
Bagi seorang wanita cinta adalah segalanya. Tapi bagi Mercia cinta itu hanyalah sebuah hubungan biasa. Menurut kedua temannya Mercia itu bukanlah wanita normal. Karena mau sedatar apa pun wajah wanita tidak mungkin tidak merasakan rasa cinta.
Mercia selalu menjawab cinta yang ia rasakan hanyalah cinta kepada keluarga bukan kepada lawan jenis. Mercia tidak pernah merasakan perasaan suka. Perasaan Mercia kepada karvein itu tidak bisa di jelaskan cinta sebagai lawan jenis atau cinta sebagai teman dekat.
***
Mercia sudah mulai sibuk karena dia harus mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Menyelesaikan misi dan melatih tiga murid perempuannya, Leona, Fanny, dan Xiery.
"Aku ingin kalian mulai membuat satu jurus sihir milik kalian sendiri, " Ucap Mercia kepada ketiga muridnya.
"Tapi bagaimana cara membuatnya? " Tanya Fanny kepada Mercia.
"Oh! Apa kalian belum di ajarkan di academy cara membuatnya? " Tanya balik Mercia.
"Belum, " Jawab Leona, Fanny, dan Xiery bersamaan.
Mercia yang hanya bisa pasrah mengajari ketiga muridnya membuat jurus sihir masing - masing.Mercia menjelaskan semua yang harus di lakukan sebelum menciptakan jurus sihir baru.
"Baiklah. Aku sudah memberitahu semua cara menciptakan jurus sihir. Aku ada sebuah misi yang harusku selesaikan. Jadi aku ingin setelah aku kembali. Kalian sudah menguasai jurus sihir masing - masing, " Jelas Mercia kepada ketiga muridnya.
Setelah Mercia menjelaskan semua yang harus di lakukan. Mercia langsung pergi meninggalkan ketiga muridnya. Untuk menyelesaikan misi pribadinya.
Sebelum pergi melakukan misi. Mercia pergi ke kantor ketua academy. Karena Mercia mendapatkan misi langsung dari Raiya sebagai ketua lagend academy.
Kantor ketua academy
"Misi apa lagi yang harus aku lakukan, " Kata Mercia kepada Raiya, dengan tatapan tajam.
"Tidak, kau akan melakukan misi di dalam negri, " Jawab Raiya sambil melipatkan jari - jari tangannya.
"Hm? Misi apa itu. Bukankah misi di dalam Negri di lakukan para penyihir pemula, " Ucap Mercia sambil duduk di sofa dan meminum teh yang di tuangkan Lilyer. Oh iya, Lilyer selalu mengikuti Mercia kemanapun ia pergi. Karena Lilyer memang sudah di tugaskan sebagai tangan dan kaki Mercia.
"Memang begitu. Tapi masalah ini sedikit berbeda dengan misi lainnya. Sepertinya ada seseorang menyusup ke dalan. Tanpa sepengetahuan para penyihir penjaga, " Jelas Raiya menjelaskan semua yang terjadi.
Mercia mendadak terhenti berkata dan diam tanpa kata - kata.
"Baiklah aku mengerti. Jadi apa yang kau ingin aku lakukan dalam masalah ini? " Tanya Mercia dan meminum secangkir tehnya lagi.
"Kau hanya perlu mengawasi sekeliling bersama rekan timmu dan tim delapan. Mereka akan bekerja sama denganmu, " Ucap Raiya kepada Mercia.
"Baiklah, aku juga sudah lama tidak melakukan misi dengan mereka, " Jawab Mercia bangkit dari duduknya dan langsung pergi keluar ruangan.
Mercia pergi menjauh dari kantor ketua academy tanpa berkata - kata.
"Dia memang tidak berubah sama sekali. Sungguh wajah yang polos tapi penuh dengan aura licik. Apa Leona tidak tau kalau gurunya itu sangat sadis, " Gumam Raiya menyipitkan sedikit matanya.
Di tengah ibu kota terlihat Mercia yang sedang melihat ke arah pohon dewa yang besar. Ia melihat penuh dengan tatapan cemas sambil mengernyitkan alis nya.
Secara kebetulan Karvein muncul di dekat Mercia yang sedang memperhatikan pohon dewa. Karvein melihat Mercia yang penuh dengan kecemasan dan langsung penyapanya.
"Mercia, sedang apa kau di sini? " Tanya karvein dengan tersenyum menyapa Mercia.
Mercia langsung menoleh ke arah karvein yang sedang mendekat ke arahnya.
"Aku menyelesaikan misi ku lebih cepat. Karena kau akan melakukan misi bersama denganku. " Jawab karvein sedikit menggoda Mercia.
"Oh... " Jawab singkat Mercia dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sepertinya kita sudah lama tidak jalan bersama. Bagaimana kalau kita jalan - jalan dulu sebentar, " Ajak karvein sambil memegang tangan Mercia yang halus dan putih itu dengan tangan besarnya.
***
Pada akhirnya Mercia pergi jalan - jalan bersama dengan Karvein. Mercia merasa sangat tertekan dengan tatapan orang - orang melihatnya. Karena tangan yang di gandeng oleh tangan besarnya karvein.
"Itu... Karvein apa kau bisa melepaskan tanganku. Semua orang yang melihat akan salah paham, " Ucap Mercia tersipu malu.
"Hm? apa aku tidak boleh memegang tanganmu? Biarkan orang - orang melihat kalau kau itu kekasih ku, " Jawab Karvein tanpa ragu sambil tersenyum ke arah Mercia.
Mercia yang mendengarnya langsung melepaskan tangannya dengan paksa. Sayangnya tangan Karvein memegang tangan Mercia dengan erat. Mercia terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Karvein.
Karvein tiba - tiba menarik tangan Mercia dan memeluknya.
"Maaf, maaf. Kekasih ku sedang marah padaku karena aku mengabaikannya beberapa hari, " Ucap karvein pada orang - orang sekelilingnya dengan percaya diri.
"Mereka sungguh romantis. Anak zaman sekarang memang sangat terang - terangan, " Ucap seorang wanita tua yang sedang berbelanja.
Mercia yang tadinya sangat menentang langsung tenang di pelukan karvein sambil bergumam " Cepat pergi. Malu di lihat semua orang, " Gumamnya di pelukan karvein.
Karvein yang mendengar gumamannya itu langsung melepaskan pelukannya dan langsung membawa Mercia pergi.
Mereka berdua pergi ke taman yang ada di balik semak - semak. Di mana itu adalah tempat terakhir kali mereka berkencan.
"Mercia, aku sekarang tau apa itu cinta yang pernah kamu katakan. Karena mungkin aku memang bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta. Tapi aku ingin jujur dengan perasaanku yang selalu plin plan ini, " Jelas Karvein menjelaskan panjang lebar kepada Mercia.
Mercia yang sedikit mengerti apa yang di maksud karvein. Langsung berpikir apa karvein akan menyatakan cintanya pada perempuan yang di sukainya.
"Aku menyukaimu, Eve, " Dalam sesaat karvein mengatakan sesuatu yang sulit di mengerti oleh Mercia.
Mercia hanya terdiam dan menatap kosong karvein.
"Mercia, jujur saja. Mungkin aku sudah lama menyukaimu, hanya saja aku tidak menyadari apa rasanya menyukai seseorang itu. Apa perasaan suka itu bisa bertahan selamanya atau akan menghilang dalam sekejap. Setiap aku melihatmu tersenyum tulus tanpa ada arti dalam senyummu. Aku selalu merasa sangat senang hanya melihatmu tersenyum. Aku baru sadar akan perasaanku ini saat kau menjawab pertanyaanku. Mercia, aku menyukaimu, " Jelas Karvein menjelaskan semua yang ia rasakan selama ini.
Mercia hanya bisa terdiam dan melihat tatapan karvein yang penuh rasa cinta.
"Em! Aku mengerti apa yang kau maksud, " Jawab Mercia sambil berjalan ke arah ayunan yang ada di dekatnya dan duduk di ayunan itu.
"Aku juga selalu merasa seperti itu. Aku selalu bertanya - tanya kepada diriku sendiri. Sebenarnya perasaan macam apa yang aku rasakan kepadamu itu. Aku baru sadar saat kau tiba - tiba bilang aku menyukaimu. Mungkin perasaanku ini adalah rasa suka yang istimewa. Aku juga menyukaimu Vein, " Ucap Mercia menjelaskan perasaan yang selama ini ia pendam.
"Mercia apa kau ingin bersamaku selamanya? Entah itu di saat sulit atau mudah. Kau akan selalu bersamaku, " Tanya karvein kepada Mercia.
Sambil tersenyum Mercia membalas perasaan karvein dengan senang. Mulai detik ini hubungan mereka bukanlah sekedar hubungan biasa. Tapi hubungan yang tidak bisa sembarangan orang lakukan.
Dengan perasaan senang yang membara. Karvein menghampiri Mercia dan langsung mencium bibir merah Mercia. Dengan perasaan cinta dan kelembutan.