
Setelah kepergian Karin, kepala sekolah yang baru Yulianti hanya menatap pintu keluar. Tidak diketahui apa yang sedang ia pikirkan, hingga...
"Cih, human."
Suaranya terdengar begitu kesal dan merebahkan.
Wanita itu kemudian memejamkan mata seakan sedang berkonsentrasi, tetapi tidak lama dua mendengus kesal.
"Dunia sialan ini, menggunakan sihir panggilan saja tidak bisa." Yulianti memijat kepalanya walaupun tidak merasa sakit.
"Terpaksa aku harus menggunakan alat dari peradaban hina ini."
Dengan kesal Yulianti mengambil ponsel di sakunya, lalu menghubungi satu dari dua kontak di ponsel tersebut. Dia menunggu cukup lama hingga akhir panggilan tersambung.
[Yuli, kenapa kau menghubungiku menggunakan benda ini!]
Suara pria dari ponsel juga sama kesalnya seperti Yulianti.
"Memangnya ada opsi lain, apa kau lupa jika dunia ini masih dalam tahap awal?."
[Ah... Tentu saja aku tahu itu, tapi tetap saja menggunakan alat ini agak membuatku tidak nyaman]
Yulianti menghela nafas panjang, kepalanya mulai terasa sakit akibat menggunakan ponsel.
[Jadi ada apa? Aku harap kau menghubungiku bukan untuk mengobrol]
"Tentu tidak, aku hanya ingin melaporkan jika baru saja aku bertemu dengan subjek yang sempat diwaspadai oleh ketua."
[Oh, Maksudmu gadis yang suka memukul menggunakan tongkat itu. Jadi bagaimana menurutmu?]
"Tidak banyak yang bisa aku lihat darinya, gadis itu terlihat seperti yang lainnya. Sulit mengetahui secara pasti jika aku tidak menggunakan kemampuan penilaian."
Yulianti mengambil berkas dari laci meja kerja, berkas-berkas itu berisi catatan informasi beberapa murid sekolah Royal yang digolongkan menjadi beberapa kelompok, misalnya kelompok Patut dipertimbangkan, kelompok Tidak berguna, kelompok Perlu diwaspadai dan yang terakhir kelompok Berpotensi mengancam.
Diantara tiga pengelompokan murid, kelompok Perlu diwaspadai adalah yang paling sedikit, dan Karin masuk pada kelompok tersebut. Sedangkan kelompok Berpotensi mengancam masih kosong.
"Aku pikir peringkatnya harus diturunkan menjadi Patut dipertimbangkan." Ucap Yulianti.
[Hey, tidak bisa seperti itu. Kau hanya melihat semua orang dari takaran yang kau tetapkan. Jangan samakan rakyat jelata dengan para pahlawan]
"Ya, mau bagaimana lagi, semua anak di sini lemah hingga aku tidak bisa menentukan kelompok mana yang tepat setiap anak."
Setelah berbicara beberapa saat, Yulianti berniat menutup ponselnya karena rasa sakit kepala yang semakin parah, tetapi sebelum itu dia bertanya tentang pekerjaan temannya.
[Kau pasti akan terkejut mendengar ini]
"Hem?."
Wanita itu heran ketika mendengar suara rekannya yang begitu bersemangat. Setelah mendengar cerita dari rekannya, Yulianti pun kembali terdiam.
[Bagaimana menurutmu?]
"Jujur aku tidak mengira ada manusia yang seperti itu di dunia yang damai ini. Kau yakin tidak memiliki informasi lain tentang orang ini?."
[Informasi yang aku dapatkan dia cukup aneh karena menutupi wajah dengan helm besi]
"Helm besi, itu pasti cara agar dia tidak dikenali. Lalu apa lagi?."
[Terakhir dia bekerja pada sebuah keluarga bernama Tanjung, seperti putri keluarga itu bersekolah di sekolah yang sedang kau kelola]
Yulianti menutup ponselnya setelah mendengar yang ingin dia dengar. Tatapannya kemudian kembali pada berkas di atas mejanya.
Dia mengambil tiga berjas dari kelompoknya Tidak berguna, dimana masing-masing berkas itu berisi catatan informasi putri keluarga Tanjung dan dua bodyguardnya. Yulianti memindahkan berkas ketiganya ke kelompok Parut Dipertimbangkan.
"Aku rasa ini sudah cukup..."
"Tunggu, entah kenapa aku merasa melupakan sesuatu."
Yulianti berpikir keras tapi tidak menemukan apa yang dia lupakan, hingga tatapannya melihat berkas informasi milik Kirana yang ingin dia bereskan.
"Ah, benar tentang kelas 2-E, aku perlu mengirim seseorang untuk membersihkan tempat itu. Cih sangat merepotkan."
***
Tatapan mereka semua tertuju padaku saat aku masuk. Setelah aku perhatikan tidak ada satupun kursi yang sudah di duduki, mungkin mereka terlalu jijik untuk duduk di kursi sekor itu.
"Aku sudah melaporkan hal ini pada kepala sekolah, tapi aku tidak yakin dia akan melakukan sesuatu." Ucapku pada mereka.
Mendengar itu mereka pun mulai berbisik satu sama lain.
"Serius, kepala sekolah itu tidak akan bergerak walau Batkiller sendiri yang meminta?."
"Bukankah nyali babi itu cukup kuat."
"Aku dengar jika kepala sekolah telah diganti."
"Pantas saja."
Aku tidak begitu suka menguping pembicaraan orang lain jika tidak ada kepentingan khusus. Tetapi aku cukup penasaran dengan sosok ‘Batkiller’ yang disebutkan oleh salah satu dari mereka.
‘Siapa itu Batkiller?.... Apa itu aku?.’
Mengesampingkan julukan aneh yang ku dengar, aku mulai meminta para siswa untuk berkumpul.
Bel telah berbunyi, disaat kelas lain sudah mulai mengajar, tapi kelas kami justru sibuk melakukan bersih-bersih. Para murid dengan patuh mengikuti instruksi dariku.
Meskipun dapat terlihat jika mereka terpaksa melakukan apa yang aku perintahkan, tetapi itu jauh lebih baik daripada sama sekali tidak melakukan apa pun.
Ditengah upaya pembersihan kelas, aku merasakan langkah kaki yang mulai mendekati kelas.
"Apa itu guru?."
Para murid berhenti setelah mendengar perkataan ku. Mungkin mereka merasa senang karena akhirnya bisa beristirahat dari bersih-bersih setelah guru datang.
Tetapi aku merasa janggal dengan perasaan yang ditimbulkan oleh orang yang semakin dekat.
"Aura yang terasa asing, apakah selain kepala sekolah, mereka juga menambahkan seorang guru baru?."
Semua teman sekelasnya tidak mengerti apa yang Karin katakan, mereka semua menunggu dengan harapan guru mereka adalah wanita tampan atau pria cantik.
Mata Kirana melebar seakan melihat sesuatu, dia segera meminta teman sekelasnya untuk menyingkir dari pintu masuk.
"Minggir!." Ucapku saat berusaha menarik seorang siswi yang jaraknya paling dekat dengan pintu.
Tidak ada yang mengerti tindakan Ku, mereka mulai berpikir jika itu adalah penyerangan. Hingga tiba-tiba ledakan besar terjadi sampai menghancurkan pintu masuk.
"Sial, kalian semua pergi ke pojok ruangan!." Aku memberikan peringatan, semua murid yang ketakutan pun menurut.
Api berkobar di pintu masuk, lalu siluet seorang berjubah pun dapat dilihat semua murid. Sosok dari siluet itu berjalan memasuki kelas 2-E tanpa rasa takut akan api yang menghalangi jalan masuk.
"Woaaaahh..."
Setiap siswi berdecak kagum setelah melihat wajah tampan dari orang asing yang baru saja memasuki kelas. Sedangkan aku berbeda...
'Penyihir api!?.'
Pikirku setelah melihat penampilan pemuda berambut putih itu. Dia mengenal jubah dengan Hoodie, laku sebuah tongkat dengan permata berwarna merah di tangan kanannya.
"Apa semua orang sudah berkumpul?." Tanya sosok misterius itu.
Tidak ada satupun anak yang berbicara, mereka pun tidak yakin jika semua murid telah berkumpul karena jumlah mereka yang tidak mencapai setengah dari jumlah tempat duduk yang disediakan.
"Ya, mereka bisa menyusul nanti."
Permata berwarna merah mulai bersinar, aku panik karena tahu apa yang sedang dilakukan pemuda itu. Saat teman sekelas ku berpikir jika tongkat itu hanya mainan anak kecil, aku justru mengaggap benda sebagai senjata yang lebih kuat dari pistol.
"Ini adalah pembersihan, jadi lenyaplah kotoran."
Setelah itu penglihatan ku dipenuhi oleh kobaran api.
***
[Bersambung]