Return From God Quest

Return From God Quest
26. Panggilan Telepon



"Sepertinya kau sudah menemukan sang putri."



Mendengar suara yang sangat ia kenali membuat Rayhan sadar jika Karin telah datang membantunya, selain itu Rasya dan Farhan juga datang bersama perempuan itu.



"Asami!."



Rasya segera menghampiri Asami lalu segera memeluknya, merasa telah aman Asama pun mulai menangis, Rasya mencoba menenangkan sahabatnya.



Sedangkan Rayhan mulai kehilangan kesinambungan karena luka yang ia derita, tetapi Farhan segera menangkapnya sebelum pemuda itu terjatuh.



"Sialan, siapa kalian..... Gyaaaa!."



Dores memekik keras merasakan tangannya yang dicengkeram oleh Karin mulai terasa sakit, Karin memeras telapak tangan Dores hingga terdengar suara tulang yang diremukkan. Dores hendak membalas dengan pukulan tetapi dia segera bertekuk lutut manakala Karin semakin kuat cengkraman tangannya.



"Berhenti-henti, sialan!."



Karin hanya diam melihat Dores yang terus memohon ampun. Rayhan dan yang lainnya hanya diam saat melihat Karin mengangkat shotgun ditangan kirinya.



Saat masih meringis kesakitan Dores merasa aneh karena keadaan menjadi hening. Matanya yang tertutup oleh darah membuatnya sulit melihat jika saay ini sepucuk senjata api tengah diarahkan ke kepalanya.



Melihat Karin mencondongkan senja, keempatnya berpikir jika hidup Dores akan segera berakhir. Tetapi secara tak terduga Karin kembali menurunkan senjata.



Dia seakan bingung.



"Sebenarnya aku ingin dia tetap hidup agar aku bisa menyiksanya secara perlahan, tetapi...."



Karin menoleh menatap Rayhan.



"Dia sudah mengenali mu, jika tetap dibiarkan hidup maka akan banyak masalah yang datang di masa depan."



Diren sontak panik setelah mendengar perkataan Karin.



"Dasar perempuan bodoh, kau pikir apa yang akan kau lakukan! Aku Dores Pigeon, bangsawan di dunia hitam. Jika kau membunuhku maka seluruh penjahat di dunia ini akan memburu mu. Tidak ada yang bisa melindungi mu, seluruh keluargamu akan..... Gyaaaaa...."



"Ya seperti itulah."



Karin meremas lebih kuat telapak tangan Dores karena bosan mendengar perkenalan diri dan ancaman yang dia pikir membosankan.



Rayhan dan yang lainnya memahami resiko yang akan terjadi jika Dores dibiarkan hidup, karena itu mereka lebih berharap agar pria babi yang hendak menodai Asami dibiarkan mati.



Tetapi Karin justru berpikir sebaliknya.



Walaupun di kehidupan ini Karin tidak mengalami apa yang Dores lakukan di masa lalu, namun ingatan yang ia miliki masih tergambar jelas hingga membuat dendam di hatinya semakin kuat.



Senjata kembali terangkat, tetapi kali ini Karin tidak mengarahkan selongsong shotgun itu ke kepala Dores, melainkan bagian bawah diantara kedua kalinya.



Dor!



Jeritan yang lebih keras terdengar manakala seekor burung ditembak jatuh. Jarak tembakan yang begitu dekat membuat burung itu hancur berantakan. Melihat burung yang hancur menjadi daging tumbuk membuat Rayhan dan Farhan merasa ngilu melihatnya.



Rasa sakit yang begitu kuat membuat Dores kehilangan kesadaran.



"Sekarang hanya tersisa negosiasi."



Karin membuka ponselnya hendak menghubungi seseorang.



\*\*\*



Di dalam sektor perawatan medis yang dipenuhi suara rintihan, Saskia saat ini sedang menatap Vincent yang terbaring sakit di ruang perawatan.



Tubuh wanita berkacamata itu bergetar, bukan karena takut orang suara ratapan ratusan orang di dalam rumah sakit, mesinnya dia merinding ngeri setelah melihat pertarungan yang terjadi di aula utama pasar gelap beberapa menit lalu.



"Sebenarnya dia apa? Aku tidak akan percaya jika ada manusia yang bisa seperti itu. Dia seperti monster."



Gambaran sosok mengerikan yang berdiri di atas tumpukan mayat terus terngiang-ngiang di pikirannya.




Akhirnya karena ketua cabang yang tidak bisa bertugas membuat Saskia mengambil posisi Vincent untuk sementara. Hal pertama yang Saskia lakukan setelah menjabat sebagai ketua cabang adalah menghentikan serangan berhadap Iron Maiden.



Begitu penyerang menarik diri, Saskia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Dia hanya diberi informasi jika Iron Maiden bergerak menuju markas Serigala Hitam.



"Apa yang harus aku lakukan?."



Karena sistem negara yang penuh lubang telah memberikan kemakmuran bagi bisnis ilegal, alhasil perseteruan antara organisasi gelap jarang terjadi. Keadaan yang damai itu membuat pasar gelap cabang Indonesia tidak pernah mengalami masalah sebesar ini.



Kepala Saskia menjadi sakit seakan ingin meledak ketika memikirkan cara untuk menangani pengacau yang masih berada di dalam tempat kerjanya.



Dia tidak bisa membiarkan prempuan itu tetap berada di dalam Pasar gelap, selain menghentikan perdagangan, resiko pertempuran lanjutan pun bisa terjadi kapan saja.



Beberapa organisasi berdarah panas yang tidak terima anggota mereka terbunuh, mungkin saat ini mereka sedang menghimpun kekuatan untuk melakukan balas dendam.



Jika terjadi perang gelombang kedua Saskia tidak bisa membayangkan banyaknya korban yang jatuh. "Memikirkan kerugian akibat kematian para aset saja sudah membuatku sesak nafas." Ungkapnya.



"Lalu kenapa markas Serigala Hitam? Apa ada sesuatu di tempat itu atau mungkinkah tujuannya menyusup ke markas para lintah darat hanya karena ingin beristirahat?."



Jika tebakannya benar maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang. Tetapi Saskia tidak ingin gegabah, dia harus mendapatkan lebih banyak informasi sebelum melakukan serangan terakhir.



Karena jika serangan selanjutnya tidak berhasil makan tidak ada cara lain selain menyerah pada cabang di negri ini. "Seandainya itu terjadi maka terpaksa aku akan menjalankan prosedur ‘Pembilasan’."



Cara terakhir yang enggan Saskia lakukan karena bisa membuatnya dalam masalah besar.



"Aku akan kehilangan pekerjaan jika itu terjadi."



Saskia tidak tahu apa yang akan dia lakukan seandainya tempat kerjanya di pasar gelap ditutup.



"Seandainya Iron Maiden itu mau bernegosiasi, aku mungkin akan melakukan yang ku bisa agar dia mau pergi dari tempat ini...."



Demi bertahan dari pekerjaannya Saskia siap untuk berunding. Tetapi dia sadar jika pembunuhan berdarah dingin yang ia lihat beberapa saat lalu pasti tidak akan melakukan itu.



"Ada kemungkinan jika perempuan itu hanya seorang psikopat yang melakukan pembunuhan untuk bersenang-senang. Jika itu alasannya maka tidak akan ada jalan untuk kami bernegosiasi."



Keluar dari rumah sakit, Saskia langsung di jemput oleh beberapa orang yang berasal dari organisasi berbeda. Mereka mengatakan jika ketua tiap organisasi sedang menunggunya.



Saskia sadar jika ini akan terjadi. Mereka yang mengalami kerugian dari permintaan Vincent dalam perburuan kepala Iron Maiden pasti akan menuntut ganti rugi.



Walaupun mereka tidak diwajibkan untuk ikut serta, tetapi kerugian yang terlalu besar membuat seseorang seringkali lebih senang menimpakan kesalahannya pada orang lain.



"Mungkinkah mereka akan menuduh jika poster buronan yang dibuat Vincent adalah jebakan untuk melemahkan kekuatan organisasi mereka."



Saskia bisa membayangkan berbagai macam tuduhan yang ajan dilontarkan para pemimpin organisasi gelap padanya.



Mau tidak mau Saskia harus menemui mereka, walaupun sebenarnya dia merasa enggan karena orang-orang kasar itu pasti akan bertindak kasar padanya.



Tetapi dia tidak memiliki pilihan lain, kecuali...



"Hem?."



Tiba-tiba ponselnya berdering, Saskia merasa tidak mengenal nomor telepon yang menghubunginya. Dia berpikir untuk menantikan ponselnya karena tidak ingin membuat para pemimpin organisasi gelap menunggu.



Namun entah kenapa firasatnya mengatakan untuk membuka panggilan Itu.



"Terserahlah."



Dia pada akhirnya tidak mengandaikan panggilan, selanjutnya dia merasa nitu adalah pilihan terbaik yang ia ambil. Bibir Saskia sedikit bengkok membentuk senyuman. Dia tidak menyangka jika sumber masalah yang membuatnya sakit kepala akan menghubunginya.



"Baiklah, mari kita bicara Iron Maiden."



\*\*\*



\[Bersambung\]