Return From God Quest

Return From God Quest
24. Sepuluh Juta Dolar




Aula utama pasar gelap adalah tempat yang begitu luas dimana kehidupan dan pergerakan ekonomi kotor berpusat. Banyak kios yang menjual item ilegal, bisnis perjudian, perdagangan manusia hingga jasa pembunuhan.


Tempat itu seperti sebuah kota kecil dibawah tanah.


"Sebenarnya aku hanya bisa mengimajinasikan tempat seperti ini pada film aksi. Tetapi kini aku sendiri yang masuk kedalamnya."


Rayhan begitu kagum melihat kehidupan di dalam pasar gelap. Melihat pemuda itu yang terpesona membuat Farhan kembali mengingatkan tujuan mereka datang ketempat yang begitu berbahaya.


Ketiganya berhasil masuk ke aula utama berkat kegaduhan yang disebabkan Karin. Tetapi tentu saja mereka tidak bisa begitu saja menyusup karena jalan menuju aula utama begitu rumit bagaikan labirin.


Beruntung Karin sebelumnya sudah memberikan denah seluruh bagian pasar gelap dengan berbagai petunjuk jalan rahasia yang bisa digunakan untuk keluar masuk tempat itu.


"Melihat bagaimana perempuan itu memiliki informasi yang begitu akut tentang tempat ini, membuatku merasa ngeri." Ucap Farhan sambil melihat denah Pasar gelap di ponselnya.


"Tetapi kira-kira bagaimana dia bisa mendapatkan semua informasi yang bahkan tuan Rusdi tidak bisa mendapatkannya?."


Kedua pria hanya diam saat mendengar pertanyaan Rasya. Hingga Rayhan akhir membuka mulutnya, "Bukankah dia sudah mengatakan jika pernah dijual di tempat ini?." Mendapatkan jawaban itu wajah Rasya berubah seketika.


Dia merasa simpati pada perempuan yang terlihat kuat itu, Rasya hanya bisa membayangkan kehidupan kelam seperti apa yang dia lalui di masa lalu.


Setelah mengganti penampilan agar sulit dikenali, ketiganya pun berpencar untuk melakukan misi yang berbeda.


Rasya diperintahkan pergi ke sumber listrik yang nantinya akan dihancurkan untuk pengalihan, lalu Farhan akan pergi ke gudang senjata, tempat dimana jalan keluar rahasia berada, sedangkan Rayhan akan memasuki markas Serigala Hitam untuk menyelamatkan Asami.


Walaupun Rayhan sadar jika Karin pasti bisa menyelamatkan Asami seorang diri, tetapi Karin khawatir jika Asami yang hendak diselamatkan tidak mempercayainya sebagai sekutu lalu berakhir dengan penolakan pergi bersamanya.


Karena itulah keberadaan Rayhan sangat dibutuhkan untuk meyakinkan Asami.


Keadaan pasar gelap tiba-tiba menjadi gaduh membuat ketiganya sempat khawatir jika sudah ketahuan. Tetapi ternyata kegaduhan itu disebabkan oleh pengumuman dari pengawas tempat itu.


Pengumuman itu terlihat penting karena menggerakkan setiap penjahat di pasar gelap, Rayhan yang penasaran pun mencoba melihat apa yang terjadi.


Tidak sulit untuk mengetahui pengumuman apa itu karena hampir di setiap layar televisi di pasar gelap menayangkan pengumuman yang sama.


"Wow, itu uang yang sangat banyak." Gumam Farhan.


Ketiganya tertegun saat melihat poster buronan berhadiah Sepuluh Juta Dolar untuk Seorang perempuan berhelm besi yang tidak lain adalah Karina.


___________________________________________


[Dead or Alive]


Target: Iron Maiden


Pelanggan: Vincent Rasalty


Bounty: $10.000.000


___________________________________________


Karena nama target yang terlihat aneh membuat mereka sempat berpikir jika poster buronan itu ditujukan untuk orang lain. Tetapi foto prempuan berhelm pada poster tidak salah lagi jika itu memang ditujukan untuk Karin.


Rayhan pun segera mengabari Karin tentang poster buronan, namun bukannya ketakutan atau setidaknya merasa sedikit khawatir, perempuannya itu justru tertawa senang.


"Sepuluh juta, oh andai saja aku bisa memotong kepalaku sendiri lalu memberikannya pada mereka."


"Itu sama saja bunuh diri."


Karin meminta mereka agar tidak perlu khawatir dan segera menyiapkan langkah selanjutnya. Sedangkan Karin sendiri bersiap untuk memasuki aula utama menggunakan jalan utama.


Walaupun dia tahu jika akan ada ratusan penjahat dan pembunuh bayaran menanti dirinya, tetapi itu justru yang ia harapkan.


Para penjahat dan pembunuh bayaran bukanlah ancaman untuk Karin, tetapi yang dia khawatirkan adalah mentalnya sendiri. Dia takut menjadi terlalu terbiasa dengan pembunuhan, dia takut menjadi sesuatu yang sangat tidak ia inginkan.


Ingatan masa lalu yang begitu buruk tiba-tiba terlintas di kepalannya, sesuatu yang ingin Karin kubur dan berharap tidak bisa dia ingat lagi.


Mengingat semua itu membuat Karin marah pada dirinya sendiri, dan kebenciannya pada Dewa pun kembali menguasai dirinya.


"Menyebalkan."


Dikuasai amarah Karin membuka pintu yang mengantarnya ke aula utama, seperti yang dia duga seluruh area disekitar jalan masuk sudah dikepung oleh banyak orang yang hendak membunuhnya.


Karin berdiri diam menatap wajah setia orang, pedang perlahan dia keluarkan dari sarungnya. Dia bersiap untuk melakukan pembantaian lainnya.


Tetapi tiba-tiba suara tembakan terdengar, bersamaan dengan itu Karin merasa sebuah peluru dengan cepat menuju kearahnya, tetapi ia tidak melakukan penghindaran karena laju peluru tidak akan mengenainya.


Walaupun tembakan tidak mengenainya, tetapi Karin sangat terkejut mendapati seseorang menggunakan senjata api yang seharusnya dilarang di pasar gelap.


Tidak ada orang yang cukup bodoh menggunakan senjata api di pasar gelap dikarenakan hukumannya hanya satu tapi sangat mengerikan yaitu kematian.


Karena peraturan itulah sejak tadi para penyerang hanya menggunakan senjata jarak dekat saat melawan Karin. Tetapi saat ini ada seseorang yang menggunakan senjata api di pasar.


‘Orang idiot mana yang berani melanggar peraturan tempat ini?.’ batin Karin dan segenap penjahat yang mengelilinginya.


Dia mencari tahu asal tembakan tetapi seketika wajah Karin berubah menjadi lesu begitu menemukan pelakunya yang berada di bagian paling belakang.


‘Ah pantas, tenyata si idiot itu yang melakukannya.’ penembakan tidak lain adalah Vincent si kepala cabang.


"Sudah cukup! Aksi brutal mu berhenti sampai di sini, Iron Maiden!." Vincent mengatakan semua itu sambil menodongkan sebuah AWM (sejenis sniper) kearahnya.


Moncong senjata itu bergoyang tidak beraturan menunjukkan keahlian penggunaannya yang begitu buruk. Semua orang dengan mudah bisa menyimpulkan jika senjata itu terlalu berat untuk digunakan Vincent.


Tetapi pertanyaan terbesar setiap orang adalah kenapa pria itu ada di sini?


Bukankah dia yang memasang poster buronan untuk Karin?


Lalu kenapa dia sendiri ikut dalam perburuan?.


"Dia pasti tidak ingin orang lain mendapatkan sepuluh juta dolar darinya."


Pernyataan Karin sontak membuat setiap orang menatap Vincent dengan tatapan jijik. "Diam kau sampah perusak!." Tembakkan lainnya dilepas, tetapi itu pun tidak perlu Karin hindari.


"Sangat buruk, tetapi dengan ini larangan untuk tidak menggunakan senjata api sudah tidak berlaku bukan?."


Karin mengambil sebuah shotgun dari belakang punggungnya yang tersembunyi di dalam paksain. Shotgun itu milik Roy yang ia dapat saat merampok kantor Rentenir.


Melihat Karin yang membawa senjata seketika membuat sebagian penjahat segera menarik diri untuk mengambil senjata, sementara yang lainnya segera melempar senjata mereka bermaksud melakukan serangan.


Barhasil menghindari setiap serangan, Karin pun mulai serangan balik. Suara tembakan bergema lalu teriakan pun ikut menyusul. Petarung itu begitu inten walaupun satu persatu para penjahat mulai tumbuh.


Jumlah korban tentunya jauh lebih besar dari sebelumnya karena senjata api yang Karin gunakan jauh lebih mematikan dari pedang.


Dari atas seorang perempuan hanya bisa menyaksikan kekacauan yang terjadi di aula utama, dengan perhitungan yang matang dia menyimpulkan jika pertarungan yang sedang terjadi tidak akan berakhir dengan baik.


"Sebenarnya apa tujuannya mengacaukan tempat ini? Apa dia seorang pendendam yang memiliki kenangan buruk di pasar gelap, atau hanya orang baik yang bersikap sok pahlawan?."


Dia berhenti saat memperbaiki posisi kacamata di wajahnya.


"Aku harus segera mengetahui tujuannya sebelum semua penjahat di tempat ini dia bantai."


***


[End]