
Amplop hitam adalah ide yang brilian, setidaknya itulah anggapan Vincent terhadap ide buatannya sendiri.
Memberikan amplop hitam pada tamu acak, mengadakan kontes berburu pemegang amplop yang bertujuan untuk meramaikan dan memberikan hiburan bagi para penjahat yang bosan.
Hadiah yang ditawarkan akan cukup membuat organisasi besar tertarik ikut dalam perburuan.
Namun Pasar gelap adalah tempat dimana pendosa dan pelanggar hukum berkumpul, peraturan yang ada di tempat itu pun patut dipertanyakan. Begitu juga dengan Vincent yang sama sekali tidak secara adil menjalankan permainan amplop hitam.
Dia tidak memilih secara random tamu yang akan diberi amplop hitam, tetapi dia sengaja memilih mereka yang dia anggap ‘Mengganggu’ untuk menjadi sasaran.
"Menyingkirkan mereka yang menentang ku, dengan begitu tidak ada yang mampu menghalangiku menguasai seluruh organisasi hitam. Dunia gelap negri ini sudah pasti akan berada di tanganku."
Vincent begitu bangga dengan rencananya, tetapi bahkan rencana sempurna pun tidak lepas dari kemungkinan kegagalan. Dia sadar itu, tetapi tidak mengira kegagalan rencana sempurnanya akan terjadi begitu awal.
"Ini tidak beres."
Dia mulai memikirkan beberapa skenario sabotase, mungkin saja ada seseorang yang sengaja mengundang seorang ‘Algojo’ untuk merusak rencananya.
‘Benar pasti demikian.’
Vincent seketika menjadi begitu marah karena ada seseorang berani mengacau rencananya yang begitu brilian. Dia tentu tidak akan tinggal diam dan akan menuntut balas.
"Cari si bodoh yang membawa perempuan gila itu ke mari!."
Mendapati perintah atasan, sekertaris wanita berkacamata yang sejak tadi berdiri dibelakang Vincent segera menghubungi para penjaga Pasar gelap.
Kemudian tidak butuh waktu lama hingga penjaga pasar gelap menangkap Baiden. Pria tua itu begitu tenang saat dibawa ke hadapan Vincent, seakan Baiden tahu jika ini akan terjadi.
Baiden menjawab tanpa tekanan mengatakan apa yang ia ketahui tentang perempuan berhelm besi, Vincent tentu tidak serta-merta mempercayai apa yang keluar dari mulut pria Itu.
Tidak ada sesuatu yang berguna dari penjelasan Baiden, satu-satunya petunjuk yang bisa mengungkap identitas perempuan itu adalah organisasi pengawal swasta tempatnya bekerja.
Tetapi setelah diselidiki lebih jauh ternyata perempuan itu dan tiga rekannya ternyata bukan pengawal yang perusahaan itu Kirin untuk melindungi Baiden.
Mengetahui informasi itu Baiden sama sekali tidak terkejut, dia sudah curiga sebelum datang ke pasar gelap tepatnya saat dia melihat semua anak buahnya dihabisi oleh perempuan itu seorang diri.
Namun dia masih belum yakin saat itu, hingga kecurigaan Baiden semakin menguat manakala prempuan itu tidak segan ketika berhadapan dengan organisasi Badak Lore.
"Jadi siapa dia?." Vincent bertanya kembali.
"Aku tidak tahu." Baiden menjawab acuh, tetapi dia segera menambahkan setelah melihat Vincent yang penuh kemarahan melotot kearahnya.
"Dia memperkenalkan diri sebagai Aiden."
"Maiden?." Vincent salah mendengar.
"Bu... Bukan itu...." Baiden hendak membenarkan tetapi Vincent segera memerintahkan bawahannya untuk mengeluarkan Baiden dari ruangan itu.
Tatapan Vincent kembali fokus pada layar monitor yang memperlihatkan perempuan berhelm besi saat ini sedang menuju aula utama.
"Maiden? Nama yang aneh... Sekalian saja aku tambahkan namanya agar menjadi lebih keren."
Vincent menulis sesuatu pada secarik kertas, "Kira-kira seberapa banyak Bounty yang harus aku berikan?." Dia berusaha keras menghitung hadiah yang akan diberikan untuk kepala Karin.
Kertas yang Vincent tulis tidak lain adalah permintaan pembunuhan yang akan dia sebar keseluruhan Pasar gelap.
Setelah menghitung dengan seksama Vincent akhirnya memasukkan sejumlah angka yang cukup besar nilainya, tetapi sekertaris wanita yang melihat jumlah Bounty menyarankan agar Vincent menambah lebih banyak.
Mendengar saran sekertaris nya tentu membuat Vincent marah, "Apa sebanyak ini masih belum cukup!." Bentaknya, tetapi wanita berkacamata itu samasekali tidak menghiraukan kemarahan atasannya dan justru memberikan penjelasan.
Dari penjelasan yang diberikan oleh sekretarisnya, Vincent pun sadar jika perempuan itu benar. Tidak mungkin hadiah sebesar itu akan menggerakkan pembunuhan terbaik, justru yang bisa terjadi adalah pembantaian lain ketika para keroco mencoba untuk menghadapi ‘Maiden’.
Saat Vincent sibuk bergumam sambil menulis Bounty dengan penuh amarah, sekertaris itu hanya menatap monitor dengan tatapan tajam.
Dengan sekali lihat saja semua orang bisa menyadari jika wanita itu jauh lebih berkompeten untuk memimpin sebuah organisasi dari pada atasannya sendiri.
"Hem!."
Sekertaris itu terkejut ketika Karin menatap kearah kamera, tatapan mereka bertemu seakan mata dibalik helm besi itu menatap langsung kearahnya.
"Monster." Ucapnya saat merasakan tubuhnya bergetar karena ketakutan hanya karena melihat tatapan Karin.
\*\*\*
Setelah keluar dari ruang penyiksaan tidak ada lagi yang mengejar, tetapi itu tidak membuatku senang sama sekali.
"Mereka pasti menungguku di aula utama.".
Aku berpikir setiap organisasi pasti tidak ingin kehilangan lebih banyak anggota, karena hal itu bisa menyebabkan posisi mereka di tempat ini turun.
Semakin banyak anggota maka kekuatan organisasi semakin besar, itu berpengaruh pada posisi dan kekuasaan organisasi di dunia gelap. Yang berarti kehilangan banyak anggota bisa berakibat fatal bagi suatu organisasi.
Karena itu aku berpikir jika mereka bersiap melakukan serangan besar-besaran untuk mengakhiri semuanya.
Mereka pasti akan melakukan serangan itu ditempat yang luas. Dan tempat itu adalah aula utama.
Selama ini pertarungan Karin menang dilakukan di lorong-lorong sempit yang memungkinkan perempuan itu bisa melawan tiga hingga empat orang sekaligus, dia pun tidak takut dikepung saat bertarung ditempat sempit.
"Apa mereka juga sudah memasang Bounty pada kepalaku?."
Tatapanku tertuju pada kamera yang terus mengawasi. Aku yakin pria idiot yang menganggap dirinya adalah bos di tempat ini pasti sedang mengawasi ku, bersama dengan si otak yang mengendalikan segalanya dari belakang si idiot.
Setelah memastikan jika jaringan aman, aku segera menghubungi empat rekanku dan bertanya tentang tugas mereka.
"Aiden kau masih hidup?." Rayhan yang pertama beraksi dengan panggilanku.
"Kenapa kau begitu terkejut? Apa kau berharap sebaliknya?."
"Hah! Bagaimana mungkin kakak akan berpikir seperti itu. Jika kau terbunuh maka giliran kami yang mereka incar." Suara Rasya terdengar begitu marah.
"Aku mengerti, tidak begitu penting keadaanku seperti apa. Yang jelas selama aku masih hidup, kalian akan tetap aman." Itu adalah sarkasme takut ucapkan.
Keadaan menjadi hening sejenak, sampai Rasya meminta maaf karena ucapannya.
"Tidak perlu meminta maaf, karena memang itulah tugasku."
Sebelum keadaan canggung bertahan lebih lama, aku pun mulai menanyakan beberapa hal yang menjadi alasan kenapa aku menghubungi mereka.
Pertama adalah penyusupan ke aula utama, ketiganya pergi lebih dahulu saat aku sedang menarik keributan untuk pengalihan.
"Dengan yakin aku bisa menyatakan jika misi penyusupan sukses." Kata Farhan.
"Itu hal yang bagus, setidaknya usaha kerasku membuat tangan berdarah seperti ini tidaklah sesuatu yang sia-sia." Balasku.
Rayhan dan Rasya segera berterimakasih untuk apa yang telah aku lakukan. Kemudian misi kedua setelah berhasil menyusup ke aula utama adalah pencarian informasi.
Mereka mengatakan jika berhasil menemukan markas Serigala Hitam, tetapi sayangnya tidak tahu secara persis tempat Asami disembunyikan. Mendengar itu pun aku memberikan informasi yang aku dapatkan dari anggota Serigala Hitam yang aku interogasi.
\*\*\*
(Bersambung)