
Sejujurnya Mercia adalah seorang perempuan yang sangat tidak suka dengan sesuatu yang bising. Akan tetapi semenjak terbiasa dengan kebisingan yang di buat temannya, Mercia sudah mulai terbiasa dan tidak terlalu peduli.
Sudah satu tahun terlewati. Semenjak serangan mendadak dari Juuri, dan kepergian Michelle. Mercia sudah mulai melupakan semua masalahnya itu. Dengan cara melakukan misi sepanjang waktu tanpa istirahat. Mercia selalu melakukan misi secara pribadi dan memisah dengan anggota timnya.
Hubungan Mercia dan Karvein juga sudah mulai dekat akhir - akhir ini. Karena kencannya yang sukses tanpa hambatan. Mercia dan Karvein selalu saling berhubungan semenjak kencannya.
***
Di hari Mercia berlibur dari kesibukannya. Liburnya di isi dengan kebiasaannya, yaitu meminum secangkir teh sambil memainkan sebuah game.
"Hah....akhirnya aku bisa bersantai beberapa hari, " Ucap Mercia kelelahan sambil memainkan gamenya.
"Ciachi.... " Panggil Mary dari balik pintu kamar Mercia.
"Masuk!? " Teriak Mercia dari dalam kamar. Mercia yang sedang memainkan gamenya mendadak terhenti. Karena kemunculan seorang gadis sekitar 12 tahun.
"Siapa? " Tanya singkat Mercia kepada Mary yang membawa gadis itu.
"Nah... Ciachi. Gadis ini ingin belajar berpedang denganmu. Jadi ajarilah dia sebagai murid pertamamu, " Ujar Mary memberikan tatapan anak anjing kepada Mercia. Sayangnya tatapan Mary tidaklah mempan pada wajah datar Mercia.
"Boleh saja, " Jawab Mercia dengan mudah.
"Ah! kalau begitu, ayo Leona perkenalkan dirimu dengan sopan kepada guru barumu, " Ucap Mary mengajukan Leona untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan nama saya Leona Vincent. Saya adalah murid academy tahun pertama, " Ucap Leona memperkenalkan diri.
Mercia yang tadinya menunjukkan wajah datar, mendadak langsung senyum dan berkata.
"Apa yang di ceritakan Mary padamu? " Tanya Mercia kepada Leona, dan Mary masih ada dihadapannya.
"Oh...senior Mary berkata, kalau senior Mercia itu sangat hebat. Tapi, Mercia itu sangat pemalas bahkan tingkatannya saja masih di tingkat satu. Begitulah senior Mary menceritakannya, " Jelas Leona menceritakan pada Mercia.
Mercia mendengar perkataan Mary yang di ceritakan pada juniornya, mendadak saja Mercia tidak marah atau membalasnya. Mercia menjadi lebih tenang tanpa emosi.
Mary melihat Mercia tidak marah sedikit pun. Setelah mendengar perkataan Mary yang menjelek - jelekkannya dari belakang. Mary merasa selamat melihat Mercia tenang tanpa emosi.
***
Leona sangat bersemangat. Karena Mercia setuju untuk menjadikannya murid pribadi Mercia. Leona menunggu kedatangan Mercia di depan markas tim 12.
Mendadak Leona bertemu dengan Karvein yang sedang mencari Mercia sambil membawa dua gadis. Dua gadis yang di bawa Karvein secara kebetulan merupakan teman dekat dari Leona. Fanny dan Xiery namanya.
Beberapa lama kemudian. Mercia tiba dengan wajah tanpa ekspresinya. Ia tidak menyangka akan bertemu Karvein di depan markas gabungan tim 12 dan tim 8. Karena mereka sudah lama tidak bertemu karena sibuk mengerjakan misi masing - masing. Akhirnya mereka berdua berbincang cukup lama.
"Jadi, ada apa kau ingin menemuiku. Bukankah kau sangat sibuk? " Tanya Mercia sambil menyuguhkan secangkir teh hangat.
"Bukankah mereka muridmu? kenapa kau tidak melatih mereka, " Tanya Mercia bingung.
"Sebenarnya mereka memang murid yang aku latih secara pribadi. Tapi tipe sihir mereka bukanlah keahlianku. Karena kamu sangat hebat dalam mengamati berbagai jenis sihir. Jadi aku mohon kamu latih mereka juga yah. Lihatlah apa kamu tidak ingin melihat muridmu memiliki teman seperguruannya, " Ucap karvein panjang lebar meminta Mercia melatih muridnya.
***
Pada akhirnya Mercia menerima Fanny dan Xiery menjadi murid pelatihannya. Ia membiarkan mereka untuk menempati markas pribadi timnya. Karena markas itu sangat jarang di kunjungi.
Jadi Mercia menjadikan markas itu di tempati muridnya. Dengan tenangnya Mercia mengajarkan beberapa siasat pertarungan yang tidak di ajarkan di academy.
Mengandalkan suatu jurus sihir yang di kuasai.
Mengandalkan sebuah senjata yang bisa di pakai. Seperti, pedang, panah, kunai, atau senjata khusus yang di miliki.
Menggunakan strategi yang tepat.
Mercia memberitahu 3 siasat bertarung pada mereka dengan senang hati.
Malamnya. Terlihat Mercia yang tiap malamnya selalu menatap langit malam. Langit malam yang di tebari bintang kecil terang. Terlihat sangat indah. Mata Mercia terlihat berbinar - binar dan sangat indah. Saat di terangi sinar bulan malam.
"Leona, Fanny, dan Xiery. Terlihat sangat gembira saat ku terima menjadi murid secara bersamaan. Apakah itu adalah kebahagian sebagai teman dekat. Apakah aku juga sesenang itu saat setim secara kebetulan dengan Mary dan Hyerin, " Gumam Mercia melamun memikirkan teman - temannya. Yang sudah lama tidak di temui nya.
"Anda pasti sangat senang saat setim dengan putri Mary dan putri Hyerin. Karena saya bisa merasakan perasaan senang yang ada di hati anda, " Jawab Lilyer tersenyum.
"Aku juga berharap begitu... " Ucap Mercia masih menatap langit malam.
Esok harinya Mercia akan melatih cara dasar berpedang pada muridnya itu. Jelas Mercia mengajari muridnya dengan senyum yang manis. Mercia tidak menunjukkan sifat pemalas nya. Karena menurutnya akan memperburuk namanya yang sudah terkenal itu.
"Aku merasa perkataan senior Mary tidaklah benar. Aku dari tadi sudah memperhatikan senior Mercia. Dia tidak sesadis yang di bicarakan senior Mary. Karena tidak mungkin di wajah polosnya dan cantik itu dia memiliki sifat yang sadis, " Gumam Leona dalam hati kecilnya. Sambil melirik Mercia yang sedang melatih kedua temannya.
Mercia menyadari tatapan tajam Leona yang menusuk di punggung rampingnya. Ia selalu merasa ada sesuatu yang membuat Leona penasaran tentang dirinya.
"Ada apa leona? Apakah ada yang mau kau tanyakan kepadaku? " Tanya Mercia menghampiri Leona.
"Tidak ada. Aku hanya kepikiran kalau senior itu tidaklah sama dengan apa yang di ceritakan senior Mary. Sifat senior sangat jauh berbeda dengan yang di ceritakan nya. Aku juga berpikir tidak mungkin senior yang memiliki wajah polos dan cantik memiliki sifat yang di ceritakan senior Mary, " Jawab Leona menceritakan semua yang ada di benaknya.
"Hm... Kenyataan tidak semua sama dengan yang kamu lihat. Setiap orang pasti memiliki sesuatu di balik wajahnya. Iya setiap orang pasti memiliki rahasianya sendiri, " Ucap Mercia sambil melirikkan sedikit matanya ke arah Leona.
Leona yang mendengar ucapan Mercia hanya bisa diam dan bertanya - tanya kepada dirinya sendiri.
"Baiklah istirahat sudah berakhir. Cepat selesaikan latihan mu. Aku akan mentraktir kalian setelah latihan. Sebagai perayaan di terimanya kalian sebagai muridku, " Kata Mercia bangkit dari duduknya dan tersenyum.
Walaupun Leona masih merasa bingung dengan ucapan Mercia. Ia mulai mengenyampingkan pikirannya itu dan mulai berlatih kembali.