
[Berita utama hari ini, Putri Rusdi Tanjung yang telah menghilang selama sepekan terakhir telah berhasil di temukan. Kabar yang beredar gadis itu mengalami penculikan oleh organisasi kejahatan bernama Serigala Hitam. Beberapa video memperlihatkan kejar-kejaran antara mobil yang mencoba melindungi Asami dan beberapa mobil Serigala Hitam]
Setiap saluran televisi pagi ini menayangkan hal yang sama, berita penyelamatan putri seorang konglomerat benar-benar menjadi begitu viral.
"Wah, kakek bukankah restoran itu...."
"Oh ya. Hahaha..."
Dia tertawa lepas walaupun melihat salah satu cabang restoran fast food miliknya hancur akibat ditabrak dua mobil. Tetapi bukannya marah atau sedih, dia justru terlihat begitu senang.
Yah bukannya aku tidak tahu penyebab suasana hati Kakek yang begitu gembira saat ini.
Setelah insiden tabrakan yang mengakibatkan rusaknya restoran, Rusdi Tanjung segera menghubungi Kakek untuk meminta maaf. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, konglomerat terkaya nomor lima di negri ini pun menawarkan kesepakatan bisnis dengan Kakek.
Kesalahan kecil yang bisa ditangani dengan mudah tapi justru berakhir dengan keberuntungan besar, jika itu kakek yang biasa dia pasti akan curiga. Tetapi saat ini dia sedang terpojok sehingga butuh bantuan dari seseorang yang memiliki pengaruh.
Karena itu tanpa banyak berpikir Kakek segera menerima tawaran Rusdi Tanjung.
"Kenapa kakek justru senang?." Tanyaku berpura-pura.
"Tidak, kakek hanya bersyukur kau tidak bekerja di sana saat kejadian itu terjadi."
Walaupun senyumnya terlihat begitu tulus seakan bersyukur aku tidak mendapatkan musibah apa pun. Tetapi aku tahu jika bukan hanya keselamatanku yang membuatnya begitu bahagia.
‘Itu bukan berarti aku meragukan kasih sayang Kakek ku sendiri.’
Hal baik jika Kakek bisa kembali bahagia, dia seakan telah terbebas dari sebagian beban yang dia pukul. Terkadang aku merasa bersalah padanya karena masalah yang aku lakukan telah membuat kakek begitu kesulitan selama ini.
Tetapi mulai dari sini semuanya akan berubah.
"Ndu... Kau yakin akan kembali ke sekolah?."
Tatapan Kakek tertuju pada seragam sekolah yang saat ini aku kenakan. Yap aku berniat untuk kembali bersekolah hari ini
"Tidak apa kek, aku pasti bisa menjaga diri." Balasku
"Lagi pula pihak sekolah pasti akan waspada setelah kejadian terakhir kali menjadi begitu viral."
Penyerangan di taman dua hari lalu menjadi topik panas di internet. Bukan hanya tentang kemampuan bertarung yang aku miliki, tetapi fakta jika pihak sekolah yang mengirim para preman juga menarik banyak perhatian warga internet.
"Jika mereka melakukan tindakan ceroboh seperti sebelumnya bisa berakibat fatal pada nama baik sekolah, yang mungkin saja memang sudah tidak akan bisa diperbaiki lagi. Karena itu aku yakin mereka tidak akan mencari masalah denganku, bahkan mungkin mereka akan menjauh dan tidak akan berurusan lagi denganku."
Kakek hanya menghela nafas panjang mendengar perkataan ku, walaupun dia memberikan izin untuk aku bisa kembali bersekolah, tetapi dia tetap saja masih merasa khawatir.
***
Sekelompok siswi tengah mengobrol di dalam kelas.
"Hey apa kalian mendengarnya?."
"Ya dengar lah, kau pikir aku tuli!."
"Iya kah? Dengar apaan?."
"Dengar suara lah, tol Lol."
Keheningan terjadi selama beberapa saat, hingga gadis yang melempar pertanyaan di awal tiba-tiba berteriak.
"Bukan itu yang saya maksud!." Wajah gadis itu memerah karena amarah.
"Ya lagian salah kau sendiri kalo bicara tidak jelas." Siswi lain membalas dengan tatapan sinis.
Tidak ingin pembicaraan berputar-putar seperti anjing yang ingin mengigit ekornya. Akhirnya siswi pelempar pertanyaan pun terpaksa menjelaskan apa yang dia tanyakan dengan lebih rinci.
Siswi itu mengatakan jika ada kabar Karin akan kembali sekolah hari ini, berita itu sontak membuat setiap murid yang mendengarnya menjadi begitu terkejut.
"Sungguh? Dapat kabar dari mana kamu?."
"Aku dengar dari tetanggaku yang merupakan pembantu di rumah gadis bar-bar itu."
Beragam reaksi ditunjukkan oleh para murid. Banyak yang tidak suka dengan Karin. Dikarenakan perbuatan Karin membuat hampir seluruh sekolah mendapatkan masalah, imbasnya semua murid yang berada di satu kelas dengan Karin mendapatkan diskriminasi baik guru maupun senior.
"Aku tidak tahu setan apa yang merasuki perempuan sialan itu."
"Dia menghajar semua anggota OSIS hingga wajah merah berantakan. Padahal aku sudah berusaha keras untuk mendekati salah satu yang paling tampan."
Kebencian mereka semakin kuat hingga sebuah bangku yang berada di tengah ruang kelas, tempat Karin duduk menjadi sasaran kebencian semua teman sekelasnya.
Bangku itu menjadi begitu kotor, dipenuhi coretan dan kotoran yang membuatnya mengeluarkan bau tidak sedap. Semua murid tersenyum puas melihat hasil perbuatan mereka, tidak ada satupun yang tidak mengambil bagian dari ‘Pembalasan dendam’ itu.
Tetapi hanya melakukan perusakan pada bangku saja tidak akan cukup untuk melampiaskan kebencian mereka. Setiap murid sudah sepakat untuk melakukan balas dendam yang lebih buruk lagi.
Suara bel berbunyi membuat setiap murid segera masuk ke kelas mereka. Tapi Karin yang dikabarkan akan masuk hari ini masih belum muncul, hal itu membuat setiap murid menatap siswi yang mengatakan kabar tersebut.
"Ahahaha, seperti yang aku duga dia pasti ketakutan hingga memilih untuk bolos."
Siswi itu mencoba untuk membuat alasan agar tidak dimusuhi oleh semua teman sekelasnya karena mengatakan berita bohong.
Alasan itu memang terdengar masuk akan karena mana ada orang yang akan berani menampakkan wajahnya setelah membuat masalah begitu besar seperti yang Karin lakukan.
Waktu berlalu, seharusnya pelajaran dimulai lima belas menit lalu tetapi belum ada satupun guru yang datang ke kelas mereka. Keributan terdengar di kelas sebelah yang menandakan jika di sana pun keadaannya sama.
"Sialan, apa sekolah ini memang sudah begitu bobrok? Para guru saja telat mengajar." Gumam salah satu siswa.
Tidak lama kemudian keadaan di kelas sebelah menjadi hening, mereka pun menganggap jika guru telah datang. Yang berarti tidak lama lagi guru mereka juga akan segera tiba.
Dan seperti yang diduga, seorang guru memasuki kelas, tapi mereka begitu terkejut saat melihat kondisi guru itu yang babak belur seakan baru saja berkelahi.
Keheranan setiap murid belum berakhir, tatapan mata mereka melebar begitu melihat gadis itu masuk tepat setelah kedatangan guru. Kebencian mereka seketika meluap, tetapi seketika lenyap begitu tatapan Karin berbalik menatap mereka.
Tatapan yang begitu dingin seakan melihat tumpukan sampah tidak berguna. Setelah murid sekolah melihat bayangan menakutkan berdiri dibelakang Karin.
"Sudah sepuh hari semenjak aku tidak masuk sekolah, apa ada yang merindukanku?." Bayangan hitam segera menghilang begitu Karin berbicara.
Karin mencoba menyapa teman sekelasnya yang lebih dari seminggu tidak ia lihat, tapi sebagai balasannya mereka justru menatap Karin dengan sinis.
"Ah.... UMM... Pelajaran akan segera dimulai, lebih baik kau segera duduk."
Guru berkata dengan terbata-bata seakan takut akan sesuatu. Dia bahkan berteriak kecil ketika Karin menoleh kearahnya.
Mengikut permintaan gurunya, Karin berjalan menuju mejanya. Tapi dia segera berhenti saat sebuah kaki menghalangi jalannya.
Itu adalah siswa yang duduk di bangku terdepan. Dia selalu melakukan itu jika Karin ingin kembali ke bangkunya.
Sebelumnya Karin berulang kali telah meminta agar siswa itu menyingkirkan kakinya dari jalan, tapi yang ia dapatkan hanya cemoohan, karena tidak ingin mendapatkan masalah Karin pun terpaksa memilih jalan memutar.
Tetapi saat ini berbeda, Karin tetap berjalan walaupun ada halangan di jalan. Dia kali ini tidak berniat mengalah dan memaksa diri untuk menggunakan jalan lain.
Pemuda itu tersenyum, tetapi senyum itu segera menghilang berganti dengan teriakan kesakitan. Karin dengan kesal menendang kaki yang menghalangi jalannya.
"Kalo punya kaki ditaro yang bener."
Suara Karin terdengar begitu tenang, tapi senyum dan tatapan matanya begitu mengintimidasi. Semua murid mengalihkan pandangan pada guru, mereka menunggu guru itu memberikan hukuman pada Karin yang telah melakukan tindakan kekerasan pada teman mereka.
Tetapi tidak ada yang guru itu lakukan. Dia hanya duduk diam di kursinya dengan tangan gemetar.
"Cih, sampah."
"Hiyee.."
Guru itu terperanjat kaget saat mendengar umpatan Karin. Lalu secara perlahan keadaan kelas menjadi begitu mencekam, beberapa siswa merasa kesulitan bernafas seakan oksigen di udara mulai menipis.
Mereka merasakan kemarahan, sebuah kemarahan begitu menekankan dari Karin yang marah setelah melihat bangkunya entah bagaimana menjadi begitu kotor.
"Teman-temanku tercinta, aku pikir kita perlu ‘bermain’ bersama agar saling mengakrabkan diri."
Mendengar perkataan Karin, membuat guru menjadi sangat panik. Dia segera berlari menuju pintu keluar, tetapi sebuah bola baseball mengenai kepalanya dengan keras hingga dia terjatuh tak sadarkan dari.
"Jadi mari kita mulai bermain," Karin mengambil sebuah tongkat baseball dengan cipratan darah dari tasnya.
Disaat semua teman sekelasnya bingung dengan apa yang terjadi dan apa yang akan Karin lakukan. Senyum yang begitu lebar di wajah Karin menyadarkan setiap murid jika gadis di depan mereka tidak sama dengan gadis yang menjadi sasaran perundang mereka satu Minggu lalu.
***
[Bersambung]