Return From God Quest

Return From God Quest
43. Pekerjaan di Tanjung Tower




Merasa tidak ada yang akan dipelajari di sekolah hari ini, Karin memutuskan untuk absen lalu segera meninggalkan sekolah. Gadis itu merubah penampilannya menjadi Maiden, sosok yang begitu ditakuti di dunia bawah.


Karin menatap helm besi itu sesaat, sebelum akhirnya mengenakannya.


“Waktunya bekerja.”


***


Tanjung Tower.


Maiden yang mengenakan penampilan Maid-nya memasuki lobi, setiap karyawan yang melihat kedatangan wanita berhelm besi itu segera menunduk hormat. Sebagai balasan Maiden hanya melambaikan tangan.


Di mata karyawan lain, sodok Maiden terlihat begitu anggun. Meskipun mereka tidak dapat melihat secara langsung wajahnya, tetapi mereka bisa mengimajinasikan kecantikan Maiden dari suaranya.


Maiden menyusuri lobi yang lenggang, hanya beberapa karyawan dia temui di perjalanan. Tempat itu terasa sepi dibandingkan satu tahun lalu.


Tanjung Tower selain digunakan sebagai kantor, gedung itu juga difungsikan sebagai hotel dan restoran.


Hotel bintang lima dan Restoran berkelas, tempat itu begitu ramai oleh pengunjung. Tetapi setelah beberapa masalah yang melibatkan Padar Gelap membuat pelanggan Tanjung Tower semakin lama semakin menurun.


Semua itu dikarenakan serangan teror yang sering terjadi mengakibatkan orang-orang mempertanyakan keamanan Tanjung Tower. Beberapa insiden pembunuhan terhadap karyawan keluarga Tanjung pun semakin memperburuk keadaan.


Maiden telah berusaha keras untuk menyetabilkan keadaan, dan bisa dibilang usahanya berhasil. Keadaan Tanju Tower lebih aman sekarang, tidak ada lagi aksi teror selama dua bulan belakangan.


Tetapi tetap saja orang-orang masih takut untuk mengunjungi Tanjung Tower maupun bekerja di sana. Jika sebuah perusahaan mengalami keadaan seperti itu mungkin mereka akan menyerah dan memilih untuk gulung tikar.


Itu juga yang diprediksikan oleh para pengamat, tetapi hingga kini Tanjung Tower masih tetap beroperasi seperti biasanya. Dan meskipun Rusdi Tanjung sudah bukan lagi orang terkaya ke lima, tetapi dia terlihat masih kuat secara finansial.


Seakan tidak ada sedikitpun yang hilang dari keluarga itu, tetapi justru kekuatannya semakin tumbuh walaupun saat ini masih terkubur di dalam kegelapan.


Tidak semua orang bisa melihat kekuatan sejati keluarga Tanjung.


“Maiden! Kau datang lebih awal hari ini.” Rusdi yang sedang bekerja di ruangannya begitu terkejut melihat kedatangan Maiden.


Maiden beralasan jika keadaan menjadi lebih aman membuatnya tidak memiliki banyak pekerjaan sehingga dia memilih untuk kembali ke Tanju Tower untuk melayani majikannya.


Rusdi menikmati teh yang Maiden buat, dia merasa begitu rileks dan tenaganya kembali pulih. “Seperti biasa, teh buatan mu selalu enak.” puji Rusdi.


“Terimakasih pujiannya.”


Mahir bertarung dan pandai membuat makanan enak yang bahkan menandingi koki terbaik. Semua keahlian yang dimiliki Maiden membuat sosok itu terlihat begitu sempurna.


Rusdi mengira jika Maiden dulunya bekerja sebagai kepala pelayan sebuah kerajaan atau semacamnya. Tapi semua itu masih hanya sebatas asumsi tidak pernah ada bukti yang jelas.


‘Lagi pula kerajaan mana yang akan membuang kekuatan besar seperti dia?.’


Setelah menghidangkan teh, Maiden pamit untuk meninggalkan ruangan.


“Saya akan menemui Nyonya.”


“Terima Kasih untuk tehnya, dan untuk istriku pasti sedang bosan sekarang karena terus di dalam kamar.”


Nyonya Sayaka saat ini tengah mengandung anak keduanya. Usia kandungan sudah genap delapan bulan, itu adalah masa kritis sehingga perlu perhatian khusus.


Sayaka terlihat begitu senang melihat kedatangan Maiden, itu membuktikan perkataan Rusdi jika istirnya memang bosan berada di dalam ruangan.


Meskipun ada banyak pembantu dan bodyguard yang menjaganya tetap Sayaka tidak bisa keluar rumah, Rusdi takut jika istrinya mendapatkan serangan. Sayaka hanya bisa menikmati udara segar di luar saat Maiden atau tiga muridnya berada di rumah.


Sebuah taman yang begitu luas, pencahayaan di taman dan pemandangan bagaikan berada di hutan belantara membuat setiap orang yang berada didalamnya merasa seakan telah memasuki alam terbuka. Tetapi sebenarnya tempat itu masih berada di dalam Tanjung Tower.


Maiden memberiku pijatan pada Sayaka yang merasakan punggung pegal, dia juga memberiku jamu untuk meringankannya sakit perut.


Setelah meminum jamunya, Sayaka bertanya,“Kau sungguh ahli merawat wanita hamil sepertiku, apa mungkin Maiden sudah berkeluarga dan memiliki anak?.”. Maiden tidak segera menjawab, dia termenung sesaat seakan mengingat kenangan lama.


“Ya, aku pernah. Tapi itu sudah lama.”


Sayaka begitu terkejut saat Maiden menjawab pertanyaannya. Biasanya Maiden tidak akan mendatangkan apapun mengenai dirinya, entah itu adal usul maupun masa lalunya.


Sayaka ingin bertanya banyak hal tentang orang yang beruntung menjadi suami Maiden, atau berapa banyak anak yang ia miliki. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk mencari tahu identitas Maiden, tetapi murni karena rasa ingin tahu seorang perempuan.


Tetapi melihat Maiden yang diam membuat Sayaka enggan untuk bertanya lebih jauh.


Keduanya terus bersama menikmati siang hari yang cerah, walaupun langit di atas mereka hanya sebuah gambar dari layar super besar, tetapi keduanya tetap menikmati pemandangan karena begitu realitas.


***


Asami, Rayhan dan Rasya kembali dari sekolah. Mereka disambut oleh Rusdi dan Sayaka yang ingin mendengar cerita hari pertama Putri mereka di sekolah.


“Maiden, kau juga di sini!.”


Ketiganya begitu terkejut melihat keberadaan Maiden. Kedatangan Maiden awalnya bertujuan untuk melatih ketiga muridnya cara untuk memanipulasi energi sihir yang mulai muncul di dunia. Tetapi melihat suasana saat ini membuat Maiden memilih untuk tidak melakukannya.


Setidaknya setelah makan siang.


Keluarga Tanjung makan bersama dengan makanan yang ia siapkan, melihat kebahagiaan keluarga itu membuat Maiden teringat dengan kakeknya. Dia pun mengirim pesan untuk kakeknya agar tidak lupa makan siang.


***


Di luar gedung Tanjung Tower.


“Jadi inikah rumah pemuda itu?.”


Samuel yang sedang mencari tongkat sihirnya, menuntun pemuda itu mengikuti pemuda bernama Rayhan. Pemuda sama yang telah mengalahkannya.


“Sebenarnya kurang tepat jika dibilang pemuda itu yang telah mengalahkan aku.”


Samuel mengingat sosok gadis yang membuatnya begitu kesal. Gadis yang diketahui bernama Karin sanggup melawan Samuel hingga menguras seluruh energi sihir.


“Jika pemuda bernama Rayhan tidak datang, mungkin....”


Samuel menggelengkan kepalanya menyingkirkan bayangan dimana dirinya dikalahkan oleh seorang manusia.


“Tidak, mereka pasti hanya para bajingan yang beruntung.” meskipun sudah dikalahkan, Samuel masih tetap yakin jika dirinya hanya sedang sial.


Samuel hendak menyusup ke dalam gedung Tanjung Tower, namun langkahnya terhenti begitu masuk jarak seratus meter dari gedung pencakar langit itu.


Keringat Samuel mengalir deras, dia merasakan tatapan dengan intimidasi yang sama seperti atasannya.


‘Siapa, siapa yang memiliki intimidasi sekuat ini?.’


Samuel melihat sekitar, namun yang dia lihat hanya manusia biasa, tidak ada tanda-tanda malaikat seperti tuannya di sekitar.


“Apa mungkin ini ulah para iblis?.”


Karena tidak kunjung menemukan orang yang memberikan intimidasi padanya, Samuel pun kembali pada rencana semula. Dia kembali mendekati Tanjung Tower tetapi kali ini tanpa peduli dengan intimidasi yang ia rasakan.


“Jangan hanya berani bersembunyi, jika ingin berkelahi maka maju saja sekarang.” ucap Samuel dengan begitu percaya diri.


Namun kepercayaan dirinya segera lenyap begitu melangkahkan kaki pada jarak kurang dari lima puluh meter. Samuel tidak dapat melangkah lagi, tekanan yang ia rasakan lebih besar dari yang pernah bos nya berikan.


‘Sial, apa-apaan intimidasi ini. Apa jangan-jangan tempat ini sebenarnya adalah kastil Raja Iblis?.’


Tidak kuat menahan tekanan yang berasal dari gedung Tanjung Tower, Samuel pun akhirnya memilih untuk kembali.


Sementara itu dari lantai tujuh puluh Maiden menatap kepergian Samuel.


***


[Bersambung]