Return From God Quest

Return From God Quest
36. Dikalahkan



"Baiklah, kalian bisa memulainya kapanpun setelah kalian siap." Ucap Maiden yang masih menggunakan penampilan pelayan.


Tatapan ketiga muridnya memperhatikan lonceng yang diikat di pinggul kirinya. Mereka diam memikirkan cara untuk mengambil kedua lonceng.


‘Banyak murid ku sebelumnya terjebak dengan jumlah lonceng yang terbatas. Karena takut menjadi satu-satunya orang gagal, mereka melakukan segala cara untuk mendapatkan lonceng. Hingga semuanya berakhir dengan kegagalan karena mereka hanya mementingkan diri sendiri.’


Maiden penasaran apakah ketiganya juga akan melakukan kesalahan yang sama. Tapi dia segera sadar jika ketiganya masih terlihat kompak dan mau berkerjasama, seakan masing-masing dari mereka tidak keberatan gagal dalam ujian agar rekannya bisa lulus.


‘Sepertinya mereka mengetahui jebakan itu, apa itu karena Rasya yang sudah tahu refrensi ujian ini?.’


Ujian dimulai dengan Rasya yang menyerang pertama menggunakan panah, Maiden dengan mudah menghindari serangan itu sambil tetap waspada.


Di waktu bersamaan Rayhan dan Asami yang merupakan penyerang garis depan maju menutup jarak.


Sebagai yang tercepat Rayhan sampai lebih dahulu, pemuda itu segera menyerang menggunakan dua belati. Maiden menahan serangan Rayhan dengan pedangnya yang tidak dikeluarkan dari sarungnya.


Asami kemudian datang melancarkan serangan. Jika dilihat sekilas Maiden seakan sedang terpojok, Rayhan menahannya sementara dari kejauhan Rasya mengunci pergerakannya, serangan Asama dengan pedang satu tangan tidak mungkin bisa dihindari.


"Bagus, kali tidak segan untuk menggunakan cara tercepat."


Tetapi walaupun terdesak seperti itu, suara Maiden justru terdengar senang. Wanita berpenampilan Maid tersebut segera menyerang bagian kaki Rayhan. Walaupun Rayhan sudah tahu Maiden akan menyerangnya di bagian itu, tetapi dia tidak cukup cepat untuk mengantisipasinya.


Keseimbangan Rayhan terganggu membuat Maiden dengan mudah melemparnya kesamping. Kemudian giliran Asami yang datang, tetapi Maiden menghindari serangan dengan mudah, lalu menyerang bagian kaki Asami yang membuatnya terjatuh.


Serangan anak panah dari Rasya juga tidak begitu mengancam, Maiden hanya butuh satu pisau lempar untuk membelokkan arah panah.


Tetapi tiba-tiba...


"Oh!"


Anak panah dari Rasya memancarkan cahaya menyilaukan yang membutakan penglihatan Maiden untuk sesaat.


"Sekarang!." Suara Rasya terdengar keras.


Walaupun sadar jika serangan dari Rayhan dan Asami akan segera datang, tetapi Maiden tidak terlihat panik.


"Seharusnya kau tidak berteriak, karena...."


Meskipun tanpa penglihatan, Maiden masih bisa menahan setiap serangan dari tiga muridnya. Pertahanannya seakan tanpa cela, membuat tiga murid itu mempertanyakan kemanusiaan guru mereka.


".... Karena aku bisa menggunakan kemampuan Ekolokasi." Ucap Maiden dengan begitu bangga.


"Ya, kami tahu!." Balas Asami.


Kemudian...


Ping!


Terdengar suara seperti pin yang dilepaskan.


"Wa... Wa... Darimana kau mendapatkan benda berbahaya seperti itu!." Maiden mulai panik.


Bukan hanya Maiden yang mendadak menjadi panik, kedua orang tua Asami yang menonton pun ikut berkeringat dingin. Bagaimana tidak, gadis berdarah blasteran itu saat ini tengah menggenggam sebuah granat.


Tanpa mengatakan apapun Asami melempar granat di tangannya ke langit, ia tidak akan menggunakan senjata berbahaya itu untuk menyerang Maiden karena percuma.


'Senjata nuklir saja tidak cukup untuk membunuhnya, apa lagi peledak sekecil ini.' pikir Asami.


Granat meledak di udara menimbulkan suara yang begitu kuat. Maiden merasakan pendengarannya berdengung akibat suara ledakan, akibatnya kemampuan Ekolokasi yang ia banggakan justru membuatnya sangat terganggu.


Penglihatan dan pendengaran Maiden tidak bisa lagi digunakan, ketiganya memiliki peluang besar untuk lulus ujian.


Tetapi dia tidak bisa menggunakan keahliannya secara maksimal, karena dalam ujian ini Maiden membatasi dirinya dengan hanya menggunakan 10% dari kekuatan yang ia miliki.


'Sepertinya aku telah meremehkan mereka.' batin Maiden.


Ujian itu lebih singkat dari yang Maiden perkirakan. Tidak memiliki banyak waktu membuat ketiganya terus melakukan serangan dengan seluruh kekuatan.


Efek kebutan dan gangguan pendengaran sementara yang Maiden alami berlangsung singkat, itulah kenapa ketiganya harus menyelesaikan ujian secepat mungkin. Karena jika Maiden terlepas dari dua efek mengganggu, maka mereka dipastikan akan gagal.


"Bukankah hari ini langitnya terlihat indah?." Ucap Maiden saat menatap langit yang gelap seakan badai besar akan datang.


Dia terkapar di tanah, tidak lain dikarena kekalahannya melawan tiga murid yang saat ini memasang wajah full senyum.


Asami dan Rasya senang mendapatkan masing-masing satu lonceng, sedangkan Rayhan yang merupakan satu-satunya lelaki tidak akan mempermasalahkan dirinya menjadi tumbal.


Ya setidaknya itulah yang Rayhan pikiran sebelum dia mendapatkan hukuman dari guru iblisnya karena gagal dalam ujian.


Karena berhasil lulus ujian, Asami pun mendapatkan izin dari orang tua dan gurunya untuk kembali bersekolah. Begitu pula dengan Rayhan dan Rasya, mereka juga akan ikut bersekolah sebagai misi menjaga Asami.


***


[Masa sekarang]


Sekolah Royal menjadi begitu heboh dengan kehadiran Asami yang kembali bersekolah setelah cuti setahun penuh. Dua murid pindahan yang datang bersama Asami pun tidak kalah menarik perhatian.


Kehebohan itu bukan tanpa alasan, dua gadis cantik bagaikan gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan sempurna. Begitu memanjakan mata para siswa yang memandangnya.


Kemudian satu pemuda tampan dengan tatapan tajam dan raut wajah dingin, terlihat begitu keren membuat para siswi terbang dalam fantasi mereka.


Kurang dari satu menit setelah mereka keluar dari mobil, ketiganya sudah memiliki puluhan fans fanatik.


Karin kembali berjalan menuju papan pengumuman pembagian kelas, dia tidak tertarik dengan kedatangan ketiga muridnya yang bisa ia temui setiap hari.


Tetapi tindakannya itu menimbulkan prasangka negatif dari murid yang membenci dirinya.


"Apakah dia mungkin juga akan membuat masalah dengan Asami?."


"Mana mungkin, kecuali jika dia menang benar hanya seorang idiot otak otot yang tidak mengenal identitas putri Asami."


"Benar juga, gadis bar-bar itu pasti tidak mungkin berani membuat masalah dengan keluarga konglomerat terkaya di negeri ini, yang bahkan tidak bisa ditaklukkan oleh organisme hitam di seluruh dunia."


Kembalinya Asami di sekolah memberikan angin segar pada setiap murid yang merasa ‘Ditindas’ oleh Karin sepanjang tahun lalu. Mereka berharap kehadiran Asami bisa berguna untuk misi balas dendam yang sedang mereka buat.


Papan pengumuman ramai di penuhi murid yang berdesakan, tetapi kerumunan itu segera tercegah begitu Karin tiba di sana. Para murid seperti air laut yang terbelah, mereka memberikan jalan untuk Karin.


"Di mana kelasku berada." Setelah mencari beberapa saat, Karin menemukan namanya tercantum di dalam kelas 2-E.


Dengan tatapan sinis, setia murid di sekitarnya menunggu reaksi Karin. Mereka berharap Karin akan kecewa karena ditempat di kelas paling terbelakang. Karena hanya murid paling bodoh dan bermasalah yang akan ditempatkan di kelas E.


"E? Sepertinya itu kelas yang tenang. Sangat cocok untukku."


Berbanding terbalik dengan harapan semua orang, Karin justru menanggapinya dengan tenang. Saat Karin hendak pergi dari tempat itu, ia berpapasan dengan rombongan Asami yang juga berniat melihat letak kelasnya.


Keduanya saling menatap sesaat, tanpa perkataan apapun Karin menyingkir memberikan jalan untuk Asami dan yang lainnya. Tindakan Karin tentu menimbulkan reaksi beragam dari para murid, terutama anggapan jika Karin takut terhadap keluarga Tanjung semakin menguat.


***


[Bersambung]