
"Ahahaha.... Mati!.
Pemuda berambut putih melanjutkan serangannya, aku bisa menghindari itu dengan berbagai cara. Tapi sebelum aku sempat bergerak, Rayhan dengan cepat bergerak di depanku mencoba untuk melindungi.
Tinju berapi mengenai tangan Rayhan yang melindungi dadanya. Rayhan menemukan jika kekuatan pukulan yang terlihat keren karena diselimuti api ternyata tidak begitu kuat, tetapi efek terbakar cukup mengganggu namun masih dalam batas yang bisa Rayhan tahan.
Satu pukulan berhasil dia tahan, sekarang giliran Rayhan melakukan serangan. Sebuah tendangan dari Rayhan mendarat dengan kuat di kepala pemuda yang terbakar, hingga membuatnya terpental.
"Ghaaak!."
Meskipun serangan Rayhan secara telak mengenai titik vital lawannya, tetapi pemuda terbakar masih bisa bertahan. Keduanya saling berhadapan, mengukur kekuatan satu sama lain.
"Kuat," gumam Rayhan.
Aku yang berada di belakang Rayhan saat mendengar ucapan itu hanya bisa tersenyum kaku.
‘Apa yang dia maksud dengan 'kuat'?. Lawannya saat ini sudah kelelahan, hanya 9% energi yang ia miliki, tapi dia menganggap itu masih kuat?.’
Aku tidak menyangka murid yang sudah aku latih selama enam bulan masih buta akan tingkatkan sebuah kekuatan.
Apa karena aku yang terlalu ‘Lembek’ pada mereka?.
Ya, pasti itu penyebabnya.
Setelah mencoba introspeksi diri, aku kembali memperhatikan pertarungan. Rayhan masih tetap bertahan sambil memberikan serangan balik disaat yang tepat, pemuda berambut putih mulai babak belur akibat serangan balik Rayhan.
Jika dipertahankan seperti itu maka pemenangnya sudah bisa dilihat, tetapi tentunya pemuda berambut putih tidak begitu bodoh untuk menyadari keadaannya yang semakin terdesak.
"Tidak bisa percaya jika aku kalah dari manusia saat pertama kali bertarung di dunia busuk ini."
Dia terlihat begitu geram, dari sorot matanya saja aku sudah tahu apa yang akan dia lakukan. Rayhan pun demikian, dia mengantisipasi jika lawannya akan segera kabur.
Dan benar saja, dengan lompatan kuat pemuda berambut putih melompat ke arah jendela. Tetapi...
"Ghaaak!."
Usaha melarikan diri yang ia lakukan aku hentikan dengan melempar tongkat baseball milikku. Pemuda itu terkapar di lantai, dengan nafas terputus-putus dia menatap kearah ku dengan penuh kebencian.
"Sungguh tidak enak dipandang."
Satu tendangan kuat aku layangkan ke wajahnya hingga beberapa giginya tanggal. Emosinya semakin kuat, tapi kemarahannya hanya akan membuat dia semakin lemah akibat efek ultimate skill yang dia gunakan.
Api yang membakar tubuhnya perlahan padam hingga tidak tersisa, itu menandakan jika ia telah kehilangan kesadarannya.
"Apa kau baik-baik saja?."
Rayhan bertanya, entah apakah dia hanya basa-basi atau memang karena peduli.
"Tidak begitu buruk." Jawabku acuh. "Lalu kau sendiri, kau tadi mendapatkan lebih banyak pukulan bukan?."
"Bukan masalah besar," Rayhan menyingkirkan debu di seragam sekolahnya. "Aku sering mendapatkan lebih banyak pukulan yang lebih kuat dari yang bisa diberikannya."
‘Benar, dan di masa depan kau akan mendapatkan lebih banyak dan lebih kuat dari yang pernah kau rasakan.’ aku berniat memberikan Rayhan pelajaran yang lebih intensif dari yang pernah aku berikan.
Kami mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengikat pemuda berambut putih.
"Oh ya, bagian kau bisa datang ke mari begitu cepat?. Apa kau datang begitu mendengar keributan dari teman sekelas ku?."
Rayhan tidak langsung menjawab, dia terlihat kebingungan ingin mengadakan apa.
"Tunggu, jangan bilang kau masih berusaha mencari kelasmu, tapi berakhir kembali ke tempat ini."
"Apa, tentu saja tidak. Seperti yang kau perkirakan sebelumnya, aku menang segera datang ke mari ketika salah satu temanmu mengatakan ada serangan."
Dia kemudian tertawa dengan canggung, dari gelagatnya dan bagaimana dia terkejut saja sudah ketahuan jika Rayhan memang masih tersesat mencari di mana kelas 2-A berada.
Saat tengah mencari tali, kami dikejutkan dengan cahaya terang bersinar di tengah ruangan. Rayhan kebingungan dengan asal cahaya tersebut, sementara aku terdiam mematung.
Ledakan energi sihir membuatku merinding, sudah satu tahun aku tidak merasakan tingkat mana sebesar itu. Terakhir kali aku merasakan perasaan seperti itu saat berada di domain Admin yang namanya bahkan sudah tidak bisa aku ingat.
\[Crile Ceo: So sad\]
"Agh!."
Aku berteriak keras sambil memegang perut.
"Eh, hey kau kenapa?."
"Perutku mendadak terasa sakit, uhuk... Uhuk..."
Perlahan aku terjatuh dengan raut wajah kesakitan. Rayhan menjadi dilema, dia sepertinya sulit untuk memutuskan apakah ingin menolongku atau mewaspadai cahaya yang semakin bersinar terang.
Pilar cahaya semakin melebar, suara langkah kaki terdengar dari dalam cahaya. Rayhan berdiri di depan untuk melindungi ku yang terbaring tidak berdaya.
Sesosok manusia dengan sepasang sayap berkilau keluar dari pilar cahaya dengan begitu dramatis, aku dapat mendengar suara paduan suara terdengar begitu lembut di telingaku.
Wajahnya tertutupi oleh cahaya terang membuat baik aku maupun Rayhan tidak dapat melihat wajahnya.
Kedatangan sosok itu seperti malaikat, ya tapi itu memang benar, Malaikat telah turun ke bumi.
Rayhan terlihat kebingungan, dia tidak mengerti apakah yang dia lihat kenyataan atau tidak. Aku dapat melihat kakinya bergetar seakan menahan sesuatu.
‘Apakah dia ditekan oleh intimidasi?.’
Sosok itu menatapku sekilas, aku mencoba menutupi wajahku dengan rambut yang terurai. Setelah kehilangan minat padaku, dia pun batalin menatap Rayhan yang menggigil semakin kuat.
{Aku sadar jika dunia ini masih memiliki energi sihir yang terbatas sehingga kekuatan kaum kami berkurang.}
Rayhan sangat terkejut mendengar perkataan sosok seperti malaikat itu. Meskipun dia tidak mengerti keseluruhannya, tapi dia memahami jika pemuda berapi-api yang baru saja dia lawan tidak benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya.
{Tapi bahkan sampai kalah pada manusia dengan tingkat seperti ini, sungguh sebuah penghinaan.}
Perkataannya membuat rasa takut mulai tumbuh semakin besar di dalam diriku. Bagaimana jika dia berniat untuk melenyapkan kami karena telah mengalahkan pengikutnya?.
Jika aku melawan sosok itu sekarang maka sudah jelas aku akan sangat direpotkan, terlebih lagi aku tidak tahu seberapa banyak pengikutnya yang berada di sekitar sekolah.
JEDAAAAR!
{Hemm?}
Tiba-tiba kami dikejutkan oleh sambaran petir di siang bolong, jelas itu bukan petir normal. Malaikat itu diam sambil menatap langit. Tidak lama kemudian hujan deras mulai turun.
Tanpa mengatakan apapun sodok dengan sayap di punggungnya itu menarik salah satu kaki pemuda berambut putih dan membawanya menuju pilar cahaya.
Sebelum lenyap masuk kedalam cahaya, sosok malaikat menatap ke arahku. ‘Gawat, apa dia menyadari?.’ jantungku mulai berdebar kencang, aku khawatir jika dia bisa melihat apa yang selama ini aku lakukan.
Tetapi beruntung dia sepertinya tidak sadar karena wajahnya menunjukkan kehilangan minat. Sosok itu pun akhirnya menghilang ditelan cahaya bersama pelaku pembakar ruang kelas ku.
Rayhan terjatuh seakan kakinya begitu lemas, dia pasti sangat ketakutan karena untuk pertama kalinya melihat sosok seperti itu langsung di depan matanya.
Tetapi dia dengan cepat pulih ketika teringat dengan keadaanku. Rayhan segera bangkit lagi walaupun mungkin dia begitu lemah sekarang, tetapi dia tetap berusaha untuk membawaku.
"Hentikan aku tidak apa-apa." Ucapku seraya mendorong Rayhan.
"Jangan sok kuat, tinju pemuda api itu pasti telah merusak organ dalam mu." Tetapi dia tetap berusaha untuk membantu.
Meskipun yang sebenarnya terjadi rasa sakit yang aku rasakan hanyalah sebuah sandiwara untuk mengecoh sodok itu.
Ras malaikat memiliki kemampuan mata yang dapat melihat Dosa makhluk lain. Aku khawatir jika malaikat tadi menggunakan kemampuan matanya padaku akan membongkar identitas ku yang sebenarnya.
Untuk saat ini seperti aku berhasil lolos, tetapi tetap saja pandangannya padaku sebelum malaikat itu pergi cukup membuatku merasa cemas.
***
\[Bersambung\]