Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
UKS



Eca tersenyum manis sebelum tersadar bahwa ia membawa satu makhluk hidup bersamanya.


"Eh iya Bun kenalin ini Om Rayan tadi om ini yang nganterin aku pulang" Eca masih dengan senyuman nya memperkenalkan Rayan tanpa disadarinya tubuh kedua manusia itu membeku seperti dipaku di tempat.


Eca merasakan ada atmosfer yang berbeda dan apa ini tubuh Bunda yang di pegang nya bergetar.


Eca menatap Bundanya dan kembali air sialan itu mengalir membasahi wajah cantik Bundanya, A-ada apa sebenarnya?


Eca mengikuti pandangan mata Bunda yang lurus terpaku ke depan namun yang Eca dapati hanya wajah Om Rayan dan apalagi ini kenapa dengan mata Om Rayan yang juga ikut-ikutan basah? Eca benar-benar bingung apakah kepala Om Rayan sesakit itu sampai sampai ia menangis.


"Bun kenapa?" tanya Eca lembut sambil menggoyangkan tangan Bunda.


"Masuk" satu kata balasan dari Bunda membuat Eca tambah bingung, Ada apa sebenarnya?


"Tapi kenap-"


"MASUK Bunda bilang" nada penuh penekanan dan amarah itu kembali terdengar setelah sekian lama, Eca mengingat kapan terakhir kali Bundanya menggunakan nada yang membuatnya merinding.


Tapi Eca tak melakukan kesalahan kali ini, Sebelum Eca menyadari alasan kemarahan Bunda tubuhnya sudah terhuyung ke depan meninggalkan Bunda dan Om Rayan di luar.


Eca menatap di jendela dua orang dewasa itu yang kini tetap betah dengan saling diam.


Eca menutup mulutnya kala telapak tangan yang biasa nya Bunda gunakan untuk membuat adonan kue kini mendarat di pipi Om Rayan, Kenapa dengan Bunda?


"Pergi dari sini!!" suara samar namun penuh penekanan milik Bunda terdengar oleh Eca, Bunda mengusir seorang tamu untuk pertama kalinya.


"Ran" sekarang suara lemah putus asa milik Om Rayan yang memanggil nama Bunda terdengar oleh Eca, Jadi mereka saling kenal?


"Pergi dari sini mas!" Bunda meninggalkan Om Rayan yang masih membeku, mengunci pintu dan menutup tirai jendela.


Bunda menghiraukan Eca yang tengah menguping dan masuk ke dalam kamarnya.


Eca bingung harus bagaimana, Bunda tak kan marah karena hal sepele apalagi kepada orang yang baru ia kenal.


Eca menarik kesimpulan pasti ada masalah antara mereka berdua, Eca mengesampingkan masalah ini dan membuka sedikit pintu.


"Om Bunda kalau marah agak lama mending Om pulang dulu aja" setelah mengucapkan kalimat itu Eca benar-benar mengunci pintu dan masuk kedalam kamar.


Ia sedikit tak tega tapi mau bagaimana lagi, Tuan rumah tak ingin menerima tamu.


Berbagai macam spekulasi terus datang silih berganti menerjang memasuki otak Eca, Otaknya terus memaksa dirinya untuk berpikir, Tubuh Eca terjerembab kelantai karena kepalanya yang berdenyut nyeri seakan-akan otaknya bisa pecah detik itu juga.


Tangan lembutnya memukul pelan kepalanya untuk meredam rasa sakit tak berkesudahan itu, Eca bergerak pelan kearah meja riasnya dan mengambil botol yang bisa dipastikan berisi obat.


Eca memakan obatnya dengan tangan yang masih setia memegang kepalanya, Ia tidak tau apa penyebab kepalanya terus terusan sakit begini.


Sakit ini telah mengganggu kehidupan Eca 3 tahun belakangan ini, minum obat adalah solusi yang disarankan psikiater supaya sakitnya mereda.


Eca terkapar lemah di lantai yang berlapiskan karpet lembut itu karena tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar naik ke tempat tidur, Ia mengarungi mimpi masih dengan tas selempang yang bertengger manis di bahunya.


......................


Matahari menampakkan sinarnya sedangkan embun masih tidak ingin pulang, Manusia kembali melanjutkan aktivitas ketika tubuh yang sudah selesai di isi ulang.


Makanan sudah tertata dimeja makan rumah Romeesa Syabani, seperti hari-hari biasanya Bunda tengah sibuk dengan kegiatannya, seolah-olah tak ada yang terjadi semalam semuanya tetap sama hanya saja mata Bunda yang sembab dan sedikit merah cukup menjadi bukti bahwa kejadian semalam bukan sekedar mimpi.


Mereka makan dengan hidmat tanpa pembasahan apapun bahkan Citra pun tetap diam meski ia sangat penasaran dengan apa yang dialami Eca kemarin dan jangan lupakan kalau semalam dia juga mendengar suara ribut-ribut diluar.


"Bun berangkat dulu" Eca mencium punggung tangan Bunda ketika Citra dan Elin juga sudah menyelesaikan sarapan mereka.


Satu persatu dari mereka meninggalkan dapur, Deru motor yang cukup keras terdengar di halaman rumah Eca, Rasa penasaran membuat mereka mengalihkan atensi ke arah luar.


"Siapa?" Citra yang membuka pertanyaan.


"Kagak tau" jawab Eca.


Eca menatap ke arah sampingnya tepat di tempat Elin berdiri, Eca mengernyit bingung melihat Elin yang tengah tersenyum malu-malu.


"Lo kenal?" akhirnya Eca mengemukakan pertanyaan yang membuat mereka terheran-heran.


"Ehm Elin berangkat dulu ya kakak-kakak yang cantik" Elin tak menjawab malah hanya berjalan ke arah luar tepatnya ke arah motor itu, Tingkah Elin cukup untuk menjawab rasa penasaran mereka berdua.


"Heh pacaran lo ya? Udah berapa kali gue bilangin fokus sekolah!!!" teriak Eca ketika melihat Elin yang tengah memposisikan dirinya di jok penumpang.


Elin hanya tertawa kecil menanggapi Eca kemudian motor itu berlalu.


"Ayok Ca" ajak Citra sambil tersenyum melihat Eca yang tengah misuh-misuh.


"Kayak lu kagak pacaran aja" Citra menaik turunkan alisnya menggoda Eca.


"Gue enggak ya" sangkal Eca.


"Apaan enggak! itu yang sama Zayan itu apa coba namanya" pungkas Citra sambil menatap Eca penuh selidik.


Mereka tengah berjalan ke arah halte untuk menunggu Bus yang menghantarkan mereka ke sekolah.


"Mana ada ya orang kebetulan kok' iya kebetulan" Eca balas menatap Citra masih dengan sangkalannya, tapi kan benar ia dan Zayan tak ada apa-apa.


Eca akui bahwa ia memang menaruh rasa kepada Zayan tapi mereka tidak sedang dalam menjalin sebuah hubungan.


"Bohong lu"


"Enggak ya!"


"Iya deh percaya" akhirnya Citra mengalah, kalau ditunggu Eca yang mengalah mah kagak bakalan kelar perdebatan mereka ini.


"Eh Btw semalam ribut apaan Bunda?" Citra akhirnya melontarkan pertanyaan yang membuat nya sangat penasaran dari semalam.


Eca terdiam untuk sejenak, Ah ternyata Citra juga tau hal semalam.


"Kagak paham juga gue, Bunda kagak ngomong" hanya itu yang bisa Eca jawab untuk sekarang, Ia juga sangat penasaran ada masalah apa Bundanya dengan Om Rayan.


Mereka melemparkan pertanyaan pertanyaan itu jauh-jauh ketika Bus yang ditunggu-tunggu telah tiba, Hm Bus pagi ini tidak terlalu ramai.


......................


Senin pagi adalah salah satu hari yang paling di benci para pelajar, bukan hanya pelajar tapi untuk pekerja kantoran juga.


Matahari bersinar dengan semangatnya menyinari seluruh area lapangan SMA Bakti Nusa tanpa terkecuali.


Keringat sudah mulai membasahi seragam siswa, Topi tak cukup rasanya untuk menghalau rasa panas di wajah mereka.


Tubuh Eca goyang, penglihatan nya berputar putar.


Sial pasti ini efek dari terlalu kelelahan sampai-sampai tubuhnya tidak sanggup untuk bertahan melaksanakan upacara bendera.


Brukkkk


Akhirnya Eca mencapai batasnya, tubuhnya ambruk ke lantai lapangan yang berlapiskan semen.


Suara jeritan siswi terdengar kala melihat tubuh Eca yang akan menghantam lantai, bisa dipastikan kepala Eca yang berbenturan dengan lantai pasti akan mengeluarkan darah.


Seolah-olah semesta tak ingin membiarkan ciptaannya terluka sebuah tangan dengan sigap menarik tubuh rapuh Eca.


Zayan dengan panik mengendong tubuh Eca ala bridal style, dia berjalan cepat menuju UKS menghiraukan suara bising sekitarnya.


Fokus Zayan untuk saat ini hanya satu yaitu memastikan gadis yang ada di gendongan nya ini baik-baik saja.


Zayan membaringkan tubuh Eca di brankar UKS, Petugas UKS dengan cekatan langsung memberikan pertolongan pertama.


Zayan dengan setia menggenggam tangan Eca untuk saat ini dia benar-benar khawatir, Zayan memijat lembut kepala Eca dan sesekali meletakkan minyak kayu putih di hidung mancung milik Eca.


"Hey Wake up pretty girl "Zayan memberikan kecupan ke tangan Eca yang sedari tadi di genggamannya.


Bulu mata Eca yang layaknya kipas itu bergetar, perlahan tapi pasti mata indah milik Eca kembali terbuka.


Zayan cepat tanggap dengan langsung memberikan teh hangat untuk Eca, seolah-olah sebongkah batu telah diangkat dari dadanya ketika melihat Eca membuka matanya.


""Hati-hati" Zayan meletakkan gelas teh keatas meja, tangannya masih setia menggenggam tangan Eca.


Eca tak linglung ia hanya pusing, Eca menatap Zayan di sebelahnya kemudian beralih pada tangannya yang digenggam Zayan tanpa ada niat untuk dilepaskan.


"Kalau pusing tidur dulu aja" suara Zayan terdengar sangat manis ditelinga Eca jangan lupakan tangan yang mengelus lembut kepala Eca.


Eca terbuai dengan rasa manis yang diberikan Zayan dan kembali menutup matanya.


Eca tak percaya ini namun ia merasa aman saja berada didekat Zayan.


...****************...


Betah ya guys 😘😘