkan kalimat itu,ia seolah-olah menertawakan nasibnya sendiri.


"Bukan sayang, Papa tidak menelantarkan kalian, Papa mencari kalian sayang" suara pelan Rayan mencoba menjelaskan,ia tak boleh sampai meninggikan suara di depan putrinya ini.


Mata Eca menatap bundanya yang hanya diam kemudian menatap mata Papanya dengan mata yang seolah olah mengejek.


"Saya rasa dengan uang dan kuasa anda sepertinya cukup mudah untuk menemukan kami, tapi apa? ini sudah 15 tahun, jangan bercanda! kota ini tak sebesar itu" sindir Eca lagi, seperti gadis ini benar-benar tak berniat mendengarkan penjelasan lelaki didepannya ini.


Rayan menatap tepat di bola mata Eca,ia menyelami mata yang sama persis seperti miliknya,ia mencari cari makna di balik mata itu, apa yang tengah putrinya pikirkan?


Rayan tersenyum pahit setelah terdiam untuk waktu yang cukup lama.


"Maaf kan Papa..." lirihnya sambil meraih tangan Eca.


Eca melipat tangannya di dada,dan Rayan tidak bodoh hanya untuk mengartikan itu adalah sebuah penolakan dari putrinya.


"Papa punya alasan yang kuat sayang, Papa harus menyelamatkan 2 nyawa sayang..."


Bohong jika Eca katakan ia tak terkejut, apa-apaan sosok di depannya ini membawa bawa nyawa ke dalam masalahnya.


Eca membuang pandangannya, menurutnya itu hanyalah pembelaan diri dari sosok di depannya ini.


"Saya tidak peduli anda menyelamatkan nyawa orang atau apapun lah itu, yang pasti anda menelantarkan kami bertiga!"


Rahangnya mengeras ketika kembali mengingat air mata Bundanya yang jatuh, sekarang ia tau penyebabnya.


Lelaki didepannya ini penyebabnya, seorang suami dan ayah dari anaknya lah yang telah menyakiti hatinya.


Rayan menatap Eca,apa yang harus dilakukan nya sekarang?


Putrinya tidak mau mendengarkan penjelasannya, putrinya kecewa kepadanya.


Yah, memang ini bukan yang pantas didapatkan nya setelah berpisah dari keluarganya?


"Bunda..." panggil Eca,ia menggenggam tangan Bunda nya, menyelami mata teduh itu.


"Aku nggak tau Bunda bahagia atau enggak selama ini,aku nggak tau isi hati Bunda yang paling dalam karena Bunda selalu bilang bunda Ok, Bunda selalu bilang kalau Bunda nggak pa-pa" mata yang berkaca-kaca itu bukti yang cukup jika selama ini hatinya sakit ketika Bundanya selalu menyembunyikan perasaannya.


"Bunda selalu nangis sendirian tengah malam dan aku cuma bisa ngeliatin tanpa tau apa yang harus aku lakukan,Bunda nggak pernah mau cerita sama aku,aku ngerasa nggak berguna jadi anak Bun..."


Pecah sudah bendungan yang sedari tadi gadis itu tahan,isak tangis nya tak lagi bisa ia tahan, suara yang semula pelan makin lama makin kencang.


Yah dia hanya remaja yang rapuh, yang tumbuh tanpa kasih sayang sosok ayah.


Bunda memeluk Eca erat,dia tidak menyadari sikap nya selama ini yang memendam masa lalu sendiri ternyata menyakiti hati putrinya,ia pikir cukup dirinya saja yang sakit putrinya jangan.


Ternyata ia salah, putrinya sudah besar sekarang, putrinya sudah cukup dewasa untuk nya berbagi cerita.


Rayan tersenyum pahit,ia kembali dibuat menyesal dengan keputusan nya dulu, ternyata ia baik terhadap orang lain dan kejam kepada keluarganya sendiri,ia menyelamatkan 2 nyawa tapi menghancurkan 3 hati perempuan yang disayang nya, bahkan ia belum sempat bertemu dengan putri bungsunya.


Ah, bagaimana kira-kira reaksi putri bungsunya itu, apakah ia juga akan ikut membencinya?


Pertanyaan bodoh macam apa itu Rayan? kau mengharapkan apa setelah ketidakhadiran dirimu selama 15 tahun hidupnya?


Rayan tersenyum miris, salah nya.


"Maaf sayang... Bunda minta maaf" pelukan nya semakin erat.


Eca menghirup nafas dalam, mencoba menetralkan emosinya.


Dilepasnya pelan tangan sang Bunda, menatap sang Papa didepannya yang sudah membuat air mata nya jatuh dan menyakiti hati Bundanya dan sialnya lagi hati nya tak bisa memungkiri bahwa ia sedikit bahagia dengan kedatangan sosok itu.


"Eca nggak tau gimana hati Bunda sekarang setelah bertemu kembali dengan Om Rayan, Eca nggak tau apakah Bunda betul-betul marah dan membenci kehadiran Om Rayan atau Bunda cuma kecewa dengan sikap Om Rayan 15 tahun lalu" Eca bergantian menatap 2 orang dewasa didepannya.


"Tapi melihat Om Rayan yang masih duduk di ruang tamu kita dengan suguhan teh membuktikan bahwa Bunda juga menantikan kedatangan Om Rayan, entah Bunda menunggu penjelasan atau sekedar menunggu permintaan maaf untuk 15 tahun terakhir "


"Eca nggak bisa terus terusan ngeliat kondisi seperti ini, Bunda yang menangis setiap kali Om Rayan datang kesini, jujur Eca capek"


Eca menghapus air mata yang kembali jatuh.


"Eca mau Bunda bahagia, Eca mau yang terbaik untuk kalian"


"Eca ke kamar dulu"


Eca beranjak meninggalkan sepasang manusia itu,hah masih asing untuk mengakui lelaki itu sebagai ayahnya.


Tapi ia tau ia tak boleh egois, masalahnya disini bukan hanya tentang kebahagiaannya saja, ada Bundanya yang masih mencintai Papanya, belum lagi jika Elin adiknya mengetahui perihal Papanya, sosok yang selama ini dimimpikannya.


Eca tidak mungkin se egois itu,ia menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya.


Merebahkan tubuhnya yang sudah lelah dan mengistirahatkan pikirannya yang mulai berkecamuk, apapun keputusan Bundanya nanti dia akan selalu menjadi perisai Bundanya.


Jika nanti mereka kembali berkumpul bersama dia yang akan melindungi Bunda dan adiknya.


Ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti keluarga nya bahkan untuk Papa kandung nya sendiri.


...----------------...


Maaf untuk ketidak update an author


Terimakasih untuk yang masih setia nungguin author


sayang kalian banyak-banyak 😘😘😘