Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Om Rayan



Suara air yang mendidih cukup indah untuk menjadi latar belakang ruangan bernama dapur itu, Aroma bumbu mie menyeruak menusuk penciuman, Ah nikmatnya hidup dengan semangkuk mie instan.


Eca meletakkan semangkuk mie komplit dengan topingnya dia atas meja makan, Uap yang mengepul membuat mie instan itu tampak lebih menggoda.


Sebotol fanta dingin rasa strawberry menjadi teman yang sangat pas untuk saat ini.


"Selamat makan" ucap Eca sambil memasukkan satu sendok mie ke dalam mulutnya, Rasanya ah mantap walaupun masih agak panas.


"Masih panas itu" ujar Zayan yang tengah memperhatikan Eca yang dengan begitu saja memasukkan mie panas ke dalam mulutnya.


Eca mendongak menatap Zayan yang juga menatapnya, Walaupun sedikit panas tidak masalah.


"Panas dikit kagak ngapa" Eca meneguk fanta dingin tadi, Em memang panas hehe.


"Ngeyel kalau dibilangin"


Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka, Mie instan yang masih panas adalah satu-satunya fokus mereka untuk saat ini.


Semangkuk mie dengan mudahnya di selesaikan oleh Eca, Ia kenyang tapi tak cukup untuk ia bersendawa.


"Gue balik sekarang ya" ujar Eca setelah selesai mencuci mangkuk bekas makan mereka, Dia cukup tau diri di rumah orang lain.


"Sekarang?" Zayan mengalihkan pandangannya pada Eca untuk memastikan.


"Iya sekarang" jawab Eca mantap, pasalnya sebentar lagi waktunya pertukaran shift jam kerjanya. "Gue mau ambil apa pakaian gue tadi"


Zayan mengangguk kemudian melangkah ke arah kamarnya, Eca mengikuti di belakang Zayan.


"Ini" Zayan menyerahkan pakaian Eca tadi.


"Kaos gue pakai aja sama lo"


Eca mengangguk angguk kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk memakai celana jeans nya lagi, ya kali dia pakai hotpants ke minimarket.


Tak butuh waktu lama Eca sudah kembali rapi, Ia menyandang tasnya kemudian menyusul Zayan ke ruang tamu.


"Zayan thanks ya buat hari ini and gue cabut dulu" ujar Eca ketika melihat Zayan yang tengah duduk santai, Ia tak ikut duduk karena ia cukup buru-buru sekarang.


"Gue antar" ucap Zayan bangkit dari duduknya dan memasang jaket ke tubuh atletisnya.


"Oh nggak usah, gue nggak pa-pa kok' santai aja" Eca menolak halus dengan tangan yang melambai-lambai pertanda ia menolak.


"Gue maksa" Zayan tak mempedulikan, Ia tetap berjalan ke arah luar rumah meninggalkan Eca yang masih mengatakan tidak.


Zayan membuka pintu penumpang mengisyaratkan supaya Eca untuk segera masuk, Eca berjalan ke arah Zayan dengan menunduk ia kembali di buat malu oleh perlakuan manis Zayan.


Kalau Zayan semanis ini terus Eca bisa-bisa jadi bucin nya nanti, Aduh kuat kan hatimu Eca.


"Makasih" tapi Eca masih tetap kalah dengan pesona Zayan.


Zayan melemparkan senyum manisnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke arah kursi pengemudi.


Mobil perlahan mulai meninggalkan pekarangan mansion mewah itu, beat ternyata hanya salah satu dari sekian banyaknya kendaraan Zayan.


"Ini tujuan nya kemana?" tanya Zayan yang memang tidak tahu harus kemana.


"Ke minimarket di jalan Xx" Eca menyebutkan alamat minimarket tempatnya bekerja.


Zayan menaikkan alisnya sedikit bingung, ngapain ke minimarket mana lumayan jauh lagi.


Eca menangkap ekspresi Zayan tapi ia tak berniat menjelaskan, Walaupun ia suka dengan Zayan tapi itu tak cukup untuknya membagi semua cerita hidupnya.


Melihat Eca yang tak berniat untuk menjelaskan membuat Zayan tetap diam tanpa melanjutkan obrolan, Ia cukup sadar bahwa mereka tak sedekat itu untuk saling menjelaskan walaupun ia menyukai Eca but hanya ia yang menyukainya.


Ya Zayan untuk saat ini hanya tau bahwa ia menyukai Eca, Masalah Eca menyukainya atau tidak ia tak tau ndak tak peduli yang penting ia menyukai gadis ini.


......................


Ramai pengunjung silih berganti keluar masuk melewati pintu kaca besar itu, Anak-anak yang mengekor di belakang orang tua, Pasangan suami istri yang saling berpendapat untuk menentukan menu esok hari, petugas kasir yang tak hentinya menghitung belanjaan.


Senyum manis yang terus bertengger di bibirnya walaupun kaki yang sudah sangat pegal berdiri hingga mati rasa.


Hembusan nafas terdengar teratur, Malam ini Minimarket tempatnya bekerja lebih ramai dari hari-hari biasa.


Perlahan tapi pasti orang yang keluar lebih banyak, Eca tersenyum lega kala ia mengetahui bahwa jam kerjanya sebentar lagi berakhir.


Tepat jam 11.30 Eca sudah selesai beres-beres untuk meninggalkan tempat kerjanya, Ia tersenyum ramah ke arah rekan-rekannya yang lain sebelum meninggalkan bangunan tempat ia mencari nafkah itu.


Eca melangkah dengan santai di sepanjang trotoar berhubung ia tak membawa motor jadinya ia memilih untuk jalan kaki, jarak rumah dan minimarket tidak terlalu jauh perkiraan 3 km yang mana paling lama Eca butuhkan untuk sampai di rumah hanya 30 menitan.


Tidak terlalu jauh dari posisinya berdiri di jalanan yang terbilang cukup sepi terparkir mobil yang terbilang tidak murah, tepat di trotoar 4 laki-laki berdiri seperti nya saling berdebat.


Eca berlari kecil ke arah mereka ia tak yakin apa yang sedang terjadi but ia harus mencari tahu mungkin saja bisa terjadi pembunuhan kan walaupun itu terlalu mustahil sih.


Eca menatap laki-laki yang memang sudah dikenalnya itu kemudian mendekati mereka yang sedang berada di tengah perdebatan yang sengit.


Oh jangan lupakan juga ada 2 motor yang terparkir di depan mobil itu.


"Eh Bang Baron, Ada apaan nih Bang rame-rame di pinggir jalan?" Eca menyapa sambil menatap penasaran.


"Eh Ca baru pulang lo? Oh ini ada sedikit masalah" laki-laki yang dipanggil Baron oleh Eca itu menjawab dengan nada ramah.


"Eh iya Bang baru aja eh liat Abang lagi disini, emang masalah apaan Bang?" tanya Eca lagi mengorek informasi.


Ia sebenarnya tak ingin terlibat tapi sayangnya disini ada laki-laki yang waktu itu memberikan nya perasaan hangat, Ya om-om waktu itu.


"Nggak parah sih Ca, biasa gue hampir di serempet ini mobil" jelasnya.


"Bang kagak usah yang ini ya Bang" bujuk Eca, ia sangat tahu siapa Baron yang suka memalak orang untung saja ia pernah menyelamatkan nya waktu hampir tepar di gebukin.


"Yah sorry banget nih Ca" Baron menggeleng pelan pada Eca walaupun ia masih tersenyum.


"Bang sebenarnya ini orang yang hampir nyerempet Abang calon bapak gue Bang, Lo pan tau Mak gue janda" Eca mengada-ngada ia mengedipkan matanya ke arah Om waktu itu memberikan isyarat untuk mengikuti alur ceritanya.


"Ya udah deh iya, lain kali suruh hati-hati calon bapak lo ini" Baron akhirnya mengiyakan ucapan Eca.


Eca tersenyum kemudian memberikan 2 lembar kertas bergambar bapak Soekarno dan Hatta ke tangan Baron.


"Buat beli rokok Bang" Eca tersenyum sambil mengedipkan matanya ke arah Baron, Ia cukup mengerti bahwa tak ada yang gratis di dunia ini.


Baron balas tersenyum pada Eca dan melangkah kearah motornya meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Baron dan kawanannya Eca menatap Om yang ditolongnya itu.


"Om kagak ngapa kan?" tanyanya memastikan.


Laki-laki itu mengangguk dengan tangan yang tengah memijat kepalanya.


"Habis minum Om? Makanya kalau mabok itu kagak usah nyetir! bahaya untuk om dan orang lain juga" nasehat Eca, entah kenapa ia bisa se cerewet ini dengan orang yang baru dikenalnya.


"Saya nggak mabok, Cuma pusing karena kelelahan bekerja" jelasnya sambil tersenyum, bahagia rasanya setelah cukup lama ia tak mendengar omelan dan anehnya ia tidak marah justru malah senang.


"Oh kirain om mabok kan, obatnya ada?" Eca mencari cari obat pereda sakit kepala di dalam tasnya biasanya ia selalu membawanya kemana-mana dan ternyata tidak ada.


"Makasih sebelumnya dan obatnya saya tidak punya, Kamu tinggal dimana biar saya anter?" Om itu tersenyum melihat perhatian Eca dan juga bingung kenapa anak gadis secantik ini pulang larut malam dan sendirian begini.


"Eh nggak usah Om rumah saya deket kok, mending Om pulang aja minum obat lepas tu istirahat" Eca menolak dengan halus bagaimanapun juga laki-laki didepannya ini sedang tidak enak badan dan mereka juga baru kenal.


"Saya tidak menerima penolakan" Eca serasa de javu, Oh iya Zayan juga berkata seperti ini padanya.


Akhirnya kembali skenario seperti dengan Zayan tadi terulang lagi, ia tak bisa menolak ngomong ngomong lumayan juga capeknya jadi berkurang.


Mobil melaju setelah Eca memasang sabuk pengamannya, sepanjang perjalanan diam hanya suara Eca sesekali terdengar untuk memberikan arahan.


Mobil mewah itu berhenti didepan rumah minimalis, Sederhana namun memberikan perasaan hangat sebuah keluarga.


Eca turun dari mobil di susul oleh Om tadi yang ternyata bernama Rayan, ya tadi mereka sempat perkenalan diri sejenak walaupun hanya bertukar nama hehe.


Sebelum Eca memasukkan kunci ke lubangnya pintu kayu itu terbuka dengan pelan, Wajah cantiknya terpampang sempurna.


"Bunda kenapa belum tidur?" tanya Eca sedikit terkejut ketika melihat Bunda yang membuka pintu.


"Kata Elin tadi kamu balik duluan karena berantem terus kamu katanya parah dan malah masuk kerja gimana Bunda bisa tidur sayang" Bunda membelai lembut wajah Eca yang dingin karena angin malam.


Eca tersenyum manis sebelum tersadar bahwa ia membawa satu makhluk hidup bersamanya.


"Eh iya Bun kenalin ini Om Rayan tadi om ini yang nganterin aku pulang" Eca masih dengan senyuman nya memperkenalkan Rayan tanpa disadarinya tubuh kedua manusia itu membeku seperti dipaku di tempat.


...****************...


Betah ya guys😘


.