
Aroma tanah basah mengawali segala aktivitas makhluk hidup pagi itu.
Bulir air berjatuhan satu demi satu dari dedaunan, tanah yang basah menjelaskan segalanya tentang air yang jatuh menimpa bumi semalaman.
Eca meringis tepat setelah membuka matanya, sakit yang teramat melanda kepalanya, Eca menormalkan nafasnya dan mulai mendudukkan tubuhnya tapi sakit itu kembali menghantam otaknya seolah-olah ada yang menusuk-nusuk kepalanya, sangat sakit.
Citra yang baru selesai membersihkan diri dari kamar mandi sontak berlari menghampiri Eca yang tengah memukul kepalanya dengan ringisan pelan dari mulut Eca.
Citra menahan tangan Eca yang terus terusan memukul kepalanya itu, Citra tersentak kala tangan nya bersentuhan dengan tubuh Eca, suhu tubuh Eca yang tinggi membuat Citra berseru kaget.
"CA" teriaknya yang membuat Eca kembali memejamkan matanya.
Eca meringis ketika teriakan nyaring Citra memicu sakit kepalanya.
"Suutt... gue pusing" balas Eca lirih dengan tangan yang masih setia memukul kepalanya.
"Iya kepalanya jangan dipukul terus." rengek Citra yang sangat khawatir dengan keadaan Eca saat ini.
Eca tak mengacuhkan suara Citra, denyutan di kepalanya menjadi jadi.
Citra yang kepalang panik langsung saja berlari ke arah kamar Bunda Eca, jujur ia tak tau harus berbuat apa ketika melihat Eca yang terus-menerus memukul kepalanya.
"Bun...Bunda..." Citra mengetuk perlahan pintu kamar Bunda Eca dengan mulut yang terus terusan memanggil wanita yang di hormati nya itu.
"Iya kenapa Ra?" Bunda membuka pintu yang sedari tadi di ketuk oleh Citra, sedikit bingung dengan ketukan Citra yang tidak santai itu.
"Eca sakit Bun...dia mukulin kepalanya!" ujar Citra dengan mata yang terus terusan melirik ke arah pintu kamar yang bercat hitam itu.
Bunda melangkah cepat kearah kamar Eca setelah mendengar penuturan Citra, ia sangat paham betul bagaimana sifat putrinya itu ketika sakit.
Pintu bercat hitam itu terbuka dan langsung mengekspos isi kamar itu, Bunda berlari menghampiri Eca yang sudah terjatuh di bawah ranjang dengan kepala yang di sandarkan dipinggiran ranjang.
"Sayang" Bunda memanggil dengan lembut Eca ketika melihat wajah pucat putrinya dengan mata yang terpejam, rambut yang biasanya di ikat itu kini tampak berantakan.
Eca diam tak menyahut ia terlalu berat rasanya meski sekedar mengucapkan 'Iya'.
Bunda memapah tubuh Eca dan merebahkannya di ranjang, Eca seolah-olah sedang terjebak di satu ruang yang memisahkannya dari dunia luar.
Eca merasakan perasaan sakit itu, sakit yang mana seolah olah ribuan jarum menusuk kepalanya menyebabkan otaknya berdenyut dan mendidih.
Rasa sakit itu ditransfer ke seluruh tubuhnya yang mana menyebabkan perasaan lumpuh semua sarafnya terasa lumpuh tak bisa bergerak.
Bagaikan matahari yang mulai tenggelam perlahan tapi pasti kegelapan merenggut kesadaran Eca dia telah jatuh keruang gelap.
Bunda mengacak acak ponsel nya menggulir layar gawai nya mencari cari deretan nomor yang paling penting bagi nya untuk saat ini.
"Ha..lo.." suara bunda terputus putus disertai dengan sedikit gemetar.
"Halo,Selamat pagi.ada yang bisa dibantu?" balasan di sebrang membuat Bunda mendapatkan kembali sedikit ketenangan nya.
"Rim.. ini aku Ranti.bisa ke rumah ku sekarang, anakku pingsan" Bunda langsung menjelaskan dirinya.
"Share lock sekarang!" suara disana terdengar tegas tak lama kemudian panggilan itu tertutup.
Rim singkatan dari Rima,ia adalah sahabat Bunda Eca waktu zaman kuliah dulu yang mana mereka masih berteman baik hanya saja mereka disibukkan oleh urusan masing-masing dan komunikasi yang sudah jarang.
Beberapa waktu lalu mereka bertemu kembali dipusat perbelanjaan dan kembali bertukar nomor ponsel serta alamat, bercerita tentang kehidupan yang mereka jalani setelah perpisahan mereka.
Bunda meletakan handuk basah yang sudah di sediakan Citra ke dahi Eca, suhu tubuh Eca yang tinggi dengan cepat membuat handuk yang awalnya dingin menjadi hangat, Bunda terus mengulang kegiatan itu sampai suara ketukan pintu yang terdengar menghentikannya.
Citra cepat tanggap dengan langsung keluar dan membuka pintu, wanita paruh baya dengan balutan jas putih khas seorang dokter cukup menjelaskan siapa dirinya.
Citra menuntut dokter itu kearah kamar Eca dan berjalan ke sisi ranjang yang berlawanan dengan Bunda.
Bunda menggeser duduknya kala netra nya menangkap kehadiran sahabatnya itu,ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya, dan membiarkan Dokter Rima mengambil alih untuk memeriksa Eca.
Dokter Rima sedikit tertegun kala melihat Eca yang terbaring lemah saat ini,ia hanya tak menyangka jika Eca adalah Putri dari sahabatnya.
Detik demi detik terasa berat dan mencekam di kamar gadis yang bernuansa sedikit maskulin itu, Dokter Rima mulai menjalankan prosedur pemeriksaan kesehatan dari mengecek suhu, detak jantung dan sebagainya.
Dokter Rima bergumam pelan setelah melakukan pemeriksaan itu, Bunda yang melihat Dokter Rima telah selesai membereskan peralatan medisnya itu menuntun ke arah ruang tamu untuk membahas penyakit Eca.
"Jadi gimana Rim anak aku?" ujar Bunda setelah mendudukkan dirinya di sofa singgel tepat di depan Dokter Rima.
"Putri mu demam tinggi disertai dengan migrain, biasanya ini disebabkan karena memaksa kan beban fisik sampai menyentuh titik akhirnya yang mana akan menyebabkan tubuh down, dan juga kelelahan mental jadi pemicu disini" Dokter Rima menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam dengan detail.
Bunda memukul pelan dadanya yang sesak, ia tahu penyebab anaknya seperti ini, Eca kemarin pulang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja ditambah dengan masalah ya menyebabkan putrinya itu kelelahan fisik.
"Dan sepertinya putri kamu juga mengkonsumsi obat-obatan" jelas Dokter Rima lagi sambil menuliskan resep obat.
"Tunggu... obat-obatan apa maksud kamu?" wanita dengan air mata yang mulai mengalir itu mengerutkan keningnya kala mendengar putrinya yang berharga mengkonsumsi obat-obatan.
"Seperti nya putri mu bukan hanya mengidap migrain biasa tapi juga ada hubungannya dengan penyakit mental yang dideritanya" jelas Dokter Rima sambil mengelus pundak Bunda mencoba menyemangati nya.
Bunda seolah dihantam batu besar, sesaknya melebihi ketika ia tau suaminya memiliki wanita lain,putri berharga nya yang selama ini selalu kuat yang selama ini tersenyum di depannya ternyata memiliki penyakit mental.
Bunda Eca menggeleng dengan air mata yang terus mengalir dan menangis tanpa suara,ia gagal menjadi seorang ibu yang baik ia gagal.
"Shttt... tenang dulu ini masih tebakan aku, untuk lebih jelasnya setelah Eca sembuh silahkan kunjungi spesialis penyakit mental untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat" Dokter Rima juga tak menyangka jika Eca memiliki gangguan mental,ia cukup terkejut ketika mengetahui sakit kepala berlebih yang diderita Eca ternyata disebabkan oleh efek samping dari obat yang dikonsumsinya secara berlebihan.
"Ini resep obatnya,di apotek dekat sini ada sepertinya, kamu tebus sendiri bisakan?" tanya Dokter Rima ragu ketika melihat kondisi Bunda Ranti.
"Saya bisa menebusnya Dokter" suara manis seorang gadis menyela dia antara suara wanita itu.
Bunda melihat Elin yang tengah berdiri dengan air yang juga mengalir dimatanya, ah Putri kecilnya sekarang juga mengetahui kondisi kakaknya.
...****************...
Note: cerita ini hanya fiktif belaka
Mohon maaf atas diagnosa diagnosa yang menurut readers tidak sesuai dengan diagnosa nyata seorang dokter, karena memang ini hanya sebuah imajinasi author yang bukan seorang dokter 🙏
Mohon dimengerti ya🙏
Btw kopi kayaknya enak nih😘 kasih author kopi yak biar author nambah semangat nulisnya bunga kembang nya juga nggak pa²🥰😘😘