Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Bungkam



Eca menajamkan matanya kala melihat perempuan dengan seragam yang sama dengannya tengah duduk di sudut toilet dengan kepala berada di antara dua lututnya, rambutnya yang panjang menutupi wajahnya.


Eca menepuk bahu gadis itu tanpa mengeluarkan suara, gadis itu mengangkat kepalanya, bola mata keduanya membesar, mereka sama-sama terkejut dengan kehadiran masing-masing.


Urat-urat di tangan yang memiliki bekas luka itu mulai menegang, jari-jemari nan lentik terkepal dengan kuat cukup menjadi tanda bahwa sang empunya tangan tengah menahan emosi yang bisa kapan saja meledak.


Nafasnya yang memburu perlahan mulai kembali beraturan, wajahnya yang memerah karena menahan amarah yang menyebabkan ia memiliki perasaan tercekik juga sudah kembali normal.


Di amati nya kembali dengan lebih teliti tampilan Putri yang masih terduduk di lantai tepatnya lantai pojok toilet, seragam sekolah yang berwarna putih itu kini sudah ternoda dengan bercak darah dan cairan yang berwarna coklat, sepertinya noda itu berasal dari ice cappucino.


Eca meraih lengan Putri yang masih setia menunduk itu, ditariknya cukup kuat lengan yang sudah memar itu.


Putri berdiri seiringan dengan tangan Eca yang semakin menguat kala ia tak ingin bangkit.


Eca menyibak rambut yang menutupi wajah Putri, dia menghela nafasnya.


Eca membuka Hoodie nya tanpa mau ditolak ataupun di komentari ia memindahkan Hoodie itu langsung ke tangan Putri.


"Pakai!" ya itu adalah perintah dari seorang Romeesa Syabani dengan nada datarnya,ia akan bersikap seperti ini ketika ia sudah terlanjur kesal dengan sesuatu.


Putri mengikuti perintah Eca tanpa bantahan, kenapa? karena ia tau ketika nada bicara dan mimik wajah Eca sudah seperti itu artinya Eca sudah tak ingin di bantah dan ia bisa melakukan apapun agar orang-orang yang di perintahkan nya mengikuti kemauannya.


Kakinya mulai bersandar di dinding putih khas kamar mandi, tangannya sudah terlipat didepan dada, kepalanya juga sudah mendongak ke atas disertai nafas yang tak beraturan sudah cukup menjadi bukti bahwa gadis itu kembali dilanda amarah.


Ya, Eca sangat marah kala melihat dengan lebih jelas luka-luka ditubuh Putri.


Putri telah selesai mengganti bajunya dengan Hoodie milik Eca,ia berdiri di hadapan Eca yang tengah bersandar di dinding itu, menatap nya sebentar kemudian kembali menunduk lagi.


Eca yang merasakan kehadiran Putri tanpa basa-basi mengambil baju Putri yang ditangannya kemudian melemparkannya kedalam tempat sampah.


"Ikut gue!" kembali perintah itu datang dengan nada yang sama dan tanpa bantahan.


Sepanjang perjalanan mereka saling diam, Eca yang memimpin jalan dengan wajahnya yang sangat cuek membuat siswa siswi yang ingin menyapa nya mengurungkan niat mereka kembali terlebih ketika melihat perempuan yang memakai Hoodie milik Eca yang berjalan dibelakang nya dengan menunduk membuat mereka yakin jika Eca sedang dalam kondisi yang tidak baik untuk diganggu.


Mereka berhenti di ruangan yang bertuliskan UKS, seperti UKS di sekolah pada umumnya yang tenang tanpa keramaian.


Eca melirik ranjang yang beralaskan seprai putih itu, cukup dengan lirikan mata saja Putri sudah paham maksud dan tujuan Eca.


Jari-jemari nan lentik itu tampak sibuk membolak-balik benda dalam kotak persegi panjang berwarna putih dengan lambang plus bertuliskan P3K, jemari itu berhenti ketika sebotol obat merah dan beberapa kapas beserta perban telah aman di dalam genggamannya.


Eca menatap dalam Putri yang telah stay di brankar singel itu,ia menarik nafasnya dalam-dalam karena masih kesal dengan gadis yang satu ini.


Eca mulai meneteskan obat merah itu di kapas kemudian mengoleskannya ke luka di wajah Putri dengan sesekali menekannya kuat menyebabkan ringisan pelan keluar dari mulut Putri.


"Ca, pelan-pelan napa!" protes Putri yang merasakan adanya unsur kesengajaan dibalik kapas putih yang menekan kuat lukanya itu.


"Kenapa? sakit?" balas Eca sinis dengan tangan yang kembali menekan kuat luka itu.


Putri kembali dibuat diam dengan jawaban Eca yang ia sangat tau maksudnya.


Hening kembali menyelimuti mereka.


......................


Citra,Raia dan yang lainnya masih stay di kantin dengan makanan yang sudah tandas,asik dengan kegiatan masing-masing.


Sebuah pesan via WhatsApp masuk ke gawai Citra,'Agar kesayangan 💕' tertera jelas di sana.


Tak butuh waktu lama apalagi paksaan jari-jemarinya otomatis menekan tulisan itu, seketika layar gawai itu menampilkan room chat nya dengan 'Agar kesayangan💕'


Agar kesayangan 💕


By, teman kamu berdua di UKS tuh.


10.46☑️


^^^Anda^^^


^^^*Hah,lah kok bisa?^^^


^^^10.46☑️*^^^


^^^Anda^^^


^^^10.46☑️*^^^


Agar kesayangan💕


Kesini makanya!


10.46☑️


^^^Anda^^^


^^^*Otw^^^


^^^10.47☑️*^^^


Citra menutup room chat nya setelah bertukar pesan dengan kekasihnya itu,ia cukup terkejut dengan fakta bahwa 2 makhluk yang sedari tadi di tunggu tunggunya tengah berada di UKS dan yang menjadi pertanyaan besar di otak kecilnya adalah apa yang dilakukan 2 makhluk itu di UKS.


"Rai UKS bentar kuy" ajak Citra yang sudah berdiri dari duduknya.


Raia mengernyitkan alisnya pertanda meminta penjelasan, bukankah mereka sedang menunggu Eca dan Putri.


Citra tetap diam dan malah mengedipkan matanya meminta Raia untuk mengikutinya saja.


Raia paham dan mulai meninggalkan kantin menyusul Citra yang sudah berjalan duluan.


Mereka berjalan dengan tenang tanpa suara, akan tetapi di otak mereka sekarang penuh tanda tanya tentang 2 makhluk yang merangkap menjadi sahabat mereka.


Mereka sampai di UKS yang tenang seperti hari biasanya, Citra melirik kanan kiri untuk memastikan omongan kekasihnya itu, benar saja di brankar no 2 dari pojok tampak Arga serta temannya.


Arga yang juga menyadari kehadiran Citra mengedipkan sebelah matanya dan mengedikan bahunya ke arah samping nya.


Citra paham dengan kode pacarnya itu, tak butuh lama kakinya telah sampai di brankar yang di arahkan Arga.


Benar saja di sana,di brankar yang tertutup tirai itu memperlihatkan dengan jelas Putri yang tengah duduk di brankar lengkap dengan perban serta hansaplast di wajahnya dan Eca yang tengah duduk santai di kursi samping brankar.


"Kalian lagi ngapain disini?" pertanyaan bodoh selalu saja terlontar dari mulut nan seksi milik Citra.


"Oh ini, lagi milih-milih sayur gue" balas Eca yang jengah dengan kebolot an Citra yang suka tidak tau tempat dan waktu.


"Ck, serius juga" Citra merebahkan tubuhnya di brankar tempat Putri mengistirahatkan pantatnya.


"Lah yang bercanda siapa?" balas Eca lagi, masih dengan tampang serius nya.


"Males ngomong sama lo" kesal Citra.


"Btw, wajah lo napa di tambal gitu?"Citra bicara dua arah.


Putri diam.


Citra menatap Eca dengan tatapan meminta petunjuk.


"Nggak mau ngomong ni anak" jawabnya santai.


Ya Eca cukup bosan sedari tadi mengoceh sendirian karena Putri tak ingin menceritakan kronologi ceritanya dan memilih bungkam.


Suara isakan kecil mulai terdengar diantara ocehan mereka, dan tentu saja sumber suara akan menjadi pusat perhatian manusia di ruangan kecil itu.


...****************...


Terimakasih untuk readers yang masih setia nungguin author update 🥰


Banyak cinta untuk kalian❤️❤️❤️❤️❤️❤️