Return From God Quest

Return From God Quest
39. Penyihir Api



Seperti sebuah pelontar api.


Dari tangan pemuda berambut putih muncul kobaran api yang mengarah pada kami. Tatapan pemuda itu dipenuhi kegilaan, senyumnya melebar seakan memikirkan apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya membuatnya bersemangat.


Aku tidak bisa menghindari serangan itu. Bukannya aku tidak bisa melakukan hal remeh seperti melompat ke samping untuk menghindari serangan yang begitu lambat.


Namun masalahnya adalah teman sekelas di belakangku.


Jika aku menghindar maka mereka akan menjadi daging bakar. Karena itu aku lebih milih untuk bertahan. Sebuah bangku aku tendang dengan kekuatan sedang agar tidak hancur.


Bangku itu melayang ke arah pemuda pengguna sihir api, melindungi kami dari serangannya. Tindakan yang aku lakukan jelas membuatnya begitu terkejut.


"Manusia randah, berani kau menghentikan sihir ku!."


Tatapan gila dimatanya berganti menjadi kebencian. Dia seakan sama sekali tidak menyangka jika serangannya akan gagal.


"Main api sembarangan, apa kau tidak pernah diajarkan jika melakukan itu biasa menjadi berbahaya."


Ucapku berusaha mengalihkan perhatian teman sekelas. Aku berusaha membuat mereka mengira jika api yang dikeluarkan oleh pemuda berambut putih adalah hasil dari sebuah alat.


"Kalian cepat pergi, orang gila ini sepertinya berniat buruk pada sekolah ini. Panggil orang dewasa dan beritahu setiap kelas untuk melakukan evakuasi!."


Mendengar perintahku, setiap murid pun segera meninggalkan kelas.


"Kau pikir aku akan membiarkan kalian pergi!."


BRAAK!


Dia berusaha menggunakan sihirnya lagi, tetapi aku kembali menendang meja kearahnya untuk menghentikan.


"Tidak akan aku biarkan kau membakar sekolah ini."


Pemuda itu gemetar, bunyi gertak dari Gigi yang saling beradu terdengar dengan jelas dari mulutnya. Dia menjadi begitu emosi setelah dua kali sihirnya diganggu oleh manusia yang sama.


‘Sebuah teori mengatakan jika penyihir api yang kuat pastilah memiliki tempramen buruk. Diyakini elemen api membuat orang mudah emosi. Tetapi ada juga yang berpikir sebaliknya jika emosi seorang penyihir lah yang mempengaruhi elemen sihir. Jadi saat seseorang yang mudah emosi menggunakan sihir api maka kekuatan yang diberikan jauh lebih besar.’


Aku terus berpikir tentang teori sihir, hingga tidak sadar jika pemuda api itu kembali melemparkan sihirnya padaku.


Dua bola api terbang ke arahku, dengan mudah aku hindari. Suara ketidakpuasan berasal dari pemuda itu sampai ke telingaku. Perkataan yang penuh makian pada dunia ini, membuatku berpikir seakan dia bukan berasal dari dunia ini.


Dengan cepat aku berlari menuju tas sekolah untuk mengambil pemukul baseball. Kobaran api terus dilemparkan kearah ku.


"Mati, mati kau serangga!."


Pemuda itu terus mengumpat saat melemparkan sihirnya, semakin lama aku merasa hawa panas semakin kuat.


Apa ini artinya teori itu benar jika emosi penyihir memiliki efek pada elemen sihir?. Aku masih ragu, bahkan aku tidak tahu hawa panas yang aku rasakan Semakin kuat karena kekuatan pemuda itu yang meningkat atau karena seluruh kelas telah terbakar.


"Dapat!."


Akhirnya aku meraih pemukul baseball yang telah ku gunakan untuk mendisiplinkan banyak murid di sekolah ini.


"Bahahaha...."


Dia tertawa terbahak-bahak seperti kelinci idiot saat melihatku mengambil sebuah pemukul.


"Apa yang akan kau lakukan dengan pemukul itu?, Apa kau berniat mengayunkannya dengan keras hingga menciptakan angin topan yang akan memadamkan api di ruangan ini?."


Dia mengatakan semuanya dengan nada mengejek. Seakan pemuda itu melihatku sebagai karakter idiot yang bisa dia injak dengan mudah.


"Dasar karakter sampingan Edgy. Kau mengganggu sekali."


"APA!. KAU SEBUT AKU APA!."


Api di sekitarku berkobar lebih besar seakan merespon atas kemarahan pemuda itu. Aku harus melakukan sesuatu sebelum api menyebar ke kelas lainnya.


"Sniiifff..." Aku menghirup nafas panjang.


"Huuuffff...." Lalu mengeluarkannya perlahan.


Cengkraman tangan pada pemukul diperkuat lalu....


".... Kau akan membayar atas penghina ini!."


Tanpa peduli apa yang dia katakan, aku dengan cepat mengayunkan pemukul baseball dengan memutar tubuhku memutar sempurna (380 derajat). Putaran dengan kecepatan tinggi membuat angin bertiup kencang mengikuti putaran yang aku lakukan.


Dan ya, aku memang menggunakan pemukul baseball untuk menciptakan angin topan yang menghisap api di dalam kelas. Melihat pusaran api di tengah ruangan, pemuda itu hanya membuka lebar mulutnya tanpa bisa berkata-kata.


Aku merasa beberapa orang berlari kearah kelas, apa bantuan sudah tiba?.


Pusaran api akhirnya berhenti, seluruh api di kelas telah berhasil di padamkan, sisa dari kebakaran masih terlihat jelas terutama di bagian tengah ruangan yang terdapat tanda hitam di lantai yang menjadi titik pusat tornado api.


Melihat jika seluruh api di ruangan telah dipadamkan, pemuda itu pun seakan menjadi waspada terhadapku. Aku melihat gaya bertarungnya menjadi lebih defensif.


‘Apa karena pemukul ini membuatnya berpikir jika aku ada penyerangan jarak dekat?.’


Tetapi sepertinya bukan itu yang membuatnya menjadi lebih defensif. Saat aku melihat Permata merah pada tongkat sihir pemuda itu, aku seketika sadar jika cahayanya semakin redup.


Smirk, aku tersenyum.


Kemarahan terlihat jelas di mata pemuda itu, tapi dia tidak terlalu bodoh untuk membuang energi sihir yang tersisa untuk menyerang ku akibat terprovokasi.


"Kau bukan berasal dari dunia ini bukan?."


Dia bertanya, entah tujuannya untuk mengulur waktu atau memang sekedar penasaran.


"Apa yang kau katakan idiot? Apa kau menderita gangguan mental atau semacamnya. Ya aku bisa melihatnya, buktinya sudah jelas kau pasti seorang penderita gangguan jiwa."


Aku bersikap seolah-olah mengaggap jika tidak mengerti apapun tentang sihir, dan mengatakan jika api dari pemuda itu berasal dari sebuah alat.


"Odgj, kau pikir aku memiliki masalah mental!."


Kemarahannya kembali meluap, aku dapat melihat cahaya pada permata merah di tongkatnya akhirnya menghilang.


‘Dia menggunakannya sekaligus.’


Walaupun kemenangan sudah di depan mata, tetapi aku perlu tetap waspada. Terlebih lawan seringkali melakukan hal nekat saat sedang terpojok.


Seperti yang terjadi saat ini, pemuda itu akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk serangan terakhir.


"Heroes Never Fade!."


"Hah?."


Aku sangat terkejut karena pemuda itu tiba-tiba menggunakan kemampuan khusus dari kelas warrior.


Sempat terlintas di benakku jika dia hanya asal menyebutkan nama keahlian tersebut. Tetapi setelah melihat tubuhnya perlahan diselimuti oleh api membuatku yakin jika dia memang menggunakan Ultimate skill [Supreme Warrior].


Pemuda itu menatapku dengan curiga, dia pasti sadar dengan keterkejutan ku setelah melihatnya menggunakan kemampuan itu.


"Waaa... Tubuhmu terbakar," aku mencoba mengecoh nya.


"Hemp, kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri."


Dengan mudah dia mempercantik aktingku.


"Sekarang mati!."


Tanpa peringatan, dia segera menerjang ke arahku. Kecepatannya sungguh luar biasa, tetapi aku masih bisa melihatnya. Suara berbunyi sangat nyaring manakala tinju pemuda itu memukul tongkat baseball yang aku gunakan untuk menahan serangan.


Matanya terbelalak melihat serangannya masih bisa aku tahan. Tetapi sebelum dia mengatakan apa pun, aku segera mendorongnya.


"Mustahil!." Ucapnya begitu terkejut.


Tongkat aku ayunkan dengan target kepala pemuda itu, tetapi melihat senyuman diwajahnya membuatku merasa seluruh bulu kuduk berdiri.


‘Bahaya.’


Segera aku melompat mundur, bersamaan dengan itu ledakan terjadi di lantai.


"Cih." Lidahnya berdecak setelah jebakan yang dia pasang tidak berhasil melukaiku.


‘Steap mine, kah. Itu hampir saja.’


Jebakan yang terpasang hanya dengan meninggalkan jejak kaki. Sangat sederhana tapi sangat efektif.


Pertarungan berjalan cukup intens.


Sebenarnya aku bisa mengalahkan pemuda ini dengan mudah karena aku tahu kelemahan dari Ultraman skill Supreme warrior adalah konsumsi energi yang sangat boros.


Jadi aku hanya harus mengulur waktu hingga dia kehabisan tenaga. Tapi tentu aku tidak akan menggunakan cara pengecut seperti itu, terlebih lagi sangat jarang menemukan lawan seperti dia.


"Hentikan!."


Tiba-tiba suara seorang pemuda mengganggu konsentrasi ku. Suara yang sama seperti pagi tadi, itu Rayhan.


"Guaaak!."


Satu tinju mendarat tepat di perutku, membuatku terpental begitu keras hingga menghantam dinding.


"Ghuuk!."


Darah keluar dari mulut, aku pun terjatuh tidak berdaya mencium lantai.


‘Hilang konsentrasi satu detik saja sudah berakhir seperti ini. Awas saja kau Rayhan, akan ku beri kau pelajaran nanti.’


***


(Bersambung)