
Tulisan ' fantasy park ' tertera dengan indahnya di gapura selamat datang taman hiburan itu.
Suasana yang ramai karena akhir pekan membuat taman hiburan terlihat sangat sangat hidup.
Manusia dimana-mana dari berbagai kalangan usia dan kasta.
Eca berjalan di posisi paling belakang dengan kacamata hitam yang bertengger manis di batang hidungnya yang mancung bak perosotan.
Eca menghentikan langkahnya ketika pemimpinnya yang tak lain adalah Citra juga menghentikan langkahnya, Eca mendongak melihat ke arah depan.
Pantas saja Citra berhenti ternyata ada pujaan hatinya di depan.
Eca memperhatikan Citra yang tengah berdiskusi dengan makhluk di depannya itu kemudian kembali melangkah, Sebagai pengikut yang setia Eca dan 2 bocil lainnya mengikuti terus.
"Oh ini ternyata yang katanya ngerjain tugas" Zayan yang kebetulan atau yang lebih tepatnya dipaksa Arga untuk ikut menatap adiknya.
Cici yang merasa terciduk langsung menampilkan senyuman manisnya berharap membuat abangnya luluh.
"Kan butuh refreshing juga Bang sehabis berperang dengan tugas" Cici si ratu ngeles.
Zayan menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan adiknya, Tapi mau bagaimana lagi ia tak bisa untuk memarahi adiknya apalagi hanya karena masalah sepele.
Mereka akhirnya berhenti di tempat duduk yang teduh karena tertutup oleh pepohonan, Eca menjatuhkan pantatnya di kursi bersi itu dan menyenderkan kepalanya menatap langit.
"Wes ada satu lagi nih yang couple an" suara laki-laki terdengar di telinga Eca namun tak ia hiraukan, Ok Eca si cuek come back.
"Lah iya ya kok gue baru ngeh kalau si Zayan sama si Eca couple an bajunya" suara Citra terdengar ketika mengiyakan suara sebelumnya.
Pendengaran Eca yang menangkap kata Zayan membuatnya mengalihkan atensinya untuk menatap sekitarnya dan yaps di sana di sebelah Cici, Zayan berdiri dengan sebelah tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.
Kok dia nggak ngeh ya kalau Cici udah berpindah tempat ke arah Zayan, dan mereka tampak sangat akrab.
Mata Eca terbelalak ketika mendapati style yang dikenakan Zayan terlihat sama persis dengan style nya, Kaos putih jeans hitam dan jaket kulit hitam ditambah sneakers putih dan jangan lupakan kacamata hitam yang juga bertengger manis di hidung bak perosotan milik Zayan.
Eca menunduk mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang dengan lancangnya muncul tanpa persetujuan dari sang empunya tubuh.
"Cie blushing" suara kompak laki-laki dan perempuan terdengar.
"Lah gue kagak blushing, Napa emangnya kalau samaan? Iri bilang pembantu" Eca dengan cepat menormalkan rona wajahnya, kalau tidak habislah dia.
"Ini jadi main nggak nih?" suara Cici menjadi penyelamat Eca ketika yang lain akan mengejaknya lagi.
"Jadi dong, kalian terserah mau kemana aja yang penting nanti ngumpulnya disini lagi Ok! Gue sama Arga mau naik kora-kora dulu" Citra langsung menyahut dan menarik tangan Arga menjauhi rombongan mereka.
"Eh tapi nggak bisa gitu dong" suara Eca yang protes hanya dianggap angin lalu oleh Citra yang sudah lumayan jauh.
Sekarang yang tinggal hanya Eca, Cici, Elin, Zayan, Jeno dan pacarnya.
Melihat Citra dan Arga yang sudah memisahkan diri membuat Jeno juga mulai meninggalkan rombongan untuk memenuhi kencan romantis mereka.
"Ya udah kakak sama Abang ikut kita aja yok naik komedi putar" saran Cici ketika melihat Eca dan Zayan yang tampak bingung mau ngapain.
Eca baru tau ternyata Zayan adalah Abang dari Cici.
"Ogah" dua suara yang berbeda bersatu dalam satu keputusan, Cici dan Elin cengo melihat kakak mereka.
"Ya udah kalau nggak mau" Cici dan Elin melangkah meninggalkan mereka berdua yang masih setia diposisi masing-masing.
Eca melirik Zayan yang juga kebetulan tengah menatapnya, Eca sedikit kikuk jika harus berbicara berdua dengan Zayan karena mengingat kejadian memalukan beberapa waktu lalu.
"Jadi?" suara Zayan mengalun di pendengaran Eca.
"Jadi?" Eca yang cengo kembali mengulangi pertanyaannya Zayan, Omg pesona kegantengan emang bisa menghilangkan akal sehat manusia ya.
"Kok balik nanya?" sentilan pelan mendarat di dahi Eca.
Eca menatap sang pelaku yang tengah tersenyum manis, Tangan Eca refleks menyentuh bekas sentilan tadi, kok kesannya jadi romantis ya.
Eca menggelengkan kepalanya mengusir pikiran pikiran gila dibenaknya.
"Oh itu, Gue ngikutin lo aja deh" jawab Eca akhirnya.
Zayan mengangguk mengerti.
"Ayo" ajaknya menuntun Eca.
Eca dengan sigap mengikuti langkah Zayan den berjalan bersisian dengannya, Mereka berjalan berdampingan begitu layaknya pasangan yang serasi.
"Gimana kalau naik Bianglala?" saran Zayan sambil menatap Eca di sampingnya.
Eca menggelengkan kepalanya, Naik Bianglala ketika anda baru sampai, Oh tidak bisa.
"Naik roller coaster aja gimana" balas Eca menyarankan wahana yang lebih menantang.
Zayan menatap tubuh semampai Eca, Memindai nya dari atas ke bawah seolah-olah mengatakan bahwa ia tak yakin.
"Yakin?" akhirnya ia melontarkan kalimat itu.
"Eeh nggak boleh meremehkan orang ya" Eca melangkah ke arah loker tiket, membeli untuk dua orang dan menunggu antrian.
Ternyata sekuat itu pesona Eca sampai bisa meluluhkan hati Zayan.
Zayan tersenyum ketika ia menyadari bahwa ia telah jatuh kedalam jerat pesona Eca yang menurutnya berbeda dari kebanyakan perempuan yang ditemuinya.
Eca tampak gelisah ketika melihat wisatawan yang menjerit di wahana roller coaster itu, Ia tak menyangka jika lintasan nya seekstrim ini.
"Kalau nggak kuat nggak usah dipaksain" saran Zayan yang berniat baik disalah artikan oleh Eca ia berpikir kalau Zayan meremehkannya.
Giliran mereka tiba, Eca langsung naik dan memakai pengamannya sebaik mungkin.
Tangan nya sudah sedari tadi berkeringat, Ia menyesali kebodohannya yang terlalu menyukai tantangan.
Eca melirik Zayan yang tampak santai disampingnya, berbeda sekali dengan Eca yang tengah mencoba menenangkan dirinya.
Kereta mini yang mereka duduki mulai bergerak perlahan dan biasa saja tidak seperti yang Eca bayangkan.
Di saat Eca mulai tenang kereta yang tadi bergerak perlahan mulai bertambah cepat dan lebih cepat dan seketika rute yang tadi berupa tanjakan segera berubah menjadi turunan.
Eca berteriak kaget dengan tangan yang refleks meraih tangan orang disebelahnya.
Zayan menatap Eca yang tengah memegang erat tangannya, Eca tampak sangat sangat manis dimata Zayan.
Betapa imutnya gadis yang beberapa waktu lalu masih beradu mulut dengan sarkas nya kini tengah berteriak ketakutan.
......................
Eca terjatuh dilantai tepat setelah turun dari wahana roller coaster itu.
Di sepanjang wahana tadi Eca tak hentinya berteriak dengan tangan yang memegang erat tangan Zayan.
Zayan meraih tubuh Eca yang terduduk lemah ke gendongannya.
Eca pasrah dan merebahkan kepalanya di pundak Zayan, wahana itu terlalu menantang membuat kakinya melunak seperti jeli.
"Tadi juga udah di bilangin, Nggak mau dengerin sih" tutur Zayan sambil menatap sekeliling guna mencari tempat untuk istirahat.
Eca yang sudah tak memiliki tenaga hanya untuk sekedar berdebat malah mempererat pelukannya di tubuh Zayan, biar mati lemes.
Zayan menggeleng, ternyata Eca juga bisa bersikap kekanak-kanakan begini.
Zayan mendudukkan Eca di kursi sebelum berlalu meninggalkannya sendiri.
"Gue beli minum dulu, Lo jangan kemana-mana!" pesan Zayan sebelum melangkah pergi.
Eca menatap punggung Zayan yang menghilang kemudian menutup matanya untuk menghilangkan sisa sisa adrenalin yang masih terpicu tadi.
Eca membuka matanya ketika bayangan menutup cahaya di wajahnya, Di depannya 3 laki-laki yang berusia tak jauh diatasnya tengah menatapnya dengan terang-terangan seperti tak ada etika.
Eca mengernyit ketika salah seorang laki-laki dengan lancang duduk di sampingnya, Eca risih ketika penciuman nya menangkap aroma nikotin.
"Sendiri aja" suara pria yang duduk di sebelahnya memecah kesunyian diantara mereka berempat.
Eca tak menjawab tapi hanya menggerakkan tubuhnya yang lelah mencoba menjauh sejauh mungkin dari pusat yang membuatnya merasakan perasaan yang berbahaya.
Eca melayangkan tinjunya ketika tangan yang tak sopan itu meraih tangannya, Eca geram ketika ada orang yang menyentuhnya sembarangan.
"Eits jangan galak-galak dong" suara kekehan mereka bertiga membuat emosi Eca meradang, Ia benci adegan seperti ini yang ia jelas sangat tau apa akhirnya.
Dan kenapa lagi taman hiburan yang ramai ini bisa tidak memiliki orang yang lewat disini.
"Nggak usah dekat-dekat!" nada rendah dan tajam milik Eca cukup menjadi bukti berapa marah ia sekarang ketika salah satu dari mereka mencoba meraih dagunya.
"Benar benar manis ketika marah" ujar salah satu di antara mereka.
Eca ingin muntah saat itu juga, Apakah ada yang lebih menjijikkan dari pada ini?
Tangan nakal yang tak beretika itu hendak merangkul Eca.
Eca melayangkan tinjunya sekuat tenaga sebelum tangan itu mendarat.
"Argh" suara jeritan terdengar kala tinju Eca mendarat di tangan besar itu, Eca mengibaskan tangan kanannya yang panas akibat kuat nya benturan itu.
Ia menatap tiga orang itu dan Eca tak yakin apakah tenaganya cukup untuk melawan mereka karena faktor wahana sialan tadi.
Eca merasakan sakit yang sangat tajam menjalar di pipi kirinya ketika tubuhnya terjerembab ke tanah, Ia berdiri dan menjilat sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
Eca yang tadi berencana melarikan diri seketika mengurungkan niatnya, emosinya sudah sangat sangat terpancing, Ia tak peduli apakah sanggup atau tidak ia melawan mereka bertiga yang jelas sekarang ia tak akan membiarkan mereka pergi tanpa cedera.
Prinsip Eca cukup bagus ia akan membalas satu mata air untuk setitik air yang diberikan padanya, ia akan membalas dua kali lipat apa yang orang berikan padanya.
...****************...
Hay hay readers terimakasih buat yang baca.
Jangan lupa votmen and liek nya ya🥰🥰