Return From God Quest

Return From God Quest
34. Hari yang Normal



Dewa selalu digambarkan sebagai entitas tertinggi di seluruh alam. Menjaga keseimbangan dunia adalah tugas mereka. Mengatur takdir, memberikan kebahagiaan, menjadi pelindung hingga menguasai kehidupan bahkan kematian.


Apakah benar demikian?.


Anggaplah demikian, lalu pertanyaan kenapa mereka membutuhkan pahlawan?.


Bukankah dengan kekuatan mereka sendiri bisa melenyapkan semua masalah yang mengancam kehidupan di dunia?.


Tapi kenapa mereka justru mengambil manusia dari dunia yang berbeda sebagai pahlawan. Yang sudah jelas tidak memiliki hubungan atau masalah dengan dunia lain.


Semua pertanyaan yang muncul di benakku terakumulasi membentuk gagasan baru, membuatku secara perlahan merubah sudut pandang terhadap entitas yang disebut dengan Dewa.


‘Apakah sebenarnya mereka hanya parasit?.’


***


Malam berbintang, hutan terasa begitu sunyi walaupun suara hewan dan serangga kerap kali membuat hutan terasa ramai.


Sayup-sayup terdengar suara rintihan kesakitan yang semakin lama semakin terdengar jelas. Suara itu berasal berasal dari sebuah rumah sederhana dengan hanya satu penerangan.


Terdapat seorang perempuan di dalamnya, ia menahan rasa sakit di atas tempat tidur, nafasnya memburu tidak beraturan.


Perutnya yang terlihat membesar menandakan jika ia sedang hamil, dan kini perempuan itu tengah berjuang sendirian melahirkan anak di dalam kandungannya.


Berkali-kali dia mencoba melakukan dorongan tetapi rasa sakit yang tidak tertahankan membuatnya putus asa.


Tidak ada seorangpun ingin membantunya yang tenang mempertaruhkan nyawanya.


Tidak ada seorangpun disampingnya yang memberikan dukungan agar wanita itu tetap bertahan dan terus berusaha.


Dia ditinggal sendirian oleh orang-orang yang telah dia selamatkan. Semua itu karena bayi yang berada di dalam kandungannya.


Garis darah terakhir dari ras yang sangat dibenci, bahkan dewa sekalipun mengutuknya.


Dewa telah memberi tugas pada wanita itu untuk melenyapkan seluruh ras terkutuk, tapi sebuah kesalahan justru membuatnya melahirkan kembali ras yang telah ia musnahkan.


Hampir sepuluh jam berlalu, langit malam bersinar cerah menandakan matahari bersiap menampakkan dirinya, bersamaan dengan itu tangisan bayi pecah di tengah hutan.


Dengan tubuh yang masih begitu lemah, wanita itu mengambil anaknya yang baru saja dilahirkan. Itu adalah bayi laki-laki, dengan lembut wanita itu mencium kening putranya, hingga air mata kebahagiaan tidak kuasa ia tahan.


Dengan penuh kehati-hatian ia merawat bayi itu, memotong tali pusar lalu memandikannya. Dia seakan tidak peduli dengan keadaan tubuhnya sendiri yang telah kehilangan banyak darah paska melahirkan.


Tangisan bayi itu perlahan berhenti saat merasa aman di dekapan ibunya. Senyum mengembang di bibir wanita itu, dalam hatinya begitu senang seakan baru saja mendapatkan harta paling berharga.


Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama mana kala tubuh wanita itu mulai memancarkan cahaya yang perlahan semakin terang.


Ketakutan memenuhi pikiran wanita itu, dia tidak ingin dipisahkan dari anaknya.


Dia takut tidak ada orang yang akan merawat buah hatinya setelah kepergiannya.


Dia takut akan masa depan putranya yang memiliki darah terkutuk. Ia berpikir dunia pasti tidak akan menerima keberadaannya.


"Dewa, aku mohon bawa putraku bersamaku."


Wanita itu memohon dengan penuh kesedihan. Tetapi tubuh bayi itu masih tetap sama, tidak ada cahaya yang bersinar darinya.


Bayi itu terbangun dan kembali menangis, seakan dia mengetahui kesedihan ibunya. Waktu terus berjalan, perpisahan setelah pertemuan yang singkat sungguh terasa sangat menyakitkan.


Bahkan kematian sekalipun tidak begitu menyakitkan dibandingkan apa yang wanita itu rasakan saat ini.


Hingga akhir wanita itu menghilang menjadi serpihan cahaya, meninggalkan buah hatinya yang terus menangisi akan kepergiannya.


***


Triiiing!


Suara alarm membangunkan aku dari tidur. Dengan kesadaran yang masih mengambang aku berusaha untuk mematikan alarm di ponsel. Setelah itu yang aku lakukan hanya menatap langit-langit kamarku.


Biasanya, di pagi hari begitu terbangun dari tidur aku segera beranjak dari kasur untuk melakukan olahraga, tetapi pagi ini aku merasa begitu malas.


Cukup lama aku termenung hingga suara ketukan pintu menyadarkan aku dari lamunan. Rupanya seorang pembantu datang ke kamarku untuk memastikan jika aku sudah bangun.


Pembantu itu lalu menyampaikan pesan jika Kakek sudah menungguku di ruang makan. Mendengar itu aku pun akhirnya turun dari tempat tidur, aku tidak ingin membuat kakek menjadi khawatir.


"Aku tidak berpikir jika cucu kesayanganku akan telat bangun di hari pertamanya menjadi siswa kelas dua." Ucap kakek begitu melihatku menuruni tangga.


"Maaf Kakek karena telah membuatmu menunggu."


Tidak ada respon dari Kakek setelah aku meminta maaf, dia pasti menyadarinya ada sesuatu yang aneh dariku.


"Apa sesuatu terjadi?."


Dengan mudah dia bisa melihatnya, aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya pada Kakek?.


Aku sebenarnya tidak masalah sama sekali untuk mengatakan semuanya, tetapi mungkinkah dia akan mengerti?.


Semua yang akan aku katakan mungkin akan terdengar aneh hingga sangat mustahil untuk dipercayai. Itu terbukti saat aku membicarakannya dengan Panji, rekan ku yang saat ini menjadi seorang pengangguran.


Bahkan seorang Weebo veteran seperti dia pun tidak percaya jika aku telah dikirim ke dunia lain.


"Tidak mungkin." dengan tegas Panji menolak percaya dengan cerita yang aku katakan.


Saat aku bertanya apa alasannya, dia justru mengatakan beberapa hal aneh yang aku tidak bisa pahami.


"Kau tidak memenuhi klasifikasi untuk menjadi pahlawan di dunia lain. Setidaknya kau harus menamatkan 500 judul anime dan menjadi seorang Nolep selama 10 tahun sebagai syarat minimum dipanggil oleh sihir pemanggilan pahlawan."


Aku tidak tahu jika ada syarat seperti itu dalam sihir pemanggilan pahlawan. Kepercayaan diri Panji untuk sesaat membuatku meragukan pengetahuanku tentang sihir.


‘Jika orang paling halu yang aku kenal bahkan tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan. Mana mungkin orang biasa seperti Kakek akan mempercayainya.’


Pada akhirnya aku tidak memiliki pilihan selain mengatakan yang sebenarnya.


"Tadi malam aku bermimpi tentang ayah dan ibu."


Kakek terkejut mendengar itu, dia dengan cepat memahami apa yang terjadi. Dalam sekejap suasana di tempat makan pagi itu menjadi hening, aku sangat menyesal karena merusak suasana hati Kakek.


Aku berusaha untuk mencairkan suasana, itu cukup berhasil karena kakek kembali seperti biasanya. Pada akhirnya kami membuat janji untuk mengunjungi makam kedua orang tuaku nanti.


***


Sekolah Royal memasuki tahun ajaran baru. Sebagai sekolah unggulan sudah menjadi hal wajar jika sekolah itu mendapatkan banyak murid baru. Tetapi berbeda dengan tahun ini, dimana jumlah murid baru menurun drastis hingga kurang dari setengah jumlah tahun sebelumnya.


Bahkan keadaan itu semakin diperburuk oleh para murid yang sudah bersekolah tiba-tiba mengajukan pengunduran diri dan memilih pindah ke sekolah lain. Semua membuat keadaan sekolah Royal menjadi semakin sepi.


Tidak terlalu sulit untuk mengetahui penyebab sekolah Royal ditinggalkan. Banyak aspek yang bisa menjadi penyebab tetapi yang paling berdampak adalah tindakan kekerasan yang terjadi sepanjang tahu oleh satu orang gadis.


Keramaian di pintu masuk sekolah Royal tiba-tiba berhenti, setiap murid lama terdiam seakan seseorang menekan tombol Paus.


Semua murid lama merinding ketakutan, mereka berpikir untuk segala meninggalkan tempat itu, tetapi ketakutan yang mereka rasakan membuat mereka tidak dapat bergerak.


Keheningan mencekam seketika membuat murid baru bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Sepertinya masih banyak yang belum tahu tentang keadaan sekolah Royal saat ini.


Semua itu terjadi hanya Karena kedatangan satu orang.


Seorang gadis yang terlihat begitu cantik dengan rambut hitam panjang tergerai lurus, tatapan mata tajam miliknya sangat menarik perhatian. Seragam sekolah yang dia kenakan tidak begitu mewah seperti murid normal. Namun pemukul baseball yang ia bawa seakan memberitahu pada semua orang agar tidak mendekat.


"Hari yang normal." Ucap Karin.


Dia hendak pergi ke kelas barunya, tapi tiba-tiba keributan terjadi di belakang ketika sebuah mobil sedan tiba di depan sekolah Royal.


Saat Karin melihat mobil yang sudah dikerubungi para murid, dia langsung sadar apa yang membuat para murid menjadi begitu ribut.


***


[Bersambung]