
Tak lama kemudian datang tiga ekor beruang hitam yang sangat besar mendekat. Mercia pun mulai menurunkan kewaspadaan nya.
Karena beruang juga adalah mahkluk hidup. Mercia tidak berniat membunuh ketiga beruang hitam itu. Bukan menyerang Mercia malah memberikan beberapa ikan mentah yang ada di ranselnya.
Beruang itu pun pergi menjauh tanpa menyerang. Mereka berenam pun melanjutkan perjalanannya ke desa papan yang hanya tinggal beberapa kilo meter lagi.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di puncak gunung tanpa hambatan. Mercia mulai mengeluarkan piring kaca esnya dan meluncur dari puncak sampai perbatasan desa papan.
Di depan perbatasan Mercia mendapati seorang kakek tua sedang menunggu kedatangan mereka berenam. Mereka pun menghampiri kakek itu dengan sigap.
"Permisi kakek kami dari penyihir dari enam negara besar. Kami di beri misi di desa papan, " sapa Mercia memimpin. Mercia melirik ke arah desa papan dan mendapati desa yang setengah hancur dan hening.
"Kakek apa yang terjadi di sini? Kenapa semua bisa hancur seperti ini, " tambah Mercia menanyakan apa yang terjadi di desa papan.
"Jangan panggil aku kakek!?" teriak sang kakek dengan suara khas seorang kakek tua.
"Desa ini menjadi hancur beberapa hari yang lalu. Semua ini ulah si pria bertindik anting hitam di telinga dan hidungnya, " jelas sang kakek seraya mengajak masuk ke area desa yang aman. Mercia mulai curiga kalau itu adalah perbuatan iriano.
Sesampainya di tempat tujuan. Tempat itu lebih hangat dan nyaman dari pada di hutan. Walau pun rumah itu kecil tapi suasana nya sangat berbeda dengan istana Norea yang hening.
"Sebenarnya apa yang di inginkan oleh Iriano itu? Sampai menghancurkan setengah dari desa ini?" tanya Mercia ingin tau. Sedangkan anggota yang lainnya sibuk memakan makanan yang di buat si kakek.
"Dia mengincar benda ini, " si kakek mengeluarkan sebuah crystal berwarna hijau yang merupakan benda pusaka desa papan. Mercia terkejut dengan bentuk crystal yang hampir menyerupai crystal biru dan crystal ungu kunai abadinya. Mercia pun mulai tertarik dengan sejarah crystal yang terus - terusan ia jumpai.
***
Hari sudah mulai gelap Mercia dan yang lainnya pun di beri tempat untuk beristirahat dan memulihkan tenaga untuk bertarung besok. Mercia dan Leona masih membuka matanya dan tidak merasa ngantuk. Mereka tidak bisa tertidur di tempat yang tak di jamin aman itu.
"Leona apa pekerjaan orang tuamu?" tanya Mercia penasaran. Mercia menatap langit yang di taburi banyak bintang yang bersinar.
"Ayahku bekerja sebagai asisten duke sedangkan ibu membuka rumah desainer, " balas Leona seraya sedikit melirik Mercia yang sedang fokus menghitung banyak bintang di langit.
"Bintang sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya. Aku sangat ingin tau jumlah bintang yang ada di langit. Mereka tidak ada masalah atau bencana seperti manusia, " gumam Mercia dengan mata yang berbinar - binar akibat bintang yang bersinar.
Dalam sekejap Mercia merasakan hawa dingin dan menyeramkan sedang mendekat ke desa papan. Mercia pun dengan cepatnya bangkit dari duduknya dan menyuruh Leona untuk berlindung di belakangnya.