
Berantakan, satu kata yang menggambarkan keadaan kelas 2-E saat aku pertama kali memasukinya. Ini adalah tahun ajaran baru, dimana seharusnya sekolah mendapatkan perbaikan selama masa libur sekolah.
Selama perjalanan menuju kelas 2-E, aku melihat kelas lain begitu bersih seperti yang seharusnya sebuah kelas di hari pertama para murid kembali bersekolah.
Tetapi berbeda 180 derajat dengan kelas yang akan aku tempati. Tempat itu seperti telah ditinggalkan selama bertahun-tahun. Banyak sampah plastik, putung rokok, botol bir hingga jarum suntik.
"Tempat ini pasti sering digunakan oleh murid nakal untuk berpesta."
Menggunakan ponsel, aku merekam seisi kelas. Aku berniat menggunakan video itu untuk menuntut kepala sekolah agar ia membersihkan kelas yang akan aku gunakan.
Selama sibuk membuat video, beberapa siswa sesekali masuk kedalam kelas tetapi mereka tidak bertahan lama dan akhirnya pergi.
"Aku yakin mereka adalah murid yang akan menjadi teman sekelas ku."
Apa mereka pergi setelah melihat keadaan kelas, atau kerena ada aku didalamnya?. Pasti alasannya karena keadaan kelas yang kotor membuat mereka jijik hingga tidak ingin masuk bukan, kan?.
"Haaahh... Aku ingin punya teman sekolah."
Tanpa sadar aku menghela nafas panjang serta mengungkapkan isi hatiku yang sesungguh. Keinginan itu bukan tanpa alasan.
Kakek sering bertanya tentang kehidupan sekolahku. Misalnya mata pelajaran apa yang aku sukai, jenis olahraga apa yang aku sukai dan apa ada seorang yang aku sukai.
Sebagian pertanyaan Kakek bisa dengan mudah aku jawab, tetapi pertanyaan tentang ‘berapa banyak teman sekolah yang kau miliki’ adalah pertanyaan yang paling sulit aku jawab.
"Apa yang kau lakukan di sini sendirian?."
"!"
Aku terperanjat kaget kaget karena tiba-tiba Rayhan sudah berdiri di belakangku. Karena terkejut membuatku kehilangan keseimbangan.
‘Ah, sial tanganku akan kotor.’
Agar tidak jatuh ke lantai yang kotor aku berniat melakukan salto ke belakang, untuk itu tanganku perlu menyentuh permukaan lantai sebagai tumpuan.
Tetapi saat aku berpikir demikian tiba-tiba tanganku ditarik oleh Rayhan yang kemudian menangkap ku, hingga akhir posisi kami menjadi lebih dekat.
Tidak, itu tidak bisa lagi disebut ‘Dekat’ karena tubuh kami sudah saling menempel.
‘Sialan, dia memelukku.’ aku hanya bisa mengumpat dalam hati.
Kami terdiam dalam posisi yang sama selama beberapa saat, tidak ada yang kami lakukan selain menatap langsung ke mata satu sama lain.
Kalian tahu, ini seperti sebuah adegan generik dalam drama romantis, dimana untuk pertama kalinya protagonis utama dan protagonis wanita bertemu. Sebuah insiden klise yang membuat keduanya saling memiliki ketertarikan satu sama lain.
"Apa kau sedang bercanda denganku?." Ucapku dengan nada merah.
Rayhan yang tersadar akhirnya melepaskan pelukannya.
"Aku hanya ingin membantumu agar tidak terjatuh."
"Really?." Ucapku dengan sarkasme, "Bagaimana aku bisa mempercayai perkataan seorang pemuda yang menyelinap di belakang punggung perempuan?."
"Menyelinap? Aku tidak menyelinap, kau saja yang tidak sadar dengan kedatanganku karena terlalu sibuk mengambil gambar." Rayhan mencoba membela diri.
"Oh, benar. Itu pasti yang terjadi..."
"Terserah kau sajalah."
Keadaan kembali hening di dalam kelas, kami hanya saling menatap tanpa melakukan apapun. Hingga aku akhirnya buka suara.
"Jadi?." Tanyaku.
"Apa?." Rayhan menjawab dengan kebingungan.
"Apanya gimana!." Suaraku semakin tinggi, begitu pula dengan tekanan darahku..
Aku mulai kesal, tidak pernah mengira jika Rayhan begitu bodoh saat tidak ada Rasya maupun Asami di dekatnya.
"Kenapa kau tidak pergi, tempat ini bukan ruang kelas mu bukan?."
"Ah, iya tentang itu sebenarnya aku..."
Tetapi sungguh, apa-apa dengan alasan yang dia berikan.
"Tersesat? Memangnya usia mu masih dibawah sepuluh tahun apa?."
Aku skeptis dengan alasan Rayhan.
"Bodyguard sang putri dari keluarga Tanjung, ternyata bisa tersesat di sekolah. Ini pasti akan menjadi berita besar."
"Kuh..."
Lidah pemuda itu berdecak seakan mulai kesal dengan sikap yang aku tunjukkan. Tetapi dia menahannya. Rayhan pun berniat untuk meninggikan kelas dan kembali ke kelas 2-A.
Tetapi saat aku mengawasinya, dia justru pergi menuju ruang ganti perempuan.
‘Ada apa dengan pria ini?.’
Kepalaku terasa sakit, bagaimana mungkin selama ini aku tidak menyadari sifat buta map Rayhan. Jika dipikir-pikir lagi selama pelatihan ekspedisi dan eksplorasi, aku tidak pernah sekalipun melihat Rayhan memegang peta.
Aku pikir itu karena Rasya dan Asami memang lebih cocok untuk menjadi pemandu sehingga aku membiarkan mereka menentukan jalan. Tetapi siapa yang mengira jika alasan sebenarnya dibalik itu semua adalah karena Rayhan tidak membaca peta.
Keributan terjadi diruang ganti perempuan, tidak lama kemudian Rayhan berlari keluar sambil berteriak minta maaf.
Rayhan kemudian menyadari keberadaan ku, dia terlihat begitu canggung. Mungkin dia takut jika aku mulai menyebarluaskan rumor aneh karena kesalahpahaman.
"Cabul, Prvert, H3NPT41."
"Tidak kau salah! Hey tunggu jangan pergi, kita harus berbicara."
Aku meninggalkan Rayhan begitu saja tanpa mendengar suara putus asa pemuda itu. Aku berniat pergi ke kantor kepala sekolah untuk mengajukan protes.
***
Pintu diketuk, suara seorang wanita terdengar dari dalam ruangan mempersiapkan untuk masuk. Aku tertegun saat lalu memastikan papan nama di atas pintu untuk memastikan jika aku tidak salah ruangan.
"Benar ini adalah ruangan kepala sekolah, tapi kenapa wanita?."
Kepala sekolah yang aku ingat adalah seorang pria dengan tatapan tajam. Walaupun rambutnya mulai memutih tetapi dia masih terlihat berwibawa dan mengerikan secara bersamaan.
Tetapi kharisma kepala sekolah itu sudah banyak berubah setelah aku memberinya ‘Pengertian’ dengan cara yang paling mudah di pahami.
"Permisi." Aku memasuki ruang kepala sekolah.
Begitu membuka pintu aku langsung dihadapkan pada seorang wanita yang duduk di kursi kepala sekolah.
Wanita itu terlihat begitu elegan dengan jas yang ia kenakan. Soror matanya yang tajam juga sedikit mengintimidasinya ku. Wajahnya cantik dengan postur tubuh tinggi semampai, sia begitu sempurna sebagai potensi wanita dewasa.
"Jika tidak salah, nama mu ... Karin bukan?."
Sepertinya wanita ini tidak begitu peduli dengan insiden selama satu tahun terakhir. Buktinya dia bahkan tidak mengenalku.
"Benar...." Tatapanku tertuju pada papan nama yang terletak di atas meja. ".... Nona Yulianti."
Yulianti menanyakan tujuan ku datang ke kantornya, yang berarti menyiratkan dugaan ku memang benar jika kepala sekolah sudah digantikan. aku pun mengatakan tuntutan ku kepada kepala sekolah.
"Ehh... Bukankah itu tempat yang pantas untuk kalian?." Dia terlihat begitu terkejut seakan memang keadaan kelas 2-E normal baginya.
"Hah?."
Aku merasa sesuatu yang aneh.
"Ah, maaf yang tadi bukan bermaksud untuk merendahkan. Maksudku, aku akan segera mengirim petugas kebersihan untuk menangani masalah di kelas 2-E."
Ucap Yulianti dengan nada bosan.
Setelah itu aku pun keluar dari kantor kepala sekolah. Ketika hendak kembali ke kelas, aku memikirkan kembali perasaan yang ku rasakan saat bertemu Yulianti, itu terasa sangat nostalgia.
"Begitu angkuh, seperti para malaikat."
***
Bersambung