Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Masa Lalu Bunda



Putrinya saat ini sudah besar, Eca nya bukan lagi gadis kecil yang menangis karena di ejek teman-temannya, Eca nya sudah bisa menjadi sandaran baginya.


Air mata kembali meluruh di mata Bunda, apakah sekarang saatnya menceritakan semuanya pada Eca?


Bunda menggenggam lembut tangan Eca, menatap dalam manik gelap putrinya yang mirip dengan Ayahnya.


Bunda mengelus pipi Eca pelan, mungkin emang ini saatnya dia harus menceritakan tentang siapa ayah kandungnya.


"Papa kamu namanya Arayan Putra Syabani, nama yang bagus bukan?" bunda tersenyum manis ketika mulai membuka kenangan masa lalunya.


Denyut jantung Eca memompa cepat Arayan apakah Om Rayan yang ia kenal, meski sedikit terkejut Eca tetap mengangguk mengiyakan pertanyaan Bundanya, Nama itu memang bagus.


"Nama nya benar-benar sama dengan visual nya, Dia tampan dan most wanted di zamannya, siswa olimpiade kesayangan guru-guru, kaya jangan ditanya lagi karena di usianya yang masih remaja sudah punya usaha sendiri yang omsetnya tidak bisa dibilang kecil" jelas Bunda menerawang.


Eca sedikit bangga dengan ayahnya karena dia adalah murid teladan dimasanya.


"Terus kalian bisa ketemu gimana ceritanya?" Eca penasaran sekali tentang kisah mereka apalagi dengan ayahnya.


"Pertemuan pertama kami cukup terbilang klasik karena Bunda tidak sengaja mengusiknya, entah semesta bercanda atau apa yang jelas setelah ketidaksengajaan itu kami terus-terusan bertemu entah di lapangan, toko buku, perpustakaan dan akhirnya kami mulai dekat" senyum manis masih setia di bibir Bunda.


Eca diam mendengarkan nya tak ingin memotong pembicaraan Bunda yang tengah terhanyut ke dalam bayangan masa lalu, oh betapa manisnya.


"Seperti pasangan pada umumnya kami juga sering bertengkar karena masalah sepele dan berbaikan karena hal sepele juga melewati pahit manis bersama" senyum Bunda perlahan memudar, ada gurat kesedihan dan marah bercampur aduk.


"Musim demi musim berlalu akhirnya Bunda cukup sukses di usia yang terbilang masih muda apalagi untuk seorang perempuan"


Eca tersenyum ikut bangga karena Bundanya adalah wanita yang menjanjikan, tapi masalahnya disini kenapa Bunda sampai bisa hidup dalam keadaan yang cukup mengerikan beberapa tahun ini? kenapa ia tak menggunakan keahliannya?


Bunda menangkap tatapan bingung di mata Eca, kemudian kembali lanjut menjelaskan.


"Tak lama kemudian Papa mu dan Bunda menikah. Waktu itu kami sangat bahagia dan kebahagiaan kami bertambah setelah beberapa bulan kami mengetahui keberadaan mu" Bunda kembali mengelus pipi Eca.


"Kami masih baik-baik saja bahkan sampai adik mu lahir, tapi tepat ketika Elin berusia 1 tahun kebahagiaan itu hancur" Bunda menangis lagi.


Eca mengusap punggung Bunda pelan dalam upaya menenangkan Bunda, ia tak niat untuk menghentikan cerita Bundanya ia terlalu penasaran dan perasaannya cukup tak enak.


"Waktu itu seorang wanita modis datang ke kediaman kami dan dia menggandeng anak perempuan yang seusia dengan mu" gigi Bunda menyatu dalam upaya meredam emosi ketika kembali membuka luka lamanya.


"Bibi mu yaitu kakak dari Papa mu menyambut nya dengan hangat seolah-olah mereka adalah keluarga bahkan sikap nya lebih ramah, Dia tidak seperti itu pada Bunda"


"Kami berbincang-bincang dan dia mengenalkan dirinya sebagai istri dari Papa mu dan bibi mu membenarkan itu, dia mengatakan tidak ada larangan laki-laki memiliki istri lebih dari satu dan katanya wajar untuk Papa mu seorang laki-laki tampan dan mapan memiliki istri lain" suara Bunda bergetar.


"Bunda histeris waktu itu, kami berjanji untuk tidak saling mengkhianati tapi ia mengingkari. Bunda kalap dan tanpa pikir panjang membawa kalian berdua pergi meninggalkan kehancuran itu" sekarang Bunda bukan lagi hanya sekedar meneteskan air mata tapi sudah terisak-isak.


"Bunda bertahan hidup di dunia yang kejam dengan mengandalkan koneksi dan penghasilan yang terus masuk dari perusahaan, membuat kue hanya lah pengisi waktu luang yang membuat Bunda bisa melupakan pengalaman pahit. Bunda dan kita bertahan bertiga selama ini tapi apa, ketenangan hancur kala orang itu datang lagi" Bunda tersenyum kecut.


"Om Rayan?" Eca memastikan walaupun ia yakin dengan tebakannya.


Bunda mengangguk mengiyakan pertanyaan Eca.


"Orang ketiga?" lagi Eca bertanya dengan suara yang bergetar.


Bunda mengangguk lagi mengiyakan pertanyaan Eca.


Perut Eca bergejolak ketika mendapat jawaban yang selama ini di carinya tentang asal-usul Papa nya dan kenapa mereka sampai terpisah.


Eca menahan sekuat tenaga rasa mual nya, Ternyata sampai saat ini perselingkuhan masih lah hal yang menjijikkan bagi seorang Romeesa Syabani.


Emosi Eca terombang-ambing naik turun, nafasnya memburu seperti orang yang baru saja selesai berlari.


Air mata mengalir di pipinya tetapi matanya mengeluarkan tatapan yang sangat sangat tajam seakan-akan bisa membunuh orang dengan tatapannya itu.


Bunda merasakan perubahan emosi Eca yang sangat drastis itu, ia khawatir dan menggoyang pelan lengan Eca namun usaha nya sia-sia yang ada malah Eca sudah meninggalkan rumah dengan masih mengenakan seragam sekolah.


Bunda panik dan memanggil Citra, Citra yang mendengar penuturan Bunda langsung menyusul Eca dengan tangan yang sibuk mengetik di gawai nya.


Eca merasakan dengan sangat sangat jelas perubahan emosinya yang terlalu mengerikan ini, ia dengan cepat sudah sampai di sebuah tempat tinju.


Eca bertemu dengan pelatih di situ dan tanpa basa-basi langsung menghajar habis-habisan samsak yang menggantung di depannya, ia memforsir tenaga nya terus menerus sampai mencapai batasnya.


Ia berteriak kala kata perselingkuhan terus berputar putar di kepalanya, Eca kalap untuk saat ini di pikirannya saat ini yang ada hanya melepaskan emosinya, terus-menerus memforsir tenaga beradu dengan benda mati.


...****************...


Betah ya🥰


Maaf lama update nya soalnya author sekarang cukup sibuk belajar bahasa Korea 😅


Jan lupa like nya ya🥰🥰