
Elin dan Cici mengangguk sebelum kembali melanjutkan kegiatannya sedangkan Citra menyusul Eca ke kamar dengan tangan jahilnya yang sengaja menarik ikat rambut Elin.
"Kak Citra!!!" teriak Elin ketika melihat Citra berlari ke kamar Eca.
Citra menutup cepat pintu kamar Eca ketika mendengar teriakkan Elin, Ia tertawa karena berhasil menjahili adik kecil itu.
"Lo kebiasaan deh" ucap Eca sambil menatap Citra dengan tangan yang sibuk membuka pintu lemari.
"Hehe habisnya enak sih jahilin tuh anak" jawab Citra sambil menggeret kopernya ke arah Eca.
"Lo susun aja di dalem ya yang rapi, Gue ke dapur dulu mau lanjutin bikin kue" ucap Eca sambil menggeser tubuhnya dari depan lemari.
Citra mengangguk patuh mendengar perkataan Eca dan mulai menata satu persatu pakaiannya, Eca yang melihat itu meninggalkan Citra sendiri dengan kegiatannya.
Eca kembali ke arah dapur mengingat masih banyak kue yang belum di selesaikan nya.
"Citra nya mana kak?" tanya Bunda ketika melihat Eca sudah kembali ke posisi awal nya.
Eca mengalihkan tatapannya ke arah Bunda yang tengah menghias kue dengan butter cream.
"Di kamar Bun lagi beberes barangnya" jawab Eca.
Bunda mengangguk paham tanpa bertanya lebih lanjut.
Melihat Bunda yang tidak bertanya lagi Eca kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karena kedatangan Citra.
Detik berganti menit, Menit berganti jam, Dan Matahari telah bersinar dengan semangatnya di puncak langit seolah-olah dia ingin mengatakan kepada semuanya bahwa ialah sang pemenang.
Kue dengan berbagai varian telah tertata di meja makan, Sebagian ada yang sudah diamankan dalam kotak.
Eca, Citra dan Bunda tampak sibuk memasukkan dengan hati-hati kue-kue itu kedalam kotak, Eca menghela nafasnya ketika kue terakhir telah aman.
"Udah jam 1 aja" ucap Eca ketika ia sudah mengistirahatkan tubuhnya di kursi.
"Capek ya?" tanya Bunda menatap Eca dan Citra, Si empu yang ditanya mengangguk kan kepalanya pelan.
"Banget Bun" jawab mereka serentak.
"Istirahat gih" suruh Bunda.
Eca dan Citra mengangguk kemudian berlalu meninggalkan dapur menuju kamar.
Eca merebahkan tubuhnya di kasur ketika sudah selesai membersihkan tubuhnya yang lengket parah, Ia menyetel lagu pop yang slow dengan volume pelan pas untuk di dengarnya saja.
Eca yang kepalang lelah perlahan menutup matanya, sebelum matanya tertutup sepenuhnya suara pintu yang dibuka dan suara manis masuk ke pendengarannya.
"Kak Eca nanti temenin kita ke taman hiburan ya" pinta Elin sedikit merengek.
Eca memutar kepalanya membelakangi Elin dan Cici yang menatapnya.
"Kak Eca mau ya" rengek mereka berdua sambil menggoyangkan tangannya.
"Dek kakak ngantuk" jawab Eca pelan mencoba meredam kekesalannya.
"Mau ya" mereka tetap kekeuh menyakinkan Eca.
"Nanti tapi, Sekarang kakak tidur dulu jan berisik!" Eca mengiyakan saja supaya ia bisa lebih cepat tidur.
Tanpa ba–bi–bu mereka meninggalkan Eca yang sudah mulai mengembara di alam mimpinya, Sedangkan Citra sudah dari tadi tepar di samping Eca berkelana di mimpi yang tidak berkesudahan.
......................
Cahaya matahari menusuk netra Eca ketika matanya yang lebih besar daripada mata kebanyakan orang terbuka pelan, Secepat yang ia bisa Eca kembali menutup matanya dan membalikkan posisi tidurnya.
Eca membenarkan letak bantalnya dan mulai kembali menyelami lautan mimpi, Sayang seribu sayang mata indah yang akan tertutup itu seketika terbuka paksa karena kakinya yang panjang ditarik kuat entah oleh makhluk sejenis apa.
Tubuh Eca yang masih mengumpulkan sukmanya yang melanglang buana terduduk cepat, Pening seketika menyerang kepalanya, Ia mengeram menahan sakit, Moodnya berantakan.
"Siapa?" kalimat pendek dari seorang Romeesa cukup untuk membuat kedua gadis yang berdiri sambil cekikikan itu terdiam.
Mereka berdua bergerak gelisah saling pandang dan saling dorong, Tak ada yang berani untuk sekedar menatap mata tajam Eca apalagi menjawabnya.
"Itu kak, Udah jam 3" Cici menelan ludahnya ketika kalimat singkat itu ia utarakan tanpa terbata-bata,
Cici merutuki Elin yang dengan tak berperasaan menjadikannya sebagai kambing hitam.
"Terus kenapa kalau jam 3?" tangan Eca bergerak dengan ritme yang teratur ketika memijat kepalanya.
Kalian tau sendiri lah bagaimana rasanya dibangunkan paksa, Seolah-olah lo itu ngerasa kek, Aku siapa? Aku dimana?
"Tadi kak Eca udah janji nemenin kita je taman hiburan, Makanya kami bangunin" Cici melihat ke bawah dengan tangan yang terjalin ketika suara nya yang makin kecil.
"Tapi bisa kan yang lebih sopan?"
"Maaf" serentak tanpa komando Elin dan Cici menjawab, Takut sudah pasti ketika melihat wajah tegang Eca.
"Sebenarnya mau ngapain sih ke taman hiburan?" Eca mengalah, Ia tak boleh terlalu keras tapi dia masih kesal.
Diam tak ada jawaban dari dua gadis itu, Pintu kamar mandi berderit memunculkan sosok gadis yang tengah sibuk mengerikan rambutnya.
"Nggak usah tegang begitu napa? Kalian berdua siap-siap gih kita langsung cus!" suruh Citra ketika ia merasakan atmosfer yang cukup mencekam. "Cus ntar si Eca ngamuk"
Cici dan Elin mengangguk dan bergegas meninggalkan sarang harimau betina itu ketika mendengar bisikan Citra, Untuk saat ini dimata mereka Citra ibarat kan Guardian Angel yang menyelamatkan mereka dari amukan harimau betina.
"Udah lah Ca nggak usah marah-marah mulu, siap-siap gih!" tegur Citra dengan tangan yang sibuk memilah senjata andalannya, Apalagi kalau bukan seperangkat Skincare and make up nya yang Eca bahkan tak ingin lagi saking banyaknya.
Eca menatap jengah ke arah Citra kemudian melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi daripada ia cengo memperhatikan Citra yang bisa dipastikan memakan waktu yang tidak sebentar.
Eca membersihkan wajah dan menggosok giginya, muka bantalnya tadi sudah berganti dengan wajah yang segar walaupun masih sedikit cemberut.
Eca menatap Citra yang sibuk mencocokkan stylenya, Eca dibuat bingung sendiri hanya untuk pergi ke taman hiburan harus kah berdandan layaknya putri yang akan menghadiri jamuan kerajaan?
"Lo ngapain sih Ra? Ke taman hiburan juga. Awas lo gue aduin si Arga" ancam eca ketika ia sudah duduk di depan meja rias, mengambil sun screen dan mengoleskan nya perlahan.
"Aduin aja Ca kagak takut, Lah wong dia ikut juga" sahut Citra, Tangannya berhenti di dress baby pink selutut.
"Lah kok bisa? Lo nggak janjian kan?" selidik Eca.
Citra tersenyum senyum jahil. "Kita nggak janjian, cuma gue ajak dia" Citra langsung berbalik ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Eca menghela nafasnya kemudian mengombre lip mate berwarna nude dan liptint berwarna vampir blood, di rasa tak ada yang berantakan ia mengambil jeans hitam dan jaket kulit hitam kemudian langsung mengenakannya.
Citra menatap Eca yang sudah rapi lebih dulu daripada ia dan tak bisa untuk tidak berseru kaget.
"Lah kok lo duluan selesainya?!" Citra tak percaya, Ia menghabiskan hampir 15 menit untuk mengaplikasikan skincare nya sebelum memakai baju sedangkan Eca baru kurang lebih 5 menit sudah rapi.
"Lo pikir gue kayak lo yang Skincare an dan milih-milih baju yang harus match sampai ke akarnya" Eca mengacuhkan Citra kemudian memasang sneakers putihnya, Citra dengan sigap langsung mengambil heels 5 cm nya dan memasangnya.
Cici dan Elin tampak sudah rapi ketika mereka keluar dari kamar, Sungguh terniat sekali mereka.
"Kak taksinya udah aku pesan yok keluar bentar lagi nyampe" semangat Cici.
"Udah izin Bunda belum?" tanya Eca memperhatikan Bundanya yang tak kelihatan.
"Udah dong, Kata Bunda hati-hati terus Bunda nyuruh kunci rumah soalnya Bunda tadi nganterin pesanan" jelas Elin sejelas-jelasnya.
Mereka tak membuang waktu lagi ketika mendengar suara klakson dari arah luar rumah.
...****************...
Maaf beribu maaf telat update.
Author nya lagi sakit 😭😭😭
Semoga kalian betah mantengin Romeesa Syabani.
Love love ❤️❤️
Jangan lupa like, vote dan komennya ya🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥰😘😘😘😘