
Emosi Yulianti sedang tidak baik, dia merasa jengkel pada bawahannya yang tidak bekerja dengan benar. Di depannya pemuda berambut putih pelaku dari penyerangan terhadap kelas 2-A berdiri dengan setengah sadar
Pemuda itu seakan bisa pingsan kapan pun.
"Apa yang baru saja kau lakukan!." Tanya Yulianti dengan intimidasi.
"A.... Aku, mendapatkan perintah untuk membersihkan kelas itu...."
"Ya, itu adalah perintah langsung dari saya. Tapi apa yang kau lakukan?."
"Emmm..."
Pemuda itu agak ragu untuk menjawab, tetapi melihat tatapan Yulianti yang seakan ingin membunuhnya, dia pun melanjutkan.
"Aku berusaha membersihkan."
Brrr!
Ruang kepala sekolah bergetar hebat membuat beberapa perabotan terjatuh. Wanita itu benar-benar marah karena jawabannya.
"Samuel Dier Oto, apakah kau begitu bodoh hingga tidak bisa membandingkan antara pembersihan dan penyerangan?."
Pemuda bernama Samuel memikirkan kembali apa kesalahannya, dan dia tidak menemukannya. "Selama ini aku hanya tahu 'Pembersih' itu merupakan tindakan yang dilakukan untuk melenyapkan musuh atau para pengganggu yang meresahkan."
Yulianti tidak dapat berkata-kata mendengar perkataan Samuel. Dia sadar jika Samuel yang merupakan agen petarung hanya pernah melakukan misi pertempuran.
Jadi ‘Pembersihan’ yang diketahui oleh Samuel sangat berbeda dengan ‘Pembersihan’ yang Yulianti inginkan.
Lagian siapa pula yang mengirim agen khusus petarung untuk membersihkan sebuah kelas yang begitu kotor.
"Ini salahku." Ucap Yulianti seraya menutupi wajah dengan telapak tangan, tiba-tiba saja dia merasa kepalanya terasa sakit.
Sesuatu yang sudah terjadi tidak dapat dicegah, Yulianti kini hanya bisa menangani masalah yang ditimbulkan oleh keteledorannya.
‘Aku bisa saja menghapus ingatan semua orang yang menyaksikan pertarungan Samuel, tapi...’
Tatapan Yulianti mengarah pada laptop di meja kerjanya. Alat buatan manusia di dunia ini menampilkan sebuah postingan yang memperlihatkan video pertarungan dan beberapa area terbakar di gedung.
Video itu tidak lain diambil saat Samuel bertarung dengan siswa di sekolah Royal. Posting itu telah dilihat ratusan ribu pengguna internet.
"Mustahil menggunakan kemampuan yang aku miliki untuk membungkam semua orang." Gumam Yulianti. "Manusia memang selalu membuat sesuatu yang merepotkan."
Awalnya Yulianti berpikir semua akan berjalan dengan baik. Menjadi pemimpin di sebuah organisasi terkenal yang hampir runtuh, dan sekolah Royal merupakan tempat yang ideal.
Sekolah terbaik selama puluhan tahun hampir saja berakhir satu tahun lalu, penyebabnya karena ulah seorang murid yang mengamuk.
Akibat insiden itu membuat sekolah Royal ditinggalkan oleh para siswa, mereka mengaggap jika sekolah itu tidak lagi aman karena siswa yang membuat rusuh masih tetap bersekolah di sana.
Keadaan semakin buruk ketika tahun ajaran baru siswa yang mendaftar lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Melihat keadaan sekolah yang semakin buruk membuat para investor memilih untuk berhenti memberikan dana, akibatnya keuangan sekolah pun memburuk.
Lalu di saat itulah Yulianti masuk untuk membeli sebagian besar saham sekolah, dia memiliki rencana besar di masa depan dan rencana itu akan dimulai di sekolah Royal.
Tapi semua rencana yang sudah dia susun dengan matang terancam hancur bahkan saat masih di tahap awal.
"Apa yang harus aku lakukan dengan masalah ini?."
Ketika Yulianti tengah pusing memikirkan cara agar nama baik sekolah masih tetap terjaga. Samuel yang masih berada di ruangan mengatakan jika dia meninggal tongkat miliknya di kelas 2-A.
Mendengar perkataan Samuel, ruangan kepala sekolah sekali lagi bergetar, tapi kalian ini jauh lebih kuat hingga dapat dirasakan seluruh sekolah.
"Cari tongkat itu sampai ketemu, atau kau akan aku masukkan ke alam setelah kematian!."
"Hieee... Kumohon jangan!."
Dengan panik Samuel segera meninggalkan kantor kepala sekolah. Tetapi ketika ia kembali ke kelas 2-A, dia tidak dapat menemukan tongkatnya dimana pun. Samuel pun berpikir jika tongkat itu saat ini berada salah satu dari manusia yang melawannya.
"Aku harus menemukan mereka."
Tubuh Samuel bergetar ketika membayangkan hukum yang akan dia dapatkan jika tidak segera mendapatkan tongkat itu.
***
UKS
"Terimakasih telah membawanya kemari."
"Ini sangat jarang bahkan mungkin yang pertama kali Karin datang dengan orang lain."
Sebagai pembuat onar yang sering berkelahi, Karin sudah sering datang ke UKS untuk merawat dirinya. Tetapi selama ini dua datang seorang diri tidak peduli separah apa luka yang dia derita.
"Hem... Apa jangan-jangan kalian pacaran?." Celetuk Susanti.
Rayhan menjawab begitu panik mendengar apa yang Susanti katakan, sedang Karin hanya memberikan tatapan bosan.
"Tidak mungkin, kami baru saja bertemu hari ini." Balas Rayhan.
"Oh, jadi itu bisa terjadi jika kalian sering bertemu."
Rayhan dibuat semakin panik. Sebagai seorang bodyguard keluarga Tanjung, Rayhan tidak pernah sekalipun memikirkan sesuatu yang berbau romantis. Sikapnya itu sering membuat Rasya adiknya menyebutnya dengan sebutan robot.
Tapi jika ditanya apakah dia akan mencintai seorang gadis seperti pemuda umum di usianya, maka Rayhan akan menjawab...
'Iya'.
‘Tentu saja, kau pikir aku belok!.’
Hanya saja saat ini Rayhan belum menemukan seorang perempuan yang menarik perhatiannya.
"Baiklah, kau bisa kembali ke kelas, biar saya yang akan menjaga Karin."
Jam pelajaran pertama sudah hampir berakhir, jika Rayhan tidak segera kembali ke kelas maka dia akan melewatkannya. Jika itu terjadi maka Rayhan mungkin akan dicap sebagai siswa nakal karena membolos di hari pertama sekolah.
Rayhan sebenarnya tahu hal itu, dia ingin segera kembali ke kelas. Tapi masalah....
"Dia sedang tersesat." Ucap Karin.
"Heeee... Apa kau memuja setan atau semacamnya?. Saran ibu jangan ikut-ikutan perkumpulan aneh." Tapi Susanti sepertinya salah paham.
Tidak ingin rumor aneh tentangnya menyebar di sekolah, Rayhan pun membantah perkataan Karin jika dirinya sedang tersesat. Keduanya pun saling beradu argumen, sedangkan Susanti memperhatikan keduanya dengan senyum kecil.
"Aku pergi!."
Dengan emosi Rayhan hendak meninggalkan UKS, tetapi Karin meledeknya jika tidak mungkin Rayhan bisa menemukan ruang kelasnya. Susanti yang tidak ingin Rayhan ketinggalan pelajaran pun memutuskan untuk mengantarnya.
"Buwahaha." Karin tertawa keras hingga meneteskan air mata, "Lihat-lihat, anak mommy baru masuk sekolah." Ledeknya.
Rayhan awalnya berniat menolak kebaikan hati Susanti, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain karena waktu semakin menipis.
"Oh, aku lupa." Karin menghentikan Rayhan.
"Apa lagi." Pemuda itu semakin emosi.
Karin hanya tertawa melihat Rayhan seperti itu. Dia kemudian melempar tongkat milik Samuel ke arah Rayhan.
"Apa ini?."
"Itu adalah barang bukti yang ditinggal oleh pemuda berapi-api."
Mendengar itu Rayhan berpikir jika Karin tidak ingin Samuel mengincarnya sehingga, gadis itu memilih untuk memberikan tongkat pada Rayhan.
Beberapa saat kemudian Susanti kembali setelah mengantar Rayhan ke kelasnya. Awalnya dia berniat mengobati luka Karin, namun gadis itu sudah tidak ada di UKS saat dia kembali.
Susanti merasa Dejavu, dia hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap Karin baik-baik saja.
Sementara itu di atas atap gedung sekolah, Karin termenung menatap pagar pembatas. Dia teringat di tempat yang sama dirinya dulu ingin melompat untuk bunuh diri.
Tetapi dewa melakukan hal yang tidak perlu dengan mengirimnya ke dunia lain.
"Kenapa aku kembali ke sini, dan kenapa bencana itu datang disaat aku merasa telah memperbaiki semuanya?."
"Apa mungkin ini semua hanya dunia yang sama?."
Terlalu banyak hal yang dia pikirkan. Karin ingin melupakan semuanya untuk sesaat, dia menatap telapak tangannya yang kosong namun perlahan udara panas berkumpul hingga mencipta api yang berkobar semakin besar.
***
[Bersambung]