
"Saya bisa menebusnya Dokter" suara manis seorang gadis menyela dia antara suara wanita itu.
Bunda melihat Elin yang tengah berdiri dengan air yang juga mengalir dimatanya, ah Putri kecilnya sekarang juga mengetahui kondisi kakaknya.
"Ok nanti silahkan kamu ke apotek ya" Dokter Rima tersenyum sambil mengarahkan secarik kertas yang berisikan resep dokter.
Elin mematut dengan cermat secarik kertas yang sudah bertengger di genggamannya, deretan tulisan khas dokter yang lumayan sulit dimengerti memenuhi penglihatannya,1,2,3,4,5 jenis nama obat-obatan yang harus ditebusnya.
Seserius itukah penyakit kakaknya Eca?
"Ya udah kalau begitu saya permisi dulu" Dokter Rima berdiri setelah membereskan peralatannya.
Bunda menatap dokter Rima dengan pandangan yang sangat berterimakasih.
"Makasih" ucap tulus seorang ibu yang khawatir akan anaknya yang terbaring tak berdaya.
"Udah kayak ke siapa aja,aku balik dulu" dokter Rima memeluk Bunda upaya memberikannya semangat dan seolah-olah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Bunda tersenyum setelah mengantarkan dokter Rima ke luar rumah.
"Kakak kamu nggak apa-apa sayang, mending kamu mandi siap-siap gih ke sekolah" ujar Bunda yang masih bisa menguatkan anak bungsunya.
"Elin mau nebus obat kak Eca dulu ya Bunda baru berangkat ke sekolah" Elin meninggalkan Bunda setelah menyelesaikan kalimatnya.
Bunda tersenyum melihat kasih sayang yang terjalin dalam persaudaraan anak-anaknya,ia merasa bangga karena telah berhasil mendidik anaknya dengan baik meskipun seorang diri, ia merebahkan bangga karena ia bisa memberikan kasih sayang kepada anaknya.
Bunda berjalan kearah dapur guna memasak bubur dan sarapan, lantas bagaimana dengan Eca yang sakit? tenang aja ada Citra yang setia menemaninya.
......................
Tubuh yang tak sinkron dengan jiwa tentu bisa membuat siapa saja yang mengalami kondisi ini tertekan.
Suara kaki yang beradu dengan keramik, gesekan antara daun pintu dan kusen, pintu kamar mandi yang terbuka dan tertutup, serta benda dingin yang terus bertukar di kepalanya setiap 5 menit cukup membuat si Eca yang waspada seketika membuka matanya.
Sakit yang ekstrim bagai di tusuk seribu duri menghantam kepala Eca membuat si gadis yang dipaksa tangguh itu meringis sambil memegangi kepalanya dengan memberikan sedikit demi sedikit pukulan.
Ketika rasa sakit yang mendera mulai mereda barulah ia mengarahkan netra nya memindai ruangan yang sudah pasti miliknya.
Handuk putih kecil yang masih lembab adalah benda pertama yang di ambilnya.
Pintu berderit mengalihkan atensi Eca, dengan refleks ia menoleh ke sumber suara seolah-olah sudah dituntun untuk melihatnya.
Di pintu itu sosok yang selama ini membesarkan nya, sosok yang selama ini menyayangi nya, sosok yang menurutnya adalah malaikat dan sosok yang paling ia sayangi hingga ia tak ingin sosok itu bersedih, dia adalah Bunda harapan, kasih sayang serta alasan ia bertahan.
Bunda mendorong pintu pelan meskipun si empunya kamar masih mendengarnya, di tangan Bunda membawa nampan yang sudah terisi dengan berbagai jenis makanan dan juga kantong obat, maybe?
Bunda mengarahkan pandangannya ke tempat tidur putri sulungnya, memastikan apakah putrinya itu sudah bangun atau belum. Wanita tegar itu tersenyum kala mendapati putrinya sudah bangun dan duduk dalam kondisi yang baik tanpa linglung.
"Gimana perasaannya sayang? ada yang sakit?" Bunda memberikan pertanyaan beruntun untuk Eca dengan tangan yang sibuk menata makanan yang dibawa nya di atas nakas samping tempat tidur Eca.
Hening.
"Hey, ada yang sakit?" Bunda mengelus pelan pipi yang berisi cenderung tirus itu.
"Pusing dikit Bun" jawab Eca dengan tangan nya menggenggam tangan Bunda yang senantiasa mengusap pipinya.
Rasa manis membanjiri hatinya, selalu saja begini jika bersama Bundanya.
"Eca makan bubur dulu ya, setelah itu minum obat,ok!" matahari Eca itu berkata dengan tangan yang setia menyuapkan sendok yang berisi kan bubur untuk Eca.
Eca menerima suapan pertama dari Bunda, kemudian suapan kedua, ketiga hingga bubur yang tadinya semangkuk hanya menyisakan setengah.
"Udah Bun" ujar Eca dengan tangan yang menahan tangan Bunda yang memegang sendok.
"Sesuap lagi ya" bujuk Bunda dengan masih mengarahkan sendok itu ke arah Eca.
Eca mengalah,ia menelan suapan terakhir diiringi dengan senyuman hangat sang Bunda.
Pil obat berbagai warna dan ukuran sudah terletak di telapak tangan Eca dengan segelas air putih di tangan sebelahnya,huh obat sungguh menjengkelkan:ΒΆ
Sekali tegukan obat itu akhirnya lenyap di telan Eca.
"Udah Bun" ujar gadis berambut indah itu dengan tangan yang memberikan gelas kaca yang sudah kosong itu.
"Ya udah sekarang kamu istirahat aja, sekolah nya udah Bunda mintain izin" balas Bunda sambil menyusun piring dan gelas kosong di nampan.
Eca menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang kala sang Bunda sibuk merapikan alat makannya tadi, Bunda merapikan selimut Eca kemudian mengecup kening putrinya itu, senyuman hangat tak lupa ia berikan sebelum meninggalkan ruangan pribadi putrinya itu.
Ruangan itu kembali hening kala Bunda telah keluar, hanya helaan nafas Eca yang teratur dan bunyi gesekan gesekan kecil menjadi penambah kesan sunyi nya.
Eca menatap jari-jari kanannya yang penuh luka dan memar yang bergetar itu,ia tak tau penyebab kenapa tangan nya yang satu ini bergetar bukan kali ini saja.
Tangan yang bergetar itu diremas nya kuat dengan mata yang menatap loteng kamarnya, otaknya bergulir dengan terus mengingat kejadian beberapa hari lalu, bagaimana ia bahagia melihat Zayan kemudian bertemu dengan orang yang membuat dia merasakan perasaan akrab dan hangat, malamnya dia menolong orang itu entah kebetulan atau bagaimana orang itu ternyata adalah orang yang selama ini dinanti nanti nya,ayah yang selalu di idam-idamkan nya.
Eca bahagia, sangat bahagia namun seakan semesta tak mengijinkan ia memiliki sesuatu kalimat yang bernamakan bahagia di hidupnya karena tak lama setelah idtu fakta menyakitkan menghantam Eca membuat runtuh pertahanannya yaitu ayahnya adalah penyebab luka Bundanya, penyebab kenapa Bundanya menangis di malam hari, kenapa Bundanya harus menanggung cemoohan orang tentang dirinya yang tidak memiliki suami, dan penyebab adiknya menangis setiap pulang sekolah karena di bully oleh temannya lantaran ia tidak memiliki ayah.
Mata indah yang biasanya memancarkan cahaya positif, yang selalu menguatkan orang disekitarnya, dan sumber kepercayaan orang lain sekarang telah menampung air di sana, perlahan tapi pasti buliran air asin nan jernih itu mengalir dengan teratur,bagai air terjun yang mengalir tanpa henti.
Eca tersenyum getir, tangan nya masih terjalin saling meremas,ia mengusap pipinya kasar kemudian mengubur dirinya dalam selimut tebal, menangis tanpa suara.
...****************...
Maaf untuk readers karena author jarang update π
Terimakasih untuk readers yang masih setia nungguin author.
Jangan lupa like, follow dan vote nya ya semua π₯°
Kalau readers mau ngasih hadiah author sangat berterimakasih ππ