
Hari berikutnya Keluarga Rusdi Tanjung membuat seluruh kota bahkan mungkin dunia gempar. Pasalnya mereka dikabarkan akan menutup diri dalam waktu lama dikarenakan ancaman pembunuhan yang datang setiap hari.
Tiba-tiba secara terbuka keluarga Tanjung melakukan jumpa pers. Rusdi beserta istri dan putrinya mengucapkan bela sungkawa atas beberapa karyawan Tanjung grup yang dibunuh oleh pembunuh bayaran dari organisasi hitam.
"Kami benar-benar merasa prihatin dengan apa yang telah terjadi."
Rusdi meminta maaf secara langsung pada keluarga korban. "Tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengembalikan apa yang telah pergi, namun aku berharap bantuan kecil ini bisa meringankan beban mereka yang telah ditinggalkan." Imbuhan seraya menyerahkan santunan.
Di depan gedung megah Tanju tower, Rusdi mulai pidatonya, ratusan kamera dari berbagai saluran televisi menyoroti pria itu hingga membuat seluruh channel televisi pagi itu menampilkan wajah keluarga Rusdi.
"Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang paling ku sayangi..."
Tatapan semua orang tertuju pada Asami,
"...Itu adalah perasaan yang sangat menyakitkan." Imbuhnya.
"Tetapi ketika tidak ada seorangpun yang mampu memberikan bantuan pada kami, di saat kami putus asa dan merasa dunia kami telah hancur. Bantuan datang dari cara yang paling tidak terduga."
Arah perkataan Rusdi membuat semua orang menjadi penasaran dengan sosok yang berhasil menyelamatkan Asami. Sosok yang saat ini menjadi buruan seluruh penjahat di dunia.
"Seperti seorang pahlawan yang kebetulan lewat, dia adalah sosok yang begitu misterius. Dia tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang akan terjadi kedepannya. Dari apa yang aku dengar sosok itu begitu dingin, tanpa bekas kasih saat berhadapan dengan pera penjahat."
Rasa penasaran masyarakat semakin besar pada sosok misterius yang milyader itu bicara, tetapi sayangnya saat ini sosok tersebut tidak sedang bersama Rusdi.
"Dia berada di sekitar sini, memastikan tidak ada masalah yang terjadi selama pertemuan ini."
Perhatian setiap orang segera beralih ke area sekitar terutama wilayah atap gedung, tetapi mereka tidak melihat seorang yang mengawasi.
"Karena jaminan darinya membuatku merasa aman berdiri disini saat ini untuk berbicara pada kalian semua."
Rusdi terlihat begitu percaya dengan sosok misterius penyelamat putrinya.
Sementara itu ditengah kerumunan seorang pria tiba-tiba mendapat serangan dari belakang, sebuah lengan melilit lehernya begitu kuat hingga membuat pria itu sulit bernafas hingga berakhir tidak sadarkan diri.
Pelaku pencekikan adalah seorang perempuan berpenampilan pelayan dengan helm besi menutupi kepalanya yang tidak lain adalah Karin.
"Pahlawan? Berhentilah menyebutku dengan panggilan konyol itu." Ucap Karin kesal sambil menyeret pemuda yang ia serang keluar dari kerumunan.
Anehnya saat Karin membawa pria itu tidak ada satupun orang yang memperhatikannya. Seakan keduanya kasat mata hingga tidak dapat dilihat.
Karin memasukan pria yang ia bawa ke dalam mobil box. "Bergabunglah dengan teman-teman mu." Setelah mengambil semua senjata, Karin melempar tubuh pria kedalam box yang telah terisi belasan orang dengan keadaan pingsan.
"Itu yang ke 13. Sekarang berapa lagi yang tersisa?."
Karin mengeluarkan ponselnya yang terhubung dengan ribuan kamera pengawas di seluruh area sekitar.
Mengawasi ribuan monitor secara bersamaan tentu sangat mustahil, belum lagi ukuran yang begitu kecil karena digabungkan menjadi satu dalam ponsel.
Tetapi itu bukan masalah untuk Karin, dia dapat melihat semuanya dengan begitu detail, tidak ada satupun yang luput dari pengawasannya.
"Penembak jitu di lantai tiga puluh satu gedung timur."
Karin menemukan sat pembunuh bayaran yang hendak melakukan aksinya. Namun hanya dengan sebilah pisau lempar Karin dapat menggagalkan usaha pembunuhan terhadap keluarga Tanjung.
\[Arrrg!\]
\[Dead shot, what happened?\]
\[I'm getting attacked!\]
\[What! how could it be, we have confirmed that no one has entered the floor you are on\]
Terdengar percakapan antara pembunuh bayaran dari ponsel Karin. Bukan hanya kamera pengawas, gadis itu juga telah meretas semua ponsel dalam radius dua kilometer.
\[Itu pasti serangan dari luar!\]
\[What! Jadi ada penembak jitu yang melindungi target\]
\[I think not sniper, Karena benda yang melukaiku adalah sebuah pisau lempar\]
\[What! Bagaimana itu mungkin, kau Saat ini berada di lantai tiga puluh satu!\]
\[Berhenti mengatakan ‘what’ sialan! Aku tidak tahu bagaimana pisau ini melayang ke arahku, yang pasti aku tidak dapat melanjutkan misi karena terluka\]
Acara jumpa pers berjalan lancar, tidak ada seorangpun tahu apa yang telah terjadi di belakang layar, hanya dalam waktu satu jam selama acara berlangsung Karin telah menangkap tiga puluh pembunuh bayaran.
Efek dari suksesnya jumpa pers membuat empati masyarakat terhadap keluarga Tanjung meningkat pesat. Banyak orang yang memberikan dukungan pada Rusdi saat fia mengatakan akan melindungi keluarga dengan cara apa pun.
Bahkan jika itu berarti melakukan perang terhadap organisasi hitam.
"Apa kalian berpikir keluarga kami akan bersembunyi di dalam lubang tikus hanya karena ancaman kalian? Tidak, keluarga ku bukan pengecut. Demi nama baik keluarga, kami akan melawan hingga titik darah penghabisan."
Pidato Rusdi berakhir dengan sorakan semua orang baik yang berada di tempat itu maupun mereka yang menonton secara live.
Berita itu dengan cepat beredar luas, Rusdi dengan pidatonya telah menarik hati masyarakat. Banyak orang yang berpikir jika keluarga kaya raya itu akan mampu melawan gempuran dari para penjahat.
Namun banyak juga kalangan yang merasa skeptis dan berpikir jika keluarga Tanjung sedang menggali kuburan mereka sendiri. Pidato yang Rusdi katakan tentu bisa diartikan sebagai tantangan terbuka untuk seluruh organisasi hitam.
Mereka memprediksikan jika perusahaan Rusdi akan hancur kurang dari satu tahun akibat banyaknya masalah yang akan timbul dari pidatonya.
\*\*\*
"Apa ini bisa disebut sebagai pekerja paruh waktu?."
\[Ma... Maaf Maiden, aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan\]
"Bukan apa-apa, aku tadi hanya berbicara pada diriku sendiri."
Dua bulan berlalu sejak pidato pak Rusdi menggemparkan dunia. Selama itu banyak sekali pekerjaan yang aku lakukan setelah pulang sekolah.
"Tapi beberapa hari terakhir aku terpaksa bolos."
\[.....\]
Aku merasa sangat bersalah pada Kakek karena sering bolong sekolah. Pekerjaan ku saat ini sering terjadi keadaan mendesak yang tidak dapat ditangani orang lain selain aku, sehingga aku sering meninggalkan kelas ditengah pelajaran.
Apa aku telah menjadi anak nakal?."l
Bagaimana jika nanti aku tidak naik kelas?.
Aku tidak dapat membayangkan betapa kecewanya Kakek jika apa yang aku pikirkan benar-benar menjadi kenyataan.
"Aaaaa tidak!"
\[Maiden ada apa! Apa kau mendapat serangan?\]
Tanpa sadar aku berteriak ketika membayangkan hal buruk, sehingga membuat khawatir Rasya yang saat ini tengah melakukan misi bersamaku.
"Bukan, bukan apa-apa. Aku hanya mengingat sesuatu yang memalukan di masa lalu."
Aku dapat merasakan kemarahan Rasya yang tiba-tiba dikejutkan oleh teriakanku. ‘Lain kali jika ingin berteriak setidaknya pastikan jika pengeras suara sudah dimatikan.’ gerutu gadis itu.
Walaupun pekerjaan yang aku jalani sangat menyenangkan, tetapi aku tidak boleh mengabaikan pendidikan.
‘Setidaknya aku tidak perlu khawatir tentang ketinggalan kelas karena ingatan tentang ujian Nasional di masa lalu masih bisa aku ingat dengan jelas.’
Langkahku terhenti di depan sebuah kamar hotel, tanpa mengatakan permisi aku segera menendang pintu sehingga membuat semua penghuninya terkejut.
Mereka menatapku dengan tatapan melotot seakan baru saja melihat hantu.
"I.... Iron Maiden!."
"Bagaimana dia tahu tempat ini!."
Mereka menjadi panik, dengan cepat setiap orang mengambil senjata lalu mengarahkannya padaku.
"Hufff..." Aku menghela nafas lelah.
"Sungguh keseharian yang membosankan. Jadi tanpa penundaan lagi mari kita mulai pestanya"
Begitu pintu kamar kembali tertutup, suara tembakan terdengar diikuti oleh suara teriakan membuat keadaan menjadi begitu meriah.
\*\*\*
\[Bersambung\]