Romeesa Syabani

Romeesa Syabani
Ada apa dengan Putri?



"Ya sabar kek gimana gue mau jelasin kalau lo potong terus setiap gue ngomong, dah lah males"jawab Geri yang merasa bosan ketika perkataan nya selalu di potong oleh orang.


"Hehe ya maaf elo sih ngomong nya berbelit belit, lagian jadi cowok baperan amat" balas Eca yang tidak mau kalah.


"Gini, ketua sebenarnya yaitu si Zayan" jelas Geri setelah drama yang terjadi pasca penjelasannya.


"WHAT THE FU*K" teriak Eca menggelegar dengan tangan yang tidak pernah lupa mengebrak meja.


Eca syok setelah mendengar nama Zayan, bagaimana tidak ia tak pernah menyangka kalau orang se kalem Zayan yang terlihat tidak macam-macam, seorang cowok yang sangat menjaga adik perempuannya, dan seorang yang begitu menghormati orangtuanya adalah seorang ketua Geng.


"Ini gimana sih maksudnya?gue nge bug bentar" Eca kembali bertanya dengan kondisi yang masih linglung mencerna informasi yang baru saja di dapat nya.


"Si Zayan ketua Geng nya Wild" tegas Citra memperjelas semuanya.


"Dah lah nggak nyangka gue" Eca menghembuskan nafasnya pelan, yah dia terkejut dengan ini.


"Lah elo kenapa? nggak jadi dekat sama dia karena dia ketua Geng?" tutur Citra yang memang mengetahui kedekatan antara dua manusia Itu.


"Enggak lah, ya kali karena itu gue menjauh lo pikir gue apaan?" bantah Eca cepat dengan seriusnya.


"Cie cie ada yang lagi PDKT an nih, ehm" goda Citra setelah berhasil memancing kebenaran dari mulut Eca,ya dia memang bertujuan untuk mencari tau hubungan antara sahabat nya itu dengan Zayan si pangeran tampan ketua Geng Wild itu.


"Y-ya E-enggak gitu maksudnya" Eca gugup ketika menyadari bahwa Citra dengan sengaja memancing nya.


"Halah ngaku!" balas Citra cepat.


"Oh pantas lo nggak pernah nerima gue, ternyata selera lo modelan Zayan yak, udah lah cukup tau gue" Riko ikut nimbrung dengan nada yang dramatis tak lupa tangannya yang ikut serta mengelus dadanya yang datar,ya kali ada gundukkan nya.


"Lah si monyet apaan dah ikut-ikutan aja, lagian kapan lo nembak gue?hah?" Eca tak terima dong.


"Oh jadi lo juga ya Ko?gue pikir cuma gue yang di gitu in Eca" sambung Geri.


"Eh Jamal lo pada jan mengada-ngada deh, nembak aja enggak, tau darimana kalo gue nolak, siapa tau hue terima" Eca geram sendiri sedangkan Citra tertawa saja melihat Eca yang tengah kelimpungan.


"Lah emang kalau gue tembak lo bakal Nerima?" tanya Riko semangat.


"Ya kagak lah, Hahahaha" Eca tak kuasa menahan tawanya kala melihat komuk Riko yang dongkol dengan jawabnya.


"Kampret lo" Riko mendengus kala anak-anak kelas menertawakan nya.


Eca mengehentikan tawanya kala gadis dengan seragam yang sama dengan nya tapi dengan tambahan masker menutupi wajah cantiknya.


Eca tidak keliru,ia sudah sangat hapal dan sangat jelas siapa manusia yang tengah lewat didepannya sekarang.


"Lah lo ngapain make masker segala?" tanya Eca penasaran pastinya, pasalnya Putri adalah orang yang suka memamerkan wajahnya alias ia lebih feminim hampir sama dengan Citra, Ya orang yang dimaksud Eca adalah Putri.


Putri diam sembari merapikan letak masker nya.


"Woi... di tanya juga bukan nya jawab malah diam, puasa bicara lo?" Citra juga ikut nimbrung kala Putri tak kunjung membalas Eca yang menunggu jawaban nya.


"Kagak, gue cuma flu doang makanya pakai masker. emang lo pada mau gue tularin virus?" akhirnya Putri angkat bicara.


Ia berbicara setelah menghempaskan pantatnya di kursi yang sudah menemani perjalanan nya selama di sekolah ini.


Eca menutup kembali mulutnya yang sudah terbuka untuk bertanya itu kala guru matematika nya telah menampakkan dirinya di depan pintu kelas mereka.


Dengan berat hati dan dengan banyaknya pertanyaan pertanyaan yang menghantui otaknya terpaksa ia telan dulu.


Putri menghembuskan nafas legal kala melihat guru matematika nya yang sudah melangkah masuk menuju kursi kebesarannya,ia nervous kala di bombardir dengan pertanyaan sahabat nya itu,ia sangat paham kalau ia tidak cukup mampu dalam hal berbohong.


......................


Suara melengking dengan ritme panjang bergema di seluruh pekarangan sekolah tempat Eca dan kawan-kawan nya menuntut ilmu, suara itu seakan-akan menjadi suara yang paling indah bagi para siswa-siswi tak terkecuali dengan Eca yang juga sudah bersemangat merapikan perlengkapan nya.


Tepat ketika guru keluar dari kelas disitulah semua anak didiknya berhamburan keluar dengan tujuan utama yaitu kantin.


Jam istirahat yang memang cukup lama membuat pelajar itu menikmati kegiatan mereka seperti duduk di taman mengobrol atau hanya sekedar cari angin,ngadem di perpus dan yang paling utama adalah mengisi kembali energi mereka yang sempat terkuras karena belajar yang tentu saja tujuan nya adalah kantin.


Eca beserta rombongannya yang tidak seberapa itu kini tengah duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pihak kantin, mangkuk dan piring yang berisikan bakso dan nasi goreng juga telah berjajar dengan rapi di depan mereka satu persatu.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan porsi itu, faktor lelah fisik dan Otak waktu belajar benar-benar menguras tenaga.


Eca meneguk minuman nya sampai tandas,ia mengalihkan pandangannya menatap semua temannya mereka sepertinya juga sudah selesai dengan makanan mereka.eits tapi tunggu, sepertinya ada yang kurang?tapi apa?


Eca merenung apa yang kurang ya?oh Putri tidak ada di meja mereka sekarang, seingatnya tadi gadis itu pamit untuk ke toilet tapi kenapa lama sekali tak kunjung balik.


"Guys gue ke toilet dulu yak"ujar Eca merapikan sambil merapikan Hoodie nya.


Citra dan yang lainnya memberikan jempol tanda setuju dan mengerti.


Eca melenggang dengan santai, terlihat keren dengan jalannya yang khas, tidak terlalu feminim dan sedikit lebih macho.


Gadis pemilik rambut panjang yang diwarnai itu berjalan dengan langkah yang sangat percaya diri serta dagu yang sedikit diangkat menambah pesonanya.


Lorong demi lorong kelas dilaluinya, dia berbelok sedikit kemudian sampai di tempat tujuannya yaitu toilet khusus putri.


Di belokan Eca berpapasan dengan Salsa beserta antek-anteknya, mereka tampak tertawa bahagia.


Eca mengerutkan keningnya kala mereka menyebut nyebut nama Putri kemudian terdiam ketika mereka kontak mata dengan Eca.


Eca bingung,ia berpikir apa yang salah dengan Putri.


Ia mengangkat bahunya berusaha acuh,ya dia lebih memilih untuk tidak terlalu peduli selama dia dan orang terdekatnya tetap aman.


Eca mendorong pintu toilet yang bertuliskan kata 'Putri' dengan logo perempuan itu, gadis itu membuka satu persatu kamar toilet yang kosong.


Eca menajamkan matanya kala melihat perempuan dengan seragam yang sama dengannya tengah duduk di sudut toilet dengan kepala berada di antara dua lututnya, rambutnya yang panjang menutupi wajahnya.


Eca menepuk bahu gadis itu tanpa mengeluarkan suara, gadis itu mengangkat kepalanya, bola mata keduanya membesar, mereka sama-sama terkejut dengan kehadiran masing-masing.


...****************...


Terimakasih untuk yang masih setia menunggu author yang sangat sibuk ini update.


Sayang readers banyak banyak🄰