
Ia berteriak kala kata perselingkuhan terus berputar putar di kepalanya, Eca kalap untuk saat ini di pikirannya saat ini yang ada hanya melepaskan emosinya, terus-menerus memforsir t'enaga beradu dengan benda mati.
Kata 'menjijikkan' terus berputar di kepalanya, bayangan wajah Papanya yang tersenyum dan Bundanya yang meneteskan air mata terus tumpang tindih di otaknya.
Air mata mengalir di pipinya tapi tak cukup untuk menghentikan dia dari kegiatannya karena menurutnya inilah satu-satunya cara supaya ia bisa tenang.
Tubuh Eca tumbang kala energi nya sudah terkuras habis, tubuh yang masih terbalut seragam sekolah itu terlentang di lantai beralaskan matras pandangan nya lurus ke langit-langit ruangan dengan air mata yang masih mengalir di pelipisnya, tangannya yang tergenggam di samping tubuhnya tak henti-hentinya bergetar.
"Arghhhhh" teriak Eca frustasi, ia tak peduli apakah orang lain menatapnya aneh atau menganggap nya orang gila yang terpenting sekarang ia harus memenangkan dirinya.
...****************...
Citra terengah-engah kala dirinya sudah sampai di depan sebuah bangunan yang dia yakini bahwa Eca pasti berada di dalamnya, Citra menormalkan nafasnya sebelum berjalan memasuki bangunan itu.
"Ra" suara gadis yang memang sudah familiar ditelinga nya terdengar dari belakang.
Citra memutar tubuhnya kearah sumber suara dan melihat Raia yang berlari kecil ke arahnya.
Ya sebelum menyusul Eca tadi orang yang dia hubungi adalah Raia karena Citra tau kalau semisalnya ada masalah apa-apa Raia adalah orang yang paling bisa ia andalkan untuk saat ini.
"Jadi gimana?" Raia bertanya langsung ke intinya ketika sudah sampai di depan Citra, betapa terkejutnya ia ketika mendapat telepon dari citra.
"Gue nggak tau, ini baru mau masuk" Citra menjawab seadanya sambil melangkah ke pintu masuk.
"Kok bisa sih kayak gini? nggak mungkin tiba-tiba Eca begini kan?" Raia kembali mengajukan pertanyaan kepada Citra sambil menyamakan langkahnya.
"Nanti ya jelasinnya" Citra menjawab seadanya dengan mata yang fokus mencari sosok Eca.
Raia mengangguk mengiyakan, matanya menyipit ketika menangkap siluet yang terlentang di lantai, tanpa tunggu lama ia langsung melangkah kearah siluet itu.
Citra menatap Raia yang sudah melangkah ke arah sudut ruangan dan mengikutinya.
Tubuh berbalut seragam sekolah itu terlentang di lantai, rambut panjangnya terurai berserakan, matanya yang biasanya acuh tak acuh itu sekarang tampak sembab.
Raia dan Citra tentu saja terkejut dengan kondisi Eca saat ini selain penampilan nya yang sangat berantakan tangan nya juga berdarah dan sebagian darahnya sudah mengering, ini saja sudah cukup membuat mereka tau segila apa Eca memukul samsak sehingga menghiraukan tubuhnya.
"Lo gila hah!" Semprot Raia ketika tubuhnya sudah duduk di samping Eca.
Eca membuka matanya menoleh kesamping dan melihat tatapan khawatir sahabat nya itu, sudut bibirnya sedikit terangkat ada perasaan hangat yang menjalar dihatinya setelah berantakan tadi.
"Lo serius nanya kita ngapain disini hah?! setelah lo lari dari rumah dalam keadaan yang kacau" Citra menjawab dengan tak santainya, bagaimana tidak Eca sudah cukup membuat ia sport jantung.
"Lah?!" Eca hanya menanggapi dengan santai kemudian mendudukkan dirinya dibantu Raia.
"Lo ada masalah apaan njir? jangan dibiasain kayak gini.Lo nggak tau aja gimana jantung gue waktu Citra nelpon gue dan bilang lo pergi dari rumah dalam keadaan seperti ini" Raia mengeluarkan unek-unek nya dengan mata yang menatap lurus ke dalam bola mata Eca.
Eca yang mendapat perlakuan seperti itu dari kedua sahabatnya dan juga merupakan orang terdekatnya merasakan ada perasaan yang meluap dihatinya, matanya mulai perih dan air mata kembali membasahi pipinya.
Citra dan Raia dikejutkan ketika Eca menangis di depan mereka, seberat apa masalah Eca sehingga dia yang biasanya anti dengan hal-hal yang berbau melow dan air mata kini meneteskan air mata itu.
"Hey are you okay beb?" Citra mengelus punggung Eca kemudian memeluknya dalam upaya menenangkan nya.
Eca terus terisak ketika mendengar pertanyaan Citra, seolah-olah pertanyaan itu seperti minyak yang ditambahkan ke dalam api dan akhirnya meledak.
"Gue benci bokap gue" ujar Eca disela-sela tangisnya.
Raia dan Citra bertukar pandang, bukan kah Eca sangat sangat ingin tahu tentang ayahnya jadi kenapa sekarang ia tiba-tiba membencinya.
"Ada apa?!" Raia meminta penjelasan kepada Eca.
Eca melepaskan pelukannya dan menatap mereka berdua, perlahan tapi pasti akhirnya ia menceritakan apa yang didengarnya dari sang Bunda, tentang Papanya yang berselingkuh, mempunyai anak yang bahkan seusia dengannya dan berakhir dengan Papanya yang kembali hadir di kehidupan mereka.
Citra dan Raia seketika mengerti penyebab kenapa Eca bisa se hancur ini ketika orang yang kita sangat sangat harapkan kehadirannya ternyata ialah sumber dari penyakit kita selama ini.
Citra kembali mendekap Eca menenangkannya, air mata ikut mengalir di pipinya
Raia menatap Citra dan Eca yang tengah berpelukan mengambil inisiatif untuk mencari minum karena dalam perihal menenangkan orang Citra lebih mampu dari pada dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih untuk readers yang masih setia menunggu author untuk update.
Sayang kalian banyak banyak 😘😘😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 😘😘😘