
Kembali ke enam bulan sebelumnya.
Asami yang bosan terus ‘Dikurung’ di dalam Tanjung Tower selama berbulan-bulan akhirnya mengutarakan keinginannya untuk kembali bersekolah.
Permintaan putri satu-satunya keluarga Tanjung itu tentu membuat kedua orang tuanya merasa dilema. Satu sisi mereka juga ingin agar Asami melanjutkan sekolahnya, tapi di sisi lain keduanya khawatir akan keselamatan anak semata wayangnya.
Rusdi dan Sayaka tidak ingin Asami mengalami penculikan untuk kedua kalinya. Karena sulit memutuskan mereka pun meminta saran pada kepala pelayan rumah mereka.
"Keadaan memang cukup aman akhir-akhir ini, tapi tidak ada jaminan jika musuh tidak akan menyerang."
Wajah Asami perlahan mulai murung dikala dia merasa jika pelayan dengan helm besi itu akan menyarankan agar dirinya tetap berada di Tanjung Tower karena alasan keamanan.
Tetapi harapannya kembali bangkit setelah kepala pelayan itu memberikan dua pilihan yang bisa membuat Asami bersekolah lagi tanpa khawatir dengan serangan dari musuh.
"Pilihan pertama yaitu membawa banyak bodyguard." Ucapnya.
Asami langsung menolak cara pertama karena dia merasa akan sangat merepotkan jika harus dikawal oleh puluhan pria berbadan kekar kemanapun dia pergi.
Gadis itu tidak ingin orang-orang membuat lelucon aneh tentangnya dan para bodyguard. Karena itu Asami berharap dengan pilihan kedua,
‘Semoga Maiden tidak meminta ayah untuk mendatangkan guru ke rumah.’ batin Asami
"Cara kedua mungkin akan sulit dilakukan."
Mendengar kata ‘Sulit’ yang jarang keluar dari mulut Maiden membuat setiap orang menjadi semakin pesimis. Jika bahkan manusia sekuat Maiden mengatakan cara itu sulit, maka artinya akan berganti menjadi ‘Mustahil’ untuk manusia biasa seperti mereka.
"Caranya adalah membuat Asami menjadi lebih kuat agar dia bisa menjaga dirinya sendiri. Untuk itu aku akan mengajarinya bagaimana caranya bertarung."
Keterkejutan terlihat jelas di wajah Rusdi dan yang lainnya. Tidak pernah sekalipun mereka akan mengira jika Maiden sosok yang paling ditakutin di dunia bawah memilih niat mengajarkan cara bertarungnya pada Asami.
"Apa begitu mengejutkan?." Maiden benar-benar tidak mengira jika setiap orang akan bereaksi seperti itu.
"Aku pikir cara bertarung yang kau gunakan adalah sebuah teknik rahasia. Karena itu sangat mengagetkan mendengar mu akan mengajari anakku." Balas Rusdi.
"Tidak ada teknik rahasia atau semacamnya, setiap orang bisa mempelajarinya." Ucapan Maiden terdengar seakan pelatihan darinya akan mudah dilakukan.
Tatapan Rayhan dan Rasya penuh ketertarikan ketika mendengarkan Maiden yang berniat mengajari teknik bertarung pada Asami. Keduanya juga ingin menjadi lebih kuat agar bisa diandalkan ketika Maiden tidak dalam posisinya melindungi keluarga Tanjung.
Menyadari keinginan kuat kakak beradik kembar itu, Rusdi pun menyatakan pada Maiden untuk melatih keduanya sekaligus. Rayhan dan adiknya sempat khawatir jika Maiden menolak untuk mengajari mereka, tetapi wanita itu mengatakan jika dia tidak keberatan melakukannya.
"Jadi apa keputusanmu putri, apa kau ingin aku ajari bagaimana caranya menendang BOK0N9? Mungkin akan sedikit sulit, tapi aku akan berusaha bersikap lunak padamu."
Sebagai balasannya Asami segera berdiri lalu menundukan kepalanya di depan Maiden. "Mohon bantuannya Sensei!." Ucap Asami dengan sangat lantang.
Walaupun kedua orang tuanya merasa khawatir pada putrinya karena tidak tahu metode pelatihan seperti apa yang akan Maiden ajarkan pada Asami. Tetapi keduanya percaya jika wanita berhelm besi itu tidak akan membuat Asami dalam bahaya.
Kepercayaan yang begitu dalam keluarga Tanjung pada Maiden bukan tanpa alasan. Sudah tidak dapat dihitung banyaknya jasa wanita itu demi keluarga mereka.
Seperti Rayhan dan Rasya, mereka juga sudah mengaggap Maiden sebagai bagian dari keluarga Tanjung.
"Baiklah kalau begitu mulai besok kita akan mulai berlatih."
Senyum wanita itu mengembang dibalik helem besinya, dia mengingat beberapa ingatan tentang masa lalunya. Sudah ribuan kali dia mengajarkan cara bertarung pada pasukan kerajaan yang akan melakukan pasukan Raja iblis.
"Kupikir kalian mungkin bisa memasuki ranah para pahlawan. Tapi itu akan sulit tanpa adanya kekuatan sihir."
Tidak ada seorangpun yang menahan apa yang baru saja Maiden katakan.
Waktu berjalan begitu cepat, enam bulan berlalu begitu saja. Pelatih yang diberikan Maiden untuk ketiganya memang tidak sesuai dengan apa yang wanita berhelm besi itu katakan.
Awalnya memang terasa mudah ketika Maiden mengajarkan teknik paling dasar yaitu teknik pernafasan. Tetapi seiring berjalannya waktu intensitas pelatihan semakin meningkat hingga pada titik terlalu berat untuk dijalani oleh ketiganya.
Ketika Maiden mengatakan itu mudah, ketiganya justru merasa kesulitan seakan tengah dilatih menjadi Super Human.
Kemudian saat Maiden mengatakan akan melakukan pelatihan dengan cara lembut, ketiganya justru merasa sangat tersiksa seperti budak yang dipaksa membangun Piramida.
Tetapi tanpa kata menyerah ketiganya terus berjuang bersama hingga bisa melalui semuanya.
\*\*\*
Di sebuah hutan yang terletak di luar kota, Karin bersama keluarga Tanjung dan dua kakak beradik mengunjungi sebuah vila. Tujuan mereka bukan untuk rekreasi melainkan melaksanakan ujian kelulusan.
"Seperti yang sudah kalian ketahui jika ujian ini akan menjadi penentu apakah Asami bisa kembali ke sekolah atau tidak."
Setelah menghabiskan waktu enam bulan berlatih bersama, ketiganya kini menghadapi ujian yang sebenarnya yaitu melawan guru mereka sendiri.
Walaupun ketiga merasa jika melawan Maiden adalah sesuatu yang mustahil untuk dimenangkan, terutama setelah mereka merasakan sendiri betapa tidak masuk akalnya kekuatan wanita itu.
Tetapi mereka tidak akan menyerah tanpa usaha apapun. Ketiganya akan mengeluarkan semua yang telah dipelajari dari Maiden setelah latihan neraka selama enam bulan yang telah mereka lewati.
Rusdi dan istrinya tidak diperbolehkan mendekat wilayah ujian, sehingga mereka pun hanya bisa menonton dari dalam vila melalui monitor. Keduanya merasa kagum melihat perubahan besar yang terjadi pada putrinya, Rayhan dan Rasya.
Ketiganya memiliki ketegasan kuat terlihat jelas di wajah mereka, serta sorot mata tajam penuh kewaspadaan. Dalam waktu enam bulan ketiga seakan menjadi sosok yang berbeda.
"Ujian yang akan aku berikan sangat sederhana."
Mereka memasang tatapan tidak percaya dengan perkataan Maiden. Dari pengalaman yang telah mereka lewati, perkataan wanita itu selalu berkebalikan dari apa yang sebenarnya akan terjadi.
"Tidak, ini sungguh sangat sederhana."
Dari sakunya Maiden mengambil dua lonceng kecil yang terikat benang.
"Jika kalian suka menonton anime, kalian pasti mudah memahami ujian yang akan kita lakukan."
Rasya membuka lebar matanya seakan menyadari sesuatu, sedangkan Rayhan dan Asami sama sekali tidak bereaksi.
"Pada intinya, ujiannya hanya mengharuskan kalian untuk mengambil kedua lonceng ini dari tanganku. Hanya ada dua lonceng yang berarti hanya dua orang yang akan lulus ujian, sedangkan untuk yang tidak mendapatkan lonceng..."
Maiden menatap ketiganya, dia menghela nafas seakan tahu jika mereka akan menyelesaikan ujian lebih cepat dari semua orang yang telah belajar dengannya.
\*\*\*
Bersambung.