Return From God Quest

Return From God Quest
28. Prolog arc 2




Malam yang tenang, seorang pramusaji sebuah restoran fast food tengah bersantai dikala tidak ada pelanggan di restoran tempatnya bekerja.


Jam menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh menit, hampir tengah malam. Pemuda itu berpikir jika tidak mungkin ada seseorang yang akan datang ke restoran selarut ini karena itu dia berpikir lebih baik untuk menutup restoran agar ia bisa pulang lebih awal.


Tetapi tentunya dia tidak mungkin bisa melakukan itu karena bisa membuatnya kehilangan pekerjaan dan berakhir dengan kesulitan membayar kontrakan setra biaya sekolah.


"Hari ini dia juga tidak masuk kerja."


Biasanya dia menjalankan shift malam bersama karyawan lain, tetapi selama satu Minggu terakhir rekannya tidak masuk kerja.


"Jika aku yang melakukan itu pasti langsung dipecat, tapi dia beruntung karena kakeknya adalah pemilik restoran ini."


Televisi dinyalakan sepanjang malam agar keadaan restoran tidak begitu sunyi. Pemuda itu yang sudah tidak memiliki pekerjaan lain pun menghabiskan waktunya untuk menonton.


[Pemirsa, melaporkan dari....]


"Oh ayolah, baru sepuluh menit lalu iklan, sekarang apa lagi!."


Dia marah karena tiba-tiba jeda acara yang sedang ia tonton terhenti akibat Berita Kilat. Pemuda itu berdecak kesal melihat acara seperti berita yang sangat tidak ia sukai.


"Berita apa lagi sih, apa putri banteng kembali menjual pulau?."


Dia berharap aga acara berita segera berakhir dan film yang ia tonton kembali diputar. Tetapi saat ia memperhatikan berita yang sedang ditayangkan, dia merasa aneh.


[Beberapa mobil tengah mengejar sebuah SUV, baku tembak terjadi antara dua kubu]


Terdengar suara tembak-menembak dan deru mobil.


"Hemmm, aku tidak mengira speaker televisi ini begitu bagus. Aku Bahkan merasa baku tembaknya tepat berada di belakangku."


Dia menemukan acara berita cukup menarik sehingga mengurungkan niatnya untuk mengganti channel dan tetap ia menonton.


"Oh apa itu, kok mirip restoran tempat aku bekerja."


Suara tembakan semakin keras terdengar membuat pemuda itu sadar jika suara itu bukan berasal dari televisi.


"Tidak mungkin baku tembak di dekat sini bukan."


Dia mencoba menenangkan diri, tetapi usahanya tidak berhasil mana kala dalam berita itu mobil SUV yang tengah dikejar tiba-tiba berbelok tajam menabrak salah satu mobil pengejar hingga menyeretnya dan berakhir menabraknya restoran yang begitu mirip dengan tempatnya bekerja.


Keributan besar terjadi, mobil-mobil yang pemuda itu lihat di televisi kini sudah berada di hadapannya, mengacau restoran itu begitu buruk.


"Padahal aku sudah mengepel lantainya." Ungkap kesalnya.


Dia ingin sekali memarahi setiap orang di kedua mobil, tapi mana mungkin dia memiliki keberanian seperti itu setelah melihat mereka memiliki senjata. Walaupun dia tahu jika kedatangan mereka bukan untuk merampok restoran, tapi karena tidak ingin menjadi sasaran pemuda itu pun segera bersembunyi dibalik meja konter.


Berikutnya suara tembakan terdengar begitu keras serta cukup lama. "Berisik oy!." Umpatnya dalam hati. Tidak lama kemudian suara tembakan berhenti membuat si pemuda memberanikan diri untuk mengintip.


Ada empat orang dengan jas hitam yang terlihat seperti agen rahasia atau semacamnya, setiap dari mereka memegang senapan mesin. Sementara itu mobil yang menabrak mobil lain kini dalam keadaan sangat buruk, seluruh bagian mobil telah dipenuhi oleh lubang tembakan.


"Apa mereka mati?." Ia mempertanyakan keadaan orang-orang di dalam mobil yang ditembaki.


"Tapi yang lebih penting...." Tatapannya terlihat tidak senang saat melihat begitu banyak selongsong peluru yang tergeletak di lantai.


"Sialan." Umpatnya.


Dia sangat benci membersihkan kulit kacang karena sulit dihisap vacuum cleaner, sedangkan selongsong peluru di lantai membuatnya mengingat akan hal itu.


"Ghoook..."


Tiba-tiba salah satu dari empat orang berjas hitam terjatuh. Sebuah pisau menusuk tenggorokannya membuat pria itu terbunuh seketika.


Mengetahui rekannya telah tewas membuat yang lain kembali menembakkan senjata. Baku tembak kembali terjadi tetapi kali ini tidak begitu lama karena mereka telah kehabisan peluru.


Pintu mobil penuh lubang didobrak hingga terlepas, pemuda itu dapat melihat sebuah kaki putih yang mempesona keluar dari mobil. Dia tidak bisa menahan untuk menelan ludah karena penasaran dengan wanita secantik apa yang memiliki kaki seindah itu.


‘Dia pasti sangat cantik.’ pikirnya penuh harapan.


Namun harapannya segera hancur ketika wanita dengan kaki yang begitu indah justru tidak dapat dilihat wajahnya karena sebuah helm besi yang ia kenakan.


"Mati!."


Ketiga pria berjas yang tersisa segera menyingkirkan senjata mereka lalu berganti dengan pisau, prempuan berhelm tidak melakukan apa pun saat lawannya datang hendak menyerang.


Dia berpikir perempuan Itu akan kesulitan dikeroyok oleh pria dewasa. Pemuda bersiap melompat untuk menolong tetapi dua segera mengurungkan niat begitu melihat perempuan dengan mudah menangani lawannya.


Teriakan tiga pria terdengar begitu menyakitkan saat tubuh mereka terpotong-potong oleh pedang yang digunakan perempuan berhelm. Dalam hitungan detik ketiganya terbaring tidak bernyawa mengikuti nasib rekannya.


"Aku rasa ini sudah aman." Ucap perempuan berhelm.


Dia terus berpikir untuk lari atau tetap bersembunyi, hingga dia tidak sadar jika perempuan itu tengah mendekati tempatnya berada.


"Permisi."


Suara yang begitu lembut namun membuat jantung pemuda seakan hampir keluar dari mulutnya.


"Ya.... Ya.... SELAMA DATANG!."


Keterkejutan membuatnya panik sehingga tanpa sengaja berteriak begitu keras.


‘Sial aku akan mati!.’


Dia mencoba melihat reaksi perempuan berhelm, tapi dia tidak dapat menembaknya karena wajahnya tertutupi. Sedangkan empat rekannya dibelakang menatap dengan heran.


"Tumben hari ini kau begitu bersemangat."


"Hah?."


Dia begitu terkejut mendengar perkataan perempuan berhelm, ‘Kenapa dia berkata seperti itu seakan kami sudah sering bertemu.’ suara dari perempuan di depannya mengingatkannya pada seseorang.


"Bolehkah aku meminjam telepon? Milik ku rusak karena kenakan orang-orang itu." Perempuan berhelm menunjuk empat orang yang baru saja dia bunuh.


Perempuan itu bertanya dengan begitu sopan, tapi tanggapan pramusaji begitu lambat karena pikirannya kemana-mana.


"Oh, maaf. Apa aku harus memesan dahulu untuk menggunakan telephon?."


"Ah, tidak.... Tidak seperti itu."


Pramusaji ingin mengatakan jika telepon bisa dihubungi pengunjung walaupun tidak membeli apapun, tetapi dia tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan. Perempuan berhelm pun memesan pizza.


"Hay apa kalian juga lapar?." Tanya perempuan itu pada keempat rekannya.


Mereka saling menatap hingga.


"Burger cheese beef." Ucap salah satu gadis dengan semangat.


Dua orang bertopeng mencoba menghentikannya tetapi gadis itu justru marah.


"Ayolah, mereka memberiku makanan yang tidak layak hingga aku hampir mati kelaparan..."


Karena gadis itu bersikeras membuat kedua rekannya menyerah. Pada akhirnya mereka semua memesan sesuatu, lalu pramusaji menyiapkan tempat duduk yang masih bisa digunakan. Setelah itu dia segera menyiapkan pesanan.


"Malam yang panjang?."


"Eh... Ya.."


Dia terkejut mendengar suara perempuan berhelm yang sedang menelpon. Tempat telfon untuk pengunjung menang dekat dengan dapur sehingga pemuda itu bisa mendengar percakapan dari tempatnya.


"Kami berhasil membawa putrimu...."


Dia begitu terkejut mendengar apa yang ia dengar.


Namun bunyi minyak panas membuat ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang perempuan itu katakan.


‘’....Kau sudah menyiapkan uangnya? Hehehe... Itu bagus."


Pikirannya tiba-tiba teringat tentang kasus penculikan yang terjadi Minggu lalu, berita itu begitu menggemparkan hingga dua yang tidak suka dengan berita seperti itu pun tahu apa yang terjadi.


"Tidak salah lagi, gadis itu yang memesan burger beef keju adalah putri konglomerat yang telah diculik. Pasti empat orang yang terbunuh adalah agen khusus yang dikirim untuk menyelamatkan gadis itu."


Dia mulai memikirkan banyak skenario. Hingga ia memutuskan untuk menelfon polisi, tetapi niatnya diurungkan ketika perempuan berhelm saat ini sedang menggunakan telepon satu-satunya di restoran itu.


"Apa pesannya sudah jadi?." Tanya perempuan berhelm begitu sadar jika sedang ditatap. Ditangannya sebuah pedang katana menunjukkan kilatan cahaya yang berkilau, melihat itu membuat di pemuda begitu ketakutan.


"Ah, ya mohon tunggu sepuluh menit lagi." tetapi dia berusaha tenang agar tidak dicurigai.


"Oke..." balas perempuan berhelm singkat.


Dengan panik pemuda segera kembali ke dapur.


‘Sial, apa yang harus aku lakukan?.’


Dia berusaha untuk membantu, tetapi perhatiannya teralihkan ketika pesanan pelanggan telah jadi.


Pada akhirnya dia tidak melakukan apapun dan justru menghidangkan makanan yang pera penjahat itu pesan.


***


[Bersambung]