Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
I am Okay



Matahari telah sampai di peraduan nya, Eca, Citra dan Raia tampak duduk di kursi taman dengan diliputi keheningan.


Terlalu tenang, hingga menumbuhkan tanda tanya besar di benak Raia dan Citra.


Mereka mengalihkan pandangan ke arah Eca yang masih menatap lurus ke depan, pandangan kosong itu sama sekali tidak mencerminkan seorang Eca yang menjadi penyemangat dan mood booster mereka.


"Ca.." tangan Citra menyentuh dengan lembut bahu Eca menyadarkan nya dari lamunannya.


Eca mengalihkan pandangannya ke arah Citra dan Raia yang memasang tatapan khawatir dan prihatin mereka, ehm ia tak suka mendapat tatapan kasihan seperti itu.


"Are you okay?" tanya Raia memastikan walaupun ia tau pasti Eca sedang tidak baik-baik saja, tetapi kadang seseorang hanya butuh orang yang peduli dengannya walau hanya sekedar menanyakan 'apakah kamu baik-baik saja'.


"Yeah, lebih baik dari tadi" jawab Eca sambil mengulas sedikit senyumannya,ehm yah Citra dan Raia tak menyukai jenis senyuman yang ini seolah-olah terlalu dipaksakan.


"Oh no, udah terlalu lama kita disini, cabut yuk." ajak Eca setelah melirik jam tangannya kemudian mengibaskan roknya sekiranya ada debu atau kotoran yang menempel.


Citra dan Raia saling bertukar pandang kemudian kembali menatap Eca.


"Hei guys, ayolah I'm okay. look me i'm okay" Eca kembali menegaskan bahwa ia baik-baik saja ketika melihat tatapan mereka yang masih tertuju padanya.


Citra dan Raia menghela nafas.


"Okay, kalau gitu yok cabut, btw gue duluan yak gue jauh soalnya, Ca lo kalau ada apa-apa call gue okay" Raia menepuk pelan pundak Eca sembari memberikan senyuman penyemangat seolah-olah mengatakan ' lo nggak sendirian, ada gue '.


Eca memeluk Raia sambil membisikkan kata terimakasih yang dibalas anggukan oleh Raia.


"Ya udah gue cabut, Ra jagain tuh anak!" Raia berbicara dua arah sambil berlalu meninggalkan mereka.


Setelah Raia melajukan kuda besinya Citra dan Eca pun ikut melangkahkan kaki mereka menuju kediaman Eca, yah mereka berlarian tadi.


"Lu udah tenang?" tanya Citra di sela-sela langkah kaki mereka.


"Yah" jawab Eca santai sambil menendang kerikil yang menghalangi jalannya.


"Yakin lo?" balas Citra lagi sambil berjalan mundur dengan wajah yang menghadap Eca memastikan ekspresi dan raut wajahnya.


Eca menghela nafasnya melihat kelakuan Citra, walau tak ia pungkiri Eca merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka.


"Yeah, i'm good, thanks buat semuanya" Eca melemparkan senyuman nya ke arah Citra sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.


"Lah kayak ke siapa aja lu bilang makasih segala" Citra kembali menormalkan jalannya tak kala ia sudah memastikan tak ada lagi ekspresi kosong di wajahnya.


"Hm" balasan singkat Eca menyudahi percakapan mereka kala mereka telah sampai di depan pagar rumah tempat Eca bernaung selama 18 tahun ini.


Di teras bangunan minimalis itu wanita yang masih cantik di usianya yang sudah tak muda lagi tampak mondar mandir dengan air mata yang mengalir di pipinya dan tangan yang tak henti mengusap cairan bening itu.


Langkahnya terhenti ketika penyebab gusar dan resah hatinya kini telah berdiri di depannya dalam keadaan yang sehat walaupun sedikit lecet.


Eca memejamkan matanya kala Bunda nya memeluk erat tubuhnya, merasakan sakit, cemas dan segala emosi sang Bunda dari tubuh getaran tubuh wanita yang memeluknya.


Ya wanita itu adalah Ranti Bunda Eca yang tengah mengkhawatirkan putrinya.


"Sayangnya Bunda nggak apa-apa kan? nggak ada yang sakit kan? hm" Bunda melepas pelukannya namun tangan nya tak henti henti merapikan anak rambut Eca yang berantakan, sesekali ia meniup luka lecet di tangan Eca.


Eca menetralisir emosinya kemudian menatap Bundanya yang tampak panik, demi Tuhan Eca sangat merasa bersalah karena telah membuat cairan bening yang paling dibencinya kembali mengalir di wajah sang Bunda wanita tercintanya.


"No mom, i'm okay" jawab Eca sambil menggenggam tangan Bunda dan dikecupnya perlahan.


Bunda kembali menarik Eca kedalam pelukannya, kala mendapati anaknya yang berpura-pura tegar di depannya, Bunda sangat jelas tentang kondisi emosi Eca saat ini.


"Ya udah kita masuk kedalam dulu sayang" ajak Bunda menuntun lembut anak gadisnya itu.


Eca menatap Citra yang juga tengah berkaca-kaca kemudian ia menghela nafas lagi dan lagi sebelum memasuki rumahnya.


Eca dan Citra masuk kedalam kamar mereka setelah Bunda selesai dengan ocehannya.


Eca melangkah kan kakinya ke arah kamar mandi kemudian menatap Citra yang sudah merebahkan dirinya di ranjangnya.


"Gue duluan yak" ujar Eca memasuki kamar mandi tanpa menunggu sahutan Citra yang entah mendengarkannya atau tidak.


Eca menatap wajahnya yang kacau dari pantulan cermin, yeah it's not too bad batinnya.


Setidaknya ia sudah melepaskan sedikit emosinya yang mungkin saja bisa berdampak ke mentalnya, Eca masih ingat dengan jelas pesan psikiater yang memeriksanya bahwa ia harus bisa menjaga emosi nya jika ingin sembuh dari penyakit yang menurut Eca menjijikan ini.


Ya tepat beberapa waktu yang lalu di dinyatakan mengidap IED (Intermittent Explosive Disorder) sebuah penyakit mental yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengendalikan emosinya, suka melempar barang, memukul dan lainnya.


Walaupun penyakit nya ini masih bisa di atasi dengan bantuan obat-obatan dan meditasi untuk menenangkan emosinya, psikiater nya mengatakan penyakit nya ini bisa dengan mudah di obati apabila ia tidak terprovokasi yang menyebabkan emosinya memuncak.


Intinya selama ia tidak terprovokasi dan tidak terlalu emosional maka ia akan aman dan sembuh dengan sendirinya.


Eca menghela nafas ketika mengingat kembali dirinya yang sudah hampir lepas dari jerat penyakit ini tapi kembali membuat nya tidak stabil ketika kedatangan Ayahnya yang ia rindukan ternyata memiliki peran besar dalam kesepian dan kesakitan nya saat ini.


Eca melangkah dan mendudukkan dirinya di bawah shower yang sudah menyala, air dingin yang jatuh mengenai tubuhnya adalah salah satu solusinya untuk merendam emosinya yang kembali memuncak, kepalanya mengadah ke atas dengan mata yang terpejam.


Ah hari ini ia cukup lelah.


...****************...


Terimakasih semuanya udah pada mau nungguin author yang update nya sekali seabad ini.


Jangan lupa like nya ya😘