Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Pesona



Mama menutup mulutnya karena terkejut melihat di tempat tidur putranya benar-benar seorang gadis dan yang membuat nya lebih terkejut adalah kondisi mengenaskan Eca dengan wajah yang penuh lebam-lebam.


Mata teduh milik Mama Zayan seketika berkilat tajam dengan amarah yang jelas di sana, Ya dia sangat sangat marah sekarang.


Mama menatap nyalang Zayan disebelahnya, Tangannya mendarat keras di pangkal lengan Zayan.


"Mama nggak pernah ngajarin kamu buat kasar sama perempuan Bang, Mama perempuan Cici juga perempuan harus nya Abang ingat! Kalau pun ada masalah bisa dibicarakan baik-baik nggak perlu sampai main tangan mau jadi apa kamu nanti hah?" Rahang Mama mengeras dengan intonasi yang rendah dan tajam, Zayan cukup pintar untuk mengetahui kalau saat ini Mamanya benar-benar marah, But Zayan tidak tau kesalahannya.


"Mam why?" bingung Zayan, lengannya sudah perih.


"Mama senang kamu bawa anak perempuan ke rumah sini Bang tapi kalau luka-luka begini Mama nggak suka, Kamu harus bisa dong ajak baik-baik nggak dengan cara kayak gini!" Bentak Mama masih dengan suara rendah, Mama cukup tau untuk tidak menggangu Eca yang tengah tertidur lelap.


Wait!!! Bau-bau nya ada kesalahpahaman disini, Zayan paham pasti Mama berpikir kalau ia yang menganiaya Eca


"No Mam! Mama salah paham, Mending sekarang Mama bantuin dia ganti baju dulu" Zayan menyerahkan kaos hitamnya kepada Mama.


Mama menyingkirkan kemarahannya untuk saat ini sebelum mendekat ke arah Eca untuk mengganti pakaian Eca.


"Masih mau disini?" Mama bertanya dengan nada sarkas ketika melihat Zayan yang masih setia berdiri di tempat.


Rona merah menjalar dari pipi ke arah telinga Zayan, Ia seperti tertangkap basah ketika mengintip orang yang sedang berganti pakaian.


Tanpa ba-bi-bu lagi Zayan langsung balik kanan bubar jalan secepat yang ia bisa dan menutup rapat pintu kamarnya.


Mama tersenyum melihat tingkah lucu putranya sekarang ia sedikit lega karena ia yakin bukan putranya lah yang melukai gadis di depannya.


Mama mulai mengganti pakaian Eca dengan selembut mungkin agar tidak menggangu tidur nyenyak seorang putri yang di bawa kembali oleh putranya.


Eca terbaring dengan tubuh lebam-lebam seakan akan ia adalah makhluk yang paling rapuh, Dia tampak lembut dan tak berdaya tapi orang orang bisa merasakan perasaan yang berbahaya darinya.


......................


Kakinya bergerak tak karuan dengan tangan yang saling bertautan, Zayan mengalihkan pandangannya ke arah 2 sosok di depannya yang siap menginterogasinya siapa lagi kalau bukan orang tuanya.


Zayan merilekskan pikiran nya supaya bisa menjawab pertanyaan nanti dengan lancar pasalnya ini adalah sesuatu yang baru untuknya.


"Jadi, Bisa Abang jelaskan sejelas-jelasnya kenapa Abang sampai bisa membawa anak gadis orang kesini dan dalam keadaan kacau begitu!" titah sang Ibunda ratu yang tak dapat dibantah ketika sang Raja yang tengah menatap garang tersangka.


"Gini loh Ma, Tadi kan aku pergi sama Arga bareng yang lainnya terus ketemu ini cewek yang kebetulan sahabat nya pacar Arga satu lagi di sana juga ada Cici yang ternyata temenan sama adiknya cewek ini, Teruskan-"


"Ceweknya ini namanya siapa?" potong Mama yang kebingungan akan nama Eca.


"Eca namanya ma" jawab Zayan cepat agar Mamanya tak lagi memotong pembicaraannya, Kan kalau begini ia susah melanjutkan ceritanya.


"Nah teruskan mereka perginya pasangan dan cuma sisa kami berdua dan bla...bla...bla"


Zayan menjelaskan panjang lebar semua kronologi kejadian dari awal sampai akhir dimana ia dengan antara terpaksa dan tidak membawa sosok perempuan ke kamarnya.


Mama dan Papa tampak mengangguk angguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Zayan, Buktinya mereka tak memprotes nya.


"Mama kirain pacar kamu" jawaban simpel Mama untuk penjelasan panjang lebar Zayan, Wow primitif seperti pesona dunia laut :)


"Ya udah kalau begitu berarti kamu aman dong kalau kita tinggal di rumah?" sang Baginda Raja angkat suara setelah mendengar penjelasan sang putra, Didikannya tak pernah gagal bangga dong.


"Lah emang Mama sama Papa mau kemana?" tanya Zayan, Ia baru sadar kalau ternyata Mamanya sudah berpakaian rapi dengan gaun ala-ala Eropa, seolah-olah akan menghadiri acara di istana.


"Bisnis sayang" jawab mereka berdua singkat tanpa niat untuk menjelaskan.


"Ya udah hati-hati di jalan, Aku di rumah aman" ucap Zayan untuk meyakinkan kedua orang tuanya.


"Eca nya yang Mama khawatir kan', Anak orang jangan di apa apakan oke boy'!" pesan sang Mama sebelum mengandeng tangan suaminya.


Zayan mengangguk ketika mendengar nasihat Mamanya, Ia melangkah menuju kamarnya setelah siluet orang tuanya menghilang sepenuhnya dari pandangannya.


Zayan mendorong pelan pintu bercat abu-abu itu, Ia melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang cukup lengket.


Gemericik air serta udara ruangan yang sangat asing untuk tubuhnya mampu mengusik tidur lelap Eca, Kasur yang lebih empuk dari biasanya serta aroma maskulin khas pria cukup menjelaskan kepada Eca bahwa ia sedang tidak berada di kamarnya.


Eca menatap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, Kaos putih dan jaket kulit hitamnya sudah berganti dengan kaos hitam yang Oversize atau mungkin kaos laki-laki, dan what apa-apaan celana jeans nya hanya menyisakan hotpants saja.


Eca mendudukkan dirinya dan memindai sekeliling ruangan, ruangan ini sungguh membuatnya nyaman.


Mata indahnya tertuju pada jarum yang selalu berputar itu kini tengah menunjukkan angka 6 berarti bisa diperkirakan sudah hampir 2 jam ia tertidur, Apakah ia tertidur atau mati sampai tak merasakan seseorang mengganti pakaiannya.


Pintu berderit mengalihkan pandangan dan pikirannya, Sosok bertubuh atletis nan tampan rupawan muncul dari balik pintu kaca yang di blur itu.


Sekarang baru Eca mengerti situasinya, kemungkinan besar ini adalah kamar makhluk tampan di depannya.


Eca memerah melihat visual Zayan yang baru saja selesai mandi, dengan rambut yang masih basah serta kaos hitam dan bokser menambah kesan seksi nya.


Perempuan mana kira-kira yang tak meleleh^_^


"Eh udah bangun" Zayan mendekat kala pandangannya tak sengaja menatap Eca yang sudah duduk dengan pose yang tengah bersandar si kepala ranjang.


Eca mengangguk pelan, Ia sekarang yakin lagi kalau baju yang dikenakannya pasti milik Zayan.


"Lo ada sakit atau nggak nyaman gitu?" Zayan mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan mulai mencek situasi dan kondisi Eca.


"Enggak ada, cuma badan gue rasanya rada sakit terus pusing dikit" jelas setelah ia rileks.


Zayan mengangguk pelan tanda ia mengerti, Diam tak ada lagi percakapan mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.


Eca seakan akan tercekik oleh perasaan canggung seperti ini, Hey Ca santai suka boleh malu-maluin jangan.


"Btw makasih loh ya dan baju gue?" nada penuh isyarat jelas dalam kata-kata Eca, Zayan yang pintar langsung menangkap maknanya.


"Nyokap yang gantiin pakai baju gue tadi" jelas Zayan cepat agar tak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.


Eca mengangguk paham sebenarnya dia sudah menduga kalau bukan Nyokap Zayan kemungkinan lain nya yaitu si mbak di rumah nya.


"Minjam kamar mandi lo boleh nggak?" tanya Eca sambil bangkit dari duduknya.


"Tu sebelah sana" Zayan mengangguk dengan telunjuk yang mengarah ke depannya.


Zayan menatap lekat tubuh semampai Eca, Ia tampak manis dengan mengenakan pakaian miliknya, Ah saat ini rasa Zayan meningkat beberapa persen lagi untuk gadis ini.


Ingin rasanya ia mengantongi gadis ini agar tak sembarang orang bisa menatap nya, Sekarang Zayan yakin bahwa ia telah jatuh sejatuh nya dalam pesona Eca.


...****************...


Betah ya🥰