Return From God Quest

Return From God Quest
42. Dikirim ke Dunia Lain



Restoran yang hancur membuat panji kehilangan pekerjaannya. Tetapi keberuntungan pemuda itu tidak begitu buruk karena Manajer restoran menawarkan pekerjaan yang sama di cabang lain. Namun terdapat masalah yakni jarak tempat kerjanya yang baru dirasa Panji cukup jauh.



‘Uang ongkos terlalu mahal, jadi tidak sepadan.’



Setelah berpikir masak-masak pada akhirnya Panji memutuskan untuk tidak mengambil tawaran itu.



Melihat kesulitan Panji, seperti seorang pimpinan yang begitu baik pada karyawan, Manajer menawarkan beberapa pekerjaan ditempat lain lokasinya tidak begitu jauh dari tempat kerja yang lama.



Sudah satu tahun berlalu, Panji kini bekerja di sebuah perusahaan ekspor impor Black Company. Awalnya Panji ragu bekerja di tempat itu karena namanya yang aneh.



Namun setelah beberapa bulan bekerja Panji pun mulai terbiasa.



Bekerja ditempat itu cukup menyenangkan bagi Panji. Tetapi dia sering merindukan Pekerjaan lamanya, terutama karena dia sudah jarang bertemu dengan Karin.



Ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar, Panji yang tengah bekerja segera berhenti untuk sesaat. Panji tersenyum saat melihat pesan singkat yang dikirim oleh seseorang.



"Baru juga aku memikirkan dia, dan kini dia menelfon ku. Apa kami sebenarnya memiliki sebuah iklan batin?."



Pesan dari Karin berisi ajakan untuk keluar malam bersama. Panji tidak terlalu terkejut dengan ajakan itu karena mereka memang sering melakukannya saat masih bekerja di restoran.



Panji membalas jika ia menyetujui ajakan Karin, setelahnya Panji melanjutkan pekerjaannya dengan suasana hati yang baik.



Dua hari berikutnya tepat di malam Minggu. Taman kota begitu ramai oleh pasangan yang sedang berkencan. Panji yang duduk sendiri di bangku taman menjadi objek tatapan para pasangan yang seolah sengaja pamer padanya.



"Ini memalukan."



Pemuda itu melihat jam, masih dua puluh menit sebelum waktu bertemu.



"Aku datang terlalu awal karena begitu bersemangat."



Panji memaki dirinya sendiri karena tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan dia katakan pada Karin.



Mereka sudah bertahun-tahun berteman, Panji yang tahu posisi dirinya di bawah sedang Karin jauh di atas, membuatnya hanya bisa memendam perasaannya.



"Tapi kali ini berbeda, aku sudah tidak bekerja di tempat milik kakeknya."



Meskipun pekerjaan barunya tidak lebih baik dari yang dahulu, tetapi Panji cukup percaya diri bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.



Pemuda itu terus menunggu sendirian. Para pasangan yang masih melihatnya memasang wajah penuh senyum mulai kasihan padanya.



"Hey lihat, dia pasti dicampakkan oleh pasangannya."



"Tidak, aku pikir dia baru saja ditipu oleh seseorang di kencan online."



"Teman kencannya kabur begitu melihat wajahnya di dunia nyata."



Beberapa orang mulai mengatakan halnya tidak benar, membuat Panji ingin mengeluarkan kata-kata mutiaranya. Tapi pemuda itu tidak akan melakukan sesuatu yang bisa merusak hari ini.



Tetapi tiba-tiba suara tembakan terdengar terus menerus di jalan, lalu suara ban yang tergelincir semakin dekat. Saat mencari tahu apa yang terjadi dia melihat mobil SUV ditembaki orang dua mobil sedan, melihat itu membuat Panji merasa Dejavu.



"Tunggu, hey menyingkir!."



Panji melihat seorang anak kecil terjatuh karena orang disekitarnya berlarian menyelamatkan diri. Jika anak kecil itu tidak segera menyingkir maka akan tertabrak mobil yang tengah melaju kencang.



Dia bergerak secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawanya bocah, namun sebagai imbasnya tubuh Panji sendiri yang menggantikan anak itu tertabrak mobil.



Dunia berputar begitu cepat, rasa sakit memenuhi kepala Panji, penglihatannya memerah, tubuhnya tidak dapat digerakkan.



"Aaa... Apa aku akan mati?."



"Padahal hari ini aku....."



Rasa sakit yang dia rasakan membuat Panji sulit berbicara. Tidak lama kemudian orang-orang dari mobil menunjukkan diri, mereka masih adu tembak dengan kelompok yang mengejar mereka.



Pandangan Panji sudah mulai kabur sehingga dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah mereka. Kesadaran Panji pun pudar secara perlahan.



"Panji!."



Suara perempuan yang ia tunggu akhirnya bisa Panji dengar. "Ini memalukan." Ucap lirih Panji yang tidak ingin Karin melihatnya dalam keadaan berantakan.



Raut wajah Karin tidak begitu jelas tetapi Panji masih dapat merasakan kemarahan dan kesedihan. Seharusnya ini adalah saat dimana dirinya mengatakan jika semua akan baik-baik saja, tetapi Panji tidak dapat mengatakan itu karena keadaannya semakin lemah.



Hingga akhir seluruh penglihatan Panji berubah menjadi gelap.



"Apa aku akan mati?."



"Padahal sudah berbulan-bulan aku menunggu datangnya malam ini."




Rasa sakit itu tidak lagi dia rasakan, hanya kegelapan yang bisa Panji temukan, perasaan dingin terasa menusuk hingga tulang.



"Inikah kematian?."



{Bukan}



“Eh?.”



Tiba-tiba suara yang bergema diruang hampa terdengar menjawab perkataan Panji.



“Siapa itu?.”



Panji melihat ke sekeliling tetapi tidak ada lagi yang dia lihat selain kegelapan. Debaran jantung terasa semakin kuat, entah kenapa Panji merasa sangat ketakutan.



{Aku dewa yang akan memberikanmu kesempatan kedua untuk kembali hidup}



“Su... sungguh!.”



Tanpa rasa curiga sedikit, Panji rela melakukan apapun demi kembali hidup dan bertemu dengan Karin.



{Kau hanya perlu menyelesaikan Quest dariku}



Suara tanpa wujud terdengar semakin tenang, Panji merasa jika sosok yang mengaku sebagai Dewa itu merasa telah berhasil mengelabuinya.



Tapi meskipun berkemungkinan besar akan ditipu, Panji tetap memilih untuk mencoba mempercayai suara yang ia dengar. Lagi pula dia juga tidak memiliki pilihan lain.



“Quest apa yang harus aku selesaikan.”



Keheningan terasa mencekam untuk sesaat, Panji sangat berharap jika quest yang diberikan oleh Dewa tidak begitu sulit. Namun kebalikan dari apa yang Panji inginkan, Suara itu justru memberikan Panji quest terburuk.



{Kau harus mengalahkan Raja iblis di dunia lain}



“Hah?.”



Panji begitu tercengang, dia tidak mengira jika alur cerita yang sering dia baca pada manga dan anime kini terjadi pada dirinya.



“Apa ini hanya sebuah lelucon?.”



{Banyak yang bertanya demikian, tapi kau akan segera mengetahui kenyataan begitu sampai di sana}



Kemudian ruangan yang sebelumnya begitu gelap mulai berubah. Bagaikan sebuah kotoran yang dibersihkan, kegelapan dengan cepat larut merubah area sekitar menjadi begitu putih.



“Menyilaukan.”



Panji berusaha menutupi matanya dari cahaya terang. Lalu telinganya perlahan mendengar suara sayup-sayup dari kejauhan yang perlahan semakin dekat dan kuat.



“Pahlawan, wahai pahlawan bangunlah.”



Suara terdengar merdu, mendengarnya membuat Panji dapat membayangkan wajah pemilik suara yang rupawan.



“Bukankah itu memang sudah biasa terjadi di cerita isekai. Sang putri Raja akan menyambut pahlawan yang akan melawan Raja iblis.”



Panji mulai membayangkan kecantikan seorang putri yang akan dia lihat nanti.



Namun ekspetasi tidak seindah realita, begitu Panji membuka matanya yang pertama dia lihat adalah sosok seorang perempuan tua dengan rambut yang memutih.



“Oh, apa aku mengagetkan mu tuan pahlawan?.” wanita tua segera menjauh dari Panji.



“Ah, tidak maafkan aku.” Panji segera bangkit untuk meminta maaf.



“Aku paham, anda pasti tengah kebingungan sekarang karena baru saja tertabrak turk-kun, bertemu Dewa lalu dikirim ke dunia lain.”



Dia mengatakan semua itu begitu lancar seakan sudah berulang kali mendapatkan keadilan yang sama.



“Bukan truk-kun tapi pajero.” Panji menginterupsi.



“Benarkah? Itu cukup berkelas.”



Wanita itu tersenyum, dia terlihat begitu berwibawa dengan pakaian serba putih.



‘Entah kenapa wajahnya dan cara dia tersenyum mengingatkanku pada seseorang.’



\*\*\*



\[Bersambung\]