
Asami begitu terkejut manakala pintu yang selama berminggu-minggu tertutup mengunci dirinya didalam ruangan itu tiba-tiba dibuka dengan paksaan.
Dia yakin ini belum waktunya untuk membelinya makan, jadi apa yang sebenarnya terjadi? ‘Mungkinkah...’ dia memiliki harapan jika seseorang yang dia kenal akan muncul dari balik pintu itu dan menyelematkan dirinya.
Tetapi harapan itu segera menghilang ketika yang muncul ternyata sesosok babi.
"Gahaha... Ternyata mereka tidak bohong tentang menculik putri si bangsat Tanjung."
Pria bertubuh gemuk dengan hidung lebar seperti babi itu menatap Asami dengan senyum lebar. Melihatnya saja sudah jelas bagi gadis itu jika kedatangan pria babi itu tidak untuk membantunya.
"Si... Siapa kau!." Dengan segenap keberaniannya Asami mencoba bertanya.
"Aku? Aku hanya seseorang yang memiliki dendam dengan ayahmu." Balas pria itu dengan senyuman lebar, tatapannya terasa tidak menyenangkan saat melihat Asami yang meringkuk di pojok ruangan.
"Jadi kau yang telah...."
"Gahaha... Benar akulah yang meminta para orang jahat itu untuk menculik mu." Mendengar itu tatapan Asami berubah penuh kebencian pada Dores di pria babi.
Mendapatkan tatapan itu justru membuat Dores semakin senang, itu membuat dia mengingat para wanita yang telah dia permainan, tatapan mereka sana seperti yang Asami tunjukkan saat ini.
Tatapan penuh kebencian dan amarah, tetapi akan segera berubah menjadi keputusasaan dan ratapan begitu Dores mulai ‘Bermain’ dengan mereka.
"Bencilah pada ayahmu yang menyebabkan semua kemalangan ini, jika saja dia tidak bersaing denganku, kau pasti tidak akan bernasib sial seperti ini."
Dores mulai mendekati Asami, dia tidak tahan untuk segera bermain dengan gadis itu. Di tengah ketakutan Asami terus berharap jika seseorang akan datang untuk menolongnya.
***
"A... Aku telah menjawab semuanya, kumohon lepaskan aku!."
Anggota Serigala Hitam memohon untuk hidupnya. Sebelumnya ia bersama anggota yang lain diperintahkan untuk membalaskan dendam dalam seorang petinggi organisasi yang terbunuh oleh Karin.
Namun bukannya balas dendam terselesaikan justru kelompok mereka dibantai oleh perempuan berhelm besi itu. Hanya pria itu yang tersisa, dia diseret ke sebuah ruangan untuk bersembunyi lalu dia mendapatkan siksaan yang begitu menyedihkan dari Karin dengan tujuan menggali informasi.
"Apa kau mengetahui pria bernama Dores......!"
Karin hendak bertanya lagi tetapi gedoran pintu dari luar membuatnya mengurungkan niat. Persembunyiannya telah diketahui, sebentar lagi ia akan menghadapi lautan manusia yang akan mencoba untuk membunuhnya.
"Waktu habis, huh." Tatapan Karin kembali pada pria yang duduk di kursi dengan tubuh penuh luka akibat siksaan yang ia berikan.
"Katakan padaku kau mengenal pria itu?." Pisau ditangan Karin terarah pada daun telinga hingga melukainya.
"Ya... Ya aku kenal... Dia... Dia si babi itu yang merencanakan semuanya, penculikan lalu dia juga berniat membeli gadis yang selalu kau tanyakan."
Tidak ingin mendapatkan siksaan lebih banyak, pria itu segera mengatakan semuanya yang ia ketahui. Karin yang mendengarnya pun merasa puas. Dalam keadaan seperti itu biasanya Karin akan menepati janjinya untuk membebaskan tawanan, tetapi saat ini berbeda.
Di belakangnya entah berapa banyak pembunuhan yang ingin mengambil nyawanya. Jika ia melepas tawanan maka akan sangat beresiko pada kelangsungan misi. Bagaimana jika dia nantinya dia diselamatkan oleh rekannya lalu menceritakan apa yang Karin tanyakan padanya.
"Itu sangat berbahaya."
Pria itu menangis keras saat merasakan sesuatu yang dingin menempel pada lehernya, dia sadar jika benda tersebut merupakan pedang katana yang telah Karin gunakan untuk membunuh puluhan orang dan rekannya.
Zrat!
"Khook...."
Terasa sangat menyakitkan, darah mulai membanjiri mulutnya membuatnya tidak dapat berbicara, tetapi pria itu masih bisa bertahan. Ikatan yang menahan tubuhnya di kursi telah terpotong membuatnya terbebas.
Karin tidak langsung membunuh pria itu karena dia sudah berjanji. Tetapi dia tetap tidak akan membiarkan dia berbicara sepatah katapun, karena itu Karin memotong pita suaranya.
Pintu berhasil didobrak, puluhan pria dari berbagai organisasi masuk dengan cepat, beragama senjata mengarah pada Karin, berniat mengambil kepala gadis itu.
Tetapi seperti sebelumnya, Karin dapat menghindari serangan yang datang lalu membantai setiap orang satu persatu.
Pria yang sebelumnya mendapatkan siksaan hanya bisa melihat sambil menahan luka dilehernya. Tidak ada kata lain untuk semua yang sedang ia saksikan selain kegilaan.
Ejekan Karin lontarkan pada mereka yang ingin membunuhnya. Lalu tawa layaknya psikopat terdengar saat Karin memotong-motong lawannya.
‘Kejam.’ satu kata yang cocok untuk gadis itu.
Dalam hitungan menit semua orang yang datang sebelumnya dengan bersemangat, kini terkapar di lantai mengerang kesakitan hingga banyak diantaranya yang terbunuh.
"......."
Karin terdiam begitu lawan terakhir telah ia tumbangkan. Tatapannya tertuju pada tangannya yang penuh darah, lebih tepatnya mungkin seluruh tubuhnya sudah dipenuhi oleh darah.
Ia menoleh ke belakang menatap pria yang sebelumnya telah ia siksa. Pria itu hanya menatap Karin, ada ketakutan dimatanya namun entah kenapa pria itu percaya jika Karin tidak akan membunuhnya karena janji yang telah perempuan itu katakan.
"Sebaiknya kau hargai kesempatan yang aku berikan padamu."
Setelah mengatakan itu Karin meninggalkan ruangan. Selanjutnya suara teriakan amarah terdengar di lorong-lorong, tetapi dengan cepat berganti dengan suara rintihan kesakitan dan ratapan pertolongan.
Entah sampai kapan para penjahat di pasar gelap akan menyetor nyawa pada perempuan itu. Walaupun tempat ini memang sarangnya para kriminal keji berdarah dingin, tetapi mereka seharusnya sudah sadar jika hanya kematian yang akan mereka temui jika berhadapan dengannya.
Tidak lama kemudian beberapa orang datang untuk menolong dan membersihkan tempat itu, mereka yang masih selamat segera dilarikan ketempat perawatan.
Anggota Serigala Hitam yang datang menemui pria itu mencoba untuk bertanya tentang penyiksaan yang ia alami. Tetapi mengingat perkataan terakhir Kirana, tentu membuat pria itu tidak akan berani mengatakan apapun.
Bukankan karena pria itu tidak ingin berbicara. Tetap menang karena dia sudah tidak bisa berbicara.
***
Pria parah baya dengan rambut yang mulai dihiasi uban menatap ribuan layar monitor dengan wajah kesal. "Kenapa malah menjadi seperti ini." Gumamnya ketik melihat salah satu monitor memperlihatkan perkelahian antar seorang perempuan dengan puluhan pria.
Vincent Rasalty yang merupakan manajer Pasar Gelap cabang Indonesia. Dia begitu terkejut dengan keadaan tempatnya bekerja saat ini yang menjadi begitu gaduh, berantakan dan menurutnya sama sekali tidak berkelas.
"Sangat menjijikkan," wajahnya begitu kaku melihat beberapa lorong penghubung pintu masuk dengan wilayah utama pasar gelap.
Banyak darah berceceran dan tubuh manusia tergeletak, melihat semua itu membuat Vincent mual.
Semuanya berawal dari perkelahian antar penjaga salah satu tamu dengan anggota organisasi Badak Lore lantaran tamu itu memiliki tiket khusus yang menjadi rebutan banyak pihak.
"Seharusnya semua terkendali. Badak Lore mendapatkan amplop hitam setelah membunuh pria tua itu, lalu mereka akan menukar amplop dengan hadiah yang sepadan. Dengan begitu mereka akan berterimakasih padaku, sehingga posisiku di tempat ini pun akan terjamin. Tetapi malah menjadi seperti ini..."
Vincent baru saja mengatakan jika amplop hitam yang menjadi sumber masalah adalah ide darinya. Karena itu dia berniat mengendalikan situasi seperti semula, tetapi sebanyak apapun orang yang dia kirim seakan tidak akan cukup mengendalikan kekacauan yang disebut orang perempuan itu.
"Diluar kendali, cih... Aku sangat benci kata-kata itu."
***
[End]