Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Eca



Eca menyeret langkahnya yang sedikit gontai, badannya serasa remuk, bagaimana tidak hari ini jadwalnya ekskul taekwondo, di tambah lagi pikiran Eca yang tadi sedikit kalut jadilah dia menumpahkannya habis-habisan memukul samsak dan sparing dengan teman-temannya.


Eca memandang ke arah lapangan basket, di sana tampak Citra yang melambai-lambai kan tangannya, Eca membalas lambaian tangan Citra sambil menyeret langkahnya ke arah lapangan.


Kenapa Citra bisa ada di lapangan basket jawabannya karena ia sedang menunggu pujaan hatinya si Arga Ager latihan, because si Ager anak basket.


"Letoy amat neng" ujar Citra dengan nada bercanda ketika Eca menjatuhkan tubuhnya di lantai, tepatnya di tepi lapangan karena si Citra dengan santainya duduk selonjoran di situ.


"Capek gue Ra, badan gue rasanya mau remuk, sakit semua" jawab Eca pelan sambil merebahkan badannya.


"Kenapa Ca? kepikiran bokap lagi? hm?" tanya Citra lebih ke pernyataan sih.


Citra sudah hapal sifat Eca yang suka menyiksa dirinya untuk meredam emosinya, tidak sekali dua kali ia dapati kondisi Eca seperti ini, dan Citra cukup hapal penyebabnya.


"Ke inget doang mah gue tapi efeknya udah kayak gini, untung lo nanya sekarang, kalau tadi tadi lo nanya mungkin gue kagak bisa ngendaliin emosi" jawab Eca sambil tersenyum tipis, semiris inikah dia?


"Lo nggak mungkin lah mukul gue" jawab Citra percaya diri karena dia tau Eca dengan baik.


Setau Citra, Eca itu orangnya lebih baik menyakiti dirinya sendiri daripada sampai ia melukai orang terdekatnya, and si Citra masuk kedalam daftar orang yang tak ingin Eca sakiti.


"Gue nggak tau Ra lain kali bisa atau enggak nahan diri, makanya kalau gue udah agak gila lo jauh-jauh aja!" Eca memperingati Citra, dia tidak tau apakah dia bisa mengendalikan emosinya, ini lah salah satu resiko yang didapat Eca karena sikap dewasa yang dipaksakan nya, emosi yang ditahannya bisa menjadi bumerang untuk nya suatu hari.


"Gue nggak peduli, kalau lo mukulin gue berarti gue yang salah" jawab Citra dengan segala kekeras kepalaannya.


"Gue serius Ra, tadi gue hampir hilang kendali untung ada tempat pelampiasan gue, gue nggak main-main kali ini, lo tau gimana gue kalau hilang kendali?" Eca masih saja memperingatkan Citra betapa bahayanya dia jika sudah hilang kendali.


Citra mengingat ketika waktu mereka kelas sebelas, sekilas cerita ada teman kelas mereka di-bully kakak kelas lantaran cowok kakak kelas ini suka sama si korban bully.


Mungkin dewi keberuntungan hari itu tidak berpihak kepada sang kakak kelas karena hari itu Eca sedang dalam emosi yang tidak stabil lantaran adik satu-satunya di ganggu di sekolah, melihat kejadian yang menimpa adiknya juga akan terjadi pada temannya membuat ia hilang kendali, emosinya memuncak, dia hampir saja membuat 3 pembully itu menemui Tuhan.


Akhirnya si Eca di skors 2 Minggu, dan saat itulah si Eca menjadi salah satu orang yang tidak boleh diganggu di sekolah.


Citra segera menghapus bayangan tentang betapa kejamnya Eca ketika hilang kendali.


No Citra, selama emosinya tenang lo baik-baik aja, bukannya lo selama ini baik-baik aja walaupun dia kehilangan kendali, batin Citra berteriak menyadarkan nya.


"Gue kagak peduli, nih minum kayak gembel lo kucel banget" Citra menyodorkan air mineral yang masih bersegel, ya kali bekasan di kasihnya.


"Lo keras kepala banget jadi orang, tapi thanks" jawab Eca, ia merasakan perasaan hangat yang mengalir di dadanya, gini ya ternyata rasanya ketika lo dipercaya orang tanpa syarat.


Citra bersorak ketika Arga mencetak angka, dan you know lah korbannya adalah Eca, tubuh Eca yang lelah diguncang oleh Citra.


Gini amat punya temen.


......................


Jarum jam sudah menunjukkan angka 5 akan tetapi belum juga ada tanda-tanda anak basket akan menyudahi permainannya.


Citra menatap Eca yang bosan, anak rambutnya menjuntai di sisi wajahnya, manis sekali.


"Ca lo liat nggak tuh cowok yang nomor punggung 01, ganteng kan?" ujar Citra sambil menyenggol lengan Eca.


Eca yang awalnya tak fokus mulai mengedarkan pandangannya mencari pemain dengan nomor punggung 01, Eca dibuat linglung untuk sesaat, itu beneran orang apa bukan, ganteng bat lah kalau kata Eca, ditambah keringat dan air yang membasahi rambutnya menambah kesan seksi untuknya.


"Iya Ra" jawab Eca setelah tersadar dari keadaan terpesona nya.


"Kalau gue belum sama di Arga dan kalau dia mau, gue mau banget loh Ca sama dia, kalau lo gimana mau nggak?" tanya Citra dengan sedikit berbisik, bisa berabe kalau si Arga tau dia bicara kayak gini, walaupun cuma bercanda, posesif ya? canda posesif.


Eca menghela nafasnya pelan lalu menatap serius manik Citra setelah sebelumnya ia sempat kan untuk melirik si nomor punggung 01 yang tak lain adalah Zayan.


Mereka saling tatap cukup lama tanpa menghiraukan lingkungan sekitar.


"Bukannya nggak mau Ra, tapi kita beda keyakinan" jelas Eca dengan tampang serius.


"Beda keyakinan gimana, lo murtad ya?" kaget dong Citra pasalnya yang ia tahu Zayan muslim dan Eca juga muslim, kecuali salah satu murtad baru keyakinan mereka beda.


"Sembarang mulut si anjink, walau ibadah bolong-bolong tapi kagak ada niatan sedikit pun di hati gue buat murtad, kagak ada" jawab Eca nge gas dong.


Marah nggak lo ketika agama lo dipertanyakan?


"Maksud gue tuh beda keyakinan nya gini, gue yakin dianya yang kagak yakin, hahaha" Eca tertawa lepas sambil memukul-mukul Citra, enaknya membodohi Citra.


"Kalau gue yakin gimana?" suara berat mengalun di telinga Eca.


Jleb... mati gue anjir, pantesan si Citra diem aja waktu gue timpuk.


Eca menoleh ke samping kanannya, wajah tampan Zayan langsung tertangkap netra nya.


"Hah?" bengong dong, si Eca seketika jadi salting, memang senjata yang paling berbahaya adalah penampilan yang indah.


"Gue bilang kalau gue yakin gimana?" ulang Zayan lagi, dari tadi ia dengar kan percakapan mereka, mungkin mereka terlalu asik sampai-sampai tidak menyadari kalau mereka sudah selesai latihannya.


"Eeh tadi gue bercanda doang kok, iya kan Ra?" Eca menjawab sambil menatap Citra dengan tatapan meminta tolong, Citra tertawa kecil melihat Eca seolah-olah berkata ' mamam tuh cogan, siapa suruh geplak gue '.


"Bercanda ya?" suara berat Zayan ditambah tatapan matanya mampu menghipnotis Eca.


"Iya tadi bercanda kok beneran sumpah" Eca mengangkat tangannya membentuk tanda peace ✌️.


Zayan menatap mata Eca dalam, sebelum mengangguk dan berjalan menjauh ke arah kamar mandi sekolah untuk membersihkan dirinya.


Arga, Vero, dan Jeno menatap heran ke arah Zayan yang semakin menjauh.


"Si Zayan nggak suka kan sama si Eca?" tanya Arga kepada Jeno dan Vero.


"Kagak tau gue, otak gue nggak nyampe kalau masalah si Zayan" jawaban Jeno membuat mereka semua menatap ke arahnya, dengan tatapan yang seakan-akan mengatakan bahwa mereka mengasihani nya.


"Mata lo pada kondisikan, nge hina nya jelas banget cuy".


Jeno berlari menyusul Zayan, seolah-olah mengatakan lebih baik dias dengan si Zayan yang dingin dari pada dengan mereka yang membuatnya jadi bahan olokan, canda olokan.


"Si Jeno napa? ngambek?" tanya Vero bingung.


"Biasa itu anak, rajanya drama" Arga mengambil tasnya dari Eca kemudian mengikuti Jeno ke kamar mandi.


......................


Eca melirik Citra yang berjalan ke arahnya, di tatapnya nyalang Citra.


"Lo kok kagak bilang kalau ada doi sih? kan gue malu anjim, lo mah kagak asik" Eca merajuk pada Citra.


Gimana nggak merajuk?


Hell malunya itu loh nggak main-main.


"Eca sayang, jangan ngambek, maaf ya gue juga kagak tau kalau mereka udah di sini, pas gue sadar eh si Arga kasih kode buat nyuruh gue diem aja, dan seketika jiwa jiwa kurang ajar gue menggelora " Citra menjelaskan dengan nada yang dibuat selembut mungkin, memang lah kalau soal menggoda Citra jagonya.


"Kan kagak ngotak lo! tapi ya udah deh iya, tapi lo anterin gue pulang ya, capek bat gue, kagak kuat jalan ini" Eca memanfaatkan keadaan dong.


"Iya pasti" jawab Citra yakin.


Selang beberapa saat 4 laki-laki tadi muncul secara bersamaan.


"Eh tunggu dulu Ca, gue baru ingat kalau gue, hehe" ujar Citra sambil cengengesan.


Firasat buruk langsung menghampiri Eca, ditatapnya Citra yang juga menatapnya dengan tatapan meminta maaf.


Eca menghembuskan nafasnya kasar, anjink.


...****************...


Hai hai readers semuanya.


Jangan lupa like komentarnya ya.


Untuk yang sudah memberikan like terimakasih banyak.