
"Tentu saja itu kamu mercia. Aku ingin kita liburan hanya berdua, "
Beberapa hari kemudian musim dingin masih berlanjut dan Mercia masih tertidur dengan pulas di ranjang hangatnya. Dengan di baluti selimut tebal dan hangat.
Sedangkan Mochi sudah terbangun duluan dan membangunkan Mercia. "Cii... " Mochi bersuara sambil melompat - lompat di atas pipi Mercia yang lembut. Mercia pun terbangun karena merasa terganggu dengan keributan yang di buat Mochi.
Setelah Mercia mandi Mercia turun ke bawah berjalan ke arah ruang Makan. Di salah satu kursi meja makan tampak Mary dan Hyerin sedang duduk menunggu Mercia.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Mercia ingin tau sambil menarik salah satu kursi makan dan duduk. Mary pun menjelaskan semua kenapa dia dan Hyerin datang ke istana Norea. Mercia mendengarkan sambil menyantap sarapannya.
"Tujuan kita hari ini ke desa yang terletak di bawah gunung. Desa itu bernama desa papan. Karena di desa itu penuh dengan produksi papan, " jelas Hyerin menjelaskan semua detil misi hari ini.
Setelah Mercia selesai makan Mercia pun mulai membeli barang - barang yang di butuhkan. Seperti makanan, perlengkapan mandi, dan beberapa jenis teh. Mercia membeli banyak barang karena dalam misi kali ini mereka bertiga akan menjalankannya butuh cukup waktu yang lama.
Tak lama kemudian Mercia, Mary, dan Hyerin. Mendadak di panggil ke kantor ketua academy di cuaca dingin. Mereka bertiga pun bergegas pergi menghampiri Raiya ke kantor ketua academy. Di dalam kantor tampaklah Leona, Fanny, dan Xiery.
Raiya ingin Mercia membawa para junior itu untuk membantu dalam misi kali ini. Misi ini di ibaratkan untuk melihat kemampuan para junior. Mercia pun pasrah membawa Leona, Fanny, dan Xiery untuk melakukan misi.
Siangnya mereka pun mulai melakukan perjalanan ke desa papan. Di tengah perjalanan tiba - tiba Mochi muncul dari dalam kantung Mercia dan Mochi pun duduk di pundak Mercia sambil mengeluskan pipinya ke leher Mercia. Mercia merasa geli karena tindakan Mochi. Akhirnya Mercia memanggil Kirai dan menaiki Kirai untuk menuju ke desa papan.
"Kak Mercia, apa tidak apa - apa kita istirahat di hutan liat seperti ini. Bagaimana jika nanti seseorang mendadak menyerang, atau muncul hewan liar. " ucap Xiery waspada.
"Tidak apa - apa. Aku sudah memasang penghalang. Kalian tidurlah besok pagi kita akan mendaki gunung, " balas Mercia menyuruh juniornya untuk istirahat. Karena besok pagi mereka harus mendaki gunung yang amat tinggi itu.
Tak lama kemudian mereka tertidur dan hanya Mercia yang tidak tidur. Mercia merasa tidak nyaman harus tidur di luar saat musim dingin seperti ini. Mercia pun hanya bisa menunggu pagi hari datang. Selama malam itu ia hanya menatap langit tanpa bintang. Karena bintang tidak akan terlihat saat musim dingin.
Empat jam Mercia masih terjaga dan mulai lapar. Karena sepanjang hari ini Mercia belum memakan apa pun selain roti panggang dan susu hangat pagi tadi. Mercia pun mulai membuka tas ransel yang berisi keperluannya selama perjalanan misi ini.
Mercia pun menemukan beberapa makanan ringan kemudian ia membukanya dan memakannya tanpa suara.
***
Keesokan harinya pagi yang cerah tapi udara dingin masih menyelimuti sekitar. Mereka berenam pun mulai mendaki gunung setelah mengisi energi dengan tidur dan makan. Saat di pertengahan gunung mendadak tanah bergetar dan terasa seperti sesuatu yang besar mendekat ke arah mereka berenam. Mercia pun mulai mempersiapkan diri.
"Kalian waspadalah, ada kemungkinan mereka berjumlah lebih dari satu, " ucap Mercia waspada. Mereka berlima pun mengangguk iya dan bersiap menyerang.