
Cahaya matahari masuk di sela-sela dedaunan menembus kaca yang terbungkus dengan gorden abu-abu yang tebal.
Kamar bernuansa maskulin itu sangat tenang, Seakan akan tak ada kehidupan di dalamnya.
Melihat sekeliling ruangan yang tertata rapi cukup untuk menjelaskan pribadi pemiliknya yang bersih, Kamar dengan tema monokrom itu tampak sangat sangat nyaman.
Wangi maskulin menyebar di seisi ruangan, frame foto tersusun dengan aesthetic di dinding bercat abu-abu itu, Mulai dari ukuran frame yang paling besar sampai dengan yang paling kecil memperkaya keindahan ruangan itu.
Selimut yang terletak di atas ranjang besar di tengah ruangan itu tampak bergerak gerak, Tangan putih khas milik laki-laki terekspos dari selimut putih itu, Bergerak random di atas kasur.
Tangan seksi itu berhenti tepat ketika sudah mendapatkan tujuannya yaitu benda persegi panjang yang tak lain adalah smartphone.
Jari-jari panjang itu menekan asal di layar smartphone, Matanya menyipit untuk melihat jam di smartphone nya.
Angka 6:46 Wib tertera di layarnya, Dia meletakkan smartphone itu kemudian menarik selimut ke arah perutnya menampakkan wajah yang sempurna no cacat cacat.
Laki-laki itu yang tak lain Zayan mendudukkan dirinya kemudian menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan tujuan untuk mengumpulkan rohnya yang masih berkeliaran, Canda kok.
Selang beberapa menit, Setelah ia mendapatkan sepenuhnya kesadarannya Zayan melangkah ke arah jendela, Menarik tirai tebal yang menghalangi cahaya matahari menyinari kamarnya.
Tepat setelah tirai itu tersingkir sengatan cahaya matahari seketika menyilaukan matanya, Zayan menggeser kaca besar pembatas antara kamarnya dan balkon.
Dari balkon bisa Zayan lihat Mamanya tengah menyiram tanaman yang dirawat nya dengan penuh cinta.
"Morning Ma" sapa Zayan dari atas balkon.
Mamanya yang tengah asik menyiram tanaman seketika membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara.
"Morning boy" balas Mamanya sambil tersenyum manis kemudian melanjutkan kegiatannya.
Zayan tersenyum manis kemudian melangkah ke arah kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya.
Zayan menghabiskan waktu untuk bersih-bersih kurang lebih satu jam, Dengan tubuh yang sudah segar ia melangkah menuruni anak tangga menuju meja makan.
Zayan duduk dan mulai menyantap makanan yang sudah tersedia di depannya, beginilah resiko kalau telat bangun pasti sarapan sendiri.
Zayan menatap ke arah depannya ketika mendengar suara kursi yang ditarik, Di sana adiknya tengah makan dengan teramat tenang.
"Abang kira cuma Abang aja yang telat bangun" ujar Zayan sambil memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Cici nggak telat bangun kok, Sengaja aja nggak bareng yang lain biar bisa nemenin Abang sarapan" jawab adiknya yang bernama Cecilia Anggita kerap di sapa Cici.
"Masa?" tanya Zayan dengan tatapan jahilnya.
"Ih beneran loh Bang" jawab Cici kesal.
"Iya iya percaya, Makasih adik Abang yang paling cantik udah mau nemenin Abang nya sarapan" balas Zayan sambil tersenyum sangat manis untuk adiknya.
Cici yang melihat Abang nya hanya mengangguk kemudian melanjutkan makannya.
Setelah menghabiskan sarapannya Cici berjalan ke arah luar rumah dengan ransel cukup besar yang tergantung di punggungnya.
"Mau kemana dek?" tanya Zayan penasaran ketika melihat tas adeknya yang cukup besar itu, pasalnya hari ini Minggu dan tak mungkin sekolah.
"Cici mau ke rumah teman Cici Bang, Ngerjain tugas kelompok yang banyaknya minta ampun" jawabnya lesu karena terlalu banyak tugas, Untungnya di kerjakan berkelompok.
"Tugas atau tugas?" jahilnya sifat Zayan cukup membuat Cici kesal.
"Abang!!!" teriak Cici kesal
"Iya-iya berangkat gih! hati-hati ya, kalau ada apa-apa kabarin" pesan Zayan.
"Asiap bos" jawab Cici sambil hormat ala militer yang ketika mendapat pesanan dari atasannya.
......................
Sementara itu di kediaman Eca, Ia tampak sibuk menjemur pakaiannya.
Panas yang mulai menyengat membuatnya bergegas menyelesaikan kegiatannya saat ini.
Eca menggantung baju terakhirnya sebelum berlari ke dalam rumah, berjalan ke arah kamar mandi dan meletakkan kembali keranjang cuciannya.
Eca merebahkan tubuhnya di kasur dengan tangan yang sibuk men scroll layar ponselnya, Bibirnya sesekali tersenyum melihat layar ponsel itu.
"Kak pinjem Laptopnya dong" suara Elin berserta terbukanya pintu kamar Eca membuat sang empunya kamar menghentikan kegiatannya.
"Noh ambil di meja!" suruh Eca sambil bangkit dari rebahan nya.
"Aku ambil ya" ucap Elin memastikan sebelum mengambil laptop milik Eca.
Eca menganggukkan kepalanya kemudian menyusul ke arah Elin.
"Mo ngapain dek? Bikin tugas?" tanya Eca sambil terus mengikuti langkah kaki Elin.
"Iya kak, Mau bikin tugas kelompok bareng si Cici" jawab Elin sambil menganggukkan kepalanya.
Elin menghembuskan nafasnya pelan melihat kakaknya yang celingukan mencari keberadaan Cici.
"Bentar lagi dia nyampe kak, Tadi katanya udah di perempatan" jawab Elin menjelaskan.
"Oooo" Eca menganggukkan kepalanya kemudian berlalu ke arah dapur meninggalkan Elin yang mulai menyusun peralatan yang dibutuhkan nya.
Bundanya seperti biasa di pagi hari sudah disibukkan dengan berbagai alat dan bahan untuk membuat kue yang sudah familiar di mata Eca.
Eca menghampiri Bundanya yang tengah me mix telur.
"Citranya udah sampai kak?" tanya Bunda melirik Eca sekilas.
"Belum Bun, Bentar lagi kayaknya" jawab Eca sambil mencolek colek tepung terigu di dalam wadah khusus tepung.
Bunda mengangguk-angguk mendengar jawaban Eca.
"Itu dari pada main tepung mending bantuin Bunda bikin brownies" ucap Bundanya melihat kelakuan anak gadisnya yang masih seperti bocah.
"Bun Eca nggak bisa" jawab Eca sambil mengangkat tangannya cepat dari wadah tepung.
"Alasan aja terus kak, Terus kue yang kakak bikin waktu itu kenapa enak?" balas Bunda sambil mengingatkan Eca.
"Yah gimana ya Bun, Ibarat kata nih kalau kita bikin kue bareng ahlinya itu kita itu bakal insecure, Takut nanti kue yang kita bikin kagak enak" alasan Eca masuk akal sih.
Bunda mengacuhkan Eca dan malah memberikan apron ke tangan Eca.
"Nggak usah banyak alasan cantik, Nih ambil apronnya dan mulai lah membuat adonannya!" suruh Bunda sambil tersenyum manis.
Dengan sedikit terpaksa Eca mengambil apron dari tangan Bunda kemudian memakainya.
"Mukanya jangan cemberut dong cantik, Sekalian itu rambutnya di rapiin!" goda Bunda sambil menyuruh Eca merapikan rambut panjangnya yang tergerai bebas.
Eca tersenyum lebar ke arah Bunda sambil mengikat asal rambut sepinggang nya yang tampak sangat indah karena warna yang menghiasi nya.
Setelah siap Eca mulai memasukkan satu persatu bahan untuk membuat adonan brownies ke dalam wadahnya dengan tangan yang tak henti mengaduk aduk adonan supaya adonannya mengembang.
Eca menuangkan adonan yang telah di buatnya ke dalam cetakan dan memasukkan nya ke dalam tempat kukusan.
"Kak ada kak Citra tuh di depan" suara Elin terdengar tepat ketika Eca selesai memasukkan adonan brownies tadi ke dalam kukusan.
"Oh ok, Bun Eca ke depan dulu" Eca melangkah ke luar masih dengan apron yang melekat di tubuhnya dan anak rambut yang berantakan menambah kesan cantik nya.
Di ruangan depan televisi sudah duduk 2 gadis berbeda usia yang tak lain adalah Citra dan Cici.
"Eh Cici udah datang" ucap Eca ketika melihat Cici yang tengah mengetikan sesuatu di keyboard laptop.
Cici yang mendengar suara Eca langsung berdiri dan memeluk tubuh Eca yang masih berbalut apron.
"Kak Eca, Kangen" ucapnya masih dalam pelukan Eca, Eca balas memeluk Cici dengan sayang.
Ya mereka sedekat itu karena Cici mengatakan ia sangat ingin punya kakak perempuan karena ia hanya mempunyai 3 kakak laki-laki tanpa 1 pun kakak perempuan.
"Kakak juga kangen, Cici sih nggak mau main ke sini" jawab Eca setelah pelukan mereka terurai.
Cici menatap lekat Eca dengan pandangan yang sirat dengan kekaguman.
"Rambut kak Eca cantik" ucap Cici sambil memainkan rambut panjang Eca yang di ikat asal.
"Rambutnya aja nih?" tanya Eca sambil mengisyaratkan Citra untuk menyuruh nya masuk ke dalam kamar.
"Kak Eca juga cantik banget" puji tulus Cici, Bukan pujian sih lebih ke fakta aja gitu.
"Makasih loh ya, kalian lanjut bikin tugas gih kakak ke kamar dulu" balas Eca sambil menuntun Citra ke kamarnya.
Elin dan Cici mengangguk dan mulai melanjutkan kegiatannya sedangkan Citra menyusul Eca ke kamar dengan tangan jahilnya yang sengaja menarik ikat rambut Elin.
"Kak Citra!!!" teriak Elin ketika melihat Citra berlari ke kamar Eca.
...****************...
Hay readers jangan lupa like nya ya🥺 biar author lebih semangat nulisnya.
Sedih author yang baca ada cuma like nya dikit.
Untuk readers yang udah ngasih like nya terimakasih banyak ya semoga betah.
Votenya juga Jangan lupa ya🥰🥰
Bonus buat readers yang udah baik hati nih🥰