
Keadaan restoran begitu aneh malam ini, awalnya seperti tapi mendadak berubah ricuh karena kecelakaan mobil, tapi tidak lama kemudian menjadi menegangkan yang disebabkan baku tembak dan pembunuhan.
Namun tidak berhenti sampai di situ, keanehan itu masih berlanjut.
Sebuah mobil sedan datang terparkir di luar, dari dalam mobil keluar seorang wanita yang dari postur wajahnya terlihat seperti orang jepang, kemudian seorang pria ikut keluar dari mobil yang sama.
‘Orang itu....’
Aku mengenali pria yang baru datang, dia adalah ayah dari gadis yang dikabarkan telah diculik. Karena tidak melihat polisi bersama mereka, aku pun mengira jika mereka berniat menebus putrinya dengan jalan damai.
‘Kira-kira berapa banyak yang mereka minta?.’
Dalam benakku tidak dapat membayangkan berapa banyak uang yang para penculik itu dapatkan dari bisnis kotor itu.
‘Itu membuatku iri.’
Melihat kedatangan dua tamu baru, gadis yang diculik segera berlari menghampiri orang tuanya. Suasana haru terasa kuat saat ibu dan putrinya kembali bersama, begitu pula dengan ayahnya yang tidak dapat menahan air mata.
‘Hem, orang jahat mana yang tega memisahkan seorang putri dari keluarganya?.’
Tatapanku tertuju pada anggota penculik, mereka juga tampak bahagia.
‘Itu pasti karena mereka akan mendapatkan banyak uang.’
Mendapatkan uang dengan cara menjijikan seperti itu, aku tidak akan membiarkannya. Walaupun mungkin kehilangan sejumlah uang tidak akan menjadi masalah besar untuk pria kaya seperti dia. Tapi aku tetap tidak akan rela jika para penculik itu mendapatkan apa yang mereka inginkan.
‘Aku yang bekerja keras tapi tetap miskin, tapi mereka para penjahat justru yang menjadi kaya hanya dengan melakukan pekerjaan kotor. Tidak, aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir begitu saja. Di setiap cerita, penjahat selalu berakhir mengenaskan.’
Dengan kecerdasan yang ku miliki, aku mulai menggambarkan skenario untuk menggagalkan rencana jahat para penculik. Tetapi pikiranku justru mengembara kemana-mana.
Jika seandainya aku bisa menangkap para penculik dan menyerahkan mereka ke polisi, kira-kira apa yang akan aku dapatkan?.
‘Mungkin saja uang tebusan itu akan menjadi milikku.’ aku tersenyum membayangkan mendapatkan banyak uang.
‘Dan mungkin saja gadis itu berakhir jatuh hati padaku.’ senyumku semakin melebar.
"Lalu kami akan menikah, memiliki anak dan berakhir menjadi pemilik perusahaan besar...."
Sungguh brilian, aku tidak pernah mengira kecerdasanku begitu luar biasa seperti ini. Mana mungkin ada seorang yang pernah berpikir seperti aku yang jenis ini.
"Ini adalah waktunya untuk ku merubah nasib." Ucapku lantang.
"Caranya?."
"Memanggil polisi!." Itu ide jenius, polisi pasti bisa menangkap empat orang penculik itu.
"Untuk apa?."
"Untuk menangkap kalian, dan aku pun menjadi pahlawan... Ahahaha!."
Tawa ku diiringi dengan suara tepuk tangan, aku tidak tahu tepukan siapa itu tapi yang jelas aku sangat bangga pada diriku sendiri yang sangat pintar.
"Jenius, sungguh aku sendiri takut dengan kejeniusan yang aku miliki. Tapi entah kenapa aku merasa sesuatu yang aneh."
Saat aku kembali ke dunia nyata dari dunia abstrak penuh hal indah dalam pikiranku, aku sadar jika setiap orang saat ini tengah menatapku dengan heran.
Kecuali perempuan berhelm besi dengan mulut penuh pizza, ia tanpa henti bertepuk tangan ke arahku.
"Hebat, hebat. Baru kali ini aku melihat ada orang jenius." Ucap perempuan itu "Dia pasti spesies langka yang sangat berbeda dengan manusia."
Sial, tanpa sengaja aku membocorkan rencana jenis yang aku buat. Ini pasti ilusi, benar salah satu dari para penculik pasti memiliki kemapuan untuk menghipnotis.
‘Dasar para penculik licik.’ pikiranku penuh dengan makian.
Lalu bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus menyerah? Tidak, sepertinya mereka hanya mengira apa yang aku katakan adalah gurauan semata, itu terbukti karena mereka tidak melakukan apa pun.
Pria yang merupakan ayah dari gadis yang diculik mendatangiku untuk meminta maaf atas kerusakan restoran, dia berjanji akan mengganti rugi.
Mendengar itu membuatku semakin marah. Bagaimana mungkin seluruh biaya ganti rugi kerusakan restoran ditanggung oleh korban?.
Ayah korban kemudian memesan lebih banyak makanan, mereka kemudian duduk bersama untuk negosiasi. Tiga penculik membuat topengnya, mereka terlihat begitu gembira, sedangkan pemimpin penculikan masih memakai helm besi dengan separuh bagian bawah terbuka untuk memperlihatkan senyum mengerikan.
‘Ini adalah kesempatanku.’
Saat hendak memasuki dapur, dengan cepat aku mengambil telepon untuk menghubungi polisi. Tidak lama kemudian polisi datang, membuatku sangat senang.
‘Hidupku akan berubah.’
Mungkin ini adalah titik balik dalam hidupku. Dan itu memang terjadi tetapi dengan hasil yang tidak aku pikirkan.
Polisi memang datang, tetapi tidak ada seorangpun penculik yang mereka tangkap. Itu sangat aneh. Lalu keadaan pun berjalan seperti tidak ada yang terjadi, keluarga korban membawa putri mereka, sementara para penculik masih bebas berkeliaran.
Yang tersisa hanya aku sendirian menatap restoran tempat aku bekerja telah tutup walaupun belum waktunya.
Saat udara dingin malam menusuk kulit, aku pun sadar jika rencana jenius yang aku buat telah gagal.
"Yah, lihat sisa baiknya aku bisa pulang lebih awal dan beristirahat."
Ini sangat disesalkan, aku penasaran apa yang akan dipikirkan oleh rekanku jika tempat kerja kami mengalami insiden seperti itu. Apa dia akan percaya dengan apa yang aku katakan?.
"Pffft, sepertinya tidak."
Ah, sudah hampir dua minggu sejak dia mendapatkan masalah. Aku ingin tahu apa yang dia lakukan sekarang.
"Apa sebaiknya aku menelfon?."
Berulang kali aku bertanya seperti itu pada diriku sendiri. Tapi niat ku segera lenyap ketika melihat nomor kontak miliknya. Entah kenapa tiba-tiba rasa takut menghantuiku.
Drrrrr!
Ponsel ku bergetar secara mengejutkan hingga hampir saja aku lepas dari tanganku. Saat aku melihatnya rupanya ada panggilan masuk, dan di penelpon ada seseorang yang baru saja ingin aku hubungi.
Tanpa sadar aku segera menjawab panggilan itu, seakan jariku memiliki pikiran sendiri.
\[Hey Panji. Kau mengangkatnya, apa kau baik-baik saja?. Hampir saja aku memesan bunga dengan ucapan belasungkawa yang akan ku kirim ke rumahmu\]
Begitu panggilan dijawab, ponsel ku seketika mengeluarkan suara perempuan yang begitu berisik dan cepat, seakan seorang rapper wanita lah yang sedang berbicara.
"Bunga bela sungkawa, huh."
Perkataanya dengan jelas memberitahu jika dia telah mengetahui apa yang terjadi terjadi pada tempat kerja kami.
"Ahahaha, sayang sekali karena dewa kematian tidak cukup baik padamu untuk mencabut nyawaku. Sehingga musibah sebesar apa pun yang terjadi hari ini tidak akan cukup untuk membuatku takut akan kematian."
Aku berkata dengan begitu bangga. Biasanya aku tidak akan mungkin bisa berkata dengan cara seperti itu pada orang lain, tetapi berbeda dengan gadis yang telah berkerja bersamaku sebagai pramusaji restoran selama hampir dua tahun.
\[Dewa kematian? Ahahaha, sudah hampir dua Minggu kita tidak bertemu. Selama itu aku tidak tahu film apa yang kau tonton hingga menurunkan persepsi power cap yang kau miliki\]
Dia dengan mudah memahami arah pembicaraan saat mengobrol dengan ku. Sangat berbeda dengan orang lain yang pasti akan menganggap aku sedang delusi.
Dalam perjalanan pulang aku terus menempelkan ponsel dengan telingaku secara bergantian. Kami terus mengobrol hingga aku sampai di depan kamar kontrakan ku.
\[Oke bay Hero. Ingatlah agar tetap di jalan setan, karena besok kau resmi menjadi seorang pengangguran, ahahaha..\]
"Percuma, sihir pencuci otak yang kau kirim padaku lewat telepon tidak akan cukup kuat untuk membuatku sulit tidur."
Tawa dari telephon semakin keras.
Senyumku mengembang begitu panggilan akhirnya berakhir. "Aku sangat bersyukur dia baik-baik saja." Mendengar kabar baik dari seseorang yang sudah lama tidak berjumpa membuatku sedikit merasakan kebahagiaan.
"Aku pasti akan tidur nyenyak malam ini."
\*\*\*
\[Bersambung\]