
"Ehm, perhatian semuanya bagi yang mendapatkan pewawancara no 23 di harapkan angkat tangan atau kalau tidak cari gue aja!" suara Eca mengalun di antara ramainya suara yang lain.
Seketika semua mata tertuju padanya, kayak iklan aja ' semua mata tertuju padaku ' hehe.
"Eehh" Eca tersenyum kikuk ketika menjadi pusat perhatian.
"Najisun Eca, lu ngapain anjir pakai teriak-teriak segala, malu kan, mamam tuh malu" batin Eca merutuki dirinya.
Ternyata oh ternyata ide gila Eca memang cukup manjur guys, bagaimana tidak tak selang lama sebuah tangan terangkat tinggi keatas, bukan karena dia mengangkat tinggi-tinggi but ini orang emang lebih tinggi dari orang pada umumnya.
Melihat tangan itu rasanya Eca seperti mendapatkan penyelamatnya.
For you thanks.
Eca segera berlari secepatnya kearah tangan tersebut.
"Untung lo angkat tangan cepet" ujar Eca sambil menormalkan nafasnya.
Sosok itu yang tak lain adalah Vero menatap heran ke arah Eca seolah-olah berkata ' ini anak napa woy? '.
"Lu napa?" jawab Vero santai sambil berjalan menjauhi kerumunan.
Eca yang melihat itu segera mengikuti langkah lebar Vero,ya lebar menurut Eca soalnya Vero itu 180 cm an sedangkan Eca 165 cm an.
"Malu bat gue sumpah, mana orang-orang pada liatin gue lagi" jawab Eca sambil menunduk, masih terus mengikuti langkah kaki Vero.
Eca yang terlalu fokus melihat lantai entah apa yang di carinya tak sadar jika Vero sudah berhenti.
"Aw, lo kok nggak bilang-bilang kalau berhenti sih!" seru Eca meringis sambil memegang hidungnya yang terhantuk cukup kuat.
"Lah lo ngapain nunduk Bambank" balas Vero tanpa rasa bersalahnya.
"Ish, tapi lo beneran teman sekelompok gue kan?" selidik Eca memastikan.
"Iya Markonah iya, lo kok cerewet ya? nggak kayak yang di ceritain si Arga" jawab Vero sambil duduk lesehan.
Eca yang melihat Vero duduk juga ikut menyusulnya, ya kali ia harus berdiri terus.
Eh tapi tunggu, apa kata Vero tadi? ' seperti yang di ceritain Arga '.
"Oh jadi lo gibahin gue ya sama si Arga hah?" tanya Eca dengan nada suara yang naik satu oktaf.
"Eh maksud gue ituβ"
"Ngaku lo! pasti si Arga ngomong yang jelek-jelek kan tentang gue? awas tuh anak gue komporin nanti kalau dia ada masalah sama si Citra" Eca sebel dong pasti lah.
"Eh bukan gitu, gimana ya jelasin nya, ah udahlah mending langsung aja wawancaranya biar cepat kelar, cepat istirahat" Vero yang kelabakan langsung saja cari aman.
Eca memicingkan matanya, tapi ya udahlah ngapain juga dia pusing in mereka.
"Oke deh, mulai!" jawab Eca memasuki mode serius.
"Oke gue mulai ya" Vero yang melihat Eca serius refleks juga ikutan serius.
Vero membolak-balik catatannya melihat hal-hal apa saja yang akan di tanyakan.
"Oke sebelumnya nama lo siapa?" tanyanya sambil menatap Eca, tangannya sudah memegang pulpen bersiap untuk mencatat hal yang diperlukan.
"Romeesa Syabani" jawab Eca menyebutkan nama lengkapnya.
"Pasti panggilan lo Omes kan? ngaku lo!" Vero berkata dengan nada bercanda.
Plak, satu tamparan mendarat di tangannya.
"Serius dodol!" balas Eca tanpa rasa bersalah, ngapain harus ngerasa bersalah itu namanya naluri manusia.
"Iya iya, kasar amat jadi cewek" jawab Vero sambil mengelus lengannya, sakit sekali everybody.
"Kok mulutnya lemes banget jadi cowok" balas Eca dengan nada menyindir.
Vero dan Eca saling tatap kuat, apa-apaan ini apakah mereka akan menjadi musuh di pertemuan pertama mereka, padahal tadi Eca bersyukur sekali melihat Vero.
"Lanjut!" Eca memilih untuk mengalah.
"Alamat dan tanggal lahir?" tanya Vero setelah melihat pertanyaan di buku catatannya, apa-apaan pertanyaannya ini, kayak mau sensus penduduk aja, bener nggak sih?
"Ah, langsung ke intinya aja deh, sekarang kesibukan lo apaan?" tanya Vero dengan nada frustrasi, bagaimana tidak kalau macam Eca ini narasumbernya wawancara tak kan berjalan lancar di tambah si pewawancara yang tak sabaran.
"Kesibukan ya?" Eca tampak merenung seketika, matanya berubah sedikit sendu, walau hanya sekejap tapi Vero yang fokus memperhatikan Eca bisa melihatnya.
"Iya" jawab Vero pelan, berat banget ya hidup ini anak?
"Kesibukan gue, sok-sok sibuk aja sih" jawabnya santai.
Hah gimana? maksudnya apaan?
Vero sedikit linglung, apaan maksud ini anak?
"Jadi maksudnya kesibukan lo itu sok sibuk gitu?" Vero memastikan dengan tatapan tak percaya, bisa-bisanya dia bersimpati kepada bocah tengil di depannya.
"Bisa di bilang seperti itu" jawab Eca sambil tersenyum manis, ya kali dia curhat hanya karena tugas, bicara panjang lebar dari A sampai Z, bagi Eca itu sama saja dengan buang-buang waktu dan Eca benci itu.
Vero tampak menghela nafasnya menahan kesal, tarik nafas hembuskan, sabar Vero ini namanya ujian hidup, ujian hidup atau karma? iya karma karena sering buat orang kesal.
Mamam tuh karma,enak? hehehe.
"Terimakasih kepada saudari Romeesa Syabani, yang mana ia telah memberikan jawaban yang sangat sangat tak berguna atas pertanyaan saya" Vero melenggang meninggalkan Eca.
Eca hanya melongo di tempatnya, jadi cowok baperan banget aduh.
......................
Sementara itu Vero terus menggerutu sepanjang jalan menuju tempat teman-temannya berkumpul.
"Napa tu muka? masam banget?" tanya Jeno ketika melihat Vero yang duduk dengan kesal, kentara banget cuy muka betek nya mana pakai acara lempar buku ke atas meja lagi, kagak keren anjir.
"Noh cewek yang kita kira keren itu noh, yang temennya pacar si Ager, nyebelin nya minta ampun!" seru Vero ketika membayangkan kejadian beberapa saat lalu, heran ada ya orang yang ngeselin kayak dia.
"Lah lo diapain bro? biasanya juga lo yang suka bikin orang darah tinggi" balas Arga yang bingung dengan Vero, masalahnya di sini si Eca yang di katain.
"Sebenarnya nggak nyebelin amat sih tapi lo tau jawabannya waktu wawancara yang ngeselin" jawabnya " Lo tau kagak dia jawab apa waktu gue nanya kesibukan dia apa?"
"Apaan" jawab Jeno dan Arga serentak.
Sekarang tiga pasang mata itu sedang fokus menatap ke arah Vero menunggu kelanjutan katanya, iya tiga pasang karena ada satu kulkas bernyawa diantara mereka siapa lagi kalau bukan Zayan.
"Dia jawab gini, dengerin ya! Kesibukan gue ya sok sibuk aja, anjink nggak tuh" jawab Vero menirukan Eca, ia sudah kepalang kesal.
"Ngakak njirrrr" balas Jeno dengan mulut yang tak henti tertawa.
Arga dan Zayan juga tertawa tapi tidak separah Jeno yang urat malunya sudah putus, may be.
"Tapi mendengar dari cerita lo Ro, kayaknya itu anak asik deh orangnya" Jeno berkata setelah tawanya mereda.
"Iya asik menurut lo, kalau menurut gue itu anak bikin darah tinggi mulu" balas Vero lempeng.
Mereka kembali tertawa.
Kadang kebahagiaan itu tak perlu mewah, cukup meledek teman mu saja mungkin sudah bahagia.
Sementara itu sang buah bibir yang tak lain tak bukan adalah Romeesa Syabani tengah asik menikmati nasi gorengnya ditemani segelas es teh, duduk sendiri di meja paling pojok, adalah bentuk ketenangan tersendiri baginya.
Damai dan tenang membuatnya terhanyut dalam lamunan, angan-angan tentang bagaimana rasanya keluarga yang bahagia, menikmati waktu dengan teman tanpa repot-repot memikirkan masalah finansial.
Eca tersenyum miris kala rasa ingin bermanja dengan sosok yang dipanggil Papa itu masih ada.
Stop Ca lo bisa, selama ini lo hidup tanpa sosok ayah dan lo kuat Romeesa, don't cry you're strong, Eca mesugesti pikirannya.
Senyum tipis muncul di bibirnya lebih tepatnya senyuman miris menertawakan dirinya.
...****************...
Para readers yang baik hati tolong author dong tinggalkan jejaknya.
Kalau readers lagi gabut readers boleh kok promo in cerita author π π
Makasih untuk readers yang masih setia di sini.
Salam hangat plus cinta dari author