Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Lelah



Nafas Eca yang tadi tersengal tak beraturan lantaran lelah dan emosi kini mulai tenang dengan mata yang terpejam ia menikmati pelukan hangat si yang katanya kulkas berjalan.


"Udah tenang?" tanya Zayan sambil terus mengusap rambut indah Eca yang sudah berantakan itu.


Zayan memainkan rambut milik Eca yang berwarna unik dengan jari jemarinya yang panjang.


Yah gadis ini berhasil meluluhkan hatinya yang dingin.


Zayan menuntun tubuh mereka ke arah kursi tak terpakai yang sengaja di susun sedemikian rupa untuk kenyamanan mereka di rooftop itu.


Zayan mendudukkan tubuh mungil milik Eca kemudian duduk di sampingnya dengan tangan yang setia menggenggam tangan lembut yang sudah luka lecet milik gadisnya itu, ya gadisnya.


Zayan merapikan anak rambut Eca yang berantakan karena diterbangkan oleh angin serta hasil dari adu jotos beberapa waktu lalu.


"Udah tenang kan?" lagi kalimat itu yang terlontar dari bibir nya nan seksi.


Eca hanya mengangguk dengan mata yang terpejam, entah menikmati bagaimana rasanya diperhatikan atau sedang mengistirahatkan tubuhnya yang lelah akibat tenaga nya yang keluar tadi tidak sedikit.


Dia kembali mengingat bagaimana dia menghajar Raniya tadi, lagi dan lagi ia tak bisa mengontrol emosinya.jika saja tadi Zayan tak melerainya paksa dan menyeretnya ke sini sudah dipastikannya Raniya akan terbaring di ranjang rumah sakit.


"Tadi kenapa mukulnya gitu kali,hm?" Zayan kembali memecah keheningan sambil terus mengelus tangan Eca sesekali di tiupnya luka luka itu.


"Kenapa, hm? nggak suka? kamu khawatir sama dia?" bukannya menjawab makhluk berjenis kelamin wanita itu malah melemparkan pertanyaan kembali tak lupa dengan nada sinis nya.


Zayan menarik nafasnya dalam, sepertinya ia salah bertanya pada gadis cantik yang masih merasa kesal ini.


"Ya enggak lah, ngapain juga aku khawatir sama orang yang nggak penting kayak dia" jawabnya jujur.


"Aku khawatir kalau nanti semisalnya kamu yang terluka".


Eca menatap dalam manik Zayan yang tengah menatapnya juga,mata tajam lelaki ini begitu meneduhkan, mata itu berhasil memenangkan amarahnya yang dari tadi memuncak.


"lo kenapa?" okay fiks otak Eca tidak berfungsi dengan baik kali ini.


"Aku kenapa?" Zayan balik bertanya dengan senyum yang sulit diartikan.


......................


Suasana ruang bercat putih itu begitu tenang, 2 gadis dengan tampilan yang sangat sangat jauh berbeda duduk bersisian.


Mereka terlalu mencolok untuk diabaikan, dengan tampilan yang santai dan rambut yang diikat asal membuat wajahnya yang biasanya manis menjadi memiliki kesan berandalan sedangkan yang satunya lagi terlihat berantakan dengan luka luka lebam diwajahnya serta pakaian yang kotor.


"Romeesa, bisa kamu jelaskan apa maksud kamu melakukan ini pada Raniya!" tutur buk Risna, wanita 45 tahun yang kini tengah menyandang status sebagai guru BK di sekolah Eca.


"Ibu tanya dia saja" jawab Eca malas.


Bu Risna menghela nafasnya pelan, sebelum mengulang kembali pertanyaan tadi tapi kepada Raniya.


"Dia datang ke kelas saya dan tiba-tiba mukul saya buk" jawab Raniya dengan nada yang dibuat seolah-olah dia korbannya, walaupun memang dia sih korbannya.


"Nggak akan ada asap kalau nggak ada api!" balas Eca sembari memainkan jemari kukunya yang memang kebetulan panjang itu.


"Kan gue nggak ada masalah sama lo" Raniya tidak terima dengan pernyataan Eca yang seolah-olah menyindirnya.


"Lo nyentuh batas gue" tajam Eca dengan masih memainkan jemarinya.


Ya memang tadi setelah kejadian uwu uwuan dengan Zayan Eca mendapatkan panggilan dari ruang BK.


Interogasi yang diberikan oleh buk Risna tidak membuahkan hasil apa-apa karena kedua terdakwa tidak ada yang ingin menyampaikan dengan benar seluk beluk permasalahan.


Setelah sidang yang tak juga membuahkan hasil keputusan buk Risna akhirnya menskors Eca yang notabenenya sebagai pelaku di skors selama 2 Minggu, sedangkan Raniya di skors selama 1 Minggu karena dia mendapat luka yang cukup banyak.


......................


Eca menutup rapat gerbang rumahnya setelah meneliti dengan cermat mobil bagus siapa yang terparkir di depan rumahnya.


Suara tangisan Bundanya sungguh sungguh mengangguk kinerja otaknya yang memang sudah sangat sangat berantakan,dia melangkah cepat ke arah rumah minimalis yang sudah melindunginya dari hujan dan panas selama ini.


Semakin dekat langkahnya semakin jelas juga yang ia dengar, ternyata bukan hanya tangisan Bundanya tapi juga isakan seorang laki-laki.


Eca diam di tempat ketika melihat Om Rayan tengah bersimpuh di depan kaki Bundanya dengan tangan yang menggenggam erat tangan Bundanya, Eca mencoba mengaktifkan kembali kinerja otaknya setelah membeku untuk beberapa saat.


Setelah menganalisis situasi dan memindai seisi ruangan Eca dapat menyimpulkan bahwa tidak ada pertengkaran yang membuat cedera fisik, Eca paham kenapa Om Rayan disini karena dia pernah mengatakan bahwa dia adalah Ayahnya yang tak lain suami Bundanya.


Eca menarik nafasnya pelan, rasanya ia tak ingin ada masalah lain yang menggangu nya saat ini, tubuhnya cukup lelah dan mental nya apalagi dihantam setiap hari seperti ini tak menutup kemungkinan bahwa dia bisa gila nantinya.


"Ehm" Eca mencoba menarik perhatian dua pasang manusia yang tengah berlinang air mata,ia harap deheman nya bisa membuat mereka menyadari keberadaannya.


Benar saja, atensi dua manusia itu langsung tertuju padanya.


Eca melangkah pelan namun pasti ke arah kamarnya,ia tidak berminat untuk bergabung dalam pembicaraan mereka untuk saat ini, barangkali mereka ingin menyelesaikan dendam lama.


"Sayang kamu udah pulang nak?" ujar Bunda sambil menghampiri Eca.


Respon Bunda lebih cepat dari pada Om Rayan yang masih mematung, mata nya yang berair sedikit memicing memindai wajah Eca.


"Muka kamu kenapa lebam begitu?" tanya Om Rayan sambil berdiri menghampiri Eca.


Eca hanya melirik sebentar tanpa menjawabnya.


"Kamu kenapa sayang? berantem?" Bunda menyibak anak rambut Eca yang menutupi jejak lebam di keningnya.


"Aku nggak pa pa, Bunda tenang aja" Eca menjawab sambil tersenyum kearah Bundanya.


Eca memutar tubuhnya ke arah Om Rayan, menatapnya sebentar.


"Saya tidak tau kalian punya masalah apa dimasa lalu, saya juga tidak tau maksud kedatangan Anda ke rumah kami hari ini bertujuan untuk apa, jika Anda datang kesini untuk menyelesaikan masalah dengan Bunda saya,no problem selama Bunda saya fine " Eca menjeda ucapan nya kala dia melihat reaksi dua manusia didekatnya, tidak ada bantahan tidak ada persetujuan hanya ekspresi biasa saja di wajah Bundanya dan senyum yang sampai mata terpampang di wajah Om Rayan.


"Tapi jika kedatangan Anda kesini hanya untuk mengganggu ketenangan kami sekeluarga, silahkan keluar dengan sendirinya ketika saya masih memperlakukan Anda sebagai seorang tamu yang saya hargai, pintu keluarnya di sana " Eca memberikan isyarat tangan setelah menyelesaikan kalimat panjangnya itu.


...****************...


Terimakasih untuk yang masih setia menunggu Romeesa Syabani update.


Beribu-ribu maaf author ucapkan karena sudah terlalu lama nggak update.


Kesibukan di dunia nyata membuat author kewalahan.


Sekali lagi terimakasih dan maaf 💋💋