Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Sekolah Lagi



Waktu terus berjalan, detik berganti menit,menit berganti jam dan jam berganti dengan hari,silih berganti berotasi terus menerus.


Tubuh Eca sudah membaik bahkan sangat baik menurut sang empunya tubuh, seragam sekolah beserta atributnya sudah terpasang rapi di badannya yang membuat kaum hawa iri dan disukai oleh kaum Adam, rambut panjangnya yang diwarnai tergerai indah dengan ujung yang bergelombang, mematut lama tubuhnya di di depan kaca akhirnya si empunya rambut memutuskan untuk menguncir nya.


Eca meraih sepatu sekolah nya yang sudah tertata rapi di rak khusus sepatu, tangan nya sibuk memasang kaos kaki putih selutut disusul dengan memasang sepatu untuk melindungi kakinya.


Eca mengikat kupu-kupu tali sepatu nya yang terakhir kemudian berdiri dan menghampiri Citra yang tengah sibuk menata rambutnya, yang semulanya lurus kemudian diubah menjadi ikal, kemudian lurus lagi dan pilihan terakhirnya jatuh pada gaya rambut yang bagian bawahnya di Curly.


"Astaga Ra, kita mau sekolah loh" tutur Eca setelah berhasil mengambil Hoodie nya yang tergantung di dekat Citra.


"Karena itu gue harus tampil se perfect mungkin,biar si Arga nggak berpaling dari gue" jawab Citra setelah menyempurnakan penampilannya dengan mengoleskan lipmate berwarna nude dan di ombre dengan warna cerry sungguh menambah kesan manis di bibirnya.


"Serah lo deh, kagak ngerti gue" Eca meninggalkan Citra menuju dapur.


Seperti biasanya Bunda sudah stay di dapur dengan berbagai hidangan yang sudah tertata rapi di meja makan.


Bunda menatap Eca ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya,di netra coklat nya itu menangkap pantulan Eca yang sudah rapi, seragam sekolah yang dibalut dengan Hoodie hitam itu membuat putrinya tampak sangat cantik, rambut panjangnya yang di warnai juga bergoyang seiring langkah kakinya.


"Kamu yakin kuat sekolah sayang?" tanya Bunda dengan suara lembut menyusul putrinya duduk dan mengambil kan sarapan.


Gadis dengan Hoodie itu tersenyum manis kala mendengar pertanyaan itu.


"Yakin dong Bunda, Eca udah baikan kok" tegas namun lembut tanpa ingin di bantah membuat Bunda hanya bisa menyetujui keputusan putrinya itu.


"Ya udah sekarang kamu sarapan setelah itu minum obatnya!" perintah Bunda, obat milik Eca sudah tersedia didamping gelasnya tepat setelah berhenti nya suara Bunda yang memberikan wejangan kepadanya.


"Iya Bunda ratu, hamba melaksanakan perintah mu" Eca menjawab dengan bercanda ala-ala kerajaan.


Eca sarapan dengan nikmat dan khidmat mengabaikan Elin dan Citra yang juga sudah bergabung dengannya, otaknya sedang sibuk berpikir apakah bundanya tau ia mempunyai mental health?ia terus bertanya tanya hingga nasi di piring nya sudah tandas.


Eca memasukkan obat ke dalam mulutnya kemudian meneguk segelas air putih.


Sekolah masih ramai seperti biasanya,tak ada perubahan di mata Eca meskipun ia tidak menginjakkan kakinya di sini selama kurang lebih 2 hari, semua masih sama.


Eca menjawab sapaan dari orang yang menyapa nya di sepanjang perjalanan menuju kelas, mereka yang menyapa nya sebagian besar adalah kenalan yang tidak sengaja bertemu di tongkrongan namun lambat laun mereka mulai berteman dan akhirnya menjadi akrab.


"Weh weh si queen ternyata udah come back" ujar Geri salah satu teman kelasnya sambil melakukan salam tinjuan tepat setelah ia berjalan menghampiri kursinya.


Eca mengedipkan sebelah matanya kemudian mendarat kan pantatnya ke kursi yang sudah hampir setengah tahun ini di huni nya.


"Lo ada berita hot nggak selama gue nggak masuk?" ujar gadis berhoodie itu sambil memainkan tangannya.


Lelaki dengan rambut acak-acakan yang terkesan bad boy itu dengan mulut yang mengunyah permen karet mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan Eca.


"Ada, HOT banget" jawabannya sambil menekan kan kata 'hot'-nya.


Alis Eca terangkat sebelah ketika mendengar nada dan ekspresi bersemangat Geri tentang berita hot selama ia tak masuk ini.


"Apaan dah berita nya?" pertanyaan Citra seakan akan mewakilkan seluruh isi hati dan pikiran anak kelas itu yang memiliki tanda tanya besar.


"Lo pada tau kan Wild Geng?" tanya Geri dengan mimik wajah yang serius.


Mereka yang mengetahui geng itu seketika berbinar dan yang tidak mengetahuinya memiliki wajah yang seakan akan penuh dengan tanda tanya besar.


"Tau kan?" ulang Geri lagi memastikan.


Ada yang mengangguk dengan berbagai macam pikiran dan ada yang menggeleng dengan tanda tanya.


"Sebenarnya ketua geng yang selama ini rahasia itu adalah––"


"Lah pada ngomongin apaan lu pada?" suara perempuan yang sedikit keras memotong pembicaraan mereka yang tengah seriusnya.


"Ah..." ******* lolos satu persatu dari mulut mereka yang tengah bergosip ria itu disertai dengan tangan yang memukul meja, bisa dibayangkan ketika sedang ******* nya kita diganggu, gregetan nggak? ya gregetan lah masa enggak.


"Ah elo mah ganggu aja Rai" tukas Eca dengan tangan yang masih setia memukul meja.


Ya perempuan yang mengganggu acara per gihahan mereka adalah Raia.


"Lah gue mana tau, lo pada sih serius amat kalau soal ngegibah" balas Raia tanpa rasa bersalah sedikitpun kemudian duduk dengan santai nya di kursi samping Eca setelah mengusir Iko salah satu cewek populer di sekolah nya.


Iko jelas menggerutu tak terima ketika Raia mengusirnya tapi apa boleh buat,ia sadar dan mengerti dimana posisinya akhirnya ia berdiri di belakang Eca karena ia masih ingin menggibah.


"Ya udah lanjut!" suruh Eca mendesak Geri.


Geri cengengesan kemudian memasukkan satu buah permen lagi ke dalam mulutnya sebelum memulai aksi sebagai narasumber dari acara pergibahan ini.


"Kalian pasti nggak bakal nyangka kalau sebenarnya ketua Geng mereka itu sebenarnya tidak seperti selayaknya ketua Geng pada umumnya,dia nggak urakan, dia nggak suka bolos,dia pintar dan satu hal dia bukan playboy,dia–"


"Gue kagak peduli kampret, yang gue pengen tau itu siapa orangnya" kembali ucapan panjang lebar Geri terpotong dengan suara perempuan tapi kali ini bukan Raia tapi queen mereka Eca.


"Ya sabar kek gimana gue mau jelasin kalau lo potong terus setiap gue ngomong, dah lah males"jawab Geri yang merasa bosan ketika perkataan nya selalu di potong oleh orang.


"Hehe ya maaf elo sih ngomong nya berbelit belit, lagian jadi cowok baperan amat" balas Eca yang tidak mau kalah.


"Gini, ketua sebenarnya yaitu––"


...****************...


Terimakasih semuanya


Jangan lupa like komen dan vote nya


Makasih